Pikiran dan Perasaan, Review Buku

Duhai, Hati.. (Resensi Novel Terbaru Tere Liye “Rindu”)

Judul            : Rindu

Penulis         : Tere Liye

Penyunting  : Andriyati

Penerbit       : Republika, Oktober 2014

Halaman       : ii + 544

novel-terbaru-karya-tere-liye-_140923131005-840Gambar dari sini

Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?

Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?

Apalah arti cinta, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja

Lima kisah masa lalu, tentang hati.

Kisah yang sarat dengan pesan tentang banyak hal dalam perjalanan panjang kehidupan. Sebuah perjalanan sembilan bulan lamanya, di atas sebuah kapal yang mempertemukan ribuan manusia, dengan banyak karakter, problema dan impiannya masing-masing. Blitar Holland, sebuah kapal besar di tahun 1938, yang menjadi salah satu kapal yang membawa rombongan haji menuju Makkah. Di atas kapal inilah kisah itu dimulai. Lima kisah dan lima pertanyaan akan menemukan jawaban-jawaban dengan caranya masing-masing.

Tokoh pertama, Daeng Andipati. Seorang pedagang muda yang sukses dan cerdas. Bersama istri dan dua anaknya yang cantik, Elsa dan Anna, ia memulai kisah di atas Blitar Holland dengan begitu sempurna. Keluarga yang bahagia dan kehidupan yang sejahtera. Begitulah, orang lain seringkali melihat segalanya hanya dari apa yang terlihat di luarnya saja.

Tokoh kedua, Ahmad Karaeng, seorang ulama Makassar yang lebih dikenal dengan panggilan Gurutta. Hampir seluruh penduduk Makassar mengenalnya. Ia kerap memberi pengajian di Masjid dan menulis banyak buku. Itulah salah satu alasan mengapa tokoh ini menjadi bagian terpenting dalam cerita. Tokoh yang tentu saja diharapkan mampu menjawab setiap pertanyaan, bahkan seluruh pertanyaan yang ada. Namun, tak ada yang menduga, jika ternyata, ia adalah bagian paling munafik dalam seluruh cerita.

Tokoh ketiga. Pada mulanya, tokoh ini adalah tokoh biasa. Dia bukanlah pedagang kaya, bukan pula seorang ulama. Hanya satu, dari sekian banyak kelasi kapal. Seorang kelasi yang baru direkrut, yang menyebut dirinya pelaut, bahkan sebelum ia dilahirkan. Ambo uleng, tokoh dengan satu pertanyaan yang ia simpan dalam-dalam, sebelum akhirnya ia muntahkan di depan seseorang, yang kali ini sudah siap dengan jawabannya.

Beragam kisah dalam perjalanan dan tokoh-tokoh lain yang mulai muncul seiring bersandarnya kapal di berbagai tempat, membuat cerita semakin bergulir, memunculkan pertanyaan dalam kisah panjang itu satu persatu. Namun, pertanyaan pertama justru tidak muncul dari ketiga tokoh yang telah disebutkan sebelumnya, Daeng Andipati, Gurutta dan Ambo Uleng. Pertanyaan pertama justru muncul dari sesosok wanita China bernama Bonda Upe.

Bonda Upe, tokoh keempat yang mengajukan dirinya menjadi seorang guru ngaji di atas kapal. Membimbing anak-anak selama perjalanan menuju Makkah, hingga kembali ke tanah air. Sosok yang cantik dalam balutan pakaian tradisional China,  Cheongsam. Tak ada yang mengira, dibalik sosoknya yang tenang dan enggan bergabung untuk makan di kantin bersama penumpang lain selama beberapa waktu, ternyata menyimpan banyak pertanyaan dan kegelisahan masa lalunya.

Bonda Upe akhirnya menemukan jawaban itu, di atas sebuah kapal yang membawanya bertemu dengan Gurutta.

Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu. Buat apa dilawan? dilupakan? Itu sudah menjadi bagian hidup kita. Peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. Itulah cara terbaik mengatasinya. Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan dia akan memudar sendiri. Disiram oleh waktu, dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia. (hlm. 312)

Pertanyaan berikutnya, seharusnya datang dari seorang kelasi pendiam, tokoh kedua yang sejak awal kehadirannya bahkan sudah memunculkan pertanyaan. Namun ternyata, pertanyaan itu justru datang dari seorang yang lain. Tokoh pertama, seorang pedagang sukses dengan keluarga yang bahagia, begitu yang nampak dari luarnya, ternyata memendam sebuah kebencian besar. Tentang masa lalunya, kehidupannya, sosok sang Ayah.

Ketahuilah nak, saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dan kita benar. Apakah orang itu memang jahat, atau aniaya. Bukan! Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati (hlm.374)

Hidup barangkali adalah kumpulan pertanyaan-pertanyaan. Bahkan sebelum Ambo Uleng mengungkap pertanyaannya, pertanyaan lain justru datang dari tokoh kelima. Seorang lelaki berusia hampir delapan puluh tahun. Seluruh tokoh memanggilnya Mbah Kakung. Tokoh yang istimewa, karena pendengarannya yang mulai berkurang menyebabkan tawa jenaka di setiap perbincangan dengannya. Namun bukan itu hal yang menarik, kisah cintanya dengan Mbah Putri, istrinya yang sungguh romantis dan menyentuh hati-lah yang menjadikan keduanya menjadi tokoh istimewa di dalam novel ini. Namun sekali lagi, hidup, ada yang mengatur.

Di tengah perjalanan, sebuah peristiwa akhirnya memunculkan pertanyaan pada diri Mbah Kakung. Peristiwa yang mengharuskannya belajar kembali tentang makna sebuah keikhlasan.

Biarkan waktu mengobati seluruh kesedihan. Ketika kita tidak tahu mau melakukan apalagi, ketika kita merasa semua sudah hilang, musnah, habis sudah, maka itulah saatnya untuk membiarkan waktu menjadi obat terbaik (hlm. 472)

Masa lalu, kebencian dan kehilangan. Novel ini menyuguhkan peristiwa-peristiwa yang bisa dialami siapapun di dunia ini, dan memberikan pelajaran melalui sosok Gurutta dengan jawaban-jawaban yang semakin menegaskan kepiawaan pengarang menyusun kalimat. Seperti apa yang dialami tokoh yang sejak awal menarik perhatian, Ambo Uleng. Seorang kelasi baru, pelaut ulung yang bahkan pernah menjadi juru kemudi kapal Phinisi.

Sosok pendiam yang tangguh, yang sangat memikat sejak awal cerita, bukan karena pertanyaannya, namun karena apa yang sudah dilakukannya. Satu, diantara sekian banyak, ia-lah yang mengobar semangat dan rasa percaya diri, ketika kapal uap Blitar Holland yang gagah harus mati di tengah laut lepas. Terombang-ambing dalam kegelisahan kerusakan mesin, berharap keajaiban datang. Dan ya, keajaiban itu datang, melalui seorang Ambo Uleng. Tapi sekali lagi, bagian yang menarik dari sosoknya adalah apa yang pada akhirnya ia tanyakan. Cinta sejati.

Cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tulus kau melepaskannya. Persis seperti anak kecil yang menghanyutkan botol tertutup di lautan. Dilepas dengan rasa suka-cita. (hlm 492)

Lepaskanlah, Ambo. Maka besok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara menganggumkan (hlm. 492)

Empat pertanyaan, empat jawaban, teruntai indah melalui satu tokoh. Gurutta. Sosok yang seharusnya pandai menjawab semua pertanyaan. Empat pertanyaan dijawabnya dengan begitu yakin dan indah. Namun nyatanya, ia bahkan tak mampu menjawab pertanyaannya sendiri. Tentang kemunafikan, yang justru pecah berkeping-keping di tangan seorang tokoh yang bahkan sempat tidak mampu menjawab pertanyaan sederhananya.

Lawanlah kemungkaran dengan tiga hal. Dengan tanganmu, dengan lisanmu, atau dengan benci di dalam hati, tapi itu sungguh selemah-lemahnya iman. (hlm 532-533)

Novel ini adalah sebuah kisah, yang bukan hanya sekedar bercerita tentang tokoh-tokoh dan pertanyaannya masing-masing. Namun novel ini seakan menjawab seluruh pertanyaan yang mungkin ditanyakan siapapun di dunia ini. Semua orang memiliki masa lalu, semua orang pernah merasakan kebencian, pun semua orang pernah mengalami kesedihan yang mendalam. Dan novel ini menguntai kisah dan jawaban yang begitu indah tentang itu semua. Tentang cinta sejati, yang pada akhirnya menggariskan takdir masing-masing untuk setiap orang.

Novel ini patut untuk dibaca siapapun, terutama yang memiliki masa lalu, mengalami kebencian, kesedihan dan juga cinta sejati. Sangat banyak kalimat-kalimat indah yang dituliskan pengarang dalam buku ini.  Siapapun akan memetik pelajaran  tersendiri, setelah menyelesaikan novel ini. Duhai hati, seberat apapun, serumit apapun, kelak pasti akan ada jawabannya…

Iklan
Karya, Review Buku

All About Novel #2 The Darka Laia

Alhamdulillah… Tahun ini terasa jauh lebih produktif dibandingkan tahun lalu. Meskipun mood nulis mulai banyak mengalami gangguan karena guncangan internal maupun eksternal, tapi akhirnya novel ini terbit juga, \^^/

Novel yang satu ini memang berbeda dibanding novel yang pertama. Selain genrenya yang lebih mengarah ke fantasi, novel ini juga terbit di selfpublishing nulisbuku.com, jadi hanya bisa ditemukan di situs online nya nulisbuku.com ya… 🙂

Dan karena novel ini terbit selfpublishing, cover novel dan proses editingnya aku kerjakan sendiri. Untuk cover, aku masih dibantu seorang teman. Walaupun konsepnya tetap dari aku, tapi pembuatannya tetap adalah hasil karya mbak Een, jazakillah mbak, :). Nah, untuk proses editing, ini beneran aku lakukan sendiri. Meskipun belum maksimal, layaknya hasil editan para editor yang udah kenyang pengalaman, tapi aku cukup puas, untuk editan pertamaku. Paling nggak, aku sudah dapat banyak pelajaran dari hasil editan ini…

Nah, soal isi novel ini sendiri, seperti yang aku tuliskan di awal, novel ini bergenre fantasi. Idenya aku temukan, ketika aku sedang bersantai di ruang tamu sambil melihat ke luar jendela. Nah, tiba-tiba terbayang begitu saja, bagaimana kalau saat aku memandang keluar, aku melihat sebuah bola bening besar yang menggelinding, dan di dalamnya ternyata ada kehidupan.

Dari situ, aku mulai mengembangkan ide untuk membuat kisah tentang dua kaum yang berseteru, yaitu Kaum Darka dan kaum Laia. Dua kaum dengan karakter berbeda itu hidup di tengah-tengah manusia biasa, tanpa ada yang mengetahui. Nah, kaum Laia yang memiliki kekuatan putih, berusaha melenyapkan kaum Darka. Namun jumlah kaum Laia yang lebih sedikit membuat salah seorang anggota kaum Laia yang bernama Bara memutuskan untuk berbuat sesuatu untuk menyelamatkan kaum Laia dan juga umat manusia.

Nah, Bara itu akhirnya berhasil mengurung kaum Darka dalam sebuah bola bening raksasa tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya. Disinilah pertarungan dimulai. Darka yang mulai menemukan cara untuk melepaskan diri dari bola tersebut, akhirnya berhasil menarik Aila yang tak lain adalah anak Bara, untuk masuk ke dalam bola dan memunculkan sebuah kekuatan maha dahsyat yang menguntungkan kaum Darka.

Pada saat itu, barulah diketahui sebuah rahasia besar, tentang kekuatan Bara yang mampu mengurung kaum Darka. Satu persatu rahasia pun mulai terkuak, memunculkan perpecahan yang tak bisa dihindarkan. Dan pada saat itu, Bara pun dihadapkan pada dua pilihan sulit tentang jalan hidupnya.

Nah, kalau kalian penasaran dengan kisah Bara dan Aila, juga akhir pertarungan kaum Darka dan juga kaum Laia, buku ini sudah bisa dipesan di website nulisbuku.com. Atau dengan meng-klik link ini ya, http://www.nulisbuku.com/books/view_book/5772/the-darka-laia

Untuk yang penasaran dengan covernya, nih aku tunjukiin cover karya Mbak Een, 🙂

Darka copy