Pikiran dan Perasaan

BAC 2016’s review

Badminton Asian Championship 2016 kali ini cukup menarik menurut saya. Ada banyak hal menarik yang saya temukan di sedikit bagian yang sempat saya lihat. Padatnya jadwal dan seringnya pemain Indonesia kebagian jatah bermain di court 2, membuat permainan mereka hanya bisa saya amati dari uraian cerita di gurp-grup pecinta Badminton. Saya mulai dari kisah permainan Greysia Nitya yang konon mencetak sejarah di jagat perbulutangkisan.

Bermain selama 161 menit, melebihi sebuah pertandingan sepakbola yang itupun dimainkan oleh 11 orang dengan break yang memadai, mereka benar-benar sudah mencetak sejarah. Meskipun kalah, tapi saya cukup salut dengan perjuangan mereka. Namun, setiap pertandingan, tidak hanya boleh diperhatikan dari sisi positifnya. Tapi juga dilihat dari sisi yang lain.

Entah kenapa, GreyNit, saat bermain melawan WD korea yang cenderung bermain cepat, bisa bermain cepat pula. Tetapi, saat ketemu  WD China seperti Luo/Luo dan WD Jepang yang memang cenderung nyaman bermain rally, Greynit selalu bermain dengan lambat pula.

Walaupun tidak melihat pertandingannya, tapi sepertinya, dengan surasi seperti itu, mereka bermain dengan banyak rally-rally panjang. Karena itu, catatan untuk GreyNit adalah belajar untuk tidak terbawa oleh ritme permainan lawan. Atur sendiri ritme nya dan usahakan mencari celah dengan cepat tanpa harus menunggu kesempatan yang tepat untuk menyerang itu datang.

Next, Tolyn. Jujur, mereka sudah kembali stabil. Saya sudah lihat Butet mulai bergerak dan kembali ke performanya. Sayangnya, tiba-tiba mereka menjadi sosok yang berbeda saat di final. Faktor pertama, kelihatannya Butet agak kelelahan, jadi pukulannya kadang miss. Kedua, sama-sama emosi. Kalau Owi buat salah, Butet kesel dan terbawa emosi. Akhirnya, Owi pun bermain tergesa dan terbawa emosi. Plis belajar! LYD itu kelihatannya juga kurang baik dalam mengatur emosinya saat ia gagal. Tapi, dia punya YYS yang lebih sering menenangkan. Walaupun, kadang LYD juga bisa menyikapi kesalahannya dengan senyum saja. Nah, inilah yang harus dipelajari Tolyn. Fokus! Jangan panik, jangan tergesa, jangan emosi. Kesalahan saat bermain itu wajar. Tapi menjadi tidak wajar ketika satu kesalahan malah merubah seluruh permainan. Harusnya, kesalahan itu hanya mengurangi satu poin saja, tidak lebih.

Yah, kalau melihat mental, memang ZZ lebih layak menang. Tetap berjuang terus Tolyn. Masih ada waktu mengasah mental dan emosi kalian lagi.

Nah terakhir yang bikin gemes. Ada dua nih, di sektor yang sama. Pertama, KevGid. Sedih banget pas dengar mereka kalah dan saya nggak bisa nonton. Dari segi permainan KevGid itu oke. Buktinya, LYD/YYS pas di final tadi, main dengan gaya KevGid. Artinya , KevGid cuma perlu nambah jam terbang lagi aja. Nah, yang berikutnya, Ahend. Ini yang penting.

Jadi, sejujurnya saya jarang nonton pertandingan badminton yang nggak ada pemain Indonesianya. Kecuali kalo saya luang, atau yang main adalah pemain legenda. Tapi, tadi saya sengaja nunggu match LYD/YYS lawan Li/Liu yng udah ngalahin Ahend 2x. Maksudnya, saya mau lihat gimana sih mereka mainnya dan gimana LYD/YYS mengatasinya. Karena, menurut saya, tipe permainan LYD/YYS itu mirip Ahend.

Daan… sy dikejutkan dengan LYD/YYS yang benar-benar bermain dengan cara yang luar biasa. mereka menambah speed, mengubah taktik dan benar-benar nunjukkin strategi yang dinamis. Permainan mereka tidak monoton begitu-begitu saja. Tapi mereka bisa menyesuaikan dengan lawan mereka. Nah, ini yang belum dipunya Ahend. So, Ahend, nonton video LYD/YYS lawan Li/Liu ya…

Iklan
Pikiran dan Perasaan

Ciri-Ciri Orang Munafik Dalam Al Qur’an, dibawakan oleh Ustadzah Rosikho, Lc

Alhamdulillah, setelah sekian lama, Allah menakdirkan kami untuk berjumpa kembali dengan Ustadzah Rosikho, Lc di Tana Paser. Atas izin Allah pula, beliau akhirnya bisa berkunjung ke Rumah Qur’an Raudhatul Qalbu. Sebuah kunjungan yang berujung kajian. Karena rasanya tidak pernah habis ilmu yang ingin kami serap dari beliau. Karenanya, mumpung ada beliau, todongan kajian adalah permintaan yang utama, 🙂

Surah Al Munafiqun ayat 5 – 11 membuka kajian di Rumah Qur’an sore itu. Ustadzah memaparkan, bahwa di Al Qur’an, ada Surah Al Kafirun dan Al Munafiqun. Mengapa ada surah Al Munafiqun? Sebab munafik adalah sebuah penyakit personal yang dapat merusak, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi ukhuwah, agama bahkan kehidupan. Di dalam Al Qur’an, kata munafik disebut sebanyak 20 kali. Pertanda bahwa sifat ini sungguh perlu untuk dihindari oleh seorang muslim.

Ada beberapa ciri orang munafik dalam Al-Qur’an. Ustadzah Rosikho memulainya dari surah An-Nissa ayat 142

“Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya'(ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali”

Dari ayat tersebut, dituliskan ciri-cirinya adalah

  1. Apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka lakukan dengan malas. Padahal, sholat adalah amalan yang dihisab pertama kali. Jika sholatnya baik, maka amalan yang lain tidak akan lagi dihisab. Tetapi, jika sholatnya buruk, maka amal sedekah, haji, puasa dan yang lainnya juga akan dihisab. Pada bagian ini, Ustadzah Rosikho juga menyampaikan, sebelum kita jauh-jauh mencari-cari solusi terhadap masalah hidup kita, perhatikanlah dulu bagaimana sholat kita. Beliau juga menjelaskan tentang betapa utamanya sholat wustha, yaitu sholat ashar dan juga sholat subuh. Generasi yang baik, kata beliau, dibangun dari subuhnya. Karenanya sebaiknya, jika seseorang lalai dalam sholat subuhnya, ia harus menghukum dirinya. Bisa dengan menambah jumlah tilawahnya atau menambah ibadah lain yang dibolehkan. Tidak dengan menghukum diri pada hal-hal yang tidak diperbolehkan. Dalam Al Qur’an surah Al Isra ayat 78 juga ditegaskan tentang betapa utamanya sholat subuh ini. ” Laksanakanlah sholat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakanlah pula sholat ) shubuh. Sungguh, sholat shubuh itu disaksikan (oleh malaikat)” (QS 17 : 78)
  2. Ketika melaksanakan sholat, ingin dilihat orang. Sholatnya akan lebih khusyuk jika dihadapan orang banyak
  3. Tidak mengingat Allah, kecuali sedikit saja.
  4. Bersedekah hanya saat lapang saja. Penjelasan tentang hal ini tercantum dalam surah Al Munafiqun ayat 10. Disana dikatakan bahwa jika Allah berkenan menunda kematian orang-orang munafik itu, mereka mengatakan bahwa mereka akan bersedekah. Kenapa sedekah? Sebab, sedekah memiliki banyak keutamaan. Banyak bersedekah, akan menghalangi seseorang meninggal dalam keadaan su’ul khatimah dan juga dapat menghalangi seseorang dari murka Allah. Dan sedekah yang dilihat Allah bukanlah sedekah yang paling banyak, melainkan sedekah yang paling ikhlas dan sedekah yang dilakukan ketika sempit.
  5. Tidak mau berkontribusi dalam permasalahan ummat.

    Ciri selanjutnya adalah ciri-ciri orang munafik yang tercantum di dalam hadits

  6. Jika berkata, suka berbohong
  7. Jika berjanji, suka mengingkari
  8. Jika dipercaya, ia berkhianat
  9. Dan yang terakhir adalah dia akan bersekongkol untuk kemunafikan. Ia akan mengajak orang lain untuk mengikutinya, dan inilah yang paling berbahaya. Seperti kisah seorang Abdullah bin Ubay pada saat perang Uhud. Ia adalah seorang Yahudi yang telah bersyahadat, namun, ketika perang, ia berhasil menghasut 300 orang dari 1000 orang pasukan untuk berbalik (tidak mengikuti perang). Sungguh dahsyatnya pengaruh satu orang yang munafik. Lalu, bagaimana jika lebih dari satu?

Nauzubillahimindzalik. Mari kita sama-sama berdoa, semoga kita dijauhkan dari sifat kemunafikan ini dan semoga Allah mematikan kita dalam keadaan Khusnul Khotimah.

Dari situs muslim.or.id, kami mengutip beberapa tips, agar terhindar dari sifat kemunafikan. Mudah-mudahan kami dan kita semua bisa senantiasa mengamalkannya

  • Bersegera melaksanakan shalat jika waktunya telah tiba dan berusaha mendapatkan takbiratul ihram imam shalat jamaah di masjid. Hal ini mengingat hadits Anas bin Malikradhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang menunaikan shalat berjama’ah selama 40 dengan memperoleh takbiratul ihram imam, maka ia akan ditetapkan terbebas dari dua hal, yakni terbebas dari neraka dan terbebas dari kenifakan” (HR At-Tirmidzi).
  • Berakhlak baik dan memperdalam agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Ada dua sifat yang tidak akan pernah tergabung dalam hati orang munafik: perilaku luhur dan pemahaman dalam agama” (HR At-Tirmidzi).
  • Bersedekah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sedekah merupakan bukti” (HR Muslim). Bukti di sini maksudnya bukti akan keimanan. Oleh karena itu, orang munafik tidak suka bersedekah karena tidak adanya iman yang mendasarinya.
  • Menghidupkan shalat malam. Adalah Qatadah pernah berkata, “Orang munafik itu sedikit sekali shalat malam.” Hal tersebut karena orang munafik hanya akan semangat beramal jika ada orang yang menyaksikannya. Jika tidak ada, maka motifasi untuk beramal shalih pun tiada. Maka jika ada seorang hamba mendirikan shalat malam, maka itu menjadi bukti bahwa dalam dirinya tidak ada sifat nifak dan menjadi bukti keimanannya yang benar.
  • Memperbanyak zikir, Ka’b menyatakan, “Orang yang memperbanyak zikir, akan terlepas dari sifat nifak.” Sedangkan Ibnul Qayyim menulis, “Sejatinya banyak zikir merupakan jalan aman dari kemunafikan. Sebab, orang-orang munafik sedikit berzikir. Allah berfirman tentang orang-orang munafik, ‘Dan mereka tidak berzikir kecuali sedikit.’ (QS: 3: 142)”
  • Berdoa, Hal ini sebagaimana riwayat dari Abu Ad-Darda’ di atas.
  • Mencintai sahabat anshar. Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,“Tanda keimanan ialah mencintai kaum anshar, sedangkan tanda kemunafikan adalah membenci kaum anshar” (HR Al- Bukhari dan Muslim.
Pikiran dan Perasaan

Singapore Open’s Review : SDK

Alhamdulillah, semakin lama, prestasi badminton Indonesia semakin membaik. Dimulai dari meningkatnya performa Pradeb, kembali stabilnya performa Tolyn dan berhasilnya move on nya Greynit dari lawan yang sebelumnya selalu mengalahkan mereka. Sebuah langkah positif yang semakin ditebalkan dengan kesuksesan seorang Sony Dwi Kuncoro.

Rasa-rasanya, kalau mau mengenang, dulu saya adalah pendukung SDK. Saya yakin SDK akan menjadi pemain badminton yang handal dan akan mengharumkan nama bangsa. Qadarullah, ternyata cidera harus menutup semua harapan dan impian SDK, pun kami pendukungnya. Saya sudah mulai terbiasa dengan ketiadaannya di setiap turnamen. Pun akhirnya terbiasa dengan kehadirannya yang seolah hanya sekedar peramai saja. Selalu gugur dan seolah tak terperhatikan.

Namun, seperti tabiat kebanyakan orang sukses, SDK tidak butuh pandangan atau pujian orang, untuk menjadi cambuk kesuksesannya. Ia berdiri di atas tekad dan dukungan keluarganya. Meski tanpa dipandang pada awalnya, ia akhirnya membuktikan, kalau dengan usaha, kerja keras dan tanpa mengenal kata putus asa, ia mampu menggerakkan mata-mata seluruh penikmat badminton untuk kembali menatap padanya. Allah Maha Kuasa membalik segalanya. Begitupun dengan kisah SDK.

Tapi sekali lagi, tujuan review bukan hanya sekedar untuk memuji. Meski rasanya tak bisa habis pujian ingin terlontar, pada lelaki 32 tahun, yang berhasil memberikan gelar MS, setelah dari awal tahun ini, gelar selalu hanya datang dari sektor ganda. Lelaki yang sudah tidak muda lagi, namun mampu berjuang mengalahkan semangat mereka yang merasa dirinya muda. Para “kumbang”, begitu istilah page Badmintor wonder Fans menuliskannya. Lelaki 32 tahun yang sempat tak dipandang, yang harus berjuang dengan biaya sendiri, dengan usaha sendiri, dan tanpa pelatih!! Hanya seorang istri yang setia mendampingi… Rasa-rasanya mungkin itu jauh lebih memberi efek ketimbang kehadiran pelatih handal manapun. Yakh, tak habis rasanya memuji. Tapi…., pujian yang terlalu dilarut-larutkan, akan melenakan. Sudah saatnya berbenah, dan mencari cermin lain untuk dipandang.

Saya cukup mengamati dari awal, perjalanan singapore open. Ada beberapa pemain yang saya perhatikan dan ingin saya review agar menjadi lebih baik. Semoga…

Yang pertama, sektor MS. Saya sempat mendengar komentar dari seorang fans badminton, tentang kekalahan Ihsan dan Jonathan terhadap sosok yang sama, sosok yang sangat luar biasa, legenda bulutangkis dunia, Lin Dan. Pada waktu itu, Ihsan kalah dengan skor tipis, sedangkan jonathan kalah dengan skor “pembullyan”, begitulah istilah kurang baiknya. Tapi bukan itu yang ingin saya garisbawahi. Saya menggarisbawahi komentar fans tersebut, yang mengatakan kalau skor itu terjadi, karena gaya bermain Ihsan cocok dengan Lin Dan, sehingga masih bisa mengimbangi. Sedangkan Jonathan, yang cenderung menyerang dan jarang berlama-lama dengan bola, kurang cocok dengan Lin Dan.

Nah, pernyataan itu lantas membuat saya berpikir, apakah benar begitu? Lalu, mengapa pemain China tidak mengenal istilah cocok dan tidak cocok. Mereka cenderung mudah sekali menang, dan banyak mencetak pemain handal yang tidak membutuhkan kecocokan dalam bermain. Nah, ini akan saya bahas sekaligus di bagian akhir. Pada intinya, Jojo dan ihsan harus banyak belajar dari SDK ya… Belajar untuk tenang saat tertinggal, tidak tergesa saat unggul dan tidak emosi saat disulut. Okee..

Yang kedua, sektor XD. Pradeb grafiknya menanjak, tapi tiba-tiba terpeleset lagi. Ada yang bilang krn terlalu banyak tampil di TV. Mungkin, tapi seharusnya itu bukan alasan. Pradeb harus belajar untuk stabil dan melakukan variasi agar lawan tidak mudah mengetahui gaya bermain kalian. Begitu juga Tolyn. Intinya, tidak terlalu banyak perbaikan, tapi bukan berarti berpuas diri.

Yang ketiga, sektor MD sekaligus sektor terakhir yang akan saya bahas, dan akan menjadi simpulan. Untuk WD, saya rasa aman saja.. sudah tahu seperti apa yang harus dilakukan, karena Greysia sendiri sudah sadar kalau service nya kurang bagus. Tinggal realisasi saja. Belajar service seperti Fu Haifeng, 🙂 Dan kalau WS, sulit mau berkomentar, karena tidak ada hal baru yang bisa dikomentari.

Oke, kembali ke MD. Saya sejujurnya senang dengan perubahan KevGid. Mereka lebih kompak, lebih padu, tapiiii…. tetap ada saran ya, kan biar lebih baik. KevGid itu sebenarnya punya gaya bermain yang oke punya. Sulit ditebak dan punya daya juang yang tinggi. Sayangnya, kadang, Kevin masih cenderung berlebihan meng-cover bola. Harusnya bola Gideon, tapi tetap diambil. Jadi berbenturan ngambilnya. Nah, itu yang bikin lapangan kurang tercover. Terus, karena mungkin mereka merasa smash nya keras, jd smash terus. Padahal itu kan ada kelemahannya. Satu, kalau lawan defence bagus, malah capek sendiri. Seperti lawan China atau jepang, kalau nggak smash di tmpat yang susah dijangkau, bakal nggak guna. Trus kadang, smash yang dilakukan saat emosi, malah nyangkut atau out. Jadinya, nggak guna juga. Karena itu, harus dimantapin lagi untuk KevGid.

Untuk AngRick, saya agak bingung komentar, karena mereka mulai monoton mainnya. Nah, untuk Ahend, ini nih yang mau dibahas banget. Ahend kalah dari MD China yang bukan MD utamanya. Alasannya? Wallahualam. Tapi, kalau benar kalah, murni kalah, bukan sengaja, atau karena faktor lain, saya jadi mau bahas lebih dalam. Masih berhubungan dengan kisah Jojo dan Ihsan vs Lin Dan tadi. Kelihatannya, ada kecenderungan, Ahend kurang cocok dengan gaya bermain MD China.

Nah, istilah cocok nggak cocok ini, kalau diteruskan bakal bahaya. Masak harus cocok dulu. Ya pasti lawan akan berusaha gimana caranya, agar kita nggak cocok sama permainannya. jadi, kitalah yang harusnya mencocokkan. Artinya, Ihsan dan Jojo harus belajar bermain dengan banyak tipe. Main dengan banyak atur bola untuk pemain tertentu atau banyak serang langsung untuk pemain yang lainnya. Kan bisa saling belajar. Atau, tiru SDK. Gaya mainnya monoton, banyak mainin bola, tapi dia lengkapi syarat lainnya, yaitu punya pukulan komplit.

Nah untuk MD China, Fu dan Zhang Nan, saya sampai perhatikan cara mereka main, sampai ke final. Buat cari celahnya… Tapi sayang seribu sayang, strategi yang bisa saya pikirkan cuma gimana caranya, nggak kash service ke Fu. Kalau Fu yang service, langsung poin dah. Mungkin, ini bisa dipikir lagi. Gaya main spt Ahend dan Lee/Yoo ga cocok utk Fu. Harus ganti gaya, mungkin gaya ala Markis Kido. Wallahualam. Intinya, kalau Ahend masih begitu aja mainnya, bakal sulit lawan Fu. Boleh tetep main gitu kalau lawan yang lain. Tapi khusus MD China, harus ganti strategi.

Bismillah, mudahan setelah ini bisa jadi lebih baik. Biasanya dapat satu gelar, di Singapore dapat 2. Mudahan seterusnya stabil dan ningkat, aamiin

Berbagi Ilmu, Pikiran dan Perasaan

Sebuah Rencana dan Makna Kebangkitan

April….

Sepertiga dari perjalanan tahun ini. .

Banyak rencana yang sudah saya goreskan. Mulai dari yang tertulis di blog ini, hingga yang hanya sempat mengendap di kepala saya. Sepertiga perjalanan, dan baaaanyak sekali yang berubah. Tentang impian-impian saya, tentang keinginan saya, bahkan tentang pilihan saya.

Semakin berjalan, saya semakin memahami, bahwa tugas manusia memang hanya berencana, lantas menyerahkan rencana itu kepadaNya. Ibarat proposal, kita mungkin bisa merancang dan merangkai segalanya seindah yang kita pikirkan, namun tetap, rancangan yang paling indah dan paling baik hanyalah rancangan Allah SWT.

Banyak impian yang saya tahu, akan sulit terwujud. Pun ada pula impian yang sudah saya mulai langkah pertamanya, namun harus terendap sementara, yang entah sampai kapan. Begitulah….

Bahkan ada satu pilihan yang sudah saya genggam erat, bahkan saya cukup yakin dengannya, ternyata bahkan sekarang saya sudah sangat kehilangan keyakinan itu. Dan saya bersyukur, alhamdulillah, Allah selalu mengiringi hidup setiap hambaNya. Meski awalnya seakan berat menerima, tetapi lambat laun Allah bukakan mata saya, sehingga saya bisa melihat keindahan rancanganNya itu.

Bismillah, meskipun banyak rencana saya yang sudah tersendat dan berputar arah di sepertiga tahun ini, insyaAllah saya siap menjalani rencana yang lain. Salah satunya, kesibukan saya untuk terus belajar.

Seringkali, saya tidak pernah bisa menyembunyikan antusiasme saya terhadap sesuatu yang baru saya pelajari. Karakter love learning yang saya punya, membuat saya selalu berpikir bahwa orang lain pun juga begitu. Padahal tentu saja tidak. Sungguh sangat bersabar kawan-kawan saya, 🙂

Karenanya, saya sering memilih untuk menulis saja. Setidaknya, orang lain bisa memilih untuk membaca atau tidak..

Saat ini, saya sedang sibuk mengikuti program sekolah TOEFL. Sebuah perwujudan dari harapan saya agar bisa belajar TOEFL dengan biaya yang murah dan lokasi yang tidak jauh dari jangkauan saya. Alhamdulillahirrabbil’alamin, saya justru menemukan program belajar gratis dan bisa saya akses bahkan dari dalam kamar saya saja. Sungguh, luar biasa penggagas sekaligus mentor saya itu, semoga Allah senantiasa berikan keberkahan dalam setiap niat baiknya itu.

Saya tidak mampu menyembunyikan antusiasme dan keinginan saya agar orang lain juga bisa mendapat ilmu seperti yang saya dapat. Saya berdoa semoga yang lain, yang juga sedang butuh ilmu seperti saya, bisa mengakses dan mendapat informasi program yang sangat bagus itu.

Kadang saya merasa iri, melihat orang-orang yang bisa bermanfaat untuk sekitarnya. Rasa-rasanya saya masih jauuuh sekali. Paling hebat, saya hanya bisa menuliskannya. Berbagi apa yang saya tahu dan apa yang saya pikirkan. Baru sebatas itu. Sungguh masih jauh sekali jika harus dibandingkan dengan mereka-mereka di luar sana. Tapi, insyaAllah, saya yakin, hal sekecil apapun yang kita lakukan, pasti tetap akan ada manfaatnya, selama berada dalam jalan kebaikan.

Dan, yang ingin saya garisbawahi lagi dari tulisan ini adalah, tentang bagaimana seseorang menilai dirinya. Kadang, seseorang merasa terpuruk, bukan karena ia memang benar-benar terpuruk. Tetapi, karena orang menilainya begitu. Pun kadang, orang merasa menyerah dan putus asa, bukan karena memang ia sudah tak punya daya untuk bangkit. Tapi, karena orang menilainya begitu.

Saya belajar dari banyak hal yang saya temui beberapa hari ini. Uniknya, semua saya temukan di dunia olahraga dengan cabang yang berbeda-beda.

Pertama kali, saya belajar makna kebangkitan dari pasangan ganda campuran Indonesia di cabang bulutangkis yang baru menjuarai Malaysia Super Series 2016. Setelah 1,5 tahun nihil gelar, selalu gagal, dicemooh dan dianggap turun performa, hingga seakan sudha terlihat sangat frustasi, tetapi mereka bisa bangkit. Bangkit dengan sangat baik, karena bisa langsung mencapai puncak tertinggi , setelah sebelumnya sempat gagal di babak-babak awal. Tak sedikit komentar miring dan anggapan bahwa mereka tidak bisa lagi diandalkan di cabang bulutangkis. Tapi lihat, mereka menemukan makna kebangkitan mereka. Dan benar, Allah hadirkan kesempatan itu untuk mereka. Sebuah awal yang baru untuk prestasi yang lebih baik.

Dan tentang penilaian orang lain terhadap diri kita, sangat sulit memang untuk membendungnya. Karena, orang lain memang punya hak untuk menilai kita. Hanya tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Jika pasangan ganda campuran Owi/ Butet yang saya ceritakan sebelumnya, berhasil bangkit dengan caranya. Saya mengenal sosok pemain tunggal putra yang justru mampu memberi contoh sebuah sikap yang rendah hati, dari sebuah kebangkitan. Makna bangkit sebenarnya adalah posisi yang lebih baik dari sebelumnya. Artinya, seseorang berada di posisi yang pastinya lebih tinggi dan lebih memuaskan. Nah, hal tersebut bisa saja memicu kebangkitan lain, yang tidak semestinya, yaitu bangkitnya rasa tinggi hati. Tubuh atau jiwa boleh meninggi, tapi hati tetap harus senantiasa berada di posisinya.

Seorang pemain tunggal putra Indonesia yang sudah berhasil mencapai babak semifinal superseries pertamanya, mengingatkan semua pendukungnya untuk tidak membandingkannya dengan pemain lain yang belum berhasil mencapai seperti apa yang ia capai. Ia mengingatkan bahwa setiap hal itu ada gilirannya masing-masing. Mungkin saat ini kita berhasil, besok lusa mungkin gagal dan seterusnya, seperti perputaran sebuah roda. Jadi, tidak pantaslah hati ikut meninggi.

Pun sebuah pelajaran tentang sikap ksatria, untuk bangkit dari kekeliruan dengan cara yang berkelas. Dari cabang MotoGP, saya mengenal sosok yang telah melakukan kesalahan, namun ia bangkit dan mengakui kesalahannya itu. Ia menabrak lawannnya hingga keduanya terjatuh, lantas ia berdiri dan membantu lawannya, memastikannya baik-baik saja dan meminta maaf, karena telah menyebabkan lawannya itu juga gagal finish. Meski bersalah, tetapi ia menunjukkan bagaimana menyikapi sebuah kesalahan.

Intinya, manusia boleh berencana, hasilnya serahkan pada Allah. Lalu, jika semua itu akhirnya membuat kita terpuruk, jangan lupa untuk bangkit. Karena, keterpurukan itu seringkali hanya kalimat orang lain saja. Kita sendiri sebenarnya mampu bangkit. Bangkit dengan semangat, bangkit dengan rasa rendah hati dan bangkit dengan ksatria, mengakui kesalahan dan kekhilafan sebagai manusia, lantas kembali merajut rencana baru yang insyaAllah lebih baik…

Pikiran dan Perasaan

2016’s Plans

Tahun yang baru, lembar yang baru dan tentunya rencana baru.

Seperti banyak kata orang, awal yang baru adalah sebuah kesempatan untuk memulai kembali apa-apa yang pernah gagal di capai di kesempatan sebelumnya. Yah, tidak mungkin setiap rencana pasti berhasil, bukan?

Ada rencana-rencana yang memang harus gagal, karena Allah menggariskannya demikian. Bisa bermakna sebagai sebuah tantangan sekaligus ujian, apakah kita sebagai hamba akan menyerah atau memutuskan untuk bangkit. Namun, kegagalan bisa pula bermakna, bahwa apa yang kita inginkan itu bukanlah yang terbaik. Ada sesuatu yang lebih baik, yang insyaAllah akan datang di kesempatan berikutnya.

Ada banyak kegagalan versi kedua yang sudah saya lalui. Hal-hal yang saya harus terima dengan lapang, kalau saya tidak bisa memimpikannya lagi. Sulit memang pada awalnya, tetapi Allah memang tidak pernah membebani seseorang melebihi kesanggupannya. InsyaAllah semua pasti berlalu dan terlewati, tentunya dengan izin dan kuasa dari Allah. Nah, untuk kegagalan versi kedua ini, tentu tidak ada yang bisa dibahas lagi kecuali hanya bagian keikhlasan yang harus terus dipupuk, agar kelak tak terucap “Andai saja”, “Seandainya”, “Kalau Saja”, dan kalimat-kalimat yang bersepupu dengan kalimat itu.

Saya hanya ingin membahas kegagalan versi pertama, yang saya alami di kesempatan sebelumnya. Satu dari sekian banyak alasan mengapa saya menerima kegagalan itu adalah karena rencana itu tak pernah saya tulis, tak pernah saya targetkan dan saya jelas tidak serius dengannya. Karena itu, kali ini saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.

Ada banyak rencana sebenarnya. Tetapi saya meyakini, ada rencana-rencana tertentu yang memang hanya menjadi milik saya dan Allah saja. Biarlah orang melihat hasilnya, tanpa perlu tahu seperti apa mula dan prosesnya. Namun, ada pula rencana yang memang harus disampaikan, agar kita selalu ingat dan agar ada yang mengingatkan jika rencana itu harus macet kembali.

Rencana saya di 2016 adalah mulai menulis lagi. Tahun sebelumnya saya lalui dengan banyak karya di blog, karya cerpen dan beberapa ff. Tapi tak satupun karya itu mejadi sebuah buku ataupun karya cetak yang bisa menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan saya dalam menulis. Karena itu, tahun ini saya putuskan untuk paling tidak mencetak sebuah buku lagi. Entah buku novel atau buku non fiksi, saya masih belum memutuskan, tetapi saya berniat untuk bisa menerbitkan salah satu atau mungkin dua genre tersebut di tahun 2016 ini. Well, anggap saja plan pertama, buku itu akan terbit di pertengahan tahun, dan itu artinya saya harus mulai menulis sekarang.

Wallahualam, hanya Allah yang bisa memberi saya kekuatan, ide dan kemudahan. Saya hanya sedang mencoba menantang diri saya sendiri. Apakah mungkin saya sudah membaginya kepada kalian semua, paling tidak di bulan Juli tahun ini? Let’s see!! Doakan saja, 🙂

Berbagi Ilmu, Pikiran dan Perasaan

Selamat Hari Guru

Hari ini, 25 November 2015, bertepatan dengan ulang tahun PGRI yang ke-70, sekaligus diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Alhamdulillah, tahun ini diberi kesempatan oleh Allah untuk ikut “merayakannya” dengan versi kami.

Dibalik perayaan sederhana yang insyaAllah akan terkenang selalu, saya justru teringat dengan masa-masa yang telah lewat. Tentang bagaimana mulanya saya mengenal seorang guru dan terinspirasi olehnya.

Garis kehidupan yang ditulis Allah untuk saya ternyata mengantarkan saya pada wujud nyata dari impian saya sejak kecil. Ketika pertama kali mengenal seorang guru saat TK dan SD, saya lantas menanamkan dalam hati, kalau cita-cita saya adalah menjadi seorang guru.

Jika ditanya pengalaman apa yang sudah membuat saya memutuskan hal besar itu di usia saya yang masih belia, saya akan menjawab tidak tahu. Saya tidak tahu mengapa saya begitu suka melihat guru saya mengajar di depan kelas. Saya pun begitu suka membayangkan bagaimana rasanya mengoreksi jawaban murid-murid saya kelak, menyebut namanya satu persatu saat pembagian rapot dan menuliskan nasihat-nasihat singkat di buku catatannya.

Bahkan saya pun menjadi sering bercermin. Memakai kacamata pinjaman, hanya untuk melihat sosok saya ketika menjadi guru berkacamata kelak (yang Alhamdulillah terkabulkan keduanya oleh Allah). Saya pun sering (dengan sangat berniat) membuat daftar nama murid-murid khayalan saya, yang namanya saya karang sendiri. Lalu saya berpura-pura mengoreksi jawabannya dan memberi nilai. Sungguh kalau dibayangkan sangat aneh rasanya, tapi semua benar terjadi.

Saya membuat beberapa lembar jawaban dengan nama berbeda, lalu saya menuliskan jawaban mereka dengan pilihan a-d secara acak, kemudian saya membuat kunci jawaban. Lalu, beberapa jawaban murid saya (yang sebenarnya saya tulis sendiri jawabannya dengan abjad a-d secara acak), saya koreksi dan saya beri nilai. Dalam beberapa kali bermain, saya bisa membuat rapor mereka, menuliskan rangking hingga berpura-pura membagikan rapot dengan menggunakan boneka sebagai murid saya. Rasa-rasanya saat itu saya masih SD. Di lain waktu, saya mengajak teman-teman saya untuk berpura-pura menjadi murid. Saya meminta mereka menggambar atau menulis apa saja, lalu saya beri nilai.

Saya tidak tahu, apa yang menyebabkan saya begitu menyukai aktivitas itu. Padahal, tidak satupun orang di keluarga saya yang menjadi guru. Dulu, Ayah saya pernah mengajar, tetapi hanya sementara. Itupun bukan sebagai profesi asli. Hanya kebetulan Ayah saya mampu dan memiliki waktu luang. Tetapi saat itu saya masih kecil dan tidak ingat kalau Ayah saya pernah jadi guru.

Mungkin itulah yang namanya takdir. Sejak kecil, Allah sudah tanamkan impian itu di hati saya. Meskipun sempat tertarik bercita-cita menjadi A, B, C dan lain sebagainya, tapi cita-cita menjadi seorang guru tetap ada. Pernah, saya tertarik menjadi seorang astronot. Rasanya hebat sekali bisa ke luar angkasa. Dan ketika ditanya apa cita-cita saya pada waktu itu, saya pun menjawab, menjadi guru dan astronot 🙂

Sebenarnya, impian saya untuk menjadi seorang guru, bukan tanpa halangan. Saya pernah mengalami suatu masa, saat saya bertemu dengan seorang guru yang menorehkan kisah kurang menyenangkan di hidup saya. Bertahun-tahun saya terkurung oleh doktrin yang saya ciptakan karena rasa tidak nyaman itu. Bahkan saya pun pernah terbully karena hal itu. Tapi anehnya, saya tidak sedikitpun ingin mengubah cita-cita saya. justru saya menjadi belajar untuk tidak mengulangi hal seperti itu, jika kelak saya menjadi guru.

Alhamdulillah, pada akhirnya Allah menyediakan hati yang lapang pada Guru saya dan pada diri saya. Sehingga, akhir dari kisah kurang nyaman itu justru sangat mengharukan. Bahkan beliau menjadi guru yang paling saya kenang hingga saat ini. Tentunya kenangan yang baik. Walaupun hal yang kurang nyaman itu tidak bisa saya lupakan, tapi insyaAllah tidak tersisa kebencian ataupun kemarahan.

Halangan yang kedua justru datang dari keluarga besar saya. Banyak yang menyayangkan keinginan saya itu. Karena menurut mereka, ada profesi lain yang kelihatannya lebih cocok untuk saya ketimbang menjadi seorang guru. Tetapi sekali lagi, tekad saya sudah bulat. Apalagi cita-cita itu sudah saya miliki sejak saya masih kelas 1 SD. Saya tetap ingin menjadi seorang guru, meskipun saya tahu itu tidak mudah.

Dan benar saja. Saya adalah pribadi yang introvert. Saya tidak terlalu suka bercakap dengan orang asing dan tidak terlalu repot ingin mengetahui urusan orang lain. Saya ingat, saat saya SMA, ketika jam kosong, teman-teman saya sibuk berkumpul dengan kelompok masing-masing. Tapi saya memilih tetap di kursi saya dan memperhatikan mereka semua. That’s me.

Lalu, saya harus menjadi seorang guru yang tentunya harus bercakap dengan murid saya dan berbicara di depan mereka semua. Padahal, saat SMA, presentasi di depan kelas pun saya gemetaran sekali.  Tapi apakah saya mundur? Tidak sedikit pun.

Entah kekuatan ini bernama apa, tapi saya mulai mengubah diri saya, demi apa yang saya cita-citakan. Saya belajar lebih terbuka. Saya belajar untuk nyaman bicara di depan kelas. Dan hebatnya, saya tidak pernah merasa gugup jika bicara di depan murid-murid saya. Seolah-olah saya tidak pernah memiliki masalah dengan hal itu. Padahal, jika bicara di depan orang lain, saya tetap gugup. Tapi, jika di depan murid saya, semua berubah. Dan Alhamdulillah sekarang sudah jauh lebih baik. Saya mulai lebih nyaman bicara di depan umum, siapapun audience nya.

Begitulah, saya merasa Allah permudah jalan saya menuju apa yang memang ditakdirkan untuk saya. Jika diminta menuliskan, saya sendiri tidak tahu, kata apa yang bisa mewakili perasaan saya ketika akhirnya saya benar-benar menjadi seorang guru. Saya suka sekali bicara di depan mereka, melihat mata mereka berbinar karena mengerti apa yang saya katakan. Menceritakan apa yang saya tahu di depan mereka. Dan melihat mereka begitu penasaran dengan apa yang saya katakan itu rasanya seperti saya meraih dunia saya. Sehingga, ketika saya merasa saya gagal, ketika saya merasa saya mengajar tidak seperti apa yang seharusnya, saya akan menangis.

Tangisan pertama saya adalah ketika saya PPL. Itu pertama kalinya saya mengajar di kelas yang sebenarnya, di sebuah SMA di Samarinda. Waktu itu saya sudah mengajar di pertemuan ketiga atau keempat, dan saya merasa mereka tidak mengerti apa yang saya sampaikan. Bahkan mereka tidak terlihat antusias sama sekali. Lalu ada pula konsep yang keliru yang saya sampaikan. Padahal sebelum mengajar, saya sudah mempersiapkan dengan baik. Alhasil, sepulang mengajar saya menangis. Teman kos saya menjadi tempat curhat saya saat itu. Saya merasa tidak bisa mengajar, saya merasa jadi guru yang buruk dan gagal. Saat itu saya kecewa dengan diri saya.

Tapi begitulah, Allah tahu saya butuh sebuah pengalaman. Sejak itu, saya sadar. Guru adalah manusia. Guru tidak sempurna. Dan murid saya tahu itu. Keesokannya hingga saat ini, setiap saya mengalami itu, saya belajar untuk menyikapi dengan lebih tenang. Saya koreksi kesalahan saya di depan mereka dan saya simpan baik-baik kegagalan saya. Saya tidak boleh mengajar dengan cara itu lagi di kelas berikutnya.

Tidak terasa, sudah hampir empat tahun saya menjadi guru yang sebenarnya. Sebenar-benar menjalaninya sebagai profesi. Banyak suka duka yang membuat saya tahu bahwa semua itu tidak sesederhana apa yang saya bayangkan. Menjadi guru bukan hanya sekedar mengajarkan ilmu, mengoreksi jawaban, menyampaikan nilai dan nasihat, tapi lebih dari itu.

Kadang saya bosan, lelah dan merasa tidak sanggup. Tapi entah, saya selalu merasa sedih setiap kali saya merasa ingin berhenti. Karena saya yakin, saya pasti akan merindukan masa-masa ini. Saya ingat, saya pernah merasa sakit (tidak enak badan), tapi saya merasa masih sanggup untuk mengajar. Dan hebatnya, saya mengajar dengan enerjik seolah saya sehat-sehat saja. Entah saya mendapatkan energi darimana, seolah saya merasa sangat kuat dan sehat. Lalu, saat kaki saya melangkah keluar kelas, saat itulah saya mulai merasa sakit lagi, 🙂

Tapi belakangan ini sejujurnya, saya mulai kehilangan momen-momen itu. Saya mulai merasa tidak lagi menemukan rasa keingintahuan di mata anak-anak didik saya. Saya seolah hanya mengajar untuk membuat mereka mendapat nilai baik, bukan agar mereka tahu. Saya sadar, ada sebagian dari mereka yang merasa apa yang saya ajarkan tidak menarik. Salah satunya karena ia sudah tahu apa yang ia sukai dan tahu kalau pelajaran saya tidak berkaitan dengan hobinya itu.

Seorang pemimpin mungkin tidak akan butuh untuk mengetahui bagaimana menghitung panjang sisi miring sebuah segitiga siku-siku. Atau seorang atlet merasa tidak perlu belajar materi gerak dalam beberapa bab, untuk mengetahui berapa besar gaya dan usaha yang dia butuhkan untuk membuat sebuah bola basket tepat masuk ke keranjangnya. Itulah yang akhirnya membuat saya seringkali banyak memaklumi, ketika mereka gagal di pelajaran saya.

Saya sadar, kalau saya tidak mungkin membuat mereka menjadi seperti apa yang saya harapkan. Mereka punya harapan dan impian mereka masing-masing. Kadangkala, saya memang kurang sabar untuk memahami itu. Mungkin karena sifat saya yang cenderung kaku, sehingga saya sulit untuk bersikap fleksibel untuk hal-hal yang menurut saya tidak bisa ditoleransi. Seperti misalnya harus fokus memperhatikan, tidak mengobrol dan sejenisnya. Karena menurut saya, akan sulit bagi mereka memahami apa yang saya sampaikan jika disimak sambil mengobrol. Meksipun, saya pernah menemukan hal itu bisa dilakukan oleh siswa tertentu yang memang memiliki kecerdasan istimewa.

Dan dibalik semua kisah panjang saya itu, hari ini, saya ingin mengucapkan terima kasih, kepada guru-guru saya, dosen-dosen saya dan pengalaman hidup yang juga sebenarnya telah menjadi guru besar saya. Saya belajar banyak, saya melakukan kesalahan pun banyak, dan saya juga tidak sedikit mengalami kegagalan. Mungkin saya bukan tipe murid yang bisa dekat dengan gurunya, yang bisa dengan mudah mengobrol ini itu dengan guru dan mengungkapkan perasaan. Saya hanya mampu mendoakan, semoga Allah limpahkan balasan kebaikan yang tak pernah putus kepada kalian semua.

Pun kepada murid-murid saya, saya juga berterima kasih. Karena mereka menerima saya sebagai gurunya, dengan sekian banyak kekurangan saya. Pasti tentunya ada yang tidak menyukai, dan itu wajar. Tapi saya hanya berharap itu tidak menjadi bagian dari keburukan yang akan menimpa kepada saya (naudzubillahimindzalik).

Meskipun saya bukan guru yang menyenangkan, yang bisa kalian ajak cerita dengan asyiknya, namun saya berusaha untuk memberikan yang terbaik yang saya punya. Kadang mungkin saya pernah kehilangan kesabaran dan keikhlasan saya, yang saya tak mampu untuk mengendalikannya. Semoga termaafkan.

Saya hanya ingin berdoa, untuk guru-guru saya, teman-teman saya dan saya sendiri, semoga kita semua senantiasa diberi kekuatan, kesabaran, keikhlasan, semangat, niat, tekad, impian, harapan, keinginan dan kerendahan hati, untuk terus membimbing, mengajar, mendidik, belajar, mengubah diri, mengaca diri, mengakui kekhilafan, menempa diri dan berikhtiar untuk terus berupaya menjadi guru-guru terbaik. Kelak, saya berharap, ada satu titik terang yang saya temukan dalam kegelisahan yang saya rasakan. Suatu keadaan yang membuat saya mampu menemukan semua mata yang berbinar, duduk di hadapan saya. 🙂

Pikiran dan Perasaan

Ada Apa dengan Sektor Ganda?

Alhamdulillah, saya menulis ini setelah melihat ciamiknya match Praveen/Debby di final FrenchSS. Walaupun kalah, tapi semua bisa melihat kemampuan empat pemain yang luar biasa. Bahkan komentator, Gill Clark pun mengapresiasi permainan dua ganda campuran itu.

Oke, kali ini dua gelaran di Eropa baru saja selesai. Dan seperti biasa, saya akan menuliskan review dari sudut pandang saya.

Fokus saya kali ini hanya pada sektor ganda. Kenapa tidak di sektor tunggal? Itu karena sejauh ini untuk gelaran super series, sektor tunggal masih terlihat tertatih untuk menapaki podium tertinggi. Meskipun, di Denmark open lalu, Tommy Sugiarto berhasil menjadi Runner Up, tapi kekalahannya di French Open di Round 1, membuat saya bisa mengatakan kalau perkembangan sektor itu masih kurang stabil.

Oke, kembali ke fokus!

Belakangan ini memang sedang ramai diperbincangkan tentang fenomena pemain rangkap. China, Denmark, Korea bahkan Japan sudah menunjukkan kesuksesan membuat seorang pemain menggawangi dua sektor dalam satu turnamen. Dan menurut beberapa BL, hal tersebut sepertinya mempengaruhi performa pemain, sehingga mereka bisa bermain lebih baik dan lebih kuat terhadap serangan-serangan lawan.

Namun, ada pula yang masih mempertimbangkan tentang keputusan bermain rangkap itu. Faktor stamina menjadi alasan utama. Bermain dalam satu sektor saja sudah cukup menguras energi, apalagi jika bermain rangkap?

Nah, dari kacamata saya, PBSI mungkin perlu meninjau lagi, termasuk berdiskusi dengan pemain yang bersangkutan, tentang usulan itu. Kalau menurut saya, sektor yang paling butuh untuk bermain rangkap adalah sektor ganda campuran. Tapi kembali lagi, apakah pemain memiliki stamina yang cukup untuk menjalaninya? Sangat mengkhawatirkan jika harus bermain rangkap untuk memperbaiki performa, tetapi nyatanya justru tidak ada hasil di dua sektor sekaligus dengan alasan stamina.

Ada beberapa pilihan untuk melakukan permainan rangkap, menurut saya. Yang pertama, bermain rangkap di satu turnamen. Contoh di turnamen A, owi/butet dan Praveen/Debby bermain di sektor X D, lalu Owi/Praveen juga main di MD. Menurut saya, Owi butuh bermain MD untuk belajar lebih gesit, lebih kuat defence nya dan tentu saja belajar smash yang lebih keras. Nah, pilihan ini tentu saja resikonya adalah stamina.

Pilihan kedua, kurang lebih sebenarnya. Sektor X D tetap seperti biasa untuk turnamen kelas SS atau GPG. Sedangkan Owi/Praveen bisa dicoba di level GP nya. Jadi main rangkap, tapi beda turnamen. Mungkin akan lelah juga, apalagi jika turnamennya berurutan. Tetapi masih ada jeda dibandingkan jika main dua sektor di satu turnamen.

Pilihan terakhir adalah, saat latihan, ada waktu-waktu tertentu Praveen/Owi sparing dengan Ahsan/Hendra, Angga/Ricky dan MD yang lainnya secara rutin. Yah, nggak ada pilihan yang menyenangkan memang. Tapi, untuk Owi dan Praveen, jika melihat banyaknya pemain pria di X D yang juga bermain di sektor MD, rasanya kebutuhan mereka untuk bermain rangkap lebih dibutuhkan.

Nah, lalu, untuk Debby dan Butet. Sebelum komentar, saya sebenarnya berharap Debby tidak jadi pensiun setelah OG. Saya suka dengan gaya bermainnya. Dia juga sudah kelihatan cocok bermain dengan Praveen. Kalau Praveen nggak banyak eror seperti saat di final tadi, mereka X D yang keren. Nah, kalau Butet, saya menyadari usia sudah membuat banyak perubahan padanya. Tapi, setiap kali bermain, banyak yang selalu menyalahkan Owi. Padahal, kadangkala saya merasa saat bermain, Butet cenderung jarang bergerak.

Oke, mungkin karena alasan stamina. Tapi, Owi jadi keteteran kesana kemari, sedangkan Butet banyak mengambil bola-bola mudah. Jadi terlihat seakan Owi yang eror terus. Padahal dia sering kebagian mengcover posisi bola yang jauh dari jangkauannya. Tapi, saya akui, smash owi kurang keras dan defence nya belum sebaik Butet. Saya berharap Butet juga bisa lebih fair dan juga para BL yang lain untuk tidak selalu menyalahkan Owi. Belajar dari Ko/Kim, yang walaupun melakukan kesalahan, masih senyum dan berusaha mengurangi.

Saya jadi ingat di set-set awal Denmark Open final saat Owi/Butet lawan Ko/Kim, waktu Owi lakukan kesalahan, Owi masih senyum aja, nyantai. Jadinya enjoy bawaannya. Tapi, semakin ke belakang malah jadi tegang. Nggak ada senyum lagi. Yah, bisa jadi itu membuat permainan terbaik mereka nggak keluar. Mungkin pelatih juga harus ingatin soal rasa enjoy itu. Dan pelatih sendiri juga kelihatan terlalu serius. Kalau bisa, pelatih juga harus terlihat menyemangati. Jadi saat pemain noleh, yang dilihat bukan muka tegang pelatihnya. Ntar jadi tambah double tegangnya.

Lalu sektor WD, Greynit masih satu-satunya andalan. Sulit memang meracik sektor ini, karena stamina pemain INA yang perempuan memang kelihatannya masih belum terlalu baik. Greynit juga kelihatan bermasalah dengan stamina. Padahal, tipe permainan mereka cenderung agak rally-rally gitu. Jadinya kan mati sendiri. Tapi kalau menurut saya, faktor kalah dari Luo/Luo di SF kemarin itu bisa jadi karena stamina Luo/Luo lebih baik. Pasalnya pas di QF mereka nggak main karena lawannya walkover.

Terakhir dan paling penting menurut saya adalah MD. Saya suka sekali sektor ini. Tapi belakangan mulai tidak. Ada apa dengan Ahend? Ada apa dengan Angrick?

  1. Ahend terlihat nggak stabil. Masalah emosinya Ahsan dan penyakit gugupnya Hendra belum hilang. Dan, entah kenapa saya melihat ada fenomena kejenuhan diantara mereka berdua. Yah, mereka selalu jadi andalan, selalu mereka berdua. Dan lawan mereka juga itu-itu aja. Lalu, lawannya mulai berkembang, belajar dari kesalahan, tapi mereka tidak. Jika mau membandingkan, kenapa LYD/YYS nggak bosan? Padahal, kondisi mereka juga sama dengan Ahend. Jadi andalan, selalu main bareng. Menurut saya, itu karena mereka kalau main lepas aja. LYD kalau bikin salah, ketawa aja, trus YYS nggak pernah nyalahin LYD. Dari ekspresinya juga nggak kelihatan kesal. Kesalnya cuma pas bikin salah aja, habis itu netral lagi. Beda sama Ahsan. Kalau dia atau Hendra bikin salah, kayaknya kepikiran terus, jadi mainnya nggak lepas. Di turnamen apalah gitu yang nggak terlalu ngaruh poin, mereka coba dipecah, diajak main dengan yang lain. Main X D gitu, biar ketahuan, bisa nggak balikin smashnya ZYL hehehe… Oh ya, ketinggalan. Entah kenapa, saya kadang ngerasa Ahsan selalu jadi pemain yang paling ngotot ngambil bola. Setipe dengan Ricky dan Kevin. Jadinya, kalau pas mereka bagus, ya menang. Kalau mereka jelek, ya sudah. Makanya kalau pas main, mereka selalu jadi sorotan karena bisa dapat poin. Tapi kekurangannya, jadinya ya itu, kalau pas jelek. Menurut saya, mereka harus belajar meredam diri. Memang sih tidak sedominan Riky saat bermain dengan Richi. Tapi, belajarlah untuk melihat posisi dan kemungkinan yang lebih baik. Belajar percaya pada partner.
  2. Angrick kelihatan seperti cepat sukses lalu merosot seperti kereta luncur. Ada yang bilang smash mereka kurang keras. Bisa jadi. Jadinya ya harus latihan terus. Dan kayaknya mulai banyakin strategi biar nggak ngandalin smash terus

Oke, mungkin begitulah review saya. Hari ini saya suka sekali dengan Pradeb. Saya juga suka dengan Ko Kim. Mereka hebat. Saya nontonnya benar-benar tegang. Keren lah. Nggak malu-maluin udah di final.

Dan seperti biasa, selalu doa semoga next 5 partai ada INA nya di final. Taipei GP udah bisa 4 INA lho di final. Sekali-sekali SS juga lah ya… 🙂