Berbagi Ilmu

Penentram Hati (Perjalanan ke Rumah Qur’an Jilid 2)

Bismillahirrahmanirrahim…

InsyaAllah ini catatan kedua sekaligus terakhir, dari perjalanan kami ke rumah Qur’an Utrujah di Samarinda. Mudah-mudahan catatan ini bisa menjadi pelecut semangat sekaligus penentram bagi hati kami, agar kami senantiasa istiqomah belajar dan membagi ilmu. Catatan ini juga insyaAllah menjadi sarana bagi kami agar terus mampu mengikat dan menyebarkan ilmu ini kepada siapa saja. InsyaAllah..

Alhamdulillah, atas izin Allah kami dipertemukan dengan Ustadzah Ngarofatusshofiah, Lc di hari kedua. Beliau, yang dengan penuh semangat menjumpai kami di Samarinda, setelah melalui perjalanan yang tidak singkat, dari Tenggarong ke Samarinda.

Setelah hari pertama kami mendapat gugahan semangat dan materi tentang tahfidz, Alhamdulillah di hari kedua, kami mendapat ilmu tentang tahsin bersanad. Namun sebelum membahas tentang sanad, Ustadzah Shofi, begitu biasa beliau dipanggil, menekankan kembali tentang hukum-hukum tahsin atau tajwid.

Tajwid berarti :

  • Membaguskan atau membuat jadi bagus
  • Sesuatu yang mendatangkan kebaikan atau kebagusan
  • Membaguskan atau memperbaiki bacaan Al Qur’an

Dan menurut istilah, tajwid berarti mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya masing-masing sesuai dengan hak mustahaknya

Nah, apakah itu hak huruf?

Hak huruf adalah sifat asli yang senantiasa ada pada setiap huruf dan tempat-tempat keluarnya huruf. Sedangkan mustahak huruf adalah sifat-sifat yang sewaktu-waktu timbul oleh sebab-sebab tertentu. Contohnya : pada hukum bacaan ikhfa, izhar, iqlab dan lain sebagainya.

Ustadzah Shofi juga menjelaskan kepada kami tentang hukum-hukum tajwid seperti tafkhim dan tarqiq, Mad dan waqaf. Namun, secara ringkasnya, dalam hukum tajwid, ada beberapa istilah yang harus diketahui, yakni :

  • Makharijul huruf
  • Sifatul huruf
  • Ahkamul huruf, yaitu hubungan huruf bertemu huruf
  • Ahkamul maddi, yaitu hukum panjang pendeknya bacaan
  • Ahkamul waqaf wal ibtida, yaitu hukum wakaf
  • Al Had, yaitu tulisan

Dalam mempelajari ilmu tajwid, ada dalil shahih tentang diwajibkannya seorang hamba membaca Al Qur’an dengan ilmu tajwid.

  1. Surah Al Muzzammil ayat 4
  2. Hadist dari Ummu Salamah ra, yang menunjukkan bahwa orang yang membaca Al Qur’an harus mengetahui ilmu tajwid
  3. Hadits “Bacalah Al Qur’an dengan cara dan suara orang Arab yang fasih”
  4. Syekh Syamsuddin Muhammad Al Jazari mengatakan dalam syairnya “Membaca Al Qur’an dengan tajwid hukumnya wajib. Siapa yang membaca Al Qur’an padahal telah belajar tajwid namun tidak dibaca dengan tajwid, hukumnya dosa”
  5. Mempelajari tajwid hukumnya fardhu kifayah, namun mengamalkannya hukumnya fardhu’ain

Tujuan mempelajari tahsin atau tajwid adalah untuk menjaga lidah atau lisan dari kesalahan ketika membaca Al Qur’an.

Kesalahan-kesalahan ketika membaca Al Qur’an

  1. Kesalahan yang terlihat dengan jelas baik di kalangan awam maupun para ahli tajwid, contoh : perubahan bunyi huruf dengan huruf lain, perubahan harokat dengan harokat lain, memanjangkan huruf pendek/sebaliknya dan mentasydidkan huruf yang tidak seharusnya/sebaliknya
  2. Kesalahan ringan yang tidak diketahui secara umum, kecuali para ahli tajwid. Contoh hukum baca Al Qur’an, tidak menerapkan gunnah.

Faedah tahsin/tajwid

  1. Refleksi keimanan seorang muslim terhadap Al-Qur’an
  2. Mencapai kualitas yang terbaik dalam membaca Al-Qur’an
  3. Mengikuti jejak Rasulullah SAW yang telah mengajar Al Qur’an
  4. Terhindar dari kesalahan membaca Al-Qur’an
  5. Mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat

Keutamaan Al-Qur’an

  1. Mendapat syafa’at di hari kiamat
  2. Mendapat derajat yang tinggi
  3. Merupakan ciri keimanan seseorang
  4. Mendapat kebaikan

Tingkatan membaca Al-Qur’an

  1. At-Tahqiqu, yaitu bacaan yang sangat lambat yang lazim digunakan untuk mengajar Al-Qur’an dengan sempurna
  2. At-Tarqilu, yaitu bacaan lambat dengan ilmu tajwid dan mentadabburinya
  3. At-Tadwiru, yaitu bacaan yang tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat atau sedang
  4. Al Hadaru, yaitu bacaan yang dilakukan dengan cepat namun tetap memperhatikan tajwid

Dasar-dasar tahsin

  1. Kesalahan umum pertama, tidak konsisten membaca panjang pendek bacaan. Solusi untuk kesalahan ini adalah menggunakan hitungan atau ketukan untuk menentukan seberapa panjang bacaan tersebut
  2. Kesalahan umum kedua, tidak seimbang dalam membaca gunnah. Tidak jauh berbeda dengan solusi kesalahan umum pertama, yaitu dengan menggunakan ketukan untuk menahan dengungnya
  3. Kesalahan umum ketiga, pengucapan vokal yang tidak sempurna. Hal ini disebabkan karena tidak menyadari pentingnya pengucapan vokal. Hal ini dapat diatasi dengan menyesuaikan tempat-tempat keluarnya huruf
  4. Kesalahan umum keempat, memantul huruf sukun selain qalqalah

Alhamdulillah, selesai sudah kami memahami tentang ilmu tajwid/tahsin. Berikutnya, ustadzah Shofi menjelaskan kepada kami tentang membaca Al-Qur’an dengan tajwid dan tahsin bersanad. Sebelumnya, beliau menjelaskan pada kami tentang apa itu sanad.

Sanad adalah silsilah atau rantai yang menyambungkan kita dengan orang-orang sebelum kita. Sedangkan menurut bahasa, sanad adalah sesuatu yang terkait kepada sesuatu yang lain.

Menurut istilah, sanad adalah bersambungnya ikatan batin kita, bersambungnya ikatan perkenalan kita dengan orang lain, bersambungnya ilmu dan pengetahuan yang kita miliki dengan guru-guru kita terdahulu sampai kepada Rasulullah SAW.

Sehingga dapat diterjemahkan dengan lebih sederhana, belajar tahsin dan tajwid bersanad berarti belajar tahsin dengan orang-orang yang telah belajar Al-Qur’an dari guru-guru, yang ketika disambungkan urutannya, maka akan bermuara kepada Rasulullah SAW. Sehingga, belajar tahsin sanad, berarti belajar membaca Al-Qur’an sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Karena itu, Ustadzah Shofi menyampaikan bahwa belajar dengan guru ber-sanad atau guru yang memiliki sanad, itu lebih utama.

Pada kesempatan itu, ustadzah Shofi juga sempat memperlihatkan kepada kami, semacam ijazah yang dimiliki oleh para guru sanad, termasuk beliau sendiri. Kami diperlihatkan ijazah milik ustadzah Rosikho, Lc. Di dalam ijazah tersebut tertulis nama guru ustadzah Rosikho, sampai ke guru-guru sebelumnya, hingga ke Rasulullah SAW.

InsyaAllah kami saat ini sedang bersemangat untuk terus belajar tahsin, hingga kami akhirnya bisa belajar tahsin bersanad pula. Dan Alhamdulillah, kami juga bertekad untuk bisa menghafal Al-Qur’an bersama, insyaAllah. Mohon doa dari teman-teman semua, semoga niat kami bisa tercapai. Dan kami juga ingin menyemangati teman-teman semua, khususnya para muslimah, agar terus bersemangat untuk mempelajari Al-Qur’an. Apalagi, setelah kita semua mengetahui betapa banyak faedah yang akan didapatkan jika kita mempelajari Al-Qur’an.

InsyaAllah, kami sudah membuka program tahsin Al-Qur’an untuk muslimah di bulan Maret 2016 nanti. Pendaftarannya sudah dibuka, dan teman-teman semua tentu boleh mendaftar. Selama kita masih diberi nikmat kesehatan dan kesempatan, mari kita terus berusaha untuk belajar dan menepikan rasa malu kita. Kadangkala, rasa malu dan enggan itulah yang menjadikan segalanya terasa berat. InsyaAllah, banyak yang memulai dari dasar, namun dengan kegigihan, akhirnya mampu menguasai ilmu tahsin.

Sebelum catatan ini ditutup, ada beberapa tips dan trik yang disampaikan oleh ustadzah Shofi, Lc dalam belajar Al Qur’an.

Tips dan Trik belajar Al-Qur’an

  1. Tidak terburu-buru dan tidak menunda-nunda
  2. Membaca/menghafal bukan untuk khatam, tetapi untuk dakwah dan supaya tidak jauh dari pedoman
  3. Mempelajari Al-Qur’an sesuap demi sesuap
  4. Senang dirindukan ayat

Alhamdulillah, catatan ini telah selesai dirangkum. Sesungguhnya catatan ini diperuntukkan untuk diri kami, agar kami senantiasa mengingat niat dan semangat kami untuk senantiasa belajar dan memperbaiki dari. Alhamdulillah, jika catatan ini pun bisa bermanfaat untuk orang lain. Sungguh, persahabatan yang paling sejati adalah persahabatan yang tidak hanya di dunia, namun juga sampai hingga ke Syurga.

Penulis tentu memiliki banyak kekurangan dalam merangkum semua catatan ini, termasuk penggunaan bahasa dan kalimat yang tentu tidak sebaik jika antuna semua mendengarkan langsung. Tetapi, ini adalah bagian dari ikhtiar kami, agar catatan-catatan kami tidak hanya tertumpuk di diri kami ataupun di catatan-catatan pribadi kami. Namun, dapat juga terbagi manfaatnya untuk orang banyak.

InsyaAllah, jika ada kesempatan, kami juga akan berusaha mengumpulkan catatan kami yang lain, agar teman-teman juga bisa mendapatkan manfaatnya.

Segala kebenaran dan kebaikan datangnya dari Allah, dan segala kekhilafan datangnya dari pribadi penulis. Semoga berkenan memaafkan.

Sampai jumpa di ikatan ilmu berikutnya, insyaAllah

 

Iklan
Berbagi Ilmu

Pengikat Cahaya (Catatan Perjalanan Hati ke Rumah Qur’an Utrujah)

Bismillahirrahmanirrahim..

Atas izin Allah ilmu ini terikat, dan atas izin Allah pula ilmu ini terangkum dalam kalimat yang jauh dari sempurna. Barangkali tidak ada satu pun kalimat yang mampu melukiskan betapa luar biasanya lantunan ilmu yang kami dengar langsung dari ustadz dan ustadzah kami. Namun, tak kuasa rasanya mengikatnya sendiri. Sebagaimana kami begitu merasakan besarnya manfaatnya, kami pun berharap semua orang juga bisa merasakan seperti halnya yang kami rasa.

Jauhnya jarak, letihnya tubuh dan besarnya pengorbanan adalah harga yang harus dibayar. Namun rasa-rasanya tidak sebanding dengan apa yang sudah di dapat. Orang bisa membayar dengan uang untuk sebuah kemewahan. Namun iman dan kecintaan pada Al Qur’an tidak pernah bisa dibeli oleh siapapun. Itu adalah sebuah perkara hati, dan hanya hati yang ikhlas yang mampu membayarnya.

InsyaAllah dengan segala kekurangan dan kelemahan kami dalam menyimak, tulisan ini kami sampaikan. Semoga tersampaikan dan terikat hingga ke hati. Aaamiin.

Ustadz Taufiq Hidayat, Lc, M.A menepuk lembut semangat kami agar semakin menguat di hari pertama perjuangan hati kami mengikat ilmu. Beliau berkata dalam kalimat yang terangkum dalam catatan sederhana kami.

Jalan lurus adalah jalan yang terjal, penuh godaan dan tantangan hawa nafsu. Di jalan yang lurus, manusia harus siap dengan tantangan-tantangan yang akan dihadapinya.

  1. Orang kafir yang akan memerangi
  2. Orang-orang munafik
  3. Orang mukmin yang hasad padanya
  4. Hawa nafsu, dan
  5. Setan yang senantiasa menyesatkan

Dari penyampaian beliau-lah, kami akhirnya memahami tentang nama utrujah yang tersemat di rumah Qur’an yang kami singgahi. Dalam hadits disampaikan,

“Perumpamaan orang mukmin yang membaca al-Qur`an adalah seperti buah Utrujjah, baunya harum dan rasanya juga enak. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca al-Qur`an adalah seperti buah kurma, baunya tidak semerbak, namun rasanya manis. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang membaca al- Qur`an adalah laksana buah Raihanah yang baunya harum namun rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca al-Qur`an adalah seperti buah Hanzhalah, baunya tidak wangi dan rasanya juga pahit.” (Hadits Riwayat al-Bukhari)

Seperti apa buah utrujah, dapat antuna baca lebih lengkap di sini. Namun, secara singkat, nama lain dari buah utrujah adalah buah lemon.

Dan cerita kami pun berlanjut. Taujih pembuka adalah pelecut sekaligus penghilang penat 8 jam perjalanan darat dan laut yang kami lakukan. Menyelami inti acara, kami mengikat sebuah ilmu baru tentang bagaimana metode tahfidz (menghafal ) Al Qur’an. Materi ini diisi oleh Ustadzah Mahmudah, MA. Beliaulah pelecut semangat berikutnya, yang mengobarkan api membara di dada kami.

Kalimat pembuka dari beliau rasa-rasanya sudah cukup menenggelamkan seluruh keluhan kami tentang betapa sulitnya kami menghafal

  •  Dalam menghafal Al-Qur’an, tidak boleh tercampuri dengan niat-niat dunia. Harus ikhlas dalam berinteraksi dengan Al Qur’an
  • Siapa yang menyibukkan diri dengan Al Qur’an sampai ia lupa meminta sesuatu kepada Allah, maka akan Allah kabulkan lebih daripada itu.
  • Dalam berinteraksi dengan Al Qur’an harus pula selalu berdoa, dan belajar fiqih serta tafsirnya
  • Bila sulit menghafal Al Qur’an, perbanyak istigfar, bersihkan hati dari segala maksiat dan kembali bertaubat
  • Belajar dan mengajar Al Qur’an disertai dengan berdoa agar akhlak kita bisa sesuai dengan yang diajarkan Al Qur’an

Ada dua teori menghafal yang beliau sampaikan dalam sesi ini. Semoga memudahkan siapapun yang hendak menghafalkan Al Qur’an. InsyaAllah mudah-mudahan tercapai cita-cita untuk menjadi seorang hafidz/hafidzah, aamiin..

Metode Pertama

Dikembangkan oleh Prof.Dr Yahya Gausany

Tips yang diberikan adalah sebagai berikut :

  1. Usahakan menghafal 1 jam sebelum subuh/ 1 jam sesudah subuh atau 7 menit sebelum subuh/ 7 menit sesudah subuh
  2. Tentukan niat dengan penuh keyakinan bahwa kita mampu menjadi hafidz/hafidzah dalam 1 atau 2 tahun
  3. Memiliki keyakinan mampu menghafal satu atau setengah halaman sehari
  4. Pilihlah juz / surah yang disukai untuk dihafalkan lebih awal

Tekniknya adalah :

  1. Sebelum menghafal, pastikan telah meminum segelas air putih, untuk membantu memperlancar oksigen ke otak
  2. Memiliki keyakinan mampu menghafal setengah halaman dalam 5 menit
  3. Memulai dengan senyum, lalu menarik nafas. Keluarkan nafas bersamaan dengan keluarnya ayat
  4. Letakkan posisi mushaf (Al Qur’an) persis di depan mata, di sebelah kiri atas. Jangan meletakkan mushaf di bawah mata
  5. Baca 1 ayat secara detail dan fokus. Lebih bagus jika dipahami maknanya
  6. Baca 1 hingga 2 kali, lalu bawa huruf-huruf dalam ayat tersebut ke khayal (dibayangkan huruf-hurufnya)
  7. Tutup Al Qur’an, dan hadapkan wajah ke kanan bawah (menunduk ke sebelah kanan bawah)
  8. Ulangi hafalan setelah satu jam menghafal, malam sebelum tidur dan ketika mau menghafalkan ayat/surah baru
  9. Dengarkan surah yang sedang dihafalkan seharian, lebih baik jika berbeda qori atau mendengar dari murrotall beberapa syekh
  10. Gunakan surah yang sedang dihafalkan tersebut saat melaksanakan sholat

Pada penyampaian metode pertama ini, Ustadzah Mahmudah juga menekankan pada beberapa poin yang sangat penting.

Muroja’ah atau mengulang hafalan hukumnya wajib, sedangkan menambah hafalan itu hukumnya sunnah

Metode Kedua

Metode ini dinamakan metode Tabaroq. Referensi lain dapat dibaca di tulisan berikut

Metode ini dikhususkan untuk anak-anak dan dapat digunakan sebagai referensi jika ingin mendirikan rumah tahfidz/sejenisnya. Namun metode ini juga bisa digunakan untuk keperluan pribadi (menghafal sendiri atau membantu anak menghafal)

Penjabarannya adalah sebagai berikut:

  1. Waktu menghafal selama 4 jam x 3 hari dalam sepekan. Misalnya hari senin hafalan selama 3 jam, hari selasa libur, dilanjutkan kembali hari rabu selama 3 jam, kamis libur dan seterusnya
  2. Target per hari adalah setengah halaman. Dan di saat libur, orang tua membantu anak memuraja’ah atau mengulang hafalan yang telah dihafalkan
  3. Ketika anak berhasil menghafal, boleh diberi biskuit atau susu sebagai hadiah
  4. Metode ini seperti sistem pesawat saat akan terbang. Pada awalnya lama, namun ketika sudah take off, prosesnya berjalan lebih cepat. Jadi, proses hafalan dimulai dari juz 30 selama 3 bulan, lalu juz 29 selama 3 bulan, lalu ke surah Al Baqarah dan An-nisa selama 3 bulan. Artinya, juz amma yang sebenarnya lebih pendek dari surah Al Baqarah, sengaja diberi waktu lama, karena pada saat itu, anak masih baru pertama kali menghafal, sehingga kemampuan otakknya masih seperti pesawat yang bersiap terbang. Lalu, ketika anak sudah mulai terbiasa, ia akan sanggup menghafal lebih cepat. Sehingga surah Al Baqarah dan An-nisa yang cukup panjang dapat dihafal dengan durasi lebih singkat
  5. InsyaAllah dengan metode ini akan khatam dalam 2,5 tahun
  6. Metode ini juga menggunakan murrotal. Dan saat murrotal diputar, anak tidak diperbolehkan bicara

Tahapan-tahapannya :

  • 30 Menit digunakan untuk muroja’ah menggunakan murottal Syaikh Abdurrahman as-Sudais
  • 45 menit digunakan untuk mendengar hafalan baru menggunakan murottal dengan bacaan yang lebih lambat. Pada tahap ini, dapat menggunakan murottal Syekh Mahmoed Khalil al Husary atau murottal Syekh al Minshawi
  • 30 Menit berikutnya, guru mentalqin kan bacaan. Sistemnya, guru/orang tua membacakan, anak-anak mengikuti
  • 15 Menit istirahat sambil makan dan diputarkan murottal hafalan baru yang sedang dihafal
  • 45 menit berikutnya, anak-anak di talqin Syekh Khalil al Husary atau Syekh al-Mishawi. Maksudnya, anak-anak mendengar murottal, kemudian mengikuti bacaannya
  • 45 menit belajar huruf
  • 1 jam digunakan untuk mengulang hafalan per individu dan bersama (menyetorkan hafalan)

Pada metode ini juga ditekankan untuk memberi level murid berdasarkan usia. Kemudian, ditekankan pula agar putra dan putri belajar terpisah. Jadi, total waktu yg digunakan untuk proses menghafal selama sepekan kurang lebih adalah 13 jam. Kemudian akan lebih baik pula, jika dalam metode ini juga dipelajari tafsir juz 29 dan 30, yaitu ustadz/ustadzah menceritakan kepada anak-anak apa isi surah yang dihafal tsb.

Bagi para penghafal maupun pengajar tahfidz, alangkah baiknya jika pengalaman dalam proses menghafal tersebut dituliskan sebagai catatan tersendiri. Dimulai dari rancangan program, target, apa yang telah dilakukan dan didapatkan dari proses tersebut. Barangkali banyak hal-hal unik atau spesial yang dapat diambil hikmahnya untuk penyemangat bagi para penghafal Qur’an yang lain.
Pesan dari ustadzah kami bahwa tugas utama kita sebagai manusia adalah untuk mentadabburi Alqur’an, karena dengan mentadabburi Alqur’an InsyaAllah kadar iman, ilmu, dan amal kita akan bertambah.

InsyaAllah, metode-metode tersebut adalah salah satu ikhtiar agar Al Qur’an bisa dihafalkan dengan mudah. Meskipun sejatinya, Allah sebenarnya telah berfirman dalam surah Al Qamar ayat 17, “Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”

InsyaAllah, jika diniatkan dengan ikhlas dan ditekadkan, siapapun bisa menghafal Al Qur’an. Tercatat kalimat semangat yang dilantunkan oleh ustadzah Mahmudah Lc, yang bersumber dari hadits bahwa ahli Al Qur’an atau orang yang dekat dengan Al Qur’an akan menjadi keluarga Allah SWT. Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu sudah “menurunkan diriNya”, sehingga manusia yang sejatinya hanyalah seorang hamba, dapat menjadi keluargaNya Allah, jika mereka dekat dengan Al Qur’an. Subhanallah..!!

Dan luar biasanya ustadzah kami ini, beliau adalah orang yang sangat bersemangat. Setiap kata dan kalimat yang diucap seakan “menampar” dan melecutkan semangat siapapun yang mendengar. Kalimat-kalimat beliau yang sempat kami catat sebagai berikut :

Pahala diperoleh dari 3 hal,

  • Apa yang kita lakukan
  • Apa yang kita niatkan
  • Dari bekas-bekas kebaikan

Nah, disini beliau juga menyampaikan, ketika manusia meninggal dunia, ada 3 kemungkinan yang akan terjadi

  1. Amal kebaikannya terus mengalir bersamaan dengan amal keburukannya
  2. Amal kebaikannya berhenti, sementara amal keburukannya terus mengalir
  3. Amal kebaikannya terus mengalir, dan amal keburukannya terhenti

Sungguh, kita tentu tidak ingin menjadi seperti yang pertama dan kedua. InsyaAllah, mudah-mudahan Allah senantiasa memudahkan langkah kita agar mampu  menjadi seperti yang ketiga. Sungguh, apa yang kami tulis ini sebenarnya masih belum sesempurna ketika antuna semua mendengar langsung. Rasa-rasanya tidak ada yang bisa menggantikan betapa luar biasanya penyampaian dari beliau. Semoga kelak antuna semua berkesempatan bertemu dan mendengar langsung dari beliau. Namun, kami berharap manfaat dari tulisan ini tetap mampu tersampaikan kepada siapa saja.

Catatan kami masih akan berlanjut. Masih banyak sekali ilmu yang dibagikan oleh ustadz dan ustadzah kami. InsyaAllah Catatan lanjutan dapat dibaca di Catatan Perjalanan Hati ke Rumah Qur’an Jilid 2

		
Pikiran dan Perasaan

2016’s Plans

Tahun yang baru, lembar yang baru dan tentunya rencana baru.

Seperti banyak kata orang, awal yang baru adalah sebuah kesempatan untuk memulai kembali apa-apa yang pernah gagal di capai di kesempatan sebelumnya. Yah, tidak mungkin setiap rencana pasti berhasil, bukan?

Ada rencana-rencana yang memang harus gagal, karena Allah menggariskannya demikian. Bisa bermakna sebagai sebuah tantangan sekaligus ujian, apakah kita sebagai hamba akan menyerah atau memutuskan untuk bangkit. Namun, kegagalan bisa pula bermakna, bahwa apa yang kita inginkan itu bukanlah yang terbaik. Ada sesuatu yang lebih baik, yang insyaAllah akan datang di kesempatan berikutnya.

Ada banyak kegagalan versi kedua yang sudah saya lalui. Hal-hal yang saya harus terima dengan lapang, kalau saya tidak bisa memimpikannya lagi. Sulit memang pada awalnya, tetapi Allah memang tidak pernah membebani seseorang melebihi kesanggupannya. InsyaAllah semua pasti berlalu dan terlewati, tentunya dengan izin dan kuasa dari Allah. Nah, untuk kegagalan versi kedua ini, tentu tidak ada yang bisa dibahas lagi kecuali hanya bagian keikhlasan yang harus terus dipupuk, agar kelak tak terucap “Andai saja”, “Seandainya”, “Kalau Saja”, dan kalimat-kalimat yang bersepupu dengan kalimat itu.

Saya hanya ingin membahas kegagalan versi pertama, yang saya alami di kesempatan sebelumnya. Satu dari sekian banyak alasan mengapa saya menerima kegagalan itu adalah karena rencana itu tak pernah saya tulis, tak pernah saya targetkan dan saya jelas tidak serius dengannya. Karena itu, kali ini saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.

Ada banyak rencana sebenarnya. Tetapi saya meyakini, ada rencana-rencana tertentu yang memang hanya menjadi milik saya dan Allah saja. Biarlah orang melihat hasilnya, tanpa perlu tahu seperti apa mula dan prosesnya. Namun, ada pula rencana yang memang harus disampaikan, agar kita selalu ingat dan agar ada yang mengingatkan jika rencana itu harus macet kembali.

Rencana saya di 2016 adalah mulai menulis lagi. Tahun sebelumnya saya lalui dengan banyak karya di blog, karya cerpen dan beberapa ff. Tapi tak satupun karya itu mejadi sebuah buku ataupun karya cetak yang bisa menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan saya dalam menulis. Karena itu, tahun ini saya putuskan untuk paling tidak mencetak sebuah buku lagi. Entah buku novel atau buku non fiksi, saya masih belum memutuskan, tetapi saya berniat untuk bisa menerbitkan salah satu atau mungkin dua genre tersebut di tahun 2016 ini. Well, anggap saja plan pertama, buku itu akan terbit di pertengahan tahun, dan itu artinya saya harus mulai menulis sekarang.

Wallahualam, hanya Allah yang bisa memberi saya kekuatan, ide dan kemudahan. Saya hanya sedang mencoba menantang diri saya sendiri. Apakah mungkin saya sudah membaginya kepada kalian semua, paling tidak di bulan Juli tahun ini? Let’s see!! Doakan saja, 🙂

Berbagi Ilmu, Pikiran dan Perasaan

Selamat Hari Guru

Hari ini, 25 November 2015, bertepatan dengan ulang tahun PGRI yang ke-70, sekaligus diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Alhamdulillah, tahun ini diberi kesempatan oleh Allah untuk ikut “merayakannya” dengan versi kami.

Dibalik perayaan sederhana yang insyaAllah akan terkenang selalu, saya justru teringat dengan masa-masa yang telah lewat. Tentang bagaimana mulanya saya mengenal seorang guru dan terinspirasi olehnya.

Garis kehidupan yang ditulis Allah untuk saya ternyata mengantarkan saya pada wujud nyata dari impian saya sejak kecil. Ketika pertama kali mengenal seorang guru saat TK dan SD, saya lantas menanamkan dalam hati, kalau cita-cita saya adalah menjadi seorang guru.

Jika ditanya pengalaman apa yang sudah membuat saya memutuskan hal besar itu di usia saya yang masih belia, saya akan menjawab tidak tahu. Saya tidak tahu mengapa saya begitu suka melihat guru saya mengajar di depan kelas. Saya pun begitu suka membayangkan bagaimana rasanya mengoreksi jawaban murid-murid saya kelak, menyebut namanya satu persatu saat pembagian rapot dan menuliskan nasihat-nasihat singkat di buku catatannya.

Bahkan saya pun menjadi sering bercermin. Memakai kacamata pinjaman, hanya untuk melihat sosok saya ketika menjadi guru berkacamata kelak (yang Alhamdulillah terkabulkan keduanya oleh Allah). Saya pun sering (dengan sangat berniat) membuat daftar nama murid-murid khayalan saya, yang namanya saya karang sendiri. Lalu saya berpura-pura mengoreksi jawabannya dan memberi nilai. Sungguh kalau dibayangkan sangat aneh rasanya, tapi semua benar terjadi.

Saya membuat beberapa lembar jawaban dengan nama berbeda, lalu saya menuliskan jawaban mereka dengan pilihan a-d secara acak, kemudian saya membuat kunci jawaban. Lalu, beberapa jawaban murid saya (yang sebenarnya saya tulis sendiri jawabannya dengan abjad a-d secara acak), saya koreksi dan saya beri nilai. Dalam beberapa kali bermain, saya bisa membuat rapor mereka, menuliskan rangking hingga berpura-pura membagikan rapot dengan menggunakan boneka sebagai murid saya. Rasa-rasanya saat itu saya masih SD. Di lain waktu, saya mengajak teman-teman saya untuk berpura-pura menjadi murid. Saya meminta mereka menggambar atau menulis apa saja, lalu saya beri nilai.

Saya tidak tahu, apa yang menyebabkan saya begitu menyukai aktivitas itu. Padahal, tidak satupun orang di keluarga saya yang menjadi guru. Dulu, Ayah saya pernah mengajar, tetapi hanya sementara. Itupun bukan sebagai profesi asli. Hanya kebetulan Ayah saya mampu dan memiliki waktu luang. Tetapi saat itu saya masih kecil dan tidak ingat kalau Ayah saya pernah jadi guru.

Mungkin itulah yang namanya takdir. Sejak kecil, Allah sudah tanamkan impian itu di hati saya. Meskipun sempat tertarik bercita-cita menjadi A, B, C dan lain sebagainya, tapi cita-cita menjadi seorang guru tetap ada. Pernah, saya tertarik menjadi seorang astronot. Rasanya hebat sekali bisa ke luar angkasa. Dan ketika ditanya apa cita-cita saya pada waktu itu, saya pun menjawab, menjadi guru dan astronot 🙂

Sebenarnya, impian saya untuk menjadi seorang guru, bukan tanpa halangan. Saya pernah mengalami suatu masa, saat saya bertemu dengan seorang guru yang menorehkan kisah kurang menyenangkan di hidup saya. Bertahun-tahun saya terkurung oleh doktrin yang saya ciptakan karena rasa tidak nyaman itu. Bahkan saya pun pernah terbully karena hal itu. Tapi anehnya, saya tidak sedikitpun ingin mengubah cita-cita saya. justru saya menjadi belajar untuk tidak mengulangi hal seperti itu, jika kelak saya menjadi guru.

Alhamdulillah, pada akhirnya Allah menyediakan hati yang lapang pada Guru saya dan pada diri saya. Sehingga, akhir dari kisah kurang nyaman itu justru sangat mengharukan. Bahkan beliau menjadi guru yang paling saya kenang hingga saat ini. Tentunya kenangan yang baik. Walaupun hal yang kurang nyaman itu tidak bisa saya lupakan, tapi insyaAllah tidak tersisa kebencian ataupun kemarahan.

Halangan yang kedua justru datang dari keluarga besar saya. Banyak yang menyayangkan keinginan saya itu. Karena menurut mereka, ada profesi lain yang kelihatannya lebih cocok untuk saya ketimbang menjadi seorang guru. Tetapi sekali lagi, tekad saya sudah bulat. Apalagi cita-cita itu sudah saya miliki sejak saya masih kelas 1 SD. Saya tetap ingin menjadi seorang guru, meskipun saya tahu itu tidak mudah.

Dan benar saja. Saya adalah pribadi yang introvert. Saya tidak terlalu suka bercakap dengan orang asing dan tidak terlalu repot ingin mengetahui urusan orang lain. Saya ingat, saat saya SMA, ketika jam kosong, teman-teman saya sibuk berkumpul dengan kelompok masing-masing. Tapi saya memilih tetap di kursi saya dan memperhatikan mereka semua. That’s me.

Lalu, saya harus menjadi seorang guru yang tentunya harus bercakap dengan murid saya dan berbicara di depan mereka semua. Padahal, saat SMA, presentasi di depan kelas pun saya gemetaran sekali.  Tapi apakah saya mundur? Tidak sedikit pun.

Entah kekuatan ini bernama apa, tapi saya mulai mengubah diri saya, demi apa yang saya cita-citakan. Saya belajar lebih terbuka. Saya belajar untuk nyaman bicara di depan kelas. Dan hebatnya, saya tidak pernah merasa gugup jika bicara di depan murid-murid saya. Seolah-olah saya tidak pernah memiliki masalah dengan hal itu. Padahal, jika bicara di depan orang lain, saya tetap gugup. Tapi, jika di depan murid saya, semua berubah. Dan Alhamdulillah sekarang sudah jauh lebih baik. Saya mulai lebih nyaman bicara di depan umum, siapapun audience nya.

Begitulah, saya merasa Allah permudah jalan saya menuju apa yang memang ditakdirkan untuk saya. Jika diminta menuliskan, saya sendiri tidak tahu, kata apa yang bisa mewakili perasaan saya ketika akhirnya saya benar-benar menjadi seorang guru. Saya suka sekali bicara di depan mereka, melihat mata mereka berbinar karena mengerti apa yang saya katakan. Menceritakan apa yang saya tahu di depan mereka. Dan melihat mereka begitu penasaran dengan apa yang saya katakan itu rasanya seperti saya meraih dunia saya. Sehingga, ketika saya merasa saya gagal, ketika saya merasa saya mengajar tidak seperti apa yang seharusnya, saya akan menangis.

Tangisan pertama saya adalah ketika saya PPL. Itu pertama kalinya saya mengajar di kelas yang sebenarnya, di sebuah SMA di Samarinda. Waktu itu saya sudah mengajar di pertemuan ketiga atau keempat, dan saya merasa mereka tidak mengerti apa yang saya sampaikan. Bahkan mereka tidak terlihat antusias sama sekali. Lalu ada pula konsep yang keliru yang saya sampaikan. Padahal sebelum mengajar, saya sudah mempersiapkan dengan baik. Alhasil, sepulang mengajar saya menangis. Teman kos saya menjadi tempat curhat saya saat itu. Saya merasa tidak bisa mengajar, saya merasa jadi guru yang buruk dan gagal. Saat itu saya kecewa dengan diri saya.

Tapi begitulah, Allah tahu saya butuh sebuah pengalaman. Sejak itu, saya sadar. Guru adalah manusia. Guru tidak sempurna. Dan murid saya tahu itu. Keesokannya hingga saat ini, setiap saya mengalami itu, saya belajar untuk menyikapi dengan lebih tenang. Saya koreksi kesalahan saya di depan mereka dan saya simpan baik-baik kegagalan saya. Saya tidak boleh mengajar dengan cara itu lagi di kelas berikutnya.

Tidak terasa, sudah hampir empat tahun saya menjadi guru yang sebenarnya. Sebenar-benar menjalaninya sebagai profesi. Banyak suka duka yang membuat saya tahu bahwa semua itu tidak sesederhana apa yang saya bayangkan. Menjadi guru bukan hanya sekedar mengajarkan ilmu, mengoreksi jawaban, menyampaikan nilai dan nasihat, tapi lebih dari itu.

Kadang saya bosan, lelah dan merasa tidak sanggup. Tapi entah, saya selalu merasa sedih setiap kali saya merasa ingin berhenti. Karena saya yakin, saya pasti akan merindukan masa-masa ini. Saya ingat, saya pernah merasa sakit (tidak enak badan), tapi saya merasa masih sanggup untuk mengajar. Dan hebatnya, saya mengajar dengan enerjik seolah saya sehat-sehat saja. Entah saya mendapatkan energi darimana, seolah saya merasa sangat kuat dan sehat. Lalu, saat kaki saya melangkah keluar kelas, saat itulah saya mulai merasa sakit lagi, 🙂

Tapi belakangan ini sejujurnya, saya mulai kehilangan momen-momen itu. Saya mulai merasa tidak lagi menemukan rasa keingintahuan di mata anak-anak didik saya. Saya seolah hanya mengajar untuk membuat mereka mendapat nilai baik, bukan agar mereka tahu. Saya sadar, ada sebagian dari mereka yang merasa apa yang saya ajarkan tidak menarik. Salah satunya karena ia sudah tahu apa yang ia sukai dan tahu kalau pelajaran saya tidak berkaitan dengan hobinya itu.

Seorang pemimpin mungkin tidak akan butuh untuk mengetahui bagaimana menghitung panjang sisi miring sebuah segitiga siku-siku. Atau seorang atlet merasa tidak perlu belajar materi gerak dalam beberapa bab, untuk mengetahui berapa besar gaya dan usaha yang dia butuhkan untuk membuat sebuah bola basket tepat masuk ke keranjangnya. Itulah yang akhirnya membuat saya seringkali banyak memaklumi, ketika mereka gagal di pelajaran saya.

Saya sadar, kalau saya tidak mungkin membuat mereka menjadi seperti apa yang saya harapkan. Mereka punya harapan dan impian mereka masing-masing. Kadangkala, saya memang kurang sabar untuk memahami itu. Mungkin karena sifat saya yang cenderung kaku, sehingga saya sulit untuk bersikap fleksibel untuk hal-hal yang menurut saya tidak bisa ditoleransi. Seperti misalnya harus fokus memperhatikan, tidak mengobrol dan sejenisnya. Karena menurut saya, akan sulit bagi mereka memahami apa yang saya sampaikan jika disimak sambil mengobrol. Meksipun, saya pernah menemukan hal itu bisa dilakukan oleh siswa tertentu yang memang memiliki kecerdasan istimewa.

Dan dibalik semua kisah panjang saya itu, hari ini, saya ingin mengucapkan terima kasih, kepada guru-guru saya, dosen-dosen saya dan pengalaman hidup yang juga sebenarnya telah menjadi guru besar saya. Saya belajar banyak, saya melakukan kesalahan pun banyak, dan saya juga tidak sedikit mengalami kegagalan. Mungkin saya bukan tipe murid yang bisa dekat dengan gurunya, yang bisa dengan mudah mengobrol ini itu dengan guru dan mengungkapkan perasaan. Saya hanya mampu mendoakan, semoga Allah limpahkan balasan kebaikan yang tak pernah putus kepada kalian semua.

Pun kepada murid-murid saya, saya juga berterima kasih. Karena mereka menerima saya sebagai gurunya, dengan sekian banyak kekurangan saya. Pasti tentunya ada yang tidak menyukai, dan itu wajar. Tapi saya hanya berharap itu tidak menjadi bagian dari keburukan yang akan menimpa kepada saya (naudzubillahimindzalik).

Meskipun saya bukan guru yang menyenangkan, yang bisa kalian ajak cerita dengan asyiknya, namun saya berusaha untuk memberikan yang terbaik yang saya punya. Kadang mungkin saya pernah kehilangan kesabaran dan keikhlasan saya, yang saya tak mampu untuk mengendalikannya. Semoga termaafkan.

Saya hanya ingin berdoa, untuk guru-guru saya, teman-teman saya dan saya sendiri, semoga kita semua senantiasa diberi kekuatan, kesabaran, keikhlasan, semangat, niat, tekad, impian, harapan, keinginan dan kerendahan hati, untuk terus membimbing, mengajar, mendidik, belajar, mengubah diri, mengaca diri, mengakui kekhilafan, menempa diri dan berikhtiar untuk terus berupaya menjadi guru-guru terbaik. Kelak, saya berharap, ada satu titik terang yang saya temukan dalam kegelisahan yang saya rasakan. Suatu keadaan yang membuat saya mampu menemukan semua mata yang berbinar, duduk di hadapan saya. 🙂

Cerpen, Karya

Calon Menantu Idaman (Cerpen NulisBuku #SafetyFirst)

Deru sepeda motor terdengar di depan rumah. Kulirik jam dinding di kamar, pukul 14.30 WITA. Bergegas aku bangkit dan mengaktifkan mode sleep di notebook.

“Hari ini kok pulangnya telat, Bu?” tanyaku sambil membuka pintu dan menyambut wanita yang sudah melahirkan dan membesarkanku sendirian sejak umurku masih 5 tahun itu.

“Tadi Ibu ke pasar dulu, Gas. Terus….,” Ibu sengaja menggantungkan ucapannya. Kubiarkan ia duduk dan mengambil jeda. Bergegas kuambilkan segelas air dari dapur. Sepertinya ada sesuatu yang baru saja terjadi.

“Minum dulu Bu,” tanyaku sambil menyodorkan segelas air pada Ibu. Beberapa pertanyaan mulai muncul di pikiranku. Apa yang sebenarnya terjadi hingga Ibuku seperti terengah-engah untuk bercerita? Dan anehnya, Ibu mengatakan kalau ia baru saja pulang dari pasar, tetapi ia tidak membawa satu pun barang belanjaan.

“Gas, Ibu itu gemas banget sama Mbak-mbak di jalan. Kamu tahu nggak, tadi Ibu itu hampir ditabrak, sampai jantung Ibu ini rasanya mau copot..”

Aku hanya diam menyimak. Kubiarkan Ibu menyelesaikan semua ceritanya.

“Ibu itu heran, kok jaman sekarang itu, gadis-gadis kalau bawa motor itu sudah kayak pembalap. Laju dan sembrono. Apa nggak sadar kalau di jalan itu yang naik motor nggak Cuma anak muda. Ibu sampai lemas, nggak jadi ke pasar.”

Aku mengelus punggung Ibu pelan,” Ya sudah, Bu. Kalau gitu mulai besok biar Bagas yang ngantar dan jemput Ibu di sekolah. Bagas kan juga kerjanya fleksibel. Jadi kalau urusan jemput sama ngantar itu nggak masalah.”

“Ya tapi kan kamu juga ada urusan sama klien. Nanti kalau pas kamu ada urusan, terus Ibu juga ada keperluan gimana? Ibu kan juga bendahara sekolah. Kadang ada urusan ke Bank, ke dinas, kemana….”

Aku menghela nafas pelan menyahuti ucapan Ibu. Sudah berkali-kali niat itu kuutarakan, tapi Ibu tetap saja teguh pada pendiriannya untuk berangkat mengajar sendirian. Meskipun kuakui, Ibu termasuk tipe perempuan berumur yang bisa naik motor dengan aman. Ibu tidak berjalan terlalu pelan atau ragu-ragu seperti halnya kebanyakan Ibu-Ibu berumur yang lain. Setahuku, Ibu juga mengikuti semua rambu dan aturan dengan baik. Aku sudah mengajarkan semuanya sampai tamat, sebelum aku mengizinkan Ibu membuat SIM dan mulai naik motor sendiri.

“Ibu Cuma heran aja kok. Ibu aja yang tua gini tahu gimana caranya naik motor. Padahal Ibu juga baru 1 tahun ini bisa. Lah, kok yang masih muda-muda itu lho, hadduuuhhh…..”

Aku sudah tidak mampu menyahuti lagi. Sudah biasa, Ibu memang selalu hanya ingin mengungkapkan perasaannya, tanpa berharap ada solusi. Karena toh memang tidak ada solusi lain untuk persoalan ini. Aku tentu saja tidak mungkin menceramahi seluruh gadis-gadis yang naik motor ugal-ugalan itu, bukan?

***

Ini sudah curhatan keempat dalam sepekan ini. Lagi-lagi, Ibu harus pulang dalam keadaan mengelus dada. Bahkan parahnya, Ibu sempat terjatuh karena kaget dan kehilangan keseimbangan.

“Dia itu lho, keluar gang nggak lihat-lihat. Ibu Cuma jalan lurus dan nggak terlalu laju. Tapi dia tiba-tiba keluar gang dengan laju dan tanpa noleh kanan kiri. Ya Allah, kalau Ibu sempat laju, pasti Ibu sudah jatuh, Gas.”

“Bu, sekali ini ya, dengar Bagas. Ibu diantar aja sama Bagas. InsyaAllah, Bagas janji, kalau ada klien sepenting apapun, Bagas bakal tetap utamakan Ibu.”

Ibu menatapku sambil menggeleng pelan,” Jadi pekerja itu harus profesional. Jangan sampai begitu. Ibu nggak papa kok. Cuma, Ibu mau ingatin kamu ya Gas. Kalau bisa nanti calon mantu Ibu harus diselidiki dulu. Dia kalau bawa motor ugal-ugalan atau nggak. Kalau dia bawa motornya ugal-ugalan, Ibu nggak merestui ya, Gas.”

Seketika aku tersedak. Tapi, nggak ada yang bisa aku lakukan selain mengangguk dan mulai mencari ponselku.

***

“Nggak mungkin, Bagas. Kantorku itu jauh dari rumah. Dan kamu kan tahu, bos ku itu disiplin minta ampun. Jadi kalau berangkat pagi, mau nggak mau aku harus pakai cara Marc Marquez kalau lagi nyalip Valentino Rossi.”

Aku hanya bisa menggaruk kepalaku yang tidak gatal, begitu mendengar jawaban Lira, calon istri yang rencananya akan kukenalkan ke Ibu. Aku baru mengenalnya selama 3 bulan dari seorang teman. Lira adalah gadis yang feminim sebenarnya, tapi kecintaannya pada moto GP sedikit banyak mempengaruhi gaya bermotornya. Dan parahnya, itu adalah salah satu hal yang paling tidak disukai Ibu saat ini.

“Ya, kamu kan bisa pergi lebih pagi, Ra.” Aku mencoba mencari alternatif untuknya.

“Nggak bisa, Bagas. Kalau pagi, aku harus masak, beres-beres, banyak deh. Itu udah waktu paling cepat buatku berangkat kerja. Lagipula, aku bisa jaga diri kok. Walaupun laju, aku masih bisa kendalikan motorku.”

Aku menghela nafas pelan,” Iya Ra, aku percaya. Tapi yang namanya di jalan, apapun bisa terjadi kan? Cara paling aman ya memang harus berkendara dengan kecepatan yang aman. Apalagi kamu kan masih jalan di dalam kota, bukan mau keluar kota. Kalau kamu laju, kamu pasti menyalip sana sini kan, Ra. Itu kan bahaya…”

Lira mengaduk-ngaduk es kopyornya yang sisa setengah, lalu menatapku,” Aku sudah begini sejak dua tahun lalu, Gas. Dan semua aman. Jadi, kamu nggak usah khawatir,” ucapnya mengakhiri percakapan kami.

Aku hanya bisa tersenyum pelan menanggapi ucapannya. Kalau saja dia tahu, ini bukan hanya tentang betapa khawatirnya aku jika sesuatu terjadi padanya di jalan, tapi ini lebih dari itu. Aku justru khawatir kalau sesuatu akan terjadi pada hubungan kami.

***

Lira menelponku. Rupanya ini telponnya yang kelima. Tapi aku masih di jalan, menjemput Ibu.

Apa yang aku khawatirkan akhirnya terjadi. Ibu jatuh, tertabrak motor lain. Untungnya, motor itu masih sempat mengerem, sehingga tabrakannya tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat Ibu terjatuh dan terkilir. Si pengemudi, yang menurut cerita Ibu, berjenis kelamin perempuan itu, sudah meminta maaf dan menawarkan bantuan untuk mengantar Ibu pulang. Tapi, Ibu yang sudah terlanjur menumpuk kekesalan pada gadis yang ugal-ugalan di jalan memutuskan untuk menolak dengan lantang dan menelponku.

Gadis itu sudah pulang saat aku tiba di tempat kejadian. Aku sengaja naik angkot, agar aku bisa membonceng Ibu.

“Angkat dulu, telponmu.” Dalam keadaan kaki terkilir begitu, Ibu masih saja sempat peduli padaku. Aku tahu, Lira pasti menunggu di rumah. Sore ini, harusnya aku mengenalkan Lira pada Ibu. Tapi, kejadian yang tiba-tiba ini membuatku harus menunda urusan itu sejenak.

Kuangkat telponku cepat dan kujelaskan kejadiannya pada Lira. Kurasa dia sangat terkejut mendengarnya. Tapi, teriakannya membuatku lantas berpikir yang bukan-bukan.

“Kenapa, Ra?” tanyaku cepat. Kupapah Ibu ke pinggir jalan dan kupeluk bahunya. Aku masih harus mengobrol dengan Lira untuk membunuh prasangka burukku.

“Motor Ibumu apa Gas?”

Kuucapkan merek, warna bahkan plat nomor motor Ibu pada Lira. Pikiran negatif semakin membayangiku.

“Aku perlu kesana?” tanya Lira.

Seketika aku dilanda kebimbangan. Kenapa Lira justru bertanya begitu? Tadinya kupikir dia akan terkejut karena dia yang mungkin menabrak Ibu seperti yang aku duga. Tapi….

“Emm, sepertinya pertemuannya kita tunda dulu ya, Ra. Aku harus nemenin Ibu.”

Lira mengucap “Ok” cepat dan menitip salam serta doa untuk Ibu, sebelum menutup telponnya. Aku pun bergegas memapah Ibu ke arah motor dan memastikan Ibu masih nyaman untuk kubonceng. Ada satu pertanyaan yang akan kutanyakan pada Lira setelah memastikan Ibu sudah baik-baik saja.

***

“Wah, Ibu dukung yang itu aja, Ra. Yang motornya warnanya bagus, Lo-ren-zo. Ya, itu aja,” ucap Ibu sambil menunjuk layar televisi.

“Oke, Bu. Lira dukung Pedrosa ya! Bagas tetap Rossi?” Lira menoleh ke arahku.

“Tetap dong!!” sahutku sambil sibuk mengutak-ngatik laptop.

Kubiarkan Ibu dan Lira bercengkrama sambil menonton acara kesukaan Lira.

Sungguh aneh, sebenarnya. Ibu yang tadinya bahkan tidak suka dengan acara kebut-kebutan di jalan, tiba-tiba mau nonton moto GP dengan seorang gadis yang termasuk ke dalam salah satu daftar gadis paling ugal-ugalan di jalan raya. Dunia memang bisa berbalik dengan cepat.

Kejadian tabrakan yang dialami Ibu beberapa waktu lalu memang mengubah semuanya. Saat itu, aku akhirnya tahu kalau Lira adalah saksi mata kejadian itu. Rupanya, Ibu akan berjalan lurus ke depan. Namun, karena lampu berubah merah, Ibu pun berhenti. Tapi Ibu berhenti terlalu ke pinggir, seakan-akan ia akan berbelok ke kiri. Dan gadis itu, tanpa melihat lampu tanda dari motor Ibu, mengira kalau Ibu akan berbelok kiri seperti dirinya. Dan terjadilah tabrakan pelan itu.

“Wah, jatuh..!!! Tuh kan, kalau kebut-kebutan pasti gitu. Makanya Ibu nggak suka,” terdengar Ibu berkomentar.

Lira tertawa pelan,” Iya itu bu. Padahal semua sama-sama laju, tapi dia malah nyalip dengan cara begitu. Sudah tahu nggak mungkin menyalip, malah maksain diri. Harusnya dia ikut aturan, ya kan Bu? Kalau mau belok kiri berarti motornya agak ke kiri. Kalau lurus ya berarti ambil posisi agak ke tengah kan, Bu?”

“Lho, maksudnya gimana Lira?”

Kubiarkan saja percakapan antara Ibu dan Lira yang kutahu memang disengaja oleh Lira, supaya Ibu dapat ilmu tentang posisi berhenti di lampu merah itu. Tapi, aku juga sudah mewanti-wanti agar dia juga mengalah. Bukan tak mungkin Ibu akan bertemu dengannya di jalan. Dan tentu saja, aku tidak mau pernikahan kami batal, hanya karena Lira tidak memenuhi satu syarat menantu idaman yang ditetapkan Ibu.

“Ibu hanya perlu pembiasaan, Gas. Enam puluh kilometer per jam itu tidak laju. Lagipula, aku tidak ugal-ugalan. Aku bahkan selalu menyalip dengan pertimbangan,” komentar Lira saat aku mengeluhkan hobi ngebutnya.

“Tergantung situasi kan, Ra. Kalau lagi padat, terus kamu jalan dengan kecepatan segitu, nyalip sana sini, itu sama aja ugal-ugalan. Gini aja, kita ajarin Ibu biar bisa naik motor dengan lebih aman, dan kamu, mulai menghentikan kebiasaan salip sana sini itu. Dan kalau kalian berdua tetap nekat dengan kebiasaan lama, aku akan mengantar kalian ke kantor.

“Aku bisa telat, Bagas!!!” protesnya.

“Lira yang mutuskan! Aku tidak punya pilihan lain selain itu,” sahutku cepat. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana menengahi semuanya. Ibu tetap ngotot dengan caranya berkendara, begitupun Lira. Tapi, seperti itulah, semuanya justru berakhir dengan unik di depan layar kaca tayangan moto GP.

“Yang penting nggak laju banget seperti moto GP itu ya Ra,” ucap Ibu sambil tertawa.

Kubiarkan saja mereka berdua menikmati kebersamaan. Karena mulai besok, aku sudah tidak perlu khawatir lagi. Ibu akan pergi mengajar bersama Lira, yang kantornya memang searah dengan sekolah tempat Ibu mengajar. Dan itu sekaligus bisa membuat Lira harus naik motor dengan lebih aman, karena ada Ibu di boncengannya. Lalu aku, hanya tinggal bersyukur, karena setidaknya aku tidak perlu mengomel dan mendengar omelan tentang kejadian di jalan lagi, setelah ini.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com

Pikiran dan Perasaan

Ada Apa dengan Sektor Ganda?

Alhamdulillah, saya menulis ini setelah melihat ciamiknya match Praveen/Debby di final FrenchSS. Walaupun kalah, tapi semua bisa melihat kemampuan empat pemain yang luar biasa. Bahkan komentator, Gill Clark pun mengapresiasi permainan dua ganda campuran itu.

Oke, kali ini dua gelaran di Eropa baru saja selesai. Dan seperti biasa, saya akan menuliskan review dari sudut pandang saya.

Fokus saya kali ini hanya pada sektor ganda. Kenapa tidak di sektor tunggal? Itu karena sejauh ini untuk gelaran super series, sektor tunggal masih terlihat tertatih untuk menapaki podium tertinggi. Meskipun, di Denmark open lalu, Tommy Sugiarto berhasil menjadi Runner Up, tapi kekalahannya di French Open di Round 1, membuat saya bisa mengatakan kalau perkembangan sektor itu masih kurang stabil.

Oke, kembali ke fokus!

Belakangan ini memang sedang ramai diperbincangkan tentang fenomena pemain rangkap. China, Denmark, Korea bahkan Japan sudah menunjukkan kesuksesan membuat seorang pemain menggawangi dua sektor dalam satu turnamen. Dan menurut beberapa BL, hal tersebut sepertinya mempengaruhi performa pemain, sehingga mereka bisa bermain lebih baik dan lebih kuat terhadap serangan-serangan lawan.

Namun, ada pula yang masih mempertimbangkan tentang keputusan bermain rangkap itu. Faktor stamina menjadi alasan utama. Bermain dalam satu sektor saja sudah cukup menguras energi, apalagi jika bermain rangkap?

Nah, dari kacamata saya, PBSI mungkin perlu meninjau lagi, termasuk berdiskusi dengan pemain yang bersangkutan, tentang usulan itu. Kalau menurut saya, sektor yang paling butuh untuk bermain rangkap adalah sektor ganda campuran. Tapi kembali lagi, apakah pemain memiliki stamina yang cukup untuk menjalaninya? Sangat mengkhawatirkan jika harus bermain rangkap untuk memperbaiki performa, tetapi nyatanya justru tidak ada hasil di dua sektor sekaligus dengan alasan stamina.

Ada beberapa pilihan untuk melakukan permainan rangkap, menurut saya. Yang pertama, bermain rangkap di satu turnamen. Contoh di turnamen A, owi/butet dan Praveen/Debby bermain di sektor X D, lalu Owi/Praveen juga main di MD. Menurut saya, Owi butuh bermain MD untuk belajar lebih gesit, lebih kuat defence nya dan tentu saja belajar smash yang lebih keras. Nah, pilihan ini tentu saja resikonya adalah stamina.

Pilihan kedua, kurang lebih sebenarnya. Sektor X D tetap seperti biasa untuk turnamen kelas SS atau GPG. Sedangkan Owi/Praveen bisa dicoba di level GP nya. Jadi main rangkap, tapi beda turnamen. Mungkin akan lelah juga, apalagi jika turnamennya berurutan. Tetapi masih ada jeda dibandingkan jika main dua sektor di satu turnamen.

Pilihan terakhir adalah, saat latihan, ada waktu-waktu tertentu Praveen/Owi sparing dengan Ahsan/Hendra, Angga/Ricky dan MD yang lainnya secara rutin. Yah, nggak ada pilihan yang menyenangkan memang. Tapi, untuk Owi dan Praveen, jika melihat banyaknya pemain pria di X D yang juga bermain di sektor MD, rasanya kebutuhan mereka untuk bermain rangkap lebih dibutuhkan.

Nah, lalu, untuk Debby dan Butet. Sebelum komentar, saya sebenarnya berharap Debby tidak jadi pensiun setelah OG. Saya suka dengan gaya bermainnya. Dia juga sudah kelihatan cocok bermain dengan Praveen. Kalau Praveen nggak banyak eror seperti saat di final tadi, mereka X D yang keren. Nah, kalau Butet, saya menyadari usia sudah membuat banyak perubahan padanya. Tapi, setiap kali bermain, banyak yang selalu menyalahkan Owi. Padahal, kadangkala saya merasa saat bermain, Butet cenderung jarang bergerak.

Oke, mungkin karena alasan stamina. Tapi, Owi jadi keteteran kesana kemari, sedangkan Butet banyak mengambil bola-bola mudah. Jadi terlihat seakan Owi yang eror terus. Padahal dia sering kebagian mengcover posisi bola yang jauh dari jangkauannya. Tapi, saya akui, smash owi kurang keras dan defence nya belum sebaik Butet. Saya berharap Butet juga bisa lebih fair dan juga para BL yang lain untuk tidak selalu menyalahkan Owi. Belajar dari Ko/Kim, yang walaupun melakukan kesalahan, masih senyum dan berusaha mengurangi.

Saya jadi ingat di set-set awal Denmark Open final saat Owi/Butet lawan Ko/Kim, waktu Owi lakukan kesalahan, Owi masih senyum aja, nyantai. Jadinya enjoy bawaannya. Tapi, semakin ke belakang malah jadi tegang. Nggak ada senyum lagi. Yah, bisa jadi itu membuat permainan terbaik mereka nggak keluar. Mungkin pelatih juga harus ingatin soal rasa enjoy itu. Dan pelatih sendiri juga kelihatan terlalu serius. Kalau bisa, pelatih juga harus terlihat menyemangati. Jadi saat pemain noleh, yang dilihat bukan muka tegang pelatihnya. Ntar jadi tambah double tegangnya.

Lalu sektor WD, Greynit masih satu-satunya andalan. Sulit memang meracik sektor ini, karena stamina pemain INA yang perempuan memang kelihatannya masih belum terlalu baik. Greynit juga kelihatan bermasalah dengan stamina. Padahal, tipe permainan mereka cenderung agak rally-rally gitu. Jadinya kan mati sendiri. Tapi kalau menurut saya, faktor kalah dari Luo/Luo di SF kemarin itu bisa jadi karena stamina Luo/Luo lebih baik. Pasalnya pas di QF mereka nggak main karena lawannya walkover.

Terakhir dan paling penting menurut saya adalah MD. Saya suka sekali sektor ini. Tapi belakangan mulai tidak. Ada apa dengan Ahend? Ada apa dengan Angrick?

  1. Ahend terlihat nggak stabil. Masalah emosinya Ahsan dan penyakit gugupnya Hendra belum hilang. Dan, entah kenapa saya melihat ada fenomena kejenuhan diantara mereka berdua. Yah, mereka selalu jadi andalan, selalu mereka berdua. Dan lawan mereka juga itu-itu aja. Lalu, lawannya mulai berkembang, belajar dari kesalahan, tapi mereka tidak. Jika mau membandingkan, kenapa LYD/YYS nggak bosan? Padahal, kondisi mereka juga sama dengan Ahend. Jadi andalan, selalu main bareng. Menurut saya, itu karena mereka kalau main lepas aja. LYD kalau bikin salah, ketawa aja, trus YYS nggak pernah nyalahin LYD. Dari ekspresinya juga nggak kelihatan kesal. Kesalnya cuma pas bikin salah aja, habis itu netral lagi. Beda sama Ahsan. Kalau dia atau Hendra bikin salah, kayaknya kepikiran terus, jadi mainnya nggak lepas. Di turnamen apalah gitu yang nggak terlalu ngaruh poin, mereka coba dipecah, diajak main dengan yang lain. Main X D gitu, biar ketahuan, bisa nggak balikin smashnya ZYL hehehe… Oh ya, ketinggalan. Entah kenapa, saya kadang ngerasa Ahsan selalu jadi pemain yang paling ngotot ngambil bola. Setipe dengan Ricky dan Kevin. Jadinya, kalau pas mereka bagus, ya menang. Kalau mereka jelek, ya sudah. Makanya kalau pas main, mereka selalu jadi sorotan karena bisa dapat poin. Tapi kekurangannya, jadinya ya itu, kalau pas jelek. Menurut saya, mereka harus belajar meredam diri. Memang sih tidak sedominan Riky saat bermain dengan Richi. Tapi, belajarlah untuk melihat posisi dan kemungkinan yang lebih baik. Belajar percaya pada partner.
  2. Angrick kelihatan seperti cepat sukses lalu merosot seperti kereta luncur. Ada yang bilang smash mereka kurang keras. Bisa jadi. Jadinya ya harus latihan terus. Dan kayaknya mulai banyakin strategi biar nggak ngandalin smash terus

Oke, mungkin begitulah review saya. Hari ini saya suka sekali dengan Pradeb. Saya juga suka dengan Ko Kim. Mereka hebat. Saya nontonnya benar-benar tegang. Keren lah. Nggak malu-maluin udah di final.

Dan seperti biasa, selalu doa semoga next 5 partai ada INA nya di final. Taipei GP udah bisa 4 INA lho di final. Sekali-sekali SS juga lah ya… 🙂

 

Pikiran dan Perasaan

Kenapa? Why?

Mungkin seringkali kita bertanya-tanya tentang hal-hal yang kita alami atau pernah kita alami dalam hidup. Mengapa begini dan begitu, seakan-akan sulit untuk diterima oleh logika. Padahal, semakin lama kita tinggalkan kisahnya, seringkali jawaban itu justru muncul dengan sendirinya.

Dalam hidup, kita mungkin dipertemukan dengan kegagalan-kegagalan yang tentu saja tidak pernah kita harapkan. Kita berusaha, berdoa dan yakin, namun ternyata hasilnya adalah kegagalan. Secara logika, kita mungkin tidak bisa menerima. Seakan-akan ingin bertanya, apa yang kurang atau apa yang salah.

Dahulu saya pernah meyakini sesuatu. Saya mengusahakannya sesuai kesanggupan saya dan juga berdoa. Namun pada akhirnya, Allah titipkan pelajaran itu dalam sebuah kegagalan akan usaha saya itu. Kegagalan yang sempat membuat saya mempertanyakan banyak hal. Kenapa, kenapa dan kenapa? Dan Allah, tidak juga memberikan jawabannya. Tapi lambat laun, saya akhirnya paham. Meskipun saya yakini saya belum temukan jawaban lengkapnya Tapi setidaknya, penerimaan saya terhadap kegagalan itu membuat saya lebih dewasa menyikapi hal yang sama dan bahkan saya jadi berusaha untuk mensyukuri kegagalan itu.

Kadang-kadang, Allah memang pertemukan kita dengan kesalahan dan kegagalan untuk memberikan pelajaran yang begitu dalam untuk kita di masa depan. Meskipun, pemahaman yang kita dapatkan itu harus melalui proses yang sangat panjang. Dan saya meyakini, dalam hidup, kita mungkin akan mengalaminya berkali-kali.

Seperti halnya pertanyaan baru yang sekarang muncul kembali dalam benak saya. Pertanyaan kenapa yang tidak satupun orang di dunia ini bisa menjawabnya kecuali Allah. Saya hanya bisa menduga, tapi saya tidak tahu apakah saya benar atau tidak. Yang pasti, saya belajar. Bahwa saya seringkali menganggap sesuatu itu baik untuk saya, padahal nyatanya tidak.

Allah mengetahui segalanya. Sesuatu yang ditakdirkan untuk kita, bukan hanya berlaku di hari ini, tapi untuk seterusnya. Sedangkan pandangan kita, seringkali berlaku hanya untuk masa yang pendek.

Saya tahu, tidak akan mudah untuk melaluinya. Akan ada pertanyaan kenapa, kenapa dan kenapa yang akan terus berlanjut. Tapi setidaknya, kita bisa mengambil sebuah kekuatan yang memang sudah Allah berikan untuk kita, sebelum ujian itu menimpa kita. Kesabaran, keyakinan, rasa syukur dan pengharapan. Allah, semoga kelak (4)