Berbagi Ilmu

Pengikat Cahaya (Catatan Perjalanan Hati ke Rumah Qur’an Utrujah)

Bismillahirrahmanirrahim..

Atas izin Allah ilmu ini terikat, dan atas izin Allah pula ilmu ini terangkum dalam kalimat yang jauh dari sempurna. Barangkali tidak ada satu pun kalimat yang mampu melukiskan betapa luar biasanya lantunan ilmu yang kami dengar langsung dari ustadz dan ustadzah kami. Namun, tak kuasa rasanya mengikatnya sendiri. Sebagaimana kami begitu merasakan besarnya manfaatnya, kami pun berharap semua orang juga bisa merasakan seperti halnya yang kami rasa.

Jauhnya jarak, letihnya tubuh dan besarnya pengorbanan adalah harga yang harus dibayar. Namun rasa-rasanya tidak sebanding dengan apa yang sudah di dapat. Orang bisa membayar dengan uang untuk sebuah kemewahan. Namun iman dan kecintaan pada Al Qur’an tidak pernah bisa dibeli oleh siapapun. Itu adalah sebuah perkara hati, dan hanya hati yang ikhlas yang mampu membayarnya.

InsyaAllah dengan segala kekurangan dan kelemahan kami dalam menyimak, tulisan ini kami sampaikan. Semoga tersampaikan dan terikat hingga ke hati. Aaamiin.

Ustadz Taufiq Hidayat, Lc, M.A menepuk lembut semangat kami agar semakin menguat di hari pertama perjuangan hati kami mengikat ilmu. Beliau berkata dalam kalimat yang terangkum dalam catatan sederhana kami.

Jalan lurus adalah jalan yang terjal, penuh godaan dan tantangan hawa nafsu. Di jalan yang lurus, manusia harus siap dengan tantangan-tantangan yang akan dihadapinya.

  1. Orang kafir yang akan memerangi
  2. Orang-orang munafik
  3. Orang mukmin yang hasad padanya
  4. Hawa nafsu, dan
  5. Setan yang senantiasa menyesatkan

Dari penyampaian beliau-lah, kami akhirnya memahami tentang nama utrujah yang tersemat di rumah Qur’an yang kami singgahi. Dalam hadits disampaikan,

“Perumpamaan orang mukmin yang membaca al-Qur`an adalah seperti buah Utrujjah, baunya harum dan rasanya juga enak. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca al-Qur`an adalah seperti buah kurma, baunya tidak semerbak, namun rasanya manis. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang membaca al- Qur`an adalah laksana buah Raihanah yang baunya harum namun rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca al-Qur`an adalah seperti buah Hanzhalah, baunya tidak wangi dan rasanya juga pahit.” (Hadits Riwayat al-Bukhari)

Seperti apa buah utrujah, dapat antuna baca lebih lengkap di sini. Namun, secara singkat, nama lain dari buah utrujah adalah buah lemon.

Dan cerita kami pun berlanjut. Taujih pembuka adalah pelecut sekaligus penghilang penat 8 jam perjalanan darat dan laut yang kami lakukan. Menyelami inti acara, kami mengikat sebuah ilmu baru tentang bagaimana metode tahfidz (menghafal ) Al Qur’an. Materi ini diisi oleh Ustadzah Mahmudah, MA. Beliaulah pelecut semangat berikutnya, yang mengobarkan api membara di dada kami.

Kalimat pembuka dari beliau rasa-rasanya sudah cukup menenggelamkan seluruh keluhan kami tentang betapa sulitnya kami menghafal

  •  Dalam menghafal Al-Qur’an, tidak boleh tercampuri dengan niat-niat dunia. Harus ikhlas dalam berinteraksi dengan Al Qur’an
  • Siapa yang menyibukkan diri dengan Al Qur’an sampai ia lupa meminta sesuatu kepada Allah, maka akan Allah kabulkan lebih daripada itu.
  • Dalam berinteraksi dengan Al Qur’an harus pula selalu berdoa, dan belajar fiqih serta tafsirnya
  • Bila sulit menghafal Al Qur’an, perbanyak istigfar, bersihkan hati dari segala maksiat dan kembali bertaubat
  • Belajar dan mengajar Al Qur’an disertai dengan berdoa agar akhlak kita bisa sesuai dengan yang diajarkan Al Qur’an

Ada dua teori menghafal yang beliau sampaikan dalam sesi ini. Semoga memudahkan siapapun yang hendak menghafalkan Al Qur’an. InsyaAllah mudah-mudahan tercapai cita-cita untuk menjadi seorang hafidz/hafidzah, aamiin..

Metode Pertama

Dikembangkan oleh Prof.Dr Yahya Gausany

Tips yang diberikan adalah sebagai berikut :

  1. Usahakan menghafal 1 jam sebelum subuh/ 1 jam sesudah subuh atau 7 menit sebelum subuh/ 7 menit sesudah subuh
  2. Tentukan niat dengan penuh keyakinan bahwa kita mampu menjadi hafidz/hafidzah dalam 1 atau 2 tahun
  3. Memiliki keyakinan mampu menghafal satu atau setengah halaman sehari
  4. Pilihlah juz / surah yang disukai untuk dihafalkan lebih awal

Tekniknya adalah :

  1. Sebelum menghafal, pastikan telah meminum segelas air putih, untuk membantu memperlancar oksigen ke otak
  2. Memiliki keyakinan mampu menghafal setengah halaman dalam 5 menit
  3. Memulai dengan senyum, lalu menarik nafas. Keluarkan nafas bersamaan dengan keluarnya ayat
  4. Letakkan posisi mushaf (Al Qur’an) persis di depan mata, di sebelah kiri atas. Jangan meletakkan mushaf di bawah mata
  5. Baca 1 ayat secara detail dan fokus. Lebih bagus jika dipahami maknanya
  6. Baca 1 hingga 2 kali, lalu bawa huruf-huruf dalam ayat tersebut ke khayal (dibayangkan huruf-hurufnya)
  7. Tutup Al Qur’an, dan hadapkan wajah ke kanan bawah (menunduk ke sebelah kanan bawah)
  8. Ulangi hafalan setelah satu jam menghafal, malam sebelum tidur dan ketika mau menghafalkan ayat/surah baru
  9. Dengarkan surah yang sedang dihafalkan seharian, lebih baik jika berbeda qori atau mendengar dari murrotall beberapa syekh
  10. Gunakan surah yang sedang dihafalkan tersebut saat melaksanakan sholat

Pada penyampaian metode pertama ini, Ustadzah Mahmudah juga menekankan pada beberapa poin yang sangat penting.

Muroja’ah atau mengulang hafalan hukumnya wajib, sedangkan menambah hafalan itu hukumnya sunnah

Metode Kedua

Metode ini dinamakan metode Tabaroq. Referensi lain dapat dibaca di tulisan berikut

Metode ini dikhususkan untuk anak-anak dan dapat digunakan sebagai referensi jika ingin mendirikan rumah tahfidz/sejenisnya. Namun metode ini juga bisa digunakan untuk keperluan pribadi (menghafal sendiri atau membantu anak menghafal)

Penjabarannya adalah sebagai berikut:

  1. Waktu menghafal selama 4 jam x 3 hari dalam sepekan. Misalnya hari senin hafalan selama 3 jam, hari selasa libur, dilanjutkan kembali hari rabu selama 3 jam, kamis libur dan seterusnya
  2. Target per hari adalah setengah halaman. Dan di saat libur, orang tua membantu anak memuraja’ah atau mengulang hafalan yang telah dihafalkan
  3. Ketika anak berhasil menghafal, boleh diberi biskuit atau susu sebagai hadiah
  4. Metode ini seperti sistem pesawat saat akan terbang. Pada awalnya lama, namun ketika sudah take off, prosesnya berjalan lebih cepat. Jadi, proses hafalan dimulai dari juz 30 selama 3 bulan, lalu juz 29 selama 3 bulan, lalu ke surah Al Baqarah dan An-nisa selama 3 bulan. Artinya, juz amma yang sebenarnya lebih pendek dari surah Al Baqarah, sengaja diberi waktu lama, karena pada saat itu, anak masih baru pertama kali menghafal, sehingga kemampuan otakknya masih seperti pesawat yang bersiap terbang. Lalu, ketika anak sudah mulai terbiasa, ia akan sanggup menghafal lebih cepat. Sehingga surah Al Baqarah dan An-nisa yang cukup panjang dapat dihafal dengan durasi lebih singkat
  5. InsyaAllah dengan metode ini akan khatam dalam 2,5 tahun
  6. Metode ini juga menggunakan murrotal. Dan saat murrotal diputar, anak tidak diperbolehkan bicara

Tahapan-tahapannya :

  • 30 Menit digunakan untuk muroja’ah menggunakan murottal Syaikh Abdurrahman as-Sudais
  • 45 menit digunakan untuk mendengar hafalan baru menggunakan murottal dengan bacaan yang lebih lambat. Pada tahap ini, dapat menggunakan murottal Syekh Mahmoed Khalil al Husary atau murottal Syekh al Minshawi
  • 30 Menit berikutnya, guru mentalqin kan bacaan. Sistemnya, guru/orang tua membacakan, anak-anak mengikuti
  • 15 Menit istirahat sambil makan dan diputarkan murottal hafalan baru yang sedang dihafal
  • 45 menit berikutnya, anak-anak di talqin Syekh Khalil al Husary atau Syekh al-Mishawi. Maksudnya, anak-anak mendengar murottal, kemudian mengikuti bacaannya
  • 45 menit belajar huruf
  • 1 jam digunakan untuk mengulang hafalan per individu dan bersama (menyetorkan hafalan)

Pada metode ini juga ditekankan untuk memberi level murid berdasarkan usia. Kemudian, ditekankan pula agar putra dan putri belajar terpisah. Jadi, total waktu yg digunakan untuk proses menghafal selama sepekan kurang lebih adalah 13 jam. Kemudian akan lebih baik pula, jika dalam metode ini juga dipelajari tafsir juz 29 dan 30, yaitu ustadz/ustadzah menceritakan kepada anak-anak apa isi surah yang dihafal tsb.

Bagi para penghafal maupun pengajar tahfidz, alangkah baiknya jika pengalaman dalam proses menghafal tersebut dituliskan sebagai catatan tersendiri. Dimulai dari rancangan program, target, apa yang telah dilakukan dan didapatkan dari proses tersebut. Barangkali banyak hal-hal unik atau spesial yang dapat diambil hikmahnya untuk penyemangat bagi para penghafal Qur’an yang lain.
Pesan dari ustadzah kami bahwa tugas utama kita sebagai manusia adalah untuk mentadabburi Alqur’an, karena dengan mentadabburi Alqur’an InsyaAllah kadar iman, ilmu, dan amal kita akan bertambah.

InsyaAllah, metode-metode tersebut adalah salah satu ikhtiar agar Al Qur’an bisa dihafalkan dengan mudah. Meskipun sejatinya, Allah sebenarnya telah berfirman dalam surah Al Qamar ayat 17, “Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”

InsyaAllah, jika diniatkan dengan ikhlas dan ditekadkan, siapapun bisa menghafal Al Qur’an. Tercatat kalimat semangat yang dilantunkan oleh ustadzah Mahmudah Lc, yang bersumber dari hadits bahwa ahli Al Qur’an atau orang yang dekat dengan Al Qur’an akan menjadi keluarga Allah SWT. Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu sudah “menurunkan diriNya”, sehingga manusia yang sejatinya hanyalah seorang hamba, dapat menjadi keluargaNya Allah, jika mereka dekat dengan Al Qur’an. Subhanallah..!!

Dan luar biasanya ustadzah kami ini, beliau adalah orang yang sangat bersemangat. Setiap kata dan kalimat yang diucap seakan “menampar” dan melecutkan semangat siapapun yang mendengar. Kalimat-kalimat beliau yang sempat kami catat sebagai berikut :

Pahala diperoleh dari 3 hal,

  • Apa yang kita lakukan
  • Apa yang kita niatkan
  • Dari bekas-bekas kebaikan

Nah, disini beliau juga menyampaikan, ketika manusia meninggal dunia, ada 3 kemungkinan yang akan terjadi

  1. Amal kebaikannya terus mengalir bersamaan dengan amal keburukannya
  2. Amal kebaikannya berhenti, sementara amal keburukannya terus mengalir
  3. Amal kebaikannya terus mengalir, dan amal keburukannya terhenti

Sungguh, kita tentu tidak ingin menjadi seperti yang pertama dan kedua. InsyaAllah, mudah-mudahan Allah senantiasa memudahkan langkah kita agar mampu  menjadi seperti yang ketiga. Sungguh, apa yang kami tulis ini sebenarnya masih belum sesempurna ketika antuna semua mendengar langsung. Rasa-rasanya tidak ada yang bisa menggantikan betapa luar biasanya penyampaian dari beliau. Semoga kelak antuna semua berkesempatan bertemu dan mendengar langsung dari beliau. Namun, kami berharap manfaat dari tulisan ini tetap mampu tersampaikan kepada siapa saja.

Catatan kami masih akan berlanjut. Masih banyak sekali ilmu yang dibagikan oleh ustadz dan ustadzah kami. InsyaAllah Catatan lanjutan dapat dibaca di Catatan Perjalanan Hati ke Rumah Qur’an Jilid 2

					
Iklan
Pikiran dan Perasaan

2016’s Plans

Tahun yang baru, lembar yang baru dan tentunya rencana baru.

Seperti banyak kata orang, awal yang baru adalah sebuah kesempatan untuk memulai kembali apa-apa yang pernah gagal di capai di kesempatan sebelumnya. Yah, tidak mungkin setiap rencana pasti berhasil, bukan?

Ada rencana-rencana yang memang harus gagal, karena Allah menggariskannya demikian. Bisa bermakna sebagai sebuah tantangan sekaligus ujian, apakah kita sebagai hamba akan menyerah atau memutuskan untuk bangkit. Namun, kegagalan bisa pula bermakna, bahwa apa yang kita inginkan itu bukanlah yang terbaik. Ada sesuatu yang lebih baik, yang insyaAllah akan datang di kesempatan berikutnya.

Ada banyak kegagalan versi kedua yang sudah saya lalui. Hal-hal yang saya harus terima dengan lapang, kalau saya tidak bisa memimpikannya lagi. Sulit memang pada awalnya, tetapi Allah memang tidak pernah membebani seseorang melebihi kesanggupannya. InsyaAllah semua pasti berlalu dan terlewati, tentunya dengan izin dan kuasa dari Allah. Nah, untuk kegagalan versi kedua ini, tentu tidak ada yang bisa dibahas lagi kecuali hanya bagian keikhlasan yang harus terus dipupuk, agar kelak tak terucap “Andai saja”, “Seandainya”, “Kalau Saja”, dan kalimat-kalimat yang bersepupu dengan kalimat itu.

Saya hanya ingin membahas kegagalan versi pertama, yang saya alami di kesempatan sebelumnya. Satu dari sekian banyak alasan mengapa saya menerima kegagalan itu adalah karena rencana itu tak pernah saya tulis, tak pernah saya targetkan dan saya jelas tidak serius dengannya. Karena itu, kali ini saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.

Ada banyak rencana sebenarnya. Tetapi saya meyakini, ada rencana-rencana tertentu yang memang hanya menjadi milik saya dan Allah saja. Biarlah orang melihat hasilnya, tanpa perlu tahu seperti apa mula dan prosesnya. Namun, ada pula rencana yang memang harus disampaikan, agar kita selalu ingat dan agar ada yang mengingatkan jika rencana itu harus macet kembali.

Rencana saya di 2016 adalah mulai menulis lagi. Tahun sebelumnya saya lalui dengan banyak karya di blog, karya cerpen dan beberapa ff. Tapi tak satupun karya itu mejadi sebuah buku ataupun karya cetak yang bisa menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan saya dalam menulis. Karena itu, tahun ini saya putuskan untuk paling tidak mencetak sebuah buku lagi. Entah buku novel atau buku non fiksi, saya masih belum memutuskan, tetapi saya berniat untuk bisa menerbitkan salah satu atau mungkin dua genre tersebut di tahun 2016 ini. Well, anggap saja plan pertama, buku itu akan terbit di pertengahan tahun, dan itu artinya saya harus mulai menulis sekarang.

Wallahualam, hanya Allah yang bisa memberi saya kekuatan, ide dan kemudahan. Saya hanya sedang mencoba menantang diri saya sendiri. Apakah mungkin saya sudah membaginya kepada kalian semua, paling tidak di bulan Juli tahun ini? Let’s see!! Doakan saja, 🙂

Berbagi Ilmu, Pikiran dan Perasaan

Selamat Hari Guru

Hari ini, 25 November 2015, bertepatan dengan ulang tahun PGRI yang ke-70, sekaligus diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Alhamdulillah, tahun ini diberi kesempatan oleh Allah untuk ikut “merayakannya” dengan versi kami.

Dibalik perayaan sederhana yang insyaAllah akan terkenang selalu, saya justru teringat dengan masa-masa yang telah lewat. Tentang bagaimana mulanya saya mengenal seorang guru dan terinspirasi olehnya.

Garis kehidupan yang ditulis Allah untuk saya ternyata mengantarkan saya pada wujud nyata dari impian saya sejak kecil. Ketika pertama kali mengenal seorang guru saat TK dan SD, saya lantas menanamkan dalam hati, kalau cita-cita saya adalah menjadi seorang guru.

Jika ditanya pengalaman apa yang sudah membuat saya memutuskan hal besar itu di usia saya yang masih belia, saya akan menjawab tidak tahu. Saya tidak tahu mengapa saya begitu suka melihat guru saya mengajar di depan kelas. Saya pun begitu suka membayangkan bagaimana rasanya mengoreksi jawaban murid-murid saya kelak, menyebut namanya satu persatu saat pembagian rapot dan menuliskan nasihat-nasihat singkat di buku catatannya.

Bahkan saya pun menjadi sering bercermin. Memakai kacamata pinjaman, hanya untuk melihat sosok saya ketika menjadi guru berkacamata kelak (yang Alhamdulillah terkabulkan keduanya oleh Allah). Saya pun sering (dengan sangat berniat) membuat daftar nama murid-murid khayalan saya, yang namanya saya karang sendiri. Lalu saya berpura-pura mengoreksi jawabannya dan memberi nilai. Sungguh kalau dibayangkan sangat aneh rasanya, tapi semua benar terjadi.

Saya membuat beberapa lembar jawaban dengan nama berbeda, lalu saya menuliskan jawaban mereka dengan pilihan a-d secara acak, kemudian saya membuat kunci jawaban. Lalu, beberapa jawaban murid saya (yang sebenarnya saya tulis sendiri jawabannya dengan abjad a-d secara acak), saya koreksi dan saya beri nilai. Dalam beberapa kali bermain, saya bisa membuat rapor mereka, menuliskan rangking hingga berpura-pura membagikan rapot dengan menggunakan boneka sebagai murid saya. Rasa-rasanya saat itu saya masih SD. Di lain waktu, saya mengajak teman-teman saya untuk berpura-pura menjadi murid. Saya meminta mereka menggambar atau menulis apa saja, lalu saya beri nilai.

Saya tidak tahu, apa yang menyebabkan saya begitu menyukai aktivitas itu. Padahal, tidak satupun orang di keluarga saya yang menjadi guru. Dulu, Ayah saya pernah mengajar, tetapi hanya sementara. Itupun bukan sebagai profesi asli. Hanya kebetulan Ayah saya mampu dan memiliki waktu luang. Tetapi saat itu saya masih kecil dan tidak ingat kalau Ayah saya pernah jadi guru.

Mungkin itulah yang namanya takdir. Sejak kecil, Allah sudah tanamkan impian itu di hati saya. Meskipun sempat tertarik bercita-cita menjadi A, B, C dan lain sebagainya, tapi cita-cita menjadi seorang guru tetap ada. Pernah, saya tertarik menjadi seorang astronot. Rasanya hebat sekali bisa ke luar angkasa. Dan ketika ditanya apa cita-cita saya pada waktu itu, saya pun menjawab, menjadi guru dan astronot 🙂

Sebenarnya, impian saya untuk menjadi seorang guru, bukan tanpa halangan. Saya pernah mengalami suatu masa, saat saya bertemu dengan seorang guru yang menorehkan kisah kurang menyenangkan di hidup saya. Bertahun-tahun saya terkurung oleh doktrin yang saya ciptakan karena rasa tidak nyaman itu. Bahkan saya pun pernah terbully karena hal itu. Tapi anehnya, saya tidak sedikitpun ingin mengubah cita-cita saya. justru saya menjadi belajar untuk tidak mengulangi hal seperti itu, jika kelak saya menjadi guru.

Alhamdulillah, pada akhirnya Allah menyediakan hati yang lapang pada Guru saya dan pada diri saya. Sehingga, akhir dari kisah kurang nyaman itu justru sangat mengharukan. Bahkan beliau menjadi guru yang paling saya kenang hingga saat ini. Tentunya kenangan yang baik. Walaupun hal yang kurang nyaman itu tidak bisa saya lupakan, tapi insyaAllah tidak tersisa kebencian ataupun kemarahan.

Halangan yang kedua justru datang dari keluarga besar saya. Banyak yang menyayangkan keinginan saya itu. Karena menurut mereka, ada profesi lain yang kelihatannya lebih cocok untuk saya ketimbang menjadi seorang guru. Tetapi sekali lagi, tekad saya sudah bulat. Apalagi cita-cita itu sudah saya miliki sejak saya masih kelas 1 SD. Saya tetap ingin menjadi seorang guru, meskipun saya tahu itu tidak mudah.

Dan benar saja. Saya adalah pribadi yang introvert. Saya tidak terlalu suka bercakap dengan orang asing dan tidak terlalu repot ingin mengetahui urusan orang lain. Saya ingat, saat saya SMA, ketika jam kosong, teman-teman saya sibuk berkumpul dengan kelompok masing-masing. Tapi saya memilih tetap di kursi saya dan memperhatikan mereka semua. That’s me.

Lalu, saya harus menjadi seorang guru yang tentunya harus bercakap dengan murid saya dan berbicara di depan mereka semua. Padahal, saat SMA, presentasi di depan kelas pun saya gemetaran sekali.  Tapi apakah saya mundur? Tidak sedikit pun.

Entah kekuatan ini bernama apa, tapi saya mulai mengubah diri saya, demi apa yang saya cita-citakan. Saya belajar lebih terbuka. Saya belajar untuk nyaman bicara di depan kelas. Dan hebatnya, saya tidak pernah merasa gugup jika bicara di depan murid-murid saya. Seolah-olah saya tidak pernah memiliki masalah dengan hal itu. Padahal, jika bicara di depan orang lain, saya tetap gugup. Tapi, jika di depan murid saya, semua berubah. Dan Alhamdulillah sekarang sudah jauh lebih baik. Saya mulai lebih nyaman bicara di depan umum, siapapun audience nya.

Begitulah, saya merasa Allah permudah jalan saya menuju apa yang memang ditakdirkan untuk saya. Jika diminta menuliskan, saya sendiri tidak tahu, kata apa yang bisa mewakili perasaan saya ketika akhirnya saya benar-benar menjadi seorang guru. Saya suka sekali bicara di depan mereka, melihat mata mereka berbinar karena mengerti apa yang saya katakan. Menceritakan apa yang saya tahu di depan mereka. Dan melihat mereka begitu penasaran dengan apa yang saya katakan itu rasanya seperti saya meraih dunia saya. Sehingga, ketika saya merasa saya gagal, ketika saya merasa saya mengajar tidak seperti apa yang seharusnya, saya akan menangis.

Tangisan pertama saya adalah ketika saya PPL. Itu pertama kalinya saya mengajar di kelas yang sebenarnya, di sebuah SMA di Samarinda. Waktu itu saya sudah mengajar di pertemuan ketiga atau keempat, dan saya merasa mereka tidak mengerti apa yang saya sampaikan. Bahkan mereka tidak terlihat antusias sama sekali. Lalu ada pula konsep yang keliru yang saya sampaikan. Padahal sebelum mengajar, saya sudah mempersiapkan dengan baik. Alhasil, sepulang mengajar saya menangis. Teman kos saya menjadi tempat curhat saya saat itu. Saya merasa tidak bisa mengajar, saya merasa jadi guru yang buruk dan gagal. Saat itu saya kecewa dengan diri saya.

Tapi begitulah, Allah tahu saya butuh sebuah pengalaman. Sejak itu, saya sadar. Guru adalah manusia. Guru tidak sempurna. Dan murid saya tahu itu. Keesokannya hingga saat ini, setiap saya mengalami itu, saya belajar untuk menyikapi dengan lebih tenang. Saya koreksi kesalahan saya di depan mereka dan saya simpan baik-baik kegagalan saya. Saya tidak boleh mengajar dengan cara itu lagi di kelas berikutnya.

Tidak terasa, sudah hampir empat tahun saya menjadi guru yang sebenarnya. Sebenar-benar menjalaninya sebagai profesi. Banyak suka duka yang membuat saya tahu bahwa semua itu tidak sesederhana apa yang saya bayangkan. Menjadi guru bukan hanya sekedar mengajarkan ilmu, mengoreksi jawaban, menyampaikan nilai dan nasihat, tapi lebih dari itu.

Kadang saya bosan, lelah dan merasa tidak sanggup. Tapi entah, saya selalu merasa sedih setiap kali saya merasa ingin berhenti. Karena saya yakin, saya pasti akan merindukan masa-masa ini. Saya ingat, saya pernah merasa sakit (tidak enak badan), tapi saya merasa masih sanggup untuk mengajar. Dan hebatnya, saya mengajar dengan enerjik seolah saya sehat-sehat saja. Entah saya mendapatkan energi darimana, seolah saya merasa sangat kuat dan sehat. Lalu, saat kaki saya melangkah keluar kelas, saat itulah saya mulai merasa sakit lagi, 🙂

Tapi belakangan ini sejujurnya, saya mulai kehilangan momen-momen itu. Saya mulai merasa tidak lagi menemukan rasa keingintahuan di mata anak-anak didik saya. Saya seolah hanya mengajar untuk membuat mereka mendapat nilai baik, bukan agar mereka tahu. Saya sadar, ada sebagian dari mereka yang merasa apa yang saya ajarkan tidak menarik. Salah satunya karena ia sudah tahu apa yang ia sukai dan tahu kalau pelajaran saya tidak berkaitan dengan hobinya itu.

Seorang pemimpin mungkin tidak akan butuh untuk mengetahui bagaimana menghitung panjang sisi miring sebuah segitiga siku-siku. Atau seorang atlet merasa tidak perlu belajar materi gerak dalam beberapa bab, untuk mengetahui berapa besar gaya dan usaha yang dia butuhkan untuk membuat sebuah bola basket tepat masuk ke keranjangnya. Itulah yang akhirnya membuat saya seringkali banyak memaklumi, ketika mereka gagal di pelajaran saya.

Saya sadar, kalau saya tidak mungkin membuat mereka menjadi seperti apa yang saya harapkan. Mereka punya harapan dan impian mereka masing-masing. Kadangkala, saya memang kurang sabar untuk memahami itu. Mungkin karena sifat saya yang cenderung kaku, sehingga saya sulit untuk bersikap fleksibel untuk hal-hal yang menurut saya tidak bisa ditoleransi. Seperti misalnya harus fokus memperhatikan, tidak mengobrol dan sejenisnya. Karena menurut saya, akan sulit bagi mereka memahami apa yang saya sampaikan jika disimak sambil mengobrol. Meksipun, saya pernah menemukan hal itu bisa dilakukan oleh siswa tertentu yang memang memiliki kecerdasan istimewa.

Dan dibalik semua kisah panjang saya itu, hari ini, saya ingin mengucapkan terima kasih, kepada guru-guru saya, dosen-dosen saya dan pengalaman hidup yang juga sebenarnya telah menjadi guru besar saya. Saya belajar banyak, saya melakukan kesalahan pun banyak, dan saya juga tidak sedikit mengalami kegagalan. Mungkin saya bukan tipe murid yang bisa dekat dengan gurunya, yang bisa dengan mudah mengobrol ini itu dengan guru dan mengungkapkan perasaan. Saya hanya mampu mendoakan, semoga Allah limpahkan balasan kebaikan yang tak pernah putus kepada kalian semua.

Pun kepada murid-murid saya, saya juga berterima kasih. Karena mereka menerima saya sebagai gurunya, dengan sekian banyak kekurangan saya. Pasti tentunya ada yang tidak menyukai, dan itu wajar. Tapi saya hanya berharap itu tidak menjadi bagian dari keburukan yang akan menimpa kepada saya (naudzubillahimindzalik).

Meskipun saya bukan guru yang menyenangkan, yang bisa kalian ajak cerita dengan asyiknya, namun saya berusaha untuk memberikan yang terbaik yang saya punya. Kadang mungkin saya pernah kehilangan kesabaran dan keikhlasan saya, yang saya tak mampu untuk mengendalikannya. Semoga termaafkan.

Saya hanya ingin berdoa, untuk guru-guru saya, teman-teman saya dan saya sendiri, semoga kita semua senantiasa diberi kekuatan, kesabaran, keikhlasan, semangat, niat, tekad, impian, harapan, keinginan dan kerendahan hati, untuk terus membimbing, mengajar, mendidik, belajar, mengubah diri, mengaca diri, mengakui kekhilafan, menempa diri dan berikhtiar untuk terus berupaya menjadi guru-guru terbaik. Kelak, saya berharap, ada satu titik terang yang saya temukan dalam kegelisahan yang saya rasakan. Suatu keadaan yang membuat saya mampu menemukan semua mata yang berbinar, duduk di hadapan saya. 🙂

Cerpen, Karya

Calon Menantu Idaman (Cerpen NulisBuku #SafetyFirst)

Deru sepeda motor terdengar di depan rumah. Kulirik jam dinding di kamar, pukul 14.30 WITA. Bergegas aku bangkit dan mengaktifkan mode sleep di notebook.

“Hari ini kok pulangnya telat, Bu?” tanyaku sambil membuka pintu dan menyambut wanita yang sudah melahirkan dan membesarkanku sendirian sejak umurku masih 5 tahun itu.

“Tadi Ibu ke pasar dulu, Gas. Terus….,” Ibu sengaja menggantungkan ucapannya. Kubiarkan ia duduk dan mengambil jeda. Bergegas kuambilkan segelas air dari dapur. Sepertinya ada sesuatu yang baru saja terjadi.

“Minum dulu Bu,” tanyaku sambil menyodorkan segelas air pada Ibu. Beberapa pertanyaan mulai muncul di pikiranku. Apa yang sebenarnya terjadi hingga Ibuku seperti terengah-engah untuk bercerita? Dan anehnya, Ibu mengatakan kalau ia baru saja pulang dari pasar, tetapi ia tidak membawa satu pun barang belanjaan.

“Gas, Ibu itu gemas banget sama Mbak-mbak di jalan. Kamu tahu nggak, tadi Ibu itu hampir ditabrak, sampai jantung Ibu ini rasanya mau copot..”

Aku hanya diam menyimak. Kubiarkan Ibu menyelesaikan semua ceritanya.

“Ibu itu heran, kok jaman sekarang itu, gadis-gadis kalau bawa motor itu sudah kayak pembalap. Laju dan sembrono. Apa nggak sadar kalau di jalan itu yang naik motor nggak Cuma anak muda. Ibu sampai lemas, nggak jadi ke pasar.”

Aku mengelus punggung Ibu pelan,” Ya sudah, Bu. Kalau gitu mulai besok biar Bagas yang ngantar dan jemput Ibu di sekolah. Bagas kan juga kerjanya fleksibel. Jadi kalau urusan jemput sama ngantar itu nggak masalah.”

“Ya tapi kan kamu juga ada urusan sama klien. Nanti kalau pas kamu ada urusan, terus Ibu juga ada keperluan gimana? Ibu kan juga bendahara sekolah. Kadang ada urusan ke Bank, ke dinas, kemana….”

Aku menghela nafas pelan menyahuti ucapan Ibu. Sudah berkali-kali niat itu kuutarakan, tapi Ibu tetap saja teguh pada pendiriannya untuk berangkat mengajar sendirian. Meskipun kuakui, Ibu termasuk tipe perempuan berumur yang bisa naik motor dengan aman. Ibu tidak berjalan terlalu pelan atau ragu-ragu seperti halnya kebanyakan Ibu-Ibu berumur yang lain. Setahuku, Ibu juga mengikuti semua rambu dan aturan dengan baik. Aku sudah mengajarkan semuanya sampai tamat, sebelum aku mengizinkan Ibu membuat SIM dan mulai naik motor sendiri.

“Ibu Cuma heran aja kok. Ibu aja yang tua gini tahu gimana caranya naik motor. Padahal Ibu juga baru 1 tahun ini bisa. Lah, kok yang masih muda-muda itu lho, hadduuuhhh…..”

Aku sudah tidak mampu menyahuti lagi. Sudah biasa, Ibu memang selalu hanya ingin mengungkapkan perasaannya, tanpa berharap ada solusi. Karena toh memang tidak ada solusi lain untuk persoalan ini. Aku tentu saja tidak mungkin menceramahi seluruh gadis-gadis yang naik motor ugal-ugalan itu, bukan?

***

Ini sudah curhatan keempat dalam sepekan ini. Lagi-lagi, Ibu harus pulang dalam keadaan mengelus dada. Bahkan parahnya, Ibu sempat terjatuh karena kaget dan kehilangan keseimbangan.

“Dia itu lho, keluar gang nggak lihat-lihat. Ibu Cuma jalan lurus dan nggak terlalu laju. Tapi dia tiba-tiba keluar gang dengan laju dan tanpa noleh kanan kiri. Ya Allah, kalau Ibu sempat laju, pasti Ibu sudah jatuh, Gas.”

“Bu, sekali ini ya, dengar Bagas. Ibu diantar aja sama Bagas. InsyaAllah, Bagas janji, kalau ada klien sepenting apapun, Bagas bakal tetap utamakan Ibu.”

Ibu menatapku sambil menggeleng pelan,” Jadi pekerja itu harus profesional. Jangan sampai begitu. Ibu nggak papa kok. Cuma, Ibu mau ingatin kamu ya Gas. Kalau bisa nanti calon mantu Ibu harus diselidiki dulu. Dia kalau bawa motor ugal-ugalan atau nggak. Kalau dia bawa motornya ugal-ugalan, Ibu nggak merestui ya, Gas.”

Seketika aku tersedak. Tapi, nggak ada yang bisa aku lakukan selain mengangguk dan mulai mencari ponselku.

***

“Nggak mungkin, Bagas. Kantorku itu jauh dari rumah. Dan kamu kan tahu, bos ku itu disiplin minta ampun. Jadi kalau berangkat pagi, mau nggak mau aku harus pakai cara Marc Marquez kalau lagi nyalip Valentino Rossi.”

Aku hanya bisa menggaruk kepalaku yang tidak gatal, begitu mendengar jawaban Lira, calon istri yang rencananya akan kukenalkan ke Ibu. Aku baru mengenalnya selama 3 bulan dari seorang teman. Lira adalah gadis yang feminim sebenarnya, tapi kecintaannya pada moto GP sedikit banyak mempengaruhi gaya bermotornya. Dan parahnya, itu adalah salah satu hal yang paling tidak disukai Ibu saat ini.

“Ya, kamu kan bisa pergi lebih pagi, Ra.” Aku mencoba mencari alternatif untuknya.

“Nggak bisa, Bagas. Kalau pagi, aku harus masak, beres-beres, banyak deh. Itu udah waktu paling cepat buatku berangkat kerja. Lagipula, aku bisa jaga diri kok. Walaupun laju, aku masih bisa kendalikan motorku.”

Aku menghela nafas pelan,” Iya Ra, aku percaya. Tapi yang namanya di jalan, apapun bisa terjadi kan? Cara paling aman ya memang harus berkendara dengan kecepatan yang aman. Apalagi kamu kan masih jalan di dalam kota, bukan mau keluar kota. Kalau kamu laju, kamu pasti menyalip sana sini kan, Ra. Itu kan bahaya…”

Lira mengaduk-ngaduk es kopyornya yang sisa setengah, lalu menatapku,” Aku sudah begini sejak dua tahun lalu, Gas. Dan semua aman. Jadi, kamu nggak usah khawatir,” ucapnya mengakhiri percakapan kami.

Aku hanya bisa tersenyum pelan menanggapi ucapannya. Kalau saja dia tahu, ini bukan hanya tentang betapa khawatirnya aku jika sesuatu terjadi padanya di jalan, tapi ini lebih dari itu. Aku justru khawatir kalau sesuatu akan terjadi pada hubungan kami.

***

Lira menelponku. Rupanya ini telponnya yang kelima. Tapi aku masih di jalan, menjemput Ibu.

Apa yang aku khawatirkan akhirnya terjadi. Ibu jatuh, tertabrak motor lain. Untungnya, motor itu masih sempat mengerem, sehingga tabrakannya tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat Ibu terjatuh dan terkilir. Si pengemudi, yang menurut cerita Ibu, berjenis kelamin perempuan itu, sudah meminta maaf dan menawarkan bantuan untuk mengantar Ibu pulang. Tapi, Ibu yang sudah terlanjur menumpuk kekesalan pada gadis yang ugal-ugalan di jalan memutuskan untuk menolak dengan lantang dan menelponku.

Gadis itu sudah pulang saat aku tiba di tempat kejadian. Aku sengaja naik angkot, agar aku bisa membonceng Ibu.

“Angkat dulu, telponmu.” Dalam keadaan kaki terkilir begitu, Ibu masih saja sempat peduli padaku. Aku tahu, Lira pasti menunggu di rumah. Sore ini, harusnya aku mengenalkan Lira pada Ibu. Tapi, kejadian yang tiba-tiba ini membuatku harus menunda urusan itu sejenak.

Kuangkat telponku cepat dan kujelaskan kejadiannya pada Lira. Kurasa dia sangat terkejut mendengarnya. Tapi, teriakannya membuatku lantas berpikir yang bukan-bukan.

“Kenapa, Ra?” tanyaku cepat. Kupapah Ibu ke pinggir jalan dan kupeluk bahunya. Aku masih harus mengobrol dengan Lira untuk membunuh prasangka burukku.

“Motor Ibumu apa Gas?”

Kuucapkan merek, warna bahkan plat nomor motor Ibu pada Lira. Pikiran negatif semakin membayangiku.

“Aku perlu kesana?” tanya Lira.

Seketika aku dilanda kebimbangan. Kenapa Lira justru bertanya begitu? Tadinya kupikir dia akan terkejut karena dia yang mungkin menabrak Ibu seperti yang aku duga. Tapi….

“Emm, sepertinya pertemuannya kita tunda dulu ya, Ra. Aku harus nemenin Ibu.”

Lira mengucap “Ok” cepat dan menitip salam serta doa untuk Ibu, sebelum menutup telponnya. Aku pun bergegas memapah Ibu ke arah motor dan memastikan Ibu masih nyaman untuk kubonceng. Ada satu pertanyaan yang akan kutanyakan pada Lira setelah memastikan Ibu sudah baik-baik saja.

***

“Wah, Ibu dukung yang itu aja, Ra. Yang motornya warnanya bagus, Lo-ren-zo. Ya, itu aja,” ucap Ibu sambil menunjuk layar televisi.

“Oke, Bu. Lira dukung Pedrosa ya! Bagas tetap Rossi?” Lira menoleh ke arahku.

“Tetap dong!!” sahutku sambil sibuk mengutak-ngatik laptop.

Kubiarkan Ibu dan Lira bercengkrama sambil menonton acara kesukaan Lira.

Sungguh aneh, sebenarnya. Ibu yang tadinya bahkan tidak suka dengan acara kebut-kebutan di jalan, tiba-tiba mau nonton moto GP dengan seorang gadis yang termasuk ke dalam salah satu daftar gadis paling ugal-ugalan di jalan raya. Dunia memang bisa berbalik dengan cepat.

Kejadian tabrakan yang dialami Ibu beberapa waktu lalu memang mengubah semuanya. Saat itu, aku akhirnya tahu kalau Lira adalah saksi mata kejadian itu. Rupanya, Ibu akan berjalan lurus ke depan. Namun, karena lampu berubah merah, Ibu pun berhenti. Tapi Ibu berhenti terlalu ke pinggir, seakan-akan ia akan berbelok ke kiri. Dan gadis itu, tanpa melihat lampu tanda dari motor Ibu, mengira kalau Ibu akan berbelok kiri seperti dirinya. Dan terjadilah tabrakan pelan itu.

“Wah, jatuh..!!! Tuh kan, kalau kebut-kebutan pasti gitu. Makanya Ibu nggak suka,” terdengar Ibu berkomentar.

Lira tertawa pelan,” Iya itu bu. Padahal semua sama-sama laju, tapi dia malah nyalip dengan cara begitu. Sudah tahu nggak mungkin menyalip, malah maksain diri. Harusnya dia ikut aturan, ya kan Bu? Kalau mau belok kiri berarti motornya agak ke kiri. Kalau lurus ya berarti ambil posisi agak ke tengah kan, Bu?”

“Lho, maksudnya gimana Lira?”

Kubiarkan saja percakapan antara Ibu dan Lira yang kutahu memang disengaja oleh Lira, supaya Ibu dapat ilmu tentang posisi berhenti di lampu merah itu. Tapi, aku juga sudah mewanti-wanti agar dia juga mengalah. Bukan tak mungkin Ibu akan bertemu dengannya di jalan. Dan tentu saja, aku tidak mau pernikahan kami batal, hanya karena Lira tidak memenuhi satu syarat menantu idaman yang ditetapkan Ibu.

“Ibu hanya perlu pembiasaan, Gas. Enam puluh kilometer per jam itu tidak laju. Lagipula, aku tidak ugal-ugalan. Aku bahkan selalu menyalip dengan pertimbangan,” komentar Lira saat aku mengeluhkan hobi ngebutnya.

“Tergantung situasi kan, Ra. Kalau lagi padat, terus kamu jalan dengan kecepatan segitu, nyalip sana sini, itu sama aja ugal-ugalan. Gini aja, kita ajarin Ibu biar bisa naik motor dengan lebih aman, dan kamu, mulai menghentikan kebiasaan salip sana sini itu. Dan kalau kalian berdua tetap nekat dengan kebiasaan lama, aku akan mengantar kalian ke kantor.

“Aku bisa telat, Bagas!!!” protesnya.

“Lira yang mutuskan! Aku tidak punya pilihan lain selain itu,” sahutku cepat. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana menengahi semuanya. Ibu tetap ngotot dengan caranya berkendara, begitupun Lira. Tapi, seperti itulah, semuanya justru berakhir dengan unik di depan layar kaca tayangan moto GP.

“Yang penting nggak laju banget seperti moto GP itu ya Ra,” ucap Ibu sambil tertawa.

Kubiarkan saja mereka berdua menikmati kebersamaan. Karena mulai besok, aku sudah tidak perlu khawatir lagi. Ibu akan pergi mengajar bersama Lira, yang kantornya memang searah dengan sekolah tempat Ibu mengajar. Dan itu sekaligus bisa membuat Lira harus naik motor dengan lebih aman, karena ada Ibu di boncengannya. Lalu aku, hanya tinggal bersyukur, karena setidaknya aku tidak perlu mengomel dan mendengar omelan tentang kejadian di jalan lagi, setelah ini.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com

Pikiran dan Perasaan

Ada Apa dengan Sektor Ganda?

Alhamdulillah, saya menulis ini setelah melihat ciamiknya match Praveen/Debby di final FrenchSS. Walaupun kalah, tapi semua bisa melihat kemampuan empat pemain yang luar biasa. Bahkan komentator, Gill Clark pun mengapresiasi permainan dua ganda campuran itu.

Oke, kali ini dua gelaran di Eropa baru saja selesai. Dan seperti biasa, saya akan menuliskan review dari sudut pandang saya.

Fokus saya kali ini hanya pada sektor ganda. Kenapa tidak di sektor tunggal? Itu karena sejauh ini untuk gelaran super series, sektor tunggal masih terlihat tertatih untuk menapaki podium tertinggi. Meskipun, di Denmark open lalu, Tommy Sugiarto berhasil menjadi Runner Up, tapi kekalahannya di French Open di Round 1, membuat saya bisa mengatakan kalau perkembangan sektor itu masih kurang stabil.

Oke, kembali ke fokus!

Belakangan ini memang sedang ramai diperbincangkan tentang fenomena pemain rangkap. China, Denmark, Korea bahkan Japan sudah menunjukkan kesuksesan membuat seorang pemain menggawangi dua sektor dalam satu turnamen. Dan menurut beberapa BL, hal tersebut sepertinya mempengaruhi performa pemain, sehingga mereka bisa bermain lebih baik dan lebih kuat terhadap serangan-serangan lawan.

Namun, ada pula yang masih mempertimbangkan tentang keputusan bermain rangkap itu. Faktor stamina menjadi alasan utama. Bermain dalam satu sektor saja sudah cukup menguras energi, apalagi jika bermain rangkap?

Nah, dari kacamata saya, PBSI mungkin perlu meninjau lagi, termasuk berdiskusi dengan pemain yang bersangkutan, tentang usulan itu. Kalau menurut saya, sektor yang paling butuh untuk bermain rangkap adalah sektor ganda campuran. Tapi kembali lagi, apakah pemain memiliki stamina yang cukup untuk menjalaninya? Sangat mengkhawatirkan jika harus bermain rangkap untuk memperbaiki performa, tetapi nyatanya justru tidak ada hasil di dua sektor sekaligus dengan alasan stamina.

Ada beberapa pilihan untuk melakukan permainan rangkap, menurut saya. Yang pertama, bermain rangkap di satu turnamen. Contoh di turnamen A, owi/butet dan Praveen/Debby bermain di sektor X D, lalu Owi/Praveen juga main di MD. Menurut saya, Owi butuh bermain MD untuk belajar lebih gesit, lebih kuat defence nya dan tentu saja belajar smash yang lebih keras. Nah, pilihan ini tentu saja resikonya adalah stamina.

Pilihan kedua, kurang lebih sebenarnya. Sektor X D tetap seperti biasa untuk turnamen kelas SS atau GPG. Sedangkan Owi/Praveen bisa dicoba di level GP nya. Jadi main rangkap, tapi beda turnamen. Mungkin akan lelah juga, apalagi jika turnamennya berurutan. Tetapi masih ada jeda dibandingkan jika main dua sektor di satu turnamen.

Pilihan terakhir adalah, saat latihan, ada waktu-waktu tertentu Praveen/Owi sparing dengan Ahsan/Hendra, Angga/Ricky dan MD yang lainnya secara rutin. Yah, nggak ada pilihan yang menyenangkan memang. Tapi, untuk Owi dan Praveen, jika melihat banyaknya pemain pria di X D yang juga bermain di sektor MD, rasanya kebutuhan mereka untuk bermain rangkap lebih dibutuhkan.

Nah, lalu, untuk Debby dan Butet. Sebelum komentar, saya sebenarnya berharap Debby tidak jadi pensiun setelah OG. Saya suka dengan gaya bermainnya. Dia juga sudah kelihatan cocok bermain dengan Praveen. Kalau Praveen nggak banyak eror seperti saat di final tadi, mereka X D yang keren. Nah, kalau Butet, saya menyadari usia sudah membuat banyak perubahan padanya. Tapi, setiap kali bermain, banyak yang selalu menyalahkan Owi. Padahal, kadangkala saya merasa saat bermain, Butet cenderung jarang bergerak.

Oke, mungkin karena alasan stamina. Tapi, Owi jadi keteteran kesana kemari, sedangkan Butet banyak mengambil bola-bola mudah. Jadi terlihat seakan Owi yang eror terus. Padahal dia sering kebagian mengcover posisi bola yang jauh dari jangkauannya. Tapi, saya akui, smash owi kurang keras dan defence nya belum sebaik Butet. Saya berharap Butet juga bisa lebih fair dan juga para BL yang lain untuk tidak selalu menyalahkan Owi. Belajar dari Ko/Kim, yang walaupun melakukan kesalahan, masih senyum dan berusaha mengurangi.

Saya jadi ingat di set-set awal Denmark Open final saat Owi/Butet lawan Ko/Kim, waktu Owi lakukan kesalahan, Owi masih senyum aja, nyantai. Jadinya enjoy bawaannya. Tapi, semakin ke belakang malah jadi tegang. Nggak ada senyum lagi. Yah, bisa jadi itu membuat permainan terbaik mereka nggak keluar. Mungkin pelatih juga harus ingatin soal rasa enjoy itu. Dan pelatih sendiri juga kelihatan terlalu serius. Kalau bisa, pelatih juga harus terlihat menyemangati. Jadi saat pemain noleh, yang dilihat bukan muka tegang pelatihnya. Ntar jadi tambah double tegangnya.

Lalu sektor WD, Greynit masih satu-satunya andalan. Sulit memang meracik sektor ini, karena stamina pemain INA yang perempuan memang kelihatannya masih belum terlalu baik. Greynit juga kelihatan bermasalah dengan stamina. Padahal, tipe permainan mereka cenderung agak rally-rally gitu. Jadinya kan mati sendiri. Tapi kalau menurut saya, faktor kalah dari Luo/Luo di SF kemarin itu bisa jadi karena stamina Luo/Luo lebih baik. Pasalnya pas di QF mereka nggak main karena lawannya walkover.

Terakhir dan paling penting menurut saya adalah MD. Saya suka sekali sektor ini. Tapi belakangan mulai tidak. Ada apa dengan Ahend? Ada apa dengan Angrick?

  1. Ahend terlihat nggak stabil. Masalah emosinya Ahsan dan penyakit gugupnya Hendra belum hilang. Dan, entah kenapa saya melihat ada fenomena kejenuhan diantara mereka berdua. Yah, mereka selalu jadi andalan, selalu mereka berdua. Dan lawan mereka juga itu-itu aja. Lalu, lawannya mulai berkembang, belajar dari kesalahan, tapi mereka tidak. Jika mau membandingkan, kenapa LYD/YYS nggak bosan? Padahal, kondisi mereka juga sama dengan Ahend. Jadi andalan, selalu main bareng. Menurut saya, itu karena mereka kalau main lepas aja. LYD kalau bikin salah, ketawa aja, trus YYS nggak pernah nyalahin LYD. Dari ekspresinya juga nggak kelihatan kesal. Kesalnya cuma pas bikin salah aja, habis itu netral lagi. Beda sama Ahsan. Kalau dia atau Hendra bikin salah, kayaknya kepikiran terus, jadi mainnya nggak lepas. Di turnamen apalah gitu yang nggak terlalu ngaruh poin, mereka coba dipecah, diajak main dengan yang lain. Main X D gitu, biar ketahuan, bisa nggak balikin smashnya ZYL hehehe… Oh ya, ketinggalan. Entah kenapa, saya kadang ngerasa Ahsan selalu jadi pemain yang paling ngotot ngambil bola. Setipe dengan Ricky dan Kevin. Jadinya, kalau pas mereka bagus, ya menang. Kalau mereka jelek, ya sudah. Makanya kalau pas main, mereka selalu jadi sorotan karena bisa dapat poin. Tapi kekurangannya, jadinya ya itu, kalau pas jelek. Menurut saya, mereka harus belajar meredam diri. Memang sih tidak sedominan Riky saat bermain dengan Richi. Tapi, belajarlah untuk melihat posisi dan kemungkinan yang lebih baik. Belajar percaya pada partner.
  2. Angrick kelihatan seperti cepat sukses lalu merosot seperti kereta luncur. Ada yang bilang smash mereka kurang keras. Bisa jadi. Jadinya ya harus latihan terus. Dan kayaknya mulai banyakin strategi biar nggak ngandalin smash terus

Oke, mungkin begitulah review saya. Hari ini saya suka sekali dengan Pradeb. Saya juga suka dengan Ko Kim. Mereka hebat. Saya nontonnya benar-benar tegang. Keren lah. Nggak malu-maluin udah di final.

Dan seperti biasa, selalu doa semoga next 5 partai ada INA nya di final. Taipei GP udah bisa 4 INA lho di final. Sekali-sekali SS juga lah ya… 🙂

 

Pikiran dan Perasaan

Kenapa? Why?

Mungkin seringkali kita bertanya-tanya tentang hal-hal yang kita alami atau pernah kita alami dalam hidup. Mengapa begini dan begitu, seakan-akan sulit untuk diterima oleh logika. Padahal, semakin lama kita tinggalkan kisahnya, seringkali jawaban itu justru muncul dengan sendirinya.

Dalam hidup, kita mungkin dipertemukan dengan kegagalan-kegagalan yang tentu saja tidak pernah kita harapkan. Kita berusaha, berdoa dan yakin, namun ternyata hasilnya adalah kegagalan. Secara logika, kita mungkin tidak bisa menerima. Seakan-akan ingin bertanya, apa yang kurang atau apa yang salah.

Dahulu saya pernah meyakini sesuatu. Saya mengusahakannya sesuai kesanggupan saya dan juga berdoa. Namun pada akhirnya, Allah titipkan pelajaran itu dalam sebuah kegagalan akan usaha saya itu. Kegagalan yang sempat membuat saya mempertanyakan banyak hal. Kenapa, kenapa dan kenapa? Dan Allah, tidak juga memberikan jawabannya. Tapi lambat laun, saya akhirnya paham. Meskipun saya yakini saya belum temukan jawaban lengkapnya Tapi setidaknya, penerimaan saya terhadap kegagalan itu membuat saya lebih dewasa menyikapi hal yang sama dan bahkan saya jadi berusaha untuk mensyukuri kegagalan itu.

Kadang-kadang, Allah memang pertemukan kita dengan kesalahan dan kegagalan untuk memberikan pelajaran yang begitu dalam untuk kita di masa depan. Meskipun, pemahaman yang kita dapatkan itu harus melalui proses yang sangat panjang. Dan saya meyakini, dalam hidup, kita mungkin akan mengalaminya berkali-kali.

Seperti halnya pertanyaan baru yang sekarang muncul kembali dalam benak saya. Pertanyaan kenapa yang tidak satupun orang di dunia ini bisa menjawabnya kecuali Allah. Saya hanya bisa menduga, tapi saya tidak tahu apakah saya benar atau tidak. Yang pasti, saya belajar. Bahwa saya seringkali menganggap sesuatu itu baik untuk saya, padahal nyatanya tidak.

Allah mengetahui segalanya. Sesuatu yang ditakdirkan untuk kita, bukan hanya berlaku di hari ini, tapi untuk seterusnya. Sedangkan pandangan kita, seringkali berlaku hanya untuk masa yang pendek.

Saya tahu, tidak akan mudah untuk melaluinya. Akan ada pertanyaan kenapa, kenapa dan kenapa yang akan terus berlanjut. Tapi setidaknya, kita bisa mengambil sebuah kekuatan yang memang sudah Allah berikan untuk kita, sebelum ujian itu menimpa kita. Kesabaran, keyakinan, rasa syukur dan pengharapan. Allah, semoga kelak (4)

Cerpen, Karya

Floriade Rhapsody Part 1

Sebuah Novel yang akan saya share dalam beberapa part.

Floriade Rhapsody

By Aira Arsitha

Prolog

Faras, Faras, Faras….

Nama itu seakan memenuhi kepala Kiara pagi ini. Sejak semalam ia tidak bisa tidur, hanya karena satu nama itu selalu muncul di layar ponselnya. Siapa yang tidak kenal Faras? Siapa yang tidak suka, jika laki-laki pendiam yang jago main bola dan terkenal baik hatinya itu tiba-tiba menghubungi Kiara. Bukan hanya sekedar mengirim pesan basa-basi teman sekelas biasa, tapi sebuah pesan istimewa yang bahkan membuat jantung Kiara tiba-tiba berdegup lebih cepat.

“Kiara, besok, mau nggak sarapan bareng di kantin? Ada yang mau aku omongin”

Pesan pertama itu muncul, ketika Kiara sedang asyik berebut remote televisi dengan Tian, adiknya. Sontak Kiara melepaskan remote yang sejak tadi berusaha direbutnya, dan langsung terpaku menatap layar ponselnya yang tiba-tiba memunculkan kalimat yang tidak biasa itu.

Kiara ingat, beberapa hari lalu, Faras memang sempat meminta nomor ponselnya untuk urusan tugas kelompok matematika yang harus mereka selesaikan minggu depan.  Tadinya, Kiara berpikir kalau nomor ponsel itu hanya akan digunakan Faras untuk membahas tentang tugas matematika itu. Tapi ternyata, semalam Faras justru mengirimkannya pesan yang seketika merubah rona wajah Kiara.

Kalau saja pesan itu diterimanya dari laki-laki lain di sekolahnya, Kiara mungkin tidak heran. Tapi ini seorang Faras, yang bahkan tidak pernah sekalipun berbicara basa-basi dengan satu pun perempuan di sekolahnya. Kiara bahkan sempat berpikir kalau Faras memang tipe laki-laki yang lebih tertarik dengan urusan sekolah dan ekskul bolanya, daripada memikirkan tentang perempuan.

Drrrtttt..drrrtttt…!!!

Ponsel Kiara bergetar lagi untuk ketiga kalinya. Faras kembali menelponnya, setelah Kiara tidak juga membalas pesan singkatnya itu. Bukan maksud Kiara untuk mengabaikan pesan dari laki-laki itu. Tapi ada sekelebat wajah yang tiba-tiba muncul di memorinya, ketika dia ingin membalas pesan Faras itu. Ada wajah seseorang yang masih diingatnya jelas, dengan rona yang berbeda dan senyum yang begitu lebar, ketika ia dengan riangnya mengucapkan kalimat itu.

“Kiara, kamu tahu nggak, aku kayaknya jatuh cintaaaa banget sama Faras.”

***

Suasana di rumah Kiara pagi ini seolah berubah 180 derajat. Atmosfer sendu tiba-tiba mewarnai rumah yang biasanya penuh dengan kecerahan itu. Walaupun rumah itu hanya dihuni oleh mereka bertiga saja. Kiara, Tian dan mamanya. Tapi, suasana di rumah itu benar-benar tidak pernah sesepi dan sesendu ini, semenjak kepergian kepala keluarga mereka 5 tahun yang lalu.

“Kan Kiara Cuma 2 minggu aja Ma,” ucap Kiara sambil menarik koper besarnya, dan meletakkannya di samping sofa, dekat pintu keluar. Di depan sudah terparkir mobil yang sudah siap mengantar Kiara ke bandara. Tian yang biasanya tidak pernah bangun sepagi itu pun, sejak tadi sudah siap mandi dan memanaskan mobil. Meski Kiara tahu, Tian pun tidak bersemangat dengan hal ini. Ia hanya ingin melakukan tugasnya saja, membantu keberangkatan kakak perempuannya itu.

“Kenapa harus kesana sih? Kita kan masih bisa liburan seperti tahun-tahun lalu. Ya kan Tian?” Mama Kiara masih terlihat membujuk anak sulungnya itu. Tian yang mendapat pertanyaan dari Mamanya, hanya mengangguk setuju.

Ini perpisahan pertama mereka seumur hidup. Sejak kecil, Kiara dan Tian tidak pernah pergi kemanapun tanpa kedua orang tua mereka. Tapi hari ini, Kiara memutuskan untuk melakukannya, demi sahabatnya tercinta, dan juga demi keinginan menggebunya yang sudah tidak bisa ia bendung lagi. Untuk pertama kalinya, Kiara mencoba untuk mengubah semua kebiasaan yang pernah dilakukan oleh keluarganya selama bertahun-tahun. Ia sudah sangat rindu dengan sahabatnya itu. Apalagi, selama ini, Tita, sahabatnya itu selalu menceritakan betapa indahnya suasana di Wollongong, Australia.

“Australia itu kan jauh…”

Kiara mendengus pelan. Pembicaraan ini bahkan sudah dilakukan berkali-kali. Hingga akhirnya Mamanya memutuskan untuk membiarkan Kiara pergi, meski dengan syarat Kiara harus tetap berkomunikasi dengan Mamanya atau Tian setiap hari. Tapi ternyata, Mamanya itu masih saja membahas ulang hal itu di detik-detik keberangkatan Kiara. Padahal tiket penerbangan ke Australia itu sudah dipegang erat oleh Kiara, beserta paspor dan keperluannya yang lain.

“Ma, Kiara udah mau berangkat. Kita kan udah bahas ini.”

Tian menatap Kiara dan Mamanya bergantian. Meski dia juga gelisah dengan kepergian Kiara, tapi itu tertutupi dengan detak jam yang terus bergerak. Ia tidak mau kakaknya itu ketinggalan pesawat. Apalagi dia sudah sengaja tidak masuk kuliah, demi mengantar Kiara.

“Mama percaya saja sama Kiara, dia pasti bisa jaga diri.” Tian akhirnya mulai bersuara. “ Mama mau ikut ke bandara?”

Mama Kiara menghela nafas dan menggeleng pelan,” Ya sudah, hati-hati. Telepon Mama terus ya,” ucapnya, setelah sempat terdiam beberapa lama. Ia memeluk Kiara erat, sambil berusaha menyeka air matanya. Gadis kecilnya itu begitu cepat dewasa. Ia tidak bisa membayangkan jika sampai terjadi sesuatu padanya. Kalau saja Kiara mengizinkannya ikut, ia pasti akan mengikuti anaknya itu. Sayangnya, Kiara tidak ingin diikuti siapapun, termasuk Tian. Karena ia ingin memberi kejutan untuk sahabatnya. Dan tentu, karena Kiara bukan anak kecil lagi.

“Kiara berangkat ya Ma,” ucap Kiara sambil melepas pelukan Mamanya. Ia tahu berat bagi Mamanya untuk membiarkannya pergi. Tapi Kiara tidak mau seperti itu terus. Ia bahkan sudah rela melepaskan kesempatannya kuliah di luar negeri, hanya demi Mamanya itu. Dan sekarang, ia tidak mau kalah lagi. Dia sangat ingin pergi ke Australia, dan memberi kejutan pada sahabatnya.

“Yuk, berangkat.” Kian memberi kode pada Kiara untuk masuk mobil. Ia lantas mengangkat koper Kiara dan memasukkannya ke bagasi, sebelum berpamitan pada Mamanya.

“Tian jalan dulu Ma,” ucapnya sambil mencium pipi Mamanya. Mamanya hanya tersenyum sekilas, sebelum kembali menatap lekat ke arah Kiara. Bibirnya tak henti melantunkan doa, agar anaknya itu tiba di tempat tujuan dengan selamat.

***

“Mama terlalu khawatir banget sih sama aku. Padahal, aku Cuma mau ke Australia aja,” keluh Kiara, saat mobil yang dibawa Tian sudah mulai menjauh dari rumah.

Tian menyahuti sambil memperhatikan jalanan yang masih cukup lengang, karena waktu masih menunjukkan pukul 05.30 pagi.

“Wajar aja lah Kak. Ini kan pertama kalinya kamu pergi sendirian,” sahut Tian, membela Mamanya.

“Yah, sudahlah. Yang penting sekarang aku bisa pergi juga,” sahutnya, sambil merapikan kuncir rambutnya.

“Nanti dijemput Tita kan?” tanya Tian. Walaupun Tian adalah adik Kiara, dan usia mereka terpaut 2 tahun, tapi selama ini, Tian selalu bertingkah seperti seorang kakak bagi Kiara. Apalagi, semenjak Ayah mereka pergi, Tian otomatis menjadi satu-satunya laki-laki di rumah. Dan ia pun merasa kalau dia memiliki tanggung jawab untuk melindungi dua orang perempuan istimewa dalam hidupnya itu.

Kiara menoleh ke arah Tian dengan dahi berkerut,” Ya nggak lah, Tian. Aku kan mau kasih kejutan sama Tita.”

Tian sempat menoleh sekilas ke arah Kiara, sebelum kembali memperhatikan jalan.” Terus gimana? Memangnya kamu tahu gimana caranya nyampe ke tempat tinggal Tita? Jangan aneh-aneh deh Kak!”

Kiara tersenyum mendengat kekhawatiran dari ucapan Tian itu. Kiara memang paling suka melihat adiknya itu mengkhawatirkannya. Tian memang selalu bersikap begitu dengan Kiara. Bahkan dengan perempuan manapun yang berhubungan dengan dirinya. Tian adalah lelaki paling peduli, penyayang dan paling baik yang pernah dikenalnya, selain Faras. Ah, nama itu lagi. Kiara sudah lama tidak bertemu dengannya, sejak mereka lulus SMA.

“Kak..??” Tian menoleh ke arah Kiara yang tidak juga menyahuti pertanyaannya.

“Tian, sekarang itu udah zaman modern. Kalau mau apa-apa, sudah banyak akses informasi. Aku udah cari tahu kok, gimana caranya nyampe ke tempat Tita. Dari bandara Sydney sampai ke flat Tita di Wollongong.”

“Memangnya Bahasa Inggrismu udah lancar? Bukannya selama ini kamu bermasalah dengan speaking mu?” Tian mencoba mengingatkan Kiara akan kelemahannya itu. Kiara memang mendapat nilai skor TOEFL yang cukup baik. Bahkan ia pun selalu mendapat hasil memuaskan dalam pelajaran Bahasa Inggrisnya saat SMA. Tapi, ia memang selalu mendapat kesulitan untuk berbicara Bahasa Inggris. Bicaranya masih terpatah-patah dan bahkan ia seringkali terdiam saat bicara, untuk mengingat kosa kata yang dilupakannya.

“Aku udah belajar,” sahut Kiara sambil mengeluarkan buku latihan berbicara bahasa Inggris yang sengaja dibelinya, demi liburan dua minggunya di Australia. Meskipun tentu saja, speaking Kiara masih belum bisa dikatakan luar biasa. Apalagi kalau ia harus berbicara dengan penduduk sana yang memang berbicara dengan cukup cepat. Tapi Kiara tentu saja tidak ingin mengakui hal itu di depan Tian.

Tian akhirnya hanya tersenyum mengetahui niat kuat kakaknya itu. Kiara memang keras kepala dan tidak pernah mau menyerah. Teringat saat dulu Kiara memaksa Mamanya untuk mengizinkannya kuliah di Australia. Ia bahkan belajar sangat keras untuk tes TOEFL dan meraih nilai memuaskan. Sayangnya, Mamanya pun tidak kalah keras kepala, sehingga membuatnya harus puas kuliah di Jakarta saja.

“Hati-hati ya Kak. Biar bagaimanapun, kamu tetap aja orang asing disana. Apapun bisa terjadi, dan kamu harus terus waspada.”

“Iya Mbah,” sahut Kiara sambil tertawa.

Tian menatap ke arah Kiara,” aku serius kak.”

“Aku juga Mbah Tian,” sahut Kiara, masih meledek adiknya itu. “Aku senang deh, punya adik kayak kamu.”

“Iya,” sahut Tian,” Tapi aku yang tambah tua punya kakak kayak kamu.”

Kiara tertawa sambil menutup wajahnya, tidak tahan melihat ekspresi Tian yang seolah seperti seorang Ayah dengan banyak pikiran.

“Mau titip salam nggak sama Tita?” godanya sambil menatap ke arah Tian.

Tian berlagak pura-pura tidak mendengar dan terus menatap jalan. Tapi Kiara tahu, Tian mendengar ucapannya.

“Beneran nih nggak mau disalamin? Nggak takut Tita naksir bule Australia?” Melihat ekspresi Tian yang hanya diam, Kiara malah tertarik untuk menggodanya lagi. Tian memang sudah lama menyukai Tita. Tapi, selama ini Tita selalu hanya menganggapnya sebagai adik sahabatnya, tidak lebih. Dan itu membuat Tian hanya mampu menjadi penggemar rahasianya saja. Tian pun sebenarnya tidak ingin Kiara mengetahui hal itu. Tapi, kakaknya itu memang pandai mengetahui rahasia orang lain.

“Awas lho kak, kalau sampai dia tahu, aku suka.” Tian akhirnya mulai merasa gerah, dan khawatir Kiara berbuat yang tidak-tidak. Dia tidak mau hubungannya dengan Tita menjadi buruk, hanya karena Tita mengetahui perasaannya.

“Kenapa sih, nggak bilang aja? Tita nggak bakal jauhin kamu kok, kalaupun dia nggak suka.” Kiara mencoba membujuk adiknya. Meski Kiara tahu, sahabatnya itu pernah menyimpan rasa pada seorang laki-laki, dan orang itu bukanlah Tian.

“Biar begini aja kak. Nanti aja kalau Tita udah balik ke Indonesia,” sahut Tian dengan suara pelan. Kiara tahu, bukan itu yang diinginkan Tian. Tapi, ia menyadari kalau adiknya itu sangat dewasa terhadap perasaannya.

“Nanti aku fotoin deh Tita buat kamu. Tungguin aja emailku ya!”

Tian hanya mengangguk dan tersenyum. Saat ini, bukan itu yang menjadi prioritasnya. Ia masih memikirkan tentang Kiara yang akan pergi ke sebuah negara asing, tanpa siapapun di sisinya.

***

Tita menutup kopernya dengan tergesa. Meskipun ia tahu, ia masih memiliki banyak waktu untuk berbenah. Kalau saja ia bisa menentukan jadwal keberangkatannya sendiri, ia pasti sudah melesat sejak tadi.

Tok..tok…

Tita mendengar ketukan dari balik pintu flatnya. Ia sudah bisa menduga siapa yang datang, dan langsung bergegas membuka pintu.

“Jadi aku antar?” tanya Ethan, tetangga flat Tita, sekaligus sahabat baiknya selama di Wollongong. Mahasiswa pascasarjana itu dikenalnya dari Lucy, teman satu flat nya dulu. Lucy, mahasiswa asal Singapura itu sudah lulus beberapa bulan lalu dan membuat Tita saat ini tinggal sendiri di flat yang cukup luas ini.

“Yeah,” sahut Tita, tanpa memperhatikan Ethan. Pikirannya sedang setengah kalut. Dan dia tidak tertarik untuk berbicara basa basi apapun saat ini.

“Sepertinya, kamu harus makan dulu,” ucap Ethan sambil mengangkat plastik yang ternyata sudah digenggamnya sejak tadi. Ethan pun masuk ke dalam flat Tita dan meletakkan makanan itu di atas meja.

Tita menatap jam di tangannya, dan menyadari kalau dia masih punya banyak waktu. Walaupun tidak lapar, ia juga tidak mau terjadi sesuatu dengan dirinya hanya karena ia lupa untuk makan. Karena itu, ia menerima tawaran dari Ethan dan mulai mendekat ke arah meja.

Ethan  memperhatikan Tita sesekali, sambil mengunyah rotinya. Ia tahu, Tita sedang tidak ingin bicara apa-apa. Tapi, Ethan juga khawatir dengan kekalutan Tita itu. Kalau saja bisa, dia sebenarnya ingin menawarkan untuk menemani Tita. Tapi sayang, besok ia memiliki jadwal untuk berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya.

Are you ok?” tanya Ethan, ketika dilihatnya, Tita baru menghabiskan seperempat rotinya.

Not really,” sahutnya, tanpa menatap Ethan. Pikirannya menerawang jauh, menembus batas samudera yang membentang. Tiba-tiba saat itu, Tita mulai menyesali keputusannya untuk kuliah di Australia.

***

“Hati-hati kak.” Tian mengucapkan kalimat terakhir yang bisa diucapkannya, sebelum kakaknya itu memasuki boarding room. Ada perasaan khawatir yang tiba-tiba muncul lagi di hati Tian. Saat itu, dia baru menyadari, kenapa Mamanya memutuskan untuk tidak ikut mengantar Kiara ke bandara. Karena, jika Mamanya ikut, Tian yakin, Kiara tidak akan pernah bisa memasuki pesawatnya.

“Tenang aja Tian,” sahut Kiara sambil menepuk bahu adiknya itu,” jaga Mama baik-baik. Pokoknya jangan bikin Mama khawatir.”

Tian mengangguk pelan sambil tersenyum dengan setengah hati.

“Oh ya…,” Kiara yang tadinya ingin masuk ke ruang tunggu, lantas berbalik ke arah Tian,” jangan bilang Mama ya, kalau Tita nggak jemput aku. Bilang aja, kalau aku dijemput sama Tita dan semua beres. Oke..?!?” pintanya pada Tian. Ia takut Mamanya benar-benar akan langsung menyusulnya, kalau tahu dia tidak dijemput oleh Tita.

“Kamu tuh Kak, ada-ada aja,” sahut Tian sambil menggelengkan kepalanya. Meskipun dia anak laki-laki, dia tidak pernah berniat melakukan hal senekat itu. Ia berusaha meredam semua keinginannya, yang bisa membuat Mamanya khawatir. Bahkan meskipun keinginannya untuk mendaki gunung pernah menggebu-gebu, ia pun memutuskan untuk mengabaikan itu, hanya karena Mamanya melarangnya pergi. Sudah banyak hal mengkhawatirkan yang pernah dilakukannya, dan membuat Mamanya itu resah. Dan sejak kepergian Ayahnya, Tian pun mulai berjanji untuk tidak melakukannya lagi.

Kiara menatap wajah Tian dan mencoba menebak apa yang dipikirkan adiknya itu. Kali ini, Kiara mengakui, kalau dia sedang bertingkah tidak dewasa, Tapi, dia sudah mencoba untuk menahannya. Dan ternyata, ia tidak sekuat Tian. Sudah hampir empat tahun Kiara kuliah, dan selama itu dia selalu meredam keinginannya untuk pergi ke Australia, setiap kali liburan tiba. Dan kali ini, peredam itu sudah hancur, terpatahkan oleh kekuatan tekad Kiara.

“Kadangkala, kita harus mencoba sesuatu hal yang baru juga,” ucapnya, mencoba mempengaruhi pikiran Tian.

Tian hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu, tidak ada gunanya baginya untuk mengingkari ucapan Kiara. Karena kakaknya itu, pasti tidak akan menerima apapun yang akan dikatakannya saat ini.

Jam di tangan Kiara sudah mulai menunjukkan waktu mendekati pesawatnya akan berangkat. Ia pun lantas mengakhiri percakapannya dengan Tian dan mulai melangkah menuju ruang tunggu. Lambaian tangan dan senyuman Tian menjadi hal terakhir yang dilihatnya sebelum masuk ruang tunggu. Di dalam hati, ia hanya berharap, segalanya baik-baik saja sampai ia tiba di flat Tita.

***

Kiara menghabiskan waktu menunggunya sambil membalas pesan dari Tian. Setelah mengantar tadi, rupanya Tian tidak langsung pulang. Dia memutuskan untuk singgah di kafe yang ada di bandara dan menghubungi Kiara. Ada satu hal yang ingin dikatakannya pada kakaknya itu. Tapi, ia merasa sulit untuk mengucapkanyya secara langsung.

“Hati-hati kak dengan laki-laki asing. Pegang kuat-kuat barang-barangmu. Segala sesuatu mungkin aja terjadi. Kalau sudah sampai di Sydney, langsung telpon aku aja. Nanti pulsanya aku ganti.”

Pesan panjang itu cukup membuat dahi Kiara berkerut-kerut. Ia seolah merasa sedang dikhawatirkan oleh Ayahnya. Sejak kepergian Ayahnya, Kiara memang tidak pernah menemukan seseorang yang bisa memperhatikannya, seperti Ayahnya memperhatikannya dulu. Dan sekarang, Tian, adiknya, seolah menjelma menjadi sosok Ayah baginya.

Sebenarnya, Kiara merasa nyaman dengan perhatian itu. Setidaknya, meskipun ia sudah tidak lagi memiliki seorang Ayah, ternyata ia masih memiliki seorang saudara laki-laki yang bisa dijadikannya tempat bergantung. Tapi, sisi lain hati Kiara terasa ingin mengingkari itu. Biar bagaimanapun, ia adalah anak sulung. Dan seharusnya, dialah yang menjaga adik dan Mamanya. Bukan sebaliknya.

“Kamu kayak orang tua aja,” balasnya singkat. Walaupun semua yang Tian katakan itu benar, tapi Kiara enggan untuk mengakui bahwa adiknya itu memang jauh lebih dewasa.

“Barusan searching. Disana lagi musim semi. Lumayan lah, jadi kamu nggak bakalan shock sama perbedaan cuaca.” Tian membalas, tanpa menyahuti ucapan Kiara sebelumnya.

Kiara baru menyadari, kalau ia bahkan tidak sempat mencari tahu tentang hal itu. Ia hanya memikirkan tentang bagaimana agar segera tiba disana dan menemukan flat Tita. Beruntung, cuaca sedang baik. Karena kalau tidak, ia harus menerima kenyataan menghadapi musim dingin dengan celana jeans, kaos dan jaket tipis yang bahkan tak mampu menghalangi angin untuk mengganggu tubuhnya.

“Oke, sepertinya aku harus segera berangkat,” balasnya, mengakhiri percakapannya dengan Tian. Meskipun bersyukur dengan kecerdasan adiknya itu, Kiara memutuskan untuk tetap pada pendiriannya. “Aku nggak bakal nelpon siapa-siapa. Aku akan sampai ke flat Tita dengan kekuatanku sendiri,” bisiknya pelan, sebelum panggilan memasuki pesawat mulai menggema dan membuatnya bergegas.

“Sydney, I’m coming…”

***

Perjalanan panjang menuju Australia membuat Kiara tidak bisa tidur. Tapi, ia juga tidak suka berbicara dengan orang asing. Seorang wanita yang duduk di sebelahnya pun mulai menunjukkan tanda-tanda ingin beristirahat. Akhirnya, Kiara pun hanya menutup mata, namun pikirannya, menerawang ke masa SMA nya dulu.

“Kiaraaa….!!!” Seseorang terdengar memanggilnya, saat ia akan masuk ke dalam kelas. Tadinya, Kiara berharap bisa datang terlambat, agar ia tidak punya waktu untuk mengobrol dengan siapapun. Tapi Tian belum mengerjakan pekerjaan rumahnya, dan memaksa Kiara untuk berangkat pagi demi membantunya mendaptkan jawaban PR nya. Dan benar saja, keputusannya untuk datang ke sekolah lebih awal, membuatnya tidak bisa menghindari ini.

Kiara menoleh ke arah sosok yang memanggilnya. Ia sudah menduga siapa sosok yang memanggilnya itu. Tapi ia hanya menoleh dan berpura-pura tidak tahu apa-apa.

Sosok yang memanggilnya itu pun menghampiri ke arah bangku Kiara. Kelas masih sepi. Hanya ada Kiara dan dia, Faras.

“Kenapa sms ku semalam nggak dibalas?” tanyanya tanpa basa-basi. Kiara duduk di kursinya dan menatap penuh tanya ke arah sosok teman sekelasnya itu. Kiara seakan merasa menemukan sosok Faras yang berbeda. Selama ini, dia mengenal Faras sebagai laki-laki pendiam yang bahkan tidak akan mungkin mengajukan pertanyaan semacam itu ke Kiara. Tapi nyatanya, semua dugaan Kiara tentang Faras ternyata keliru.

“Sorry Faras,” sahutnya tanpa bisa memberi alasan apapun. Dia tidak mau berbohong, tapi dia juga tidak mungkin mengucapkan yang sebenarnya.

Faras hanya diam mendengar jawaban Kiara. Meski Kiara tahu, Faras pasti menginginkan sebuah alasan,”Kalau gitu, kita sekarang ke kantin yuk!” ajaknya, tanpa memperdulikan jawaban Kiara tadi.

Kiara memegang telinganya yang tidak gatal. Dia bingung bagaimana akan menolak tawaran itu. Raut wajahnya menunjukkan seolah dia sedang berharap ada seseorang yang datang dan membuat Faras segera menjauh darinya.

“Gimana Ra?” Faras masih mendesaknya.

Suasana di luar mulai terdengar ramai. Sambil berharap-harap cemas, Kiara menunggu seseorang masuk ke dalam kelasnya.

“Hei semuaaa…..!!”

Harapan Kiara ternyata terkabul. Sayangnya, sosok yang datang itu bukanlah yang diharapkannya.

“Lho, kok Kiara berduaan sama Faras?” Tita yang baru saja datang, dan menemukan Faras duduk di depan Kiara, sambil menatap ke arah gadis itu, lantas terkejut. Bukan hanya karena Faras tidak pernah berbuat seperti itu sebelumnya. Tetapi juga karena perempuan yang ada di dekat Faras adalah Kiara, sahabatnya sendiri. Hanya Kiara satu-satunya orang yang mengetahui perasaannya pada Faras.

Kiara menatap ke arah sahabatnya itu, dan berusaha bersikap biasa,” kita lagi obrolin tugas matematiku itu lho Ta. Lusa kan dikumpul,” sahut Kiara, merasa lega karena berhasil menemukan alasan yang tepat.

“Oh iya, aku juga belum selesaikan semua sama Diah,” sahut Tita sambil mendekat ke arah Kiara dan Faras. Ia lalu meletakkan tas di bangkunya, tepat di samping Kiara.

“Oke, ini hasil hitunganku. Kamu periksa dulu,” ucap Faras tiba-tiba, sambil meletakkan secarik kertas di atas meja. Kertas itu benar-benar kertas jawaban Faras untuk tugas kelompoknya dengan Kiara. Mereka memang membagi tugas dan saling memeriksa pekerjaan satu sama lain sebelum mengetiknya.

Kiara mengangguk, dan mengambil kertas itu. Tanpa mengobrolkan hal yang lain, Faras langsung berpamitan pergi. Kiara tahu, Faras pasti akan melakukan hal itu.

“Hmm… enaknya bisa sekelompok sama Faras.” Tita mulai terlihat bersungut-sungut, ketika bayangan Faras sudah menghilang dari balik pintu kelas mereka.

“Aku juga nggak tahu Ta. Kok bisa pak Iwan memilih aku dan Faras menjadi satu kelompok,” ucap Kiara, mencoba menenangkan hati Tita. Ia tahu gadis itu merasa sangat kesal dan cemburu pada Kiara. Kiara sendiri sebenarnya merasa senang bisa mengerjakan tugas itu dengan Faras. Apalagi ia tahu kalau Faras ternyata memiliki perasaan padanya. Tapi, persahabatannya dengan Tita yang sudah dijalinnya sejak sekolah dasar, membuatnya lantas memikirkan kembali tentang perasaannya. Baginya, persahabatannya dengan Tita lebih penting dari apapun.

“Iya sih,” sahut Tita.” Udahlah, lupakan aja,” ucapnya lagi, membuat Kiara sontak bisa bernafas lega.

“Eh, iya Ra, aku lupa mau cerita.” Tita tiba-tiba memulai lagi percakapan mereka yang sempat terputus. Tadinya Kiara ingin memeriksa jawaban yang ditulis Faras di selembar kertas yang diberikannya kepada Kiara, tapi lantas diurungkannya, ketika Tita mulai mengajaknya berbicara lagi.

“Ada apa Ta?” tanyanya, sambil memiringkan tubuhnya dan menghadap ke arah Tita. Beberapa anak di kelas mereka mulai berdatangan. Ada yang memutuskan langsung duduk dan sibuk mengobrol. Dan ada juga yang memilih keluar kelas sambil menunggu bel masuk berbunyi. Seperti yang dilakukan Faras.

“Besok Faras ulang tahun Ra.” Tita bercerita dengan wajah yang sumringah.” Aku mau mengungkapkan perasaanku sambil kasih kado ke dia. Kamu mau nggak nemenin aku cari kado pulang sekolah nanti?” tanyanya sambil menatap ke arah Kiara.

“Bisa. Memangnya kamu udah tahu mau ngasih apa?”

Tita nampak terdiam sejenak. Terlihat dia sedang berpikir,” belum,” jawabnya sambil menggeleng.” Emm, kira-kira Tian bisa kasih ide nggak ya? Dia kan cowok,” lanjut Tita, membuat Kiara berusaha menahan rasa gatal yang tiba-tiba muncul di tenggorokannya.

Kalau sampai Tian tahu, Tita akan memberikan kado untuk Faras, dia pasti tidak akan memberi saran apapun. Dan Kiara tidak tahu apa yang akan terjadi jika adik laki-lakinya itu patah hati. Tian terlalu baik untuk merasakan patah hati. Karenanya, Kiara tidak pernah bercerita tentang perasaan Tita yang sebenarnya pada Tian.

“Kamu percaya sama anak kecil itu. Idenya nggak bakal bagus,” ucap Kiara, mencoba menggagalkan rencana Tita untuk bertanya pada Faras.

“Jadi gimana?” tanya Tita, mulai menunjukkan wajah kusutnya.

“Emm, gimana kalau kasih jam tangan aja? Simpel tapi pasti terpakai,”cetus Kiara.

Tita terlihat berpikir sejenak, sebelum menganggukkan kepalanya,” boleh juga tuh,” sahutnya.” Nanti kamu pulang bareng aku aja ya!”

“Siippp…” sahut Kiara sambil mengacungkan jempolnya. Ia berharap rencana Tita berjalan dengan lancar. Karena kalau benar Faras memang menyukainya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok.

***

Tita menghela nafasnya pelan. Bayangan Ethan yang terakhir dilihatnya, saat mengantarnya ke bandara, masih menari-nari di pikirannya. Laki-laki itu begitu baik padanya. Meskipun pertemanan mereka selama ini, sedikitpun tidak menguntungkan laki-laki itu. Tita terlalu sering merepotkan Ethan. Bahkan saat ini pun, ia bisa menginjakkan kakinya ke tempat kelahirannya adalah karena bantuan Ethan.

Dalam kepanikannya saat mengetahui Mamanya dirawat di rumah sakit, Tita sama sekali tidak bisa berpikir normal. Ia tidak tahu harus berbuat apa, selain ingin segera pulang dan menemui mamanya. Ia bahkan tidak berpikir tentang bagaimana ia harus pulang dan menyelesaikan semua urusannya. Semua tidak akan mungkin menjadi mudah, jika tidak ada Ethan. Ethan yang mengurus semuanya. Membeli tiketnya, mengurus keberangkatannya, izin kuliahnya, semua beres di tangan Ethan. Dan Tita hanya tinggal mengucap terima kasih dan bersyukur mengenal sahabat sebaik Ethan.

Tita kembali teringat dengan pertemuan pertamanya dengan Ethan yang memang satu jurusan dengan Lucy, teman satu flatnya dulu. Saat itu, Lucy yang mempertemukannya dengan Ethan saat makan siang di kampus. Tadinya, Lucy berniat menjodohkan Ethan dengan Tita. Ia bahkan sengaja memprovokasi Ethan untuk menyewa flat di dekat flat mereka. Dan Ethan dengan senang hati menerima tawaran itu, karena Flat mereka memang lebih dekat dengan kampus.

Awalnya Tita tidak tertarik untuk memiliki hubungan khusus dengan Ethan. Ia bahkan dengan yakin mengatakan pada Lucy, kalau ia hanya akan menjadi sahabat baik Ethan. Dan itu, diungkapkannya dengan lugas di depan Ethan. Sebuah keputusan yang disesalinya kini. Ia sudah terlanjur menyatakan sebagai sahabat bagi Ethan. Dan ucapannya itu, sudah tidak bisa ia tarik kembali, meskipun segalanya mulai terasa berubah. Ia tidak bisa menyangkal sebuah perasaan berbeda yang muncul di hatinya. Perasaan yang sudah lama terkunci untuk satu nama yang kini entah ada dimana. Faras.

Tita sendiri tidak menyangka, kalau ia akhirnya bisa melepaskan perasaanya pada Faras. Ia pikir, Faras adalah cinta pertama sekaligus cinta sejatinya yang tidak akan tergantikan oleh siapapun. Tapi nyatanya, ia kini justru sudah melupakan nama itu, dan merasa nyaman dengan seseorang yang sayangnya hanya bisa menjadi sahabatnya saja.

“Titaaaa…!!!” Tita tersentak dari lamunannya, ketika menyadari ada seseorang yang memanggilnya. Sejak tadi, ia mencari-cari, namun tak juga ditemukannya sosok itu. Namun tiba-tiba ia muncul begitu saja. “Sudah lama?” Mbak Indah, kakak perempuannya, yang memang ditugaskan untuk menjemputnya, datang tergopoh-gopoh ke arahnya.

“Sorry, tadi macet,” ucapnya lagi, membuat Tita tak sempat menyahut apa-apa.

“Nggak apa Mbak, belum lama kok. Kita langsung pulang ya, terus kerumah sakit,” ucap Tita cepat. Ia tidak mau menyia-nyiakan waktunya. Meksipun lelah, ia ingin segera menemui Mamanya.

“Iya sudah, ayo…!!!” sahut Indah sambil membantu adiknya itu membawa barang-barangnya.

Sepanjang jalan, Tita mulai sibuk mengaktifkan ponselnya. Khawatir kalau Ethan menghubunginya dan menanyakan sesuatu. Namun Tita harus rela disergap perasaan kecewa, karena laki-laki yang diharapkannya itu, ternyata tidak menghubunginya. Ia justru menemukan sebuah pesan dari seseorang yang tidak disangka-sangkanya, dan cukup membuatnya lantas beristigfar keras.

***

“Kamu beneran didepan flatku Ra?” tanya Tita, masih dengan nada tidak percaya. Ia tidak peduli lagi dengan pulsa yang akan dihabiskannya untuk menelpon sahabat karibnya itu. Ia tidak menyangka kalau Kiara senekat itu. Bahkan Tita pun tidak dihubunginya sama sekali.

“Iya lah Tita…. Ini aku udah ada tepat di depan pintunya. Kamu dimana sih?” suara Kiara dari seberang telpon terdengar lelah sekaligus tidak sabar. Gadis itu pasti mengetuk pintu cukup lama dan sempat merutuki Tita, karena ponselnya baru saja aktif. Selama di pesawat dan mengurus barang-barangnya tadi, Tita memang belum mengaktifkan ponselnya.

“Ya Allah, kamu kok nggak bilang sih Ra?” keluh Tita, membuat Indah memandang penuh tanya ke arah adiknya itu. Mereka masih terkepung dengan macet di tengah jalan dari bandara menuju rumah mereka.

Tita tidak mempedulikan Indah dan menunggu sahutan dari seberang telepon.” Aku mau kasih surprise Ta,” sahut Kiara, yang diyakini Tita, dilakukannya sambil tersenyum sumringah. Kalau saja ia sekarang masih ada di Wollongong, ia pasti akan menyambut sahabatnya itu dengan senang hati. Kedatangan Kiara akan benar-benar menjadi kejutan terindah untuknya. Sudah lama ia ingin mengajak Kiara memutari Wollongong.

Sayangnya, Kiara justru datang di waktu yang tidak tepat. Bahkan niat gadis itu untuk memberikan kejutan padanya, justru membawanya ke dalam kesulitan yang membuat Tita lantas kembali kalut.

“Tapi aku lagi nggak di flat Ra,” ucap Tita, mencoba memilih kata terbaik untuk disampaikan pada sahabatnya itu. Ia masih bingung bagaimana harus menyampaikan kejadian yang sebenarnya. Kiara pasti akan kalut dan ketakutan. Apalagi ia tidak mengenal siapapun di Australia.

“Lama nggak Ta?” tanya Kiara, membuat Tita sontak menggigit bibirnya. Ia belum menemukan penyelesaian terbaik untuk Kiara. Apalagi pikirannya masih terbagi dengan kekhawatirannya terhadap Mamanya. Hal itu membuatnya tidak bisa berpikir cepat.

“Aku lagi di Indonesia Ra. Baru aja nyampe.”

“Haaa…..” Kiara berteriak kencang.” Serius elo Ta? Jangan bercanda deh.” Tita mulai mendengar suara Kiara bergetar pelan.