Cerpen, Karya

Calon Menantu Idaman (Cerpen NulisBuku #SafetyFirst)

Deru sepeda motor terdengar di depan rumah. Kulirik jam dinding di kamar, pukul 14.30 WITA. Bergegas aku bangkit dan mengaktifkan mode sleep di notebook.

“Hari ini kok pulangnya telat, Bu?” tanyaku sambil membuka pintu dan menyambut wanita yang sudah melahirkan dan membesarkanku sendirian sejak umurku masih 5 tahun itu.

“Tadi Ibu ke pasar dulu, Gas. Terus….,” Ibu sengaja menggantungkan ucapannya. Kubiarkan ia duduk dan mengambil jeda. Bergegas kuambilkan segelas air dari dapur. Sepertinya ada sesuatu yang baru saja terjadi.

“Minum dulu Bu,” tanyaku sambil menyodorkan segelas air pada Ibu. Beberapa pertanyaan mulai muncul di pikiranku. Apa yang sebenarnya terjadi hingga Ibuku seperti terengah-engah untuk bercerita? Dan anehnya, Ibu mengatakan kalau ia baru saja pulang dari pasar, tetapi ia tidak membawa satu pun barang belanjaan.

“Gas, Ibu itu gemas banget sama Mbak-mbak di jalan. Kamu tahu nggak, tadi Ibu itu hampir ditabrak, sampai jantung Ibu ini rasanya mau copot..”

Aku hanya diam menyimak. Kubiarkan Ibu menyelesaikan semua ceritanya.

“Ibu itu heran, kok jaman sekarang itu, gadis-gadis kalau bawa motor itu sudah kayak pembalap. Laju dan sembrono. Apa nggak sadar kalau di jalan itu yang naik motor nggak Cuma anak muda. Ibu sampai lemas, nggak jadi ke pasar.”

Aku mengelus punggung Ibu pelan,” Ya sudah, Bu. Kalau gitu mulai besok biar Bagas yang ngantar dan jemput Ibu di sekolah. Bagas kan juga kerjanya fleksibel. Jadi kalau urusan jemput sama ngantar itu nggak masalah.”

“Ya tapi kan kamu juga ada urusan sama klien. Nanti kalau pas kamu ada urusan, terus Ibu juga ada keperluan gimana? Ibu kan juga bendahara sekolah. Kadang ada urusan ke Bank, ke dinas, kemana….”

Aku menghela nafas pelan menyahuti ucapan Ibu. Sudah berkali-kali niat itu kuutarakan, tapi Ibu tetap saja teguh pada pendiriannya untuk berangkat mengajar sendirian. Meskipun kuakui, Ibu termasuk tipe perempuan berumur yang bisa naik motor dengan aman. Ibu tidak berjalan terlalu pelan atau ragu-ragu seperti halnya kebanyakan Ibu-Ibu berumur yang lain. Setahuku, Ibu juga mengikuti semua rambu dan aturan dengan baik. Aku sudah mengajarkan semuanya sampai tamat, sebelum aku mengizinkan Ibu membuat SIM dan mulai naik motor sendiri.

“Ibu Cuma heran aja kok. Ibu aja yang tua gini tahu gimana caranya naik motor. Padahal Ibu juga baru 1 tahun ini bisa. Lah, kok yang masih muda-muda itu lho, hadduuuhhh…..”

Aku sudah tidak mampu menyahuti lagi. Sudah biasa, Ibu memang selalu hanya ingin mengungkapkan perasaannya, tanpa berharap ada solusi. Karena toh memang tidak ada solusi lain untuk persoalan ini. Aku tentu saja tidak mungkin menceramahi seluruh gadis-gadis yang naik motor ugal-ugalan itu, bukan?

***

Ini sudah curhatan keempat dalam sepekan ini. Lagi-lagi, Ibu harus pulang dalam keadaan mengelus dada. Bahkan parahnya, Ibu sempat terjatuh karena kaget dan kehilangan keseimbangan.

“Dia itu lho, keluar gang nggak lihat-lihat. Ibu Cuma jalan lurus dan nggak terlalu laju. Tapi dia tiba-tiba keluar gang dengan laju dan tanpa noleh kanan kiri. Ya Allah, kalau Ibu sempat laju, pasti Ibu sudah jatuh, Gas.”

“Bu, sekali ini ya, dengar Bagas. Ibu diantar aja sama Bagas. InsyaAllah, Bagas janji, kalau ada klien sepenting apapun, Bagas bakal tetap utamakan Ibu.”

Ibu menatapku sambil menggeleng pelan,” Jadi pekerja itu harus profesional. Jangan sampai begitu. Ibu nggak papa kok. Cuma, Ibu mau ingatin kamu ya Gas. Kalau bisa nanti calon mantu Ibu harus diselidiki dulu. Dia kalau bawa motor ugal-ugalan atau nggak. Kalau dia bawa motornya ugal-ugalan, Ibu nggak merestui ya, Gas.”

Seketika aku tersedak. Tapi, nggak ada yang bisa aku lakukan selain mengangguk dan mulai mencari ponselku.

***

“Nggak mungkin, Bagas. Kantorku itu jauh dari rumah. Dan kamu kan tahu, bos ku itu disiplin minta ampun. Jadi kalau berangkat pagi, mau nggak mau aku harus pakai cara Marc Marquez kalau lagi nyalip Valentino Rossi.”

Aku hanya bisa menggaruk kepalaku yang tidak gatal, begitu mendengar jawaban Lira, calon istri yang rencananya akan kukenalkan ke Ibu. Aku baru mengenalnya selama 3 bulan dari seorang teman. Lira adalah gadis yang feminim sebenarnya, tapi kecintaannya pada moto GP sedikit banyak mempengaruhi gaya bermotornya. Dan parahnya, itu adalah salah satu hal yang paling tidak disukai Ibu saat ini.

“Ya, kamu kan bisa pergi lebih pagi, Ra.” Aku mencoba mencari alternatif untuknya.

“Nggak bisa, Bagas. Kalau pagi, aku harus masak, beres-beres, banyak deh. Itu udah waktu paling cepat buatku berangkat kerja. Lagipula, aku bisa jaga diri kok. Walaupun laju, aku masih bisa kendalikan motorku.”

Aku menghela nafas pelan,” Iya Ra, aku percaya. Tapi yang namanya di jalan, apapun bisa terjadi kan? Cara paling aman ya memang harus berkendara dengan kecepatan yang aman. Apalagi kamu kan masih jalan di dalam kota, bukan mau keluar kota. Kalau kamu laju, kamu pasti menyalip sana sini kan, Ra. Itu kan bahaya…”

Lira mengaduk-ngaduk es kopyornya yang sisa setengah, lalu menatapku,” Aku sudah begini sejak dua tahun lalu, Gas. Dan semua aman. Jadi, kamu nggak usah khawatir,” ucapnya mengakhiri percakapan kami.

Aku hanya bisa tersenyum pelan menanggapi ucapannya. Kalau saja dia tahu, ini bukan hanya tentang betapa khawatirnya aku jika sesuatu terjadi padanya di jalan, tapi ini lebih dari itu. Aku justru khawatir kalau sesuatu akan terjadi pada hubungan kami.

***

Lira menelponku. Rupanya ini telponnya yang kelima. Tapi aku masih di jalan, menjemput Ibu.

Apa yang aku khawatirkan akhirnya terjadi. Ibu jatuh, tertabrak motor lain. Untungnya, motor itu masih sempat mengerem, sehingga tabrakannya tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat Ibu terjatuh dan terkilir. Si pengemudi, yang menurut cerita Ibu, berjenis kelamin perempuan itu, sudah meminta maaf dan menawarkan bantuan untuk mengantar Ibu pulang. Tapi, Ibu yang sudah terlanjur menumpuk kekesalan pada gadis yang ugal-ugalan di jalan memutuskan untuk menolak dengan lantang dan menelponku.

Gadis itu sudah pulang saat aku tiba di tempat kejadian. Aku sengaja naik angkot, agar aku bisa membonceng Ibu.

“Angkat dulu, telponmu.” Dalam keadaan kaki terkilir begitu, Ibu masih saja sempat peduli padaku. Aku tahu, Lira pasti menunggu di rumah. Sore ini, harusnya aku mengenalkan Lira pada Ibu. Tapi, kejadian yang tiba-tiba ini membuatku harus menunda urusan itu sejenak.

Kuangkat telponku cepat dan kujelaskan kejadiannya pada Lira. Kurasa dia sangat terkejut mendengarnya. Tapi, teriakannya membuatku lantas berpikir yang bukan-bukan.

“Kenapa, Ra?” tanyaku cepat. Kupapah Ibu ke pinggir jalan dan kupeluk bahunya. Aku masih harus mengobrol dengan Lira untuk membunuh prasangka burukku.

“Motor Ibumu apa Gas?”

Kuucapkan merek, warna bahkan plat nomor motor Ibu pada Lira. Pikiran negatif semakin membayangiku.

“Aku perlu kesana?” tanya Lira.

Seketika aku dilanda kebimbangan. Kenapa Lira justru bertanya begitu? Tadinya kupikir dia akan terkejut karena dia yang mungkin menabrak Ibu seperti yang aku duga. Tapi….

“Emm, sepertinya pertemuannya kita tunda dulu ya, Ra. Aku harus nemenin Ibu.”

Lira mengucap “Ok” cepat dan menitip salam serta doa untuk Ibu, sebelum menutup telponnya. Aku pun bergegas memapah Ibu ke arah motor dan memastikan Ibu masih nyaman untuk kubonceng. Ada satu pertanyaan yang akan kutanyakan pada Lira setelah memastikan Ibu sudah baik-baik saja.

***

“Wah, Ibu dukung yang itu aja, Ra. Yang motornya warnanya bagus, Lo-ren-zo. Ya, itu aja,” ucap Ibu sambil menunjuk layar televisi.

“Oke, Bu. Lira dukung Pedrosa ya! Bagas tetap Rossi?” Lira menoleh ke arahku.

“Tetap dong!!” sahutku sambil sibuk mengutak-ngatik laptop.

Kubiarkan Ibu dan Lira bercengkrama sambil menonton acara kesukaan Lira.

Sungguh aneh, sebenarnya. Ibu yang tadinya bahkan tidak suka dengan acara kebut-kebutan di jalan, tiba-tiba mau nonton moto GP dengan seorang gadis yang termasuk ke dalam salah satu daftar gadis paling ugal-ugalan di jalan raya. Dunia memang bisa berbalik dengan cepat.

Kejadian tabrakan yang dialami Ibu beberapa waktu lalu memang mengubah semuanya. Saat itu, aku akhirnya tahu kalau Lira adalah saksi mata kejadian itu. Rupanya, Ibu akan berjalan lurus ke depan. Namun, karena lampu berubah merah, Ibu pun berhenti. Tapi Ibu berhenti terlalu ke pinggir, seakan-akan ia akan berbelok ke kiri. Dan gadis itu, tanpa melihat lampu tanda dari motor Ibu, mengira kalau Ibu akan berbelok kiri seperti dirinya. Dan terjadilah tabrakan pelan itu.

“Wah, jatuh..!!! Tuh kan, kalau kebut-kebutan pasti gitu. Makanya Ibu nggak suka,” terdengar Ibu berkomentar.

Lira tertawa pelan,” Iya itu bu. Padahal semua sama-sama laju, tapi dia malah nyalip dengan cara begitu. Sudah tahu nggak mungkin menyalip, malah maksain diri. Harusnya dia ikut aturan, ya kan Bu? Kalau mau belok kiri berarti motornya agak ke kiri. Kalau lurus ya berarti ambil posisi agak ke tengah kan, Bu?”

“Lho, maksudnya gimana Lira?”

Kubiarkan saja percakapan antara Ibu dan Lira yang kutahu memang disengaja oleh Lira, supaya Ibu dapat ilmu tentang posisi berhenti di lampu merah itu. Tapi, aku juga sudah mewanti-wanti agar dia juga mengalah. Bukan tak mungkin Ibu akan bertemu dengannya di jalan. Dan tentu saja, aku tidak mau pernikahan kami batal, hanya karena Lira tidak memenuhi satu syarat menantu idaman yang ditetapkan Ibu.

“Ibu hanya perlu pembiasaan, Gas. Enam puluh kilometer per jam itu tidak laju. Lagipula, aku tidak ugal-ugalan. Aku bahkan selalu menyalip dengan pertimbangan,” komentar Lira saat aku mengeluhkan hobi ngebutnya.

“Tergantung situasi kan, Ra. Kalau lagi padat, terus kamu jalan dengan kecepatan segitu, nyalip sana sini, itu sama aja ugal-ugalan. Gini aja, kita ajarin Ibu biar bisa naik motor dengan lebih aman, dan kamu, mulai menghentikan kebiasaan salip sana sini itu. Dan kalau kalian berdua tetap nekat dengan kebiasaan lama, aku akan mengantar kalian ke kantor.

“Aku bisa telat, Bagas!!!” protesnya.

“Lira yang mutuskan! Aku tidak punya pilihan lain selain itu,” sahutku cepat. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana menengahi semuanya. Ibu tetap ngotot dengan caranya berkendara, begitupun Lira. Tapi, seperti itulah, semuanya justru berakhir dengan unik di depan layar kaca tayangan moto GP.

“Yang penting nggak laju banget seperti moto GP itu ya Ra,” ucap Ibu sambil tertawa.

Kubiarkan saja mereka berdua menikmati kebersamaan. Karena mulai besok, aku sudah tidak perlu khawatir lagi. Ibu akan pergi mengajar bersama Lira, yang kantornya memang searah dengan sekolah tempat Ibu mengajar. Dan itu sekaligus bisa membuat Lira harus naik motor dengan lebih aman, karena ada Ibu di boncengannya. Lalu aku, hanya tinggal bersyukur, karena setidaknya aku tidak perlu mengomel dan mendengar omelan tentang kejadian di jalan lagi, setelah ini.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com

Iklan
Cerpen, Karya

Floriade Rhapsody Part 1

Sebuah Novel yang akan saya share dalam beberapa part.

Floriade Rhapsody

By Aira Arsitha

Prolog

Faras, Faras, Faras….

Nama itu seakan memenuhi kepala Kiara pagi ini. Sejak semalam ia tidak bisa tidur, hanya karena satu nama itu selalu muncul di layar ponselnya. Siapa yang tidak kenal Faras? Siapa yang tidak suka, jika laki-laki pendiam yang jago main bola dan terkenal baik hatinya itu tiba-tiba menghubungi Kiara. Bukan hanya sekedar mengirim pesan basa-basi teman sekelas biasa, tapi sebuah pesan istimewa yang bahkan membuat jantung Kiara tiba-tiba berdegup lebih cepat.

“Kiara, besok, mau nggak sarapan bareng di kantin? Ada yang mau aku omongin”

Pesan pertama itu muncul, ketika Kiara sedang asyik berebut remote televisi dengan Tian, adiknya. Sontak Kiara melepaskan remote yang sejak tadi berusaha direbutnya, dan langsung terpaku menatap layar ponselnya yang tiba-tiba memunculkan kalimat yang tidak biasa itu.

Kiara ingat, beberapa hari lalu, Faras memang sempat meminta nomor ponselnya untuk urusan tugas kelompok matematika yang harus mereka selesaikan minggu depan.  Tadinya, Kiara berpikir kalau nomor ponsel itu hanya akan digunakan Faras untuk membahas tentang tugas matematika itu. Tapi ternyata, semalam Faras justru mengirimkannya pesan yang seketika merubah rona wajah Kiara.

Kalau saja pesan itu diterimanya dari laki-laki lain di sekolahnya, Kiara mungkin tidak heran. Tapi ini seorang Faras, yang bahkan tidak pernah sekalipun berbicara basa-basi dengan satu pun perempuan di sekolahnya. Kiara bahkan sempat berpikir kalau Faras memang tipe laki-laki yang lebih tertarik dengan urusan sekolah dan ekskul bolanya, daripada memikirkan tentang perempuan.

Drrrtttt..drrrtttt…!!!

Ponsel Kiara bergetar lagi untuk ketiga kalinya. Faras kembali menelponnya, setelah Kiara tidak juga membalas pesan singkatnya itu. Bukan maksud Kiara untuk mengabaikan pesan dari laki-laki itu. Tapi ada sekelebat wajah yang tiba-tiba muncul di memorinya, ketika dia ingin membalas pesan Faras itu. Ada wajah seseorang yang masih diingatnya jelas, dengan rona yang berbeda dan senyum yang begitu lebar, ketika ia dengan riangnya mengucapkan kalimat itu.

“Kiara, kamu tahu nggak, aku kayaknya jatuh cintaaaa banget sama Faras.”

***

Suasana di rumah Kiara pagi ini seolah berubah 180 derajat. Atmosfer sendu tiba-tiba mewarnai rumah yang biasanya penuh dengan kecerahan itu. Walaupun rumah itu hanya dihuni oleh mereka bertiga saja. Kiara, Tian dan mamanya. Tapi, suasana di rumah itu benar-benar tidak pernah sesepi dan sesendu ini, semenjak kepergian kepala keluarga mereka 5 tahun yang lalu.

“Kan Kiara Cuma 2 minggu aja Ma,” ucap Kiara sambil menarik koper besarnya, dan meletakkannya di samping sofa, dekat pintu keluar. Di depan sudah terparkir mobil yang sudah siap mengantar Kiara ke bandara. Tian yang biasanya tidak pernah bangun sepagi itu pun, sejak tadi sudah siap mandi dan memanaskan mobil. Meski Kiara tahu, Tian pun tidak bersemangat dengan hal ini. Ia hanya ingin melakukan tugasnya saja, membantu keberangkatan kakak perempuannya itu.

“Kenapa harus kesana sih? Kita kan masih bisa liburan seperti tahun-tahun lalu. Ya kan Tian?” Mama Kiara masih terlihat membujuk anak sulungnya itu. Tian yang mendapat pertanyaan dari Mamanya, hanya mengangguk setuju.

Ini perpisahan pertama mereka seumur hidup. Sejak kecil, Kiara dan Tian tidak pernah pergi kemanapun tanpa kedua orang tua mereka. Tapi hari ini, Kiara memutuskan untuk melakukannya, demi sahabatnya tercinta, dan juga demi keinginan menggebunya yang sudah tidak bisa ia bendung lagi. Untuk pertama kalinya, Kiara mencoba untuk mengubah semua kebiasaan yang pernah dilakukan oleh keluarganya selama bertahun-tahun. Ia sudah sangat rindu dengan sahabatnya itu. Apalagi, selama ini, Tita, sahabatnya itu selalu menceritakan betapa indahnya suasana di Wollongong, Australia.

“Australia itu kan jauh…”

Kiara mendengus pelan. Pembicaraan ini bahkan sudah dilakukan berkali-kali. Hingga akhirnya Mamanya memutuskan untuk membiarkan Kiara pergi, meski dengan syarat Kiara harus tetap berkomunikasi dengan Mamanya atau Tian setiap hari. Tapi ternyata, Mamanya itu masih saja membahas ulang hal itu di detik-detik keberangkatan Kiara. Padahal tiket penerbangan ke Australia itu sudah dipegang erat oleh Kiara, beserta paspor dan keperluannya yang lain.

“Ma, Kiara udah mau berangkat. Kita kan udah bahas ini.”

Tian menatap Kiara dan Mamanya bergantian. Meski dia juga gelisah dengan kepergian Kiara, tapi itu tertutupi dengan detak jam yang terus bergerak. Ia tidak mau kakaknya itu ketinggalan pesawat. Apalagi dia sudah sengaja tidak masuk kuliah, demi mengantar Kiara.

“Mama percaya saja sama Kiara, dia pasti bisa jaga diri.” Tian akhirnya mulai bersuara. “ Mama mau ikut ke bandara?”

Mama Kiara menghela nafas dan menggeleng pelan,” Ya sudah, hati-hati. Telepon Mama terus ya,” ucapnya, setelah sempat terdiam beberapa lama. Ia memeluk Kiara erat, sambil berusaha menyeka air matanya. Gadis kecilnya itu begitu cepat dewasa. Ia tidak bisa membayangkan jika sampai terjadi sesuatu padanya. Kalau saja Kiara mengizinkannya ikut, ia pasti akan mengikuti anaknya itu. Sayangnya, Kiara tidak ingin diikuti siapapun, termasuk Tian. Karena ia ingin memberi kejutan untuk sahabatnya. Dan tentu, karena Kiara bukan anak kecil lagi.

“Kiara berangkat ya Ma,” ucap Kiara sambil melepas pelukan Mamanya. Ia tahu berat bagi Mamanya untuk membiarkannya pergi. Tapi Kiara tidak mau seperti itu terus. Ia bahkan sudah rela melepaskan kesempatannya kuliah di luar negeri, hanya demi Mamanya itu. Dan sekarang, ia tidak mau kalah lagi. Dia sangat ingin pergi ke Australia, dan memberi kejutan pada sahabatnya.

“Yuk, berangkat.” Kian memberi kode pada Kiara untuk masuk mobil. Ia lantas mengangkat koper Kiara dan memasukkannya ke bagasi, sebelum berpamitan pada Mamanya.

“Tian jalan dulu Ma,” ucapnya sambil mencium pipi Mamanya. Mamanya hanya tersenyum sekilas, sebelum kembali menatap lekat ke arah Kiara. Bibirnya tak henti melantunkan doa, agar anaknya itu tiba di tempat tujuan dengan selamat.

***

“Mama terlalu khawatir banget sih sama aku. Padahal, aku Cuma mau ke Australia aja,” keluh Kiara, saat mobil yang dibawa Tian sudah mulai menjauh dari rumah.

Tian menyahuti sambil memperhatikan jalanan yang masih cukup lengang, karena waktu masih menunjukkan pukul 05.30 pagi.

“Wajar aja lah Kak. Ini kan pertama kalinya kamu pergi sendirian,” sahut Tian, membela Mamanya.

“Yah, sudahlah. Yang penting sekarang aku bisa pergi juga,” sahutnya, sambil merapikan kuncir rambutnya.

“Nanti dijemput Tita kan?” tanya Tian. Walaupun Tian adalah adik Kiara, dan usia mereka terpaut 2 tahun, tapi selama ini, Tian selalu bertingkah seperti seorang kakak bagi Kiara. Apalagi, semenjak Ayah mereka pergi, Tian otomatis menjadi satu-satunya laki-laki di rumah. Dan ia pun merasa kalau dia memiliki tanggung jawab untuk melindungi dua orang perempuan istimewa dalam hidupnya itu.

Kiara menoleh ke arah Tian dengan dahi berkerut,” Ya nggak lah, Tian. Aku kan mau kasih kejutan sama Tita.”

Tian sempat menoleh sekilas ke arah Kiara, sebelum kembali memperhatikan jalan.” Terus gimana? Memangnya kamu tahu gimana caranya nyampe ke tempat tinggal Tita? Jangan aneh-aneh deh Kak!”

Kiara tersenyum mendengat kekhawatiran dari ucapan Tian itu. Kiara memang paling suka melihat adiknya itu mengkhawatirkannya. Tian memang selalu bersikap begitu dengan Kiara. Bahkan dengan perempuan manapun yang berhubungan dengan dirinya. Tian adalah lelaki paling peduli, penyayang dan paling baik yang pernah dikenalnya, selain Faras. Ah, nama itu lagi. Kiara sudah lama tidak bertemu dengannya, sejak mereka lulus SMA.

“Kak..??” Tian menoleh ke arah Kiara yang tidak juga menyahuti pertanyaannya.

“Tian, sekarang itu udah zaman modern. Kalau mau apa-apa, sudah banyak akses informasi. Aku udah cari tahu kok, gimana caranya nyampe ke tempat Tita. Dari bandara Sydney sampai ke flat Tita di Wollongong.”

“Memangnya Bahasa Inggrismu udah lancar? Bukannya selama ini kamu bermasalah dengan speaking mu?” Tian mencoba mengingatkan Kiara akan kelemahannya itu. Kiara memang mendapat nilai skor TOEFL yang cukup baik. Bahkan ia pun selalu mendapat hasil memuaskan dalam pelajaran Bahasa Inggrisnya saat SMA. Tapi, ia memang selalu mendapat kesulitan untuk berbicara Bahasa Inggris. Bicaranya masih terpatah-patah dan bahkan ia seringkali terdiam saat bicara, untuk mengingat kosa kata yang dilupakannya.

“Aku udah belajar,” sahut Kiara sambil mengeluarkan buku latihan berbicara bahasa Inggris yang sengaja dibelinya, demi liburan dua minggunya di Australia. Meskipun tentu saja, speaking Kiara masih belum bisa dikatakan luar biasa. Apalagi kalau ia harus berbicara dengan penduduk sana yang memang berbicara dengan cukup cepat. Tapi Kiara tentu saja tidak ingin mengakui hal itu di depan Tian.

Tian akhirnya hanya tersenyum mengetahui niat kuat kakaknya itu. Kiara memang keras kepala dan tidak pernah mau menyerah. Teringat saat dulu Kiara memaksa Mamanya untuk mengizinkannya kuliah di Australia. Ia bahkan belajar sangat keras untuk tes TOEFL dan meraih nilai memuaskan. Sayangnya, Mamanya pun tidak kalah keras kepala, sehingga membuatnya harus puas kuliah di Jakarta saja.

“Hati-hati ya Kak. Biar bagaimanapun, kamu tetap aja orang asing disana. Apapun bisa terjadi, dan kamu harus terus waspada.”

“Iya Mbah,” sahut Kiara sambil tertawa.

Tian menatap ke arah Kiara,” aku serius kak.”

“Aku juga Mbah Tian,” sahut Kiara, masih meledek adiknya itu. “Aku senang deh, punya adik kayak kamu.”

“Iya,” sahut Tian,” Tapi aku yang tambah tua punya kakak kayak kamu.”

Kiara tertawa sambil menutup wajahnya, tidak tahan melihat ekspresi Tian yang seolah seperti seorang Ayah dengan banyak pikiran.

“Mau titip salam nggak sama Tita?” godanya sambil menatap ke arah Tian.

Tian berlagak pura-pura tidak mendengar dan terus menatap jalan. Tapi Kiara tahu, Tian mendengar ucapannya.

“Beneran nih nggak mau disalamin? Nggak takut Tita naksir bule Australia?” Melihat ekspresi Tian yang hanya diam, Kiara malah tertarik untuk menggodanya lagi. Tian memang sudah lama menyukai Tita. Tapi, selama ini Tita selalu hanya menganggapnya sebagai adik sahabatnya, tidak lebih. Dan itu membuat Tian hanya mampu menjadi penggemar rahasianya saja. Tian pun sebenarnya tidak ingin Kiara mengetahui hal itu. Tapi, kakaknya itu memang pandai mengetahui rahasia orang lain.

“Awas lho kak, kalau sampai dia tahu, aku suka.” Tian akhirnya mulai merasa gerah, dan khawatir Kiara berbuat yang tidak-tidak. Dia tidak mau hubungannya dengan Tita menjadi buruk, hanya karena Tita mengetahui perasaannya.

“Kenapa sih, nggak bilang aja? Tita nggak bakal jauhin kamu kok, kalaupun dia nggak suka.” Kiara mencoba membujuk adiknya. Meski Kiara tahu, sahabatnya itu pernah menyimpan rasa pada seorang laki-laki, dan orang itu bukanlah Tian.

“Biar begini aja kak. Nanti aja kalau Tita udah balik ke Indonesia,” sahut Tian dengan suara pelan. Kiara tahu, bukan itu yang diinginkan Tian. Tapi, ia menyadari kalau adiknya itu sangat dewasa terhadap perasaannya.

“Nanti aku fotoin deh Tita buat kamu. Tungguin aja emailku ya!”

Tian hanya mengangguk dan tersenyum. Saat ini, bukan itu yang menjadi prioritasnya. Ia masih memikirkan tentang Kiara yang akan pergi ke sebuah negara asing, tanpa siapapun di sisinya.

***

Tita menutup kopernya dengan tergesa. Meskipun ia tahu, ia masih memiliki banyak waktu untuk berbenah. Kalau saja ia bisa menentukan jadwal keberangkatannya sendiri, ia pasti sudah melesat sejak tadi.

Tok..tok…

Tita mendengar ketukan dari balik pintu flatnya. Ia sudah bisa menduga siapa yang datang, dan langsung bergegas membuka pintu.

“Jadi aku antar?” tanya Ethan, tetangga flat Tita, sekaligus sahabat baiknya selama di Wollongong. Mahasiswa pascasarjana itu dikenalnya dari Lucy, teman satu flat nya dulu. Lucy, mahasiswa asal Singapura itu sudah lulus beberapa bulan lalu dan membuat Tita saat ini tinggal sendiri di flat yang cukup luas ini.

“Yeah,” sahut Tita, tanpa memperhatikan Ethan. Pikirannya sedang setengah kalut. Dan dia tidak tertarik untuk berbicara basa basi apapun saat ini.

“Sepertinya, kamu harus makan dulu,” ucap Ethan sambil mengangkat plastik yang ternyata sudah digenggamnya sejak tadi. Ethan pun masuk ke dalam flat Tita dan meletakkan makanan itu di atas meja.

Tita menatap jam di tangannya, dan menyadari kalau dia masih punya banyak waktu. Walaupun tidak lapar, ia juga tidak mau terjadi sesuatu dengan dirinya hanya karena ia lupa untuk makan. Karena itu, ia menerima tawaran dari Ethan dan mulai mendekat ke arah meja.

Ethan  memperhatikan Tita sesekali, sambil mengunyah rotinya. Ia tahu, Tita sedang tidak ingin bicara apa-apa. Tapi, Ethan juga khawatir dengan kekalutan Tita itu. Kalau saja bisa, dia sebenarnya ingin menawarkan untuk menemani Tita. Tapi sayang, besok ia memiliki jadwal untuk berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya.

Are you ok?” tanya Ethan, ketika dilihatnya, Tita baru menghabiskan seperempat rotinya.

Not really,” sahutnya, tanpa menatap Ethan. Pikirannya menerawang jauh, menembus batas samudera yang membentang. Tiba-tiba saat itu, Tita mulai menyesali keputusannya untuk kuliah di Australia.

***

“Hati-hati kak.” Tian mengucapkan kalimat terakhir yang bisa diucapkannya, sebelum kakaknya itu memasuki boarding room. Ada perasaan khawatir yang tiba-tiba muncul lagi di hati Tian. Saat itu, dia baru menyadari, kenapa Mamanya memutuskan untuk tidak ikut mengantar Kiara ke bandara. Karena, jika Mamanya ikut, Tian yakin, Kiara tidak akan pernah bisa memasuki pesawatnya.

“Tenang aja Tian,” sahut Kiara sambil menepuk bahu adiknya itu,” jaga Mama baik-baik. Pokoknya jangan bikin Mama khawatir.”

Tian mengangguk pelan sambil tersenyum dengan setengah hati.

“Oh ya…,” Kiara yang tadinya ingin masuk ke ruang tunggu, lantas berbalik ke arah Tian,” jangan bilang Mama ya, kalau Tita nggak jemput aku. Bilang aja, kalau aku dijemput sama Tita dan semua beres. Oke..?!?” pintanya pada Tian. Ia takut Mamanya benar-benar akan langsung menyusulnya, kalau tahu dia tidak dijemput oleh Tita.

“Kamu tuh Kak, ada-ada aja,” sahut Tian sambil menggelengkan kepalanya. Meskipun dia anak laki-laki, dia tidak pernah berniat melakukan hal senekat itu. Ia berusaha meredam semua keinginannya, yang bisa membuat Mamanya khawatir. Bahkan meskipun keinginannya untuk mendaki gunung pernah menggebu-gebu, ia pun memutuskan untuk mengabaikan itu, hanya karena Mamanya melarangnya pergi. Sudah banyak hal mengkhawatirkan yang pernah dilakukannya, dan membuat Mamanya itu resah. Dan sejak kepergian Ayahnya, Tian pun mulai berjanji untuk tidak melakukannya lagi.

Kiara menatap wajah Tian dan mencoba menebak apa yang dipikirkan adiknya itu. Kali ini, Kiara mengakui, kalau dia sedang bertingkah tidak dewasa, Tapi, dia sudah mencoba untuk menahannya. Dan ternyata, ia tidak sekuat Tian. Sudah hampir empat tahun Kiara kuliah, dan selama itu dia selalu meredam keinginannya untuk pergi ke Australia, setiap kali liburan tiba. Dan kali ini, peredam itu sudah hancur, terpatahkan oleh kekuatan tekad Kiara.

“Kadangkala, kita harus mencoba sesuatu hal yang baru juga,” ucapnya, mencoba mempengaruhi pikiran Tian.

Tian hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu, tidak ada gunanya baginya untuk mengingkari ucapan Kiara. Karena kakaknya itu, pasti tidak akan menerima apapun yang akan dikatakannya saat ini.

Jam di tangan Kiara sudah mulai menunjukkan waktu mendekati pesawatnya akan berangkat. Ia pun lantas mengakhiri percakapannya dengan Tian dan mulai melangkah menuju ruang tunggu. Lambaian tangan dan senyuman Tian menjadi hal terakhir yang dilihatnya sebelum masuk ruang tunggu. Di dalam hati, ia hanya berharap, segalanya baik-baik saja sampai ia tiba di flat Tita.

***

Kiara menghabiskan waktu menunggunya sambil membalas pesan dari Tian. Setelah mengantar tadi, rupanya Tian tidak langsung pulang. Dia memutuskan untuk singgah di kafe yang ada di bandara dan menghubungi Kiara. Ada satu hal yang ingin dikatakannya pada kakaknya itu. Tapi, ia merasa sulit untuk mengucapkanyya secara langsung.

“Hati-hati kak dengan laki-laki asing. Pegang kuat-kuat barang-barangmu. Segala sesuatu mungkin aja terjadi. Kalau sudah sampai di Sydney, langsung telpon aku aja. Nanti pulsanya aku ganti.”

Pesan panjang itu cukup membuat dahi Kiara berkerut-kerut. Ia seolah merasa sedang dikhawatirkan oleh Ayahnya. Sejak kepergian Ayahnya, Kiara memang tidak pernah menemukan seseorang yang bisa memperhatikannya, seperti Ayahnya memperhatikannya dulu. Dan sekarang, Tian, adiknya, seolah menjelma menjadi sosok Ayah baginya.

Sebenarnya, Kiara merasa nyaman dengan perhatian itu. Setidaknya, meskipun ia sudah tidak lagi memiliki seorang Ayah, ternyata ia masih memiliki seorang saudara laki-laki yang bisa dijadikannya tempat bergantung. Tapi, sisi lain hati Kiara terasa ingin mengingkari itu. Biar bagaimanapun, ia adalah anak sulung. Dan seharusnya, dialah yang menjaga adik dan Mamanya. Bukan sebaliknya.

“Kamu kayak orang tua aja,” balasnya singkat. Walaupun semua yang Tian katakan itu benar, tapi Kiara enggan untuk mengakui bahwa adiknya itu memang jauh lebih dewasa.

“Barusan searching. Disana lagi musim semi. Lumayan lah, jadi kamu nggak bakalan shock sama perbedaan cuaca.” Tian membalas, tanpa menyahuti ucapan Kiara sebelumnya.

Kiara baru menyadari, kalau ia bahkan tidak sempat mencari tahu tentang hal itu. Ia hanya memikirkan tentang bagaimana agar segera tiba disana dan menemukan flat Tita. Beruntung, cuaca sedang baik. Karena kalau tidak, ia harus menerima kenyataan menghadapi musim dingin dengan celana jeans, kaos dan jaket tipis yang bahkan tak mampu menghalangi angin untuk mengganggu tubuhnya.

“Oke, sepertinya aku harus segera berangkat,” balasnya, mengakhiri percakapannya dengan Tian. Meskipun bersyukur dengan kecerdasan adiknya itu, Kiara memutuskan untuk tetap pada pendiriannya. “Aku nggak bakal nelpon siapa-siapa. Aku akan sampai ke flat Tita dengan kekuatanku sendiri,” bisiknya pelan, sebelum panggilan memasuki pesawat mulai menggema dan membuatnya bergegas.

“Sydney, I’m coming…”

***

Perjalanan panjang menuju Australia membuat Kiara tidak bisa tidur. Tapi, ia juga tidak suka berbicara dengan orang asing. Seorang wanita yang duduk di sebelahnya pun mulai menunjukkan tanda-tanda ingin beristirahat. Akhirnya, Kiara pun hanya menutup mata, namun pikirannya, menerawang ke masa SMA nya dulu.

“Kiaraaa….!!!” Seseorang terdengar memanggilnya, saat ia akan masuk ke dalam kelas. Tadinya, Kiara berharap bisa datang terlambat, agar ia tidak punya waktu untuk mengobrol dengan siapapun. Tapi Tian belum mengerjakan pekerjaan rumahnya, dan memaksa Kiara untuk berangkat pagi demi membantunya mendaptkan jawaban PR nya. Dan benar saja, keputusannya untuk datang ke sekolah lebih awal, membuatnya tidak bisa menghindari ini.

Kiara menoleh ke arah sosok yang memanggilnya. Ia sudah menduga siapa sosok yang memanggilnya itu. Tapi ia hanya menoleh dan berpura-pura tidak tahu apa-apa.

Sosok yang memanggilnya itu pun menghampiri ke arah bangku Kiara. Kelas masih sepi. Hanya ada Kiara dan dia, Faras.

“Kenapa sms ku semalam nggak dibalas?” tanyanya tanpa basa-basi. Kiara duduk di kursinya dan menatap penuh tanya ke arah sosok teman sekelasnya itu. Kiara seakan merasa menemukan sosok Faras yang berbeda. Selama ini, dia mengenal Faras sebagai laki-laki pendiam yang bahkan tidak akan mungkin mengajukan pertanyaan semacam itu ke Kiara. Tapi nyatanya, semua dugaan Kiara tentang Faras ternyata keliru.

“Sorry Faras,” sahutnya tanpa bisa memberi alasan apapun. Dia tidak mau berbohong, tapi dia juga tidak mungkin mengucapkan yang sebenarnya.

Faras hanya diam mendengar jawaban Kiara. Meski Kiara tahu, Faras pasti menginginkan sebuah alasan,”Kalau gitu, kita sekarang ke kantin yuk!” ajaknya, tanpa memperdulikan jawaban Kiara tadi.

Kiara memegang telinganya yang tidak gatal. Dia bingung bagaimana akan menolak tawaran itu. Raut wajahnya menunjukkan seolah dia sedang berharap ada seseorang yang datang dan membuat Faras segera menjauh darinya.

“Gimana Ra?” Faras masih mendesaknya.

Suasana di luar mulai terdengar ramai. Sambil berharap-harap cemas, Kiara menunggu seseorang masuk ke dalam kelasnya.

“Hei semuaaa…..!!”

Harapan Kiara ternyata terkabul. Sayangnya, sosok yang datang itu bukanlah yang diharapkannya.

“Lho, kok Kiara berduaan sama Faras?” Tita yang baru saja datang, dan menemukan Faras duduk di depan Kiara, sambil menatap ke arah gadis itu, lantas terkejut. Bukan hanya karena Faras tidak pernah berbuat seperti itu sebelumnya. Tetapi juga karena perempuan yang ada di dekat Faras adalah Kiara, sahabatnya sendiri. Hanya Kiara satu-satunya orang yang mengetahui perasaannya pada Faras.

Kiara menatap ke arah sahabatnya itu, dan berusaha bersikap biasa,” kita lagi obrolin tugas matematiku itu lho Ta. Lusa kan dikumpul,” sahut Kiara, merasa lega karena berhasil menemukan alasan yang tepat.

“Oh iya, aku juga belum selesaikan semua sama Diah,” sahut Tita sambil mendekat ke arah Kiara dan Faras. Ia lalu meletakkan tas di bangkunya, tepat di samping Kiara.

“Oke, ini hasil hitunganku. Kamu periksa dulu,” ucap Faras tiba-tiba, sambil meletakkan secarik kertas di atas meja. Kertas itu benar-benar kertas jawaban Faras untuk tugas kelompoknya dengan Kiara. Mereka memang membagi tugas dan saling memeriksa pekerjaan satu sama lain sebelum mengetiknya.

Kiara mengangguk, dan mengambil kertas itu. Tanpa mengobrolkan hal yang lain, Faras langsung berpamitan pergi. Kiara tahu, Faras pasti akan melakukan hal itu.

“Hmm… enaknya bisa sekelompok sama Faras.” Tita mulai terlihat bersungut-sungut, ketika bayangan Faras sudah menghilang dari balik pintu kelas mereka.

“Aku juga nggak tahu Ta. Kok bisa pak Iwan memilih aku dan Faras menjadi satu kelompok,” ucap Kiara, mencoba menenangkan hati Tita. Ia tahu gadis itu merasa sangat kesal dan cemburu pada Kiara. Kiara sendiri sebenarnya merasa senang bisa mengerjakan tugas itu dengan Faras. Apalagi ia tahu kalau Faras ternyata memiliki perasaan padanya. Tapi, persahabatannya dengan Tita yang sudah dijalinnya sejak sekolah dasar, membuatnya lantas memikirkan kembali tentang perasaannya. Baginya, persahabatannya dengan Tita lebih penting dari apapun.

“Iya sih,” sahut Tita.” Udahlah, lupakan aja,” ucapnya lagi, membuat Kiara sontak bisa bernafas lega.

“Eh, iya Ra, aku lupa mau cerita.” Tita tiba-tiba memulai lagi percakapan mereka yang sempat terputus. Tadinya Kiara ingin memeriksa jawaban yang ditulis Faras di selembar kertas yang diberikannya kepada Kiara, tapi lantas diurungkannya, ketika Tita mulai mengajaknya berbicara lagi.

“Ada apa Ta?” tanyanya, sambil memiringkan tubuhnya dan menghadap ke arah Tita. Beberapa anak di kelas mereka mulai berdatangan. Ada yang memutuskan langsung duduk dan sibuk mengobrol. Dan ada juga yang memilih keluar kelas sambil menunggu bel masuk berbunyi. Seperti yang dilakukan Faras.

“Besok Faras ulang tahun Ra.” Tita bercerita dengan wajah yang sumringah.” Aku mau mengungkapkan perasaanku sambil kasih kado ke dia. Kamu mau nggak nemenin aku cari kado pulang sekolah nanti?” tanyanya sambil menatap ke arah Kiara.

“Bisa. Memangnya kamu udah tahu mau ngasih apa?”

Tita nampak terdiam sejenak. Terlihat dia sedang berpikir,” belum,” jawabnya sambil menggeleng.” Emm, kira-kira Tian bisa kasih ide nggak ya? Dia kan cowok,” lanjut Tita, membuat Kiara berusaha menahan rasa gatal yang tiba-tiba muncul di tenggorokannya.

Kalau sampai Tian tahu, Tita akan memberikan kado untuk Faras, dia pasti tidak akan memberi saran apapun. Dan Kiara tidak tahu apa yang akan terjadi jika adik laki-lakinya itu patah hati. Tian terlalu baik untuk merasakan patah hati. Karenanya, Kiara tidak pernah bercerita tentang perasaan Tita yang sebenarnya pada Tian.

“Kamu percaya sama anak kecil itu. Idenya nggak bakal bagus,” ucap Kiara, mencoba menggagalkan rencana Tita untuk bertanya pada Faras.

“Jadi gimana?” tanya Tita, mulai menunjukkan wajah kusutnya.

“Emm, gimana kalau kasih jam tangan aja? Simpel tapi pasti terpakai,”cetus Kiara.

Tita terlihat berpikir sejenak, sebelum menganggukkan kepalanya,” boleh juga tuh,” sahutnya.” Nanti kamu pulang bareng aku aja ya!”

“Siippp…” sahut Kiara sambil mengacungkan jempolnya. Ia berharap rencana Tita berjalan dengan lancar. Karena kalau benar Faras memang menyukainya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok.

***

Tita menghela nafasnya pelan. Bayangan Ethan yang terakhir dilihatnya, saat mengantarnya ke bandara, masih menari-nari di pikirannya. Laki-laki itu begitu baik padanya. Meskipun pertemanan mereka selama ini, sedikitpun tidak menguntungkan laki-laki itu. Tita terlalu sering merepotkan Ethan. Bahkan saat ini pun, ia bisa menginjakkan kakinya ke tempat kelahirannya adalah karena bantuan Ethan.

Dalam kepanikannya saat mengetahui Mamanya dirawat di rumah sakit, Tita sama sekali tidak bisa berpikir normal. Ia tidak tahu harus berbuat apa, selain ingin segera pulang dan menemui mamanya. Ia bahkan tidak berpikir tentang bagaimana ia harus pulang dan menyelesaikan semua urusannya. Semua tidak akan mungkin menjadi mudah, jika tidak ada Ethan. Ethan yang mengurus semuanya. Membeli tiketnya, mengurus keberangkatannya, izin kuliahnya, semua beres di tangan Ethan. Dan Tita hanya tinggal mengucap terima kasih dan bersyukur mengenal sahabat sebaik Ethan.

Tita kembali teringat dengan pertemuan pertamanya dengan Ethan yang memang satu jurusan dengan Lucy, teman satu flatnya dulu. Saat itu, Lucy yang mempertemukannya dengan Ethan saat makan siang di kampus. Tadinya, Lucy berniat menjodohkan Ethan dengan Tita. Ia bahkan sengaja memprovokasi Ethan untuk menyewa flat di dekat flat mereka. Dan Ethan dengan senang hati menerima tawaran itu, karena Flat mereka memang lebih dekat dengan kampus.

Awalnya Tita tidak tertarik untuk memiliki hubungan khusus dengan Ethan. Ia bahkan dengan yakin mengatakan pada Lucy, kalau ia hanya akan menjadi sahabat baik Ethan. Dan itu, diungkapkannya dengan lugas di depan Ethan. Sebuah keputusan yang disesalinya kini. Ia sudah terlanjur menyatakan sebagai sahabat bagi Ethan. Dan ucapannya itu, sudah tidak bisa ia tarik kembali, meskipun segalanya mulai terasa berubah. Ia tidak bisa menyangkal sebuah perasaan berbeda yang muncul di hatinya. Perasaan yang sudah lama terkunci untuk satu nama yang kini entah ada dimana. Faras.

Tita sendiri tidak menyangka, kalau ia akhirnya bisa melepaskan perasaanya pada Faras. Ia pikir, Faras adalah cinta pertama sekaligus cinta sejatinya yang tidak akan tergantikan oleh siapapun. Tapi nyatanya, ia kini justru sudah melupakan nama itu, dan merasa nyaman dengan seseorang yang sayangnya hanya bisa menjadi sahabatnya saja.

“Titaaaa…!!!” Tita tersentak dari lamunannya, ketika menyadari ada seseorang yang memanggilnya. Sejak tadi, ia mencari-cari, namun tak juga ditemukannya sosok itu. Namun tiba-tiba ia muncul begitu saja. “Sudah lama?” Mbak Indah, kakak perempuannya, yang memang ditugaskan untuk menjemputnya, datang tergopoh-gopoh ke arahnya.

“Sorry, tadi macet,” ucapnya lagi, membuat Tita tak sempat menyahut apa-apa.

“Nggak apa Mbak, belum lama kok. Kita langsung pulang ya, terus kerumah sakit,” ucap Tita cepat. Ia tidak mau menyia-nyiakan waktunya. Meksipun lelah, ia ingin segera menemui Mamanya.

“Iya sudah, ayo…!!!” sahut Indah sambil membantu adiknya itu membawa barang-barangnya.

Sepanjang jalan, Tita mulai sibuk mengaktifkan ponselnya. Khawatir kalau Ethan menghubunginya dan menanyakan sesuatu. Namun Tita harus rela disergap perasaan kecewa, karena laki-laki yang diharapkannya itu, ternyata tidak menghubunginya. Ia justru menemukan sebuah pesan dari seseorang yang tidak disangka-sangkanya, dan cukup membuatnya lantas beristigfar keras.

***

“Kamu beneran didepan flatku Ra?” tanya Tita, masih dengan nada tidak percaya. Ia tidak peduli lagi dengan pulsa yang akan dihabiskannya untuk menelpon sahabat karibnya itu. Ia tidak menyangka kalau Kiara senekat itu. Bahkan Tita pun tidak dihubunginya sama sekali.

“Iya lah Tita…. Ini aku udah ada tepat di depan pintunya. Kamu dimana sih?” suara Kiara dari seberang telpon terdengar lelah sekaligus tidak sabar. Gadis itu pasti mengetuk pintu cukup lama dan sempat merutuki Tita, karena ponselnya baru saja aktif. Selama di pesawat dan mengurus barang-barangnya tadi, Tita memang belum mengaktifkan ponselnya.

“Ya Allah, kamu kok nggak bilang sih Ra?” keluh Tita, membuat Indah memandang penuh tanya ke arah adiknya itu. Mereka masih terkepung dengan macet di tengah jalan dari bandara menuju rumah mereka.

Tita tidak mempedulikan Indah dan menunggu sahutan dari seberang telepon.” Aku mau kasih surprise Ta,” sahut Kiara, yang diyakini Tita, dilakukannya sambil tersenyum sumringah. Kalau saja ia sekarang masih ada di Wollongong, ia pasti akan menyambut sahabatnya itu dengan senang hati. Kedatangan Kiara akan benar-benar menjadi kejutan terindah untuknya. Sudah lama ia ingin mengajak Kiara memutari Wollongong.

Sayangnya, Kiara justru datang di waktu yang tidak tepat. Bahkan niat gadis itu untuk memberikan kejutan padanya, justru membawanya ke dalam kesulitan yang membuat Tita lantas kembali kalut.

“Tapi aku lagi nggak di flat Ra,” ucap Tita, mencoba memilih kata terbaik untuk disampaikan pada sahabatnya itu. Ia masih bingung bagaimana harus menyampaikan kejadian yang sebenarnya. Kiara pasti akan kalut dan ketakutan. Apalagi ia tidak mengenal siapapun di Australia.

“Lama nggak Ta?” tanya Kiara, membuat Tita sontak menggigit bibirnya. Ia belum menemukan penyelesaian terbaik untuk Kiara. Apalagi pikirannya masih terbagi dengan kekhawatirannya terhadap Mamanya. Hal itu membuatnya tidak bisa berpikir cepat.

“Aku lagi di Indonesia Ra. Baru aja nyampe.”

“Haaa…..” Kiara berteriak kencang.” Serius elo Ta? Jangan bercanda deh.” Tita mulai mendengar suara Kiara bergetar pelan.

Karya

Sahabat

Ada kalanya kita butuh bahu untuk bersandar dan telinga untuk mendengar, ketika penat menggerus sabar

Ada kalanya pula kita perlu wajah untuk berbagi kabar dan binar, ketika gempita menyebar

Ada kalanya, kita butuh semuanya, dalam sosok sahabat…

Tidak mudah untuk semua orang menemukan sosok sahabat dalam hidup. Sosok terdekat selain keluarga yang ia percaya untuk berbagi keluh kesah dan kebahagiaan. Namun, ketika sosok itu telah tertemukan, maka hidup seolah terasa lebih menyenangkan. Ada seseorang yang bisa menemani kita di saat suka maupun duka. Ada seseorang yang kita percaya untuk berbagi lara dan gempita.

Karena begitu pentingnya sosok sahabat dalam hidup seseorang, islam pun mengajarkan tentang bagaimana cara kita memilih sahabat. Hal ini bukan berarti seorang muslim/muslimah harus memilih-memilih dan membedakan dalam berteman. Kita bebas dan boleh berteman dengan siapa saja, tanpa memandang status, agama, ras dan lain sebagainya. Sebagai seorang muslim/muslimah, kita patut untuk bersikap baik dan ramah dengan siapapun, bahkan meskipun kita baru bertemu. Tetapi, kita dianjurkan untuk memilih dalam bersahabat.

Mengapa? Karena sahabat adalah sosok yang akan mewarnai hari-hari kita, lebih dari sekedar teman. Jika teman adalah sosok yang kita temui dan kita ajak bicara di waktu-waktu tertentu, maka sahabat adalah sosok yang mungkin hampir setiap waktu kita temui dan kita ajak berbagi. Tak jarang bahkan seorang sahabat bisa mengetahui rahasia terdalam sahabatnya yang tak pernah disampaikannya kepada siapapun juga kecuali sahabatnya itu. Karena itulah, mengapa sangat penting memilih sahabat dalam hidup.

Bersahabat dengan penjual minyak wangi, maka kita akan ikut terciprat wanginya. Seperti itulah analogi seorang sahabat yang baik. Jika kita memilih sahabat yang baik untuk kita, maka ia akan menjaga rahasia dan aib kita. Jika sahabat kita adalah orang yang hanif, maka ia akan memberi nasihat yang baik untuk kita. Jika sahabat kita sholeh/sholehah, maka ia tidak akan mungkin membawa kita kepada keburukan.

Di zaman modern ini, dimana sudah banyak media yang memudahkan kita berkeluh kesah dan berbagi gempita, maka sosok sahabat menjadi sosok yang sangat kita butuhkan. Dengan keberadaannya, kita bisa memiliki media yang lebih baik, yang bisa mendengar sekaligus memberikan saran yang tepat untuk kita. Karena sebenarnya di dunia ini, sangat banyak orang yang “akan” dan “ingin” mendengar kita. Istilahnya adalah kepo.

Dalam beberapa waktu belakangan ini, tingkat keingintahuan seseorang terhadap orang lain, bahkan meskipun orang itu tidak dikenalnya ataupun baru dikenalnya, sudah semakin meningkat. Sehingga, ketika kita memutuskan berkeluh kesah di media apapun, sangat besar kemungkinannya akan ada orang yang menanggapi. Entah itu teman kita atau bahkan orang yang tidak kita sengaja  berteman dengan kita di media itu. Tentu saja, ia akan memberikan solusi. Dan…. mungkin saja solusinya itu baik untuk kita, tapi mungkin juga tidak.

Sayangnya, dalam situasi tertentu, ketika kita membutuhkan seseorang untuk berkeluh kesah atau meminta penyelesaian akan kemelut yang kita hadapi, kita tidak lagi bisa menyadari baik tidaknya sesuatu secara jelas. Karenanya, nasihat-nasihat apapun yang kita dengar, yang menurut kita cocok untuk akal kita saat itu, akan menjadi nasihat yang kita terima. Sehingga, kita tidak akan bisa menyadari jika kita ternyata telah salah langkah.

Berbeda jika kita memiliki seorang sahabat yang baik, yang kita tahu seperti apa akhlak dan sikapnya, maka, meskipun ia memiliki keterbatasan, insyaAllah dia tidak akan memberikan nasihat yang buruk ataupun bahkan menyesatkan kita. Kalaupun ia tak bisa membantu, setidaknya ia bisa mendengarkan kita dan membentengi kita dari hal-hal tidak baik yang mungkin kita lakukan.

Pun tentang rahasia kita. Seorang sahabat yang baik takkan mengumumkannya pada siapapun juga, karena ia menyadari bahwa ia diberi kepercayaan untuk menyimpan amanah dari sahabatnya.

Wahai, tidak mudah memang menemukannya… Pun tidak mudah untuk menjadi sosok seperti itu bagi orang lain… Karenanya, tempat berkeluh kesah terbaik sejatinya hanyalah Allah, Sang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui solusi yang terbaik untuk kita…

Ceritakanlah kisahmu pada sahabatmu, bagilah keluhmu pada sobatmu, tapi jangan lupa, serahkan seluruhnya pada Allah Sang Maha Pemberi Solusi Terbaik. Karena hanya Allah yang Maha Mengetahui…

Karya

Cerita Mimpiku : Toko Online Impianku

Beberapa bulan belakangan ini, aku mulai tertarik untuk mencoba banyak hal yang baru. Satu diantaranya adalah mencoba menjadi seorang pengusaha kecil-kecilan. Yakh, setidaknya bisa menjadi sebuah batu loncatan untuk menjadi seorang entrepreneur sejati (aamiin).

Ide ini sebenarnya berawal dari hobi membaca yang kumiliki. Empat tahun mengenyam pendidikan tinggi di kota besar membuat hobiku itu sangat terfasilitasi. Sayangnya, setelah aku akhirnya harus kembali ke kembali ke kampung halaman, kesabaranku mulai diuji. Di daerahku sangat minim toko buku. Bahkan, toko buku yang tersedia pun masih belum bisa memuaskan dahagaku akan buku-buku terbaru dan menarik. Itulah yang akhirnya membuat aku mulai mengenal dan bahkan sangat dekat dengan toko online.

Dari kedekatan itulah, aku akhirnya tertarik untuk membuat toko online serupa, yang menyediakan buku-buku terbaru dan buku-buku bekas yang menarik. Sebuah toko buku online sederhana akhirnya berhasil kubuat di  akhir tahun 2013 lalu. Dengan kemampuan design ku yang kuakui masih sangat minim, aku mencoba untuk membuat toko sederhana itu di jejaring sosial . Dan hasilnya….., entah karena kemampuan entrepreneur ku yang masih belum terasah atau karena alasan lain, toko itu tidak berjalan maksimal. Dan salah satu alasan lain yang sempat terpikir, mungkin saja karena toko online itu belum benar-benar berupa “toko” yang memudahkan pembeliku menemukan buku-buku favorit mereka.

Aku sangat berharap bisa memiliki sebuah toko online dengan tampilan yang menarik sekaligus memudahkan pembeliku. Aku ingin toko online ku memiliki tampilan yang eye catching, memiliki list buku-buku yang memudahkan pembeli untuk menemukan buku yang diinginkan, dan yang paling penting tentu sistem pembelian yang tidak ribet.

Satu hal terakhir sekaligus paling penting, aku sangat berharap toko ini bisa membantu orang-orang sepertiku, yang merasa kesulitan menemukan buku-buku yang diinginkan. Meskipun masih ada satu kendala utama yang belum bisa kuselesaikan, tapi aku berharap semoga kelak bisa menemukan pemecahan masalah itu. Dan harapan terakhir, tentu saja aku berharap mendapat kesempatan untuk membaca buku “Sukses Membangun Toko Online” oleh mbak Carolina Ratri, sekaligus mendapat keberuntungan hadiah toko online dari penulisnya langsung, 🙂

Lomba-Blog-1

Karya

My Dream : Mini Book Cafe

Jika bicara tentang mimpi, rasanya tidak akan pernah habis, karena aku memang memiliki banyak mimpi. Di antara sekian banyak mimpi yang kupunya, sebagian sudah terealisasi, namun sebagiannya lagi masih masuk daftar “waiting list” yang sedang aku usahakan untuk bisa tercapai. Salah satu diantara daftar “waiting list” mimpiku itu adalah memiliki sebuah mini book cafe.

Kecintaanku pada buku, dan hobiku mengonsumsi camilan membuatku terpikir untuk membuat sebuah kafe yang juga menjual buku. Dalam imajinasiku, sebuah cafe sekaligus toko buku akan menjadi tempat bagi setiap orang yang ingin mengisi perut sekaligus mengisi otak di saat yang bersamaan.

 Gambar dari sini

Konsep yang kurencanakan adalah sebuah mini book cafe, yang sederhana dengan desain yang nyaman untuk membaca dan berkumpul bersama teman-teman. Karena itu, hidangan yang disediakan di cafe itu sebagian besar berupa makanan dan minuman ringan.

Tentunya, untuk merealisasikan itu, aku butuh properti yang sesuai. Sebuah mimpi properti yang ingin segera kumiliki, agar mini book cafe ku itu bisa segera terealisasi. Aku butuh sebuah lokasi yang nyaman, tidak jauh dari pusat kota dan terletak berjauhan dari pusat keramaian seperti pasar atau plaza. Sehingga, kafeku akan mudah ditemukan, namun tetap nyaman karena tidak terlalu bising.

Properti lain yang kubutuhkan tentu saja perlengkapan yang mendukung sebuah kafe seperti meja, kursi dan pernak-perniknya. Tetapi, ada satu properti unik yang ingin kurencanakan. Aku ingin ada sebuah properti unik untuk menaruh buku di setiap meja. Buku-buku itu bisa dibaca di tempat, namun tidak boleh di bawa pulang. Nah, untuk buku-buku yang dijual, aku akan meletakkannya di lemari, dan mencatatnya dalam daftar menu buku, layaknya daftar menu makanan. Sehingga pembeli bisa melihat daftar buku yang tersedia dalam menu. Jika tidak puas membaca daftar judul buku tersebut, pembeli bisa berkeliling dan melihat bukunya langsung dari lemari-lemari yang terletak di sekeliling cafe.

Konsep book cafe itu sendiri sebenarnya masih dalam imajinasiku. Karena, aku juga harus menyesuaikan dengan tempat yang nantinya akan kutemukan untuk memulai bisnis itu. Rencana awal, aku ingin menyewa terlebih dulu sebelum menemukan sebuah lahan yang pas untuk membangun mini book cafe yang benar-benar sesuai dengan imajinasiku.

Tentunya aku berharap ini bukan hanya sekedar mimpi. Seperti kata sebagian besar orang yang mampu merealisasikan mimpinya, targetkan mimpimu dan tulislah, lalu letakkan di tempat dimana kamu bisa melihatnya selalu, dan mulailah mewujudkannya. Dan tulisan ini adalah sebuah harapan agar kelak mimpi itu bisa terwujud.

#Ikuti Blog Kontes Mimpi Properti dan event lainnya di http://www.kontesmimpiproperti.com/

banner250x250

Karya

Curhatan Seorang Pembaca

Beberapa tahun belakangan ini, aku cukup takjub dengan perkembangan penerbitan buku. Tinggal jauh dari kota, di salah satu kabupaten di Kalimantan Timur membuatku sangat jarang mengunjungi toko buku besar. Hanya sesekali, jika kebetulan aku berkunjung ke kota Balikpapan atau Samarinda, aku akan mampir ke toko buku.

Saat aku masih SMA dulu, pergi ke toko buku besar adalah sebuah rekreasi yang paling menyenangkan. Sampai sekarang pun tetap seperti itu, walaupun sudah banyak sekali perubahan yang terjadi. Jujur, setiap pergi ke toko buku, aku lebih suka membeli buku dengan memperhatikan siapa pengarangnya. Karena, aku adalah tipe pembaca yang cenderung cocok dengan karakter pengarang tertentu. Sehingga jika pengarang itu yang menulis, aku pasti akan membeli bukunya, seperti apapun isinya. Tapi itu bukan berarti aku tidak pernah membeli buku karangan penulis baru.

Jika nama pengarangnya tidak aku kenal, aku biasanya akan mempertimbangkan sinopsisnya. Kalimat menarik di sinopsis, apalagi jika ternyata kisahnya hampir mirip dengan apa yang sedang kualami, lebih memungkinkanku untuk membawa buku itu ke kasir. Selain itu, untuk buku non fiksi, aku biasanya membeli buku yang bisa memberikan ilmu baru untukku. Dan aku juga pasti akan selalu memperhatikan sinopsisnya. Karena, aku tidak terlalu suka membaca buku non fiksi yang disajikan dengan kalimat yang terlalu kaku, seolah aku sedang membaca buku teks atau skripsi.

galang-press-penerbit-buku-masakan-hingga-filsafat

Aku lebih suka membaca buku non fiksi yang disajikan dengan manis, seolah aku sedang membaca buku fiksi. Tapi, apa yang disajikan adalah fakta dan memberikan ilmu baru yang memang ingin ku gali. Karena itu, aku cenderung mengingat nama-nama pengarang yang memiliki tipe menulis seperti itu, sehingga aku bisa menikmati karyanya dan menyerap ilmu yang ia sajikan.

Namun, seperti yang kukatakan di awal tulisan ini, penerbitan buku saat ini sudah sangat berkembang. Saat aku berkunjung di toko buku ketika aku masih SMA, pilihan buku dan nama pengarang tidak sebanyak sekarang. Sehingga, aku merasa lebih mudah untuk memilih dan menemukan buku yang kuinginkan. Berbeda dengan sekarang, banyaknya pengarang baru dan buku-buku yang dihasilkan sebuah penerbit, membuat toko buku menjadi penuh dengan pilihan buku-buku menarik. Hal itulah yang membuatku sering berlama-lama di toko buku, karena masih bingung menentukan pilihan, buku mana yang akan ku bawa pulang.

Nah, perkembangan itu selain menjadi sebuah hal yang positif, tentunya juga akan penuh dengan tantangan. Salah satunya adalah persaingan pasar. Banyaknya buku yang terbit menandakan banyaknya penerbit yang ada di Indonesia saat ini. Begitupun dengan penulis, yang mulai semakin berkembang jumlahnya. Hal itu, tentunya menuntut kreativitas dari setiap penerbit untuk tetap konsisten dengan buku terbitannya, termasuk juga konten buku yang diterbitkan.

Seperti banyak hal lain dalam bisnis yang kuketahui, segala hal itu ada masanya. Begitu pula dengan buku. Ada kalanya, buku-buku tertentu tiba-tiba menjadi sangat diminati. Sehingga setiap penerbit pun akhirnya berlomba untuk “menelurkan” genre serupa. Tidak salah tentunya, namun ada baiknya tetap memperhatikan konten dan kesesuaian dengan konsep penerbit itu sendiri.

workshop-untuk-penerbit-buku-marketing-internasional_5d938971c620765a347fdb27a92f8826

Persaingan pasar dan kaitannya dengan bisnis juga memberikan dampak lain yang sulit dicegah. Semisal pembajakan buku yang mulai marak terjadi. Pembeli kadangkala tidak memperhatikan, atau malah memang ingin membeli versi bajakannya karena memang harganya lebih murah. Padahal tentu saja itu akan merugikan penerbit dan penulis.

Karena itu, menurutku hal yang perlu di garisbawahi saat ini adalah bagaimana organisasi mewadahi penerbit agar pembajakan dan sejenisnya tidak lagi terjadi. Misalnya dengan menekan harga buku, sehingga menjadi lebih terjangkau. Selain itu, organisasi juga harus tegas memberikan aturan pada penerbit, terkait etika dalam kepenulisan. Teringat dengan kejadian ditemukannya konten-konten yang tidak sesuai di buku anak. Hal itu, memang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penerbit dan penulis. Namun, ada baiknya hal tersebut bisa dicegah dengan adanya pencegahan yang lebih baik di kemudian hari.

Penerbit pun juga harus terus meningkatkan kreativitasnya dalam menghadapi persaingan masa kini. Bukan hanya dengan semakin mempercantik tampilan buku yang diterbitkan. Namun juga harus mengimbangi dengan peningkatan kualitas buku yang diterbitkan. Ada baiknya, organisasi dan para penerbit memberikan pelatihan khusus terhadap para penulis, agar bisa dihasilkan karya yang sesuai dan layak jual.

Memang, perkembangan teknologi sangat berperan dalam beberapa kendala yang terjadi di usaha penerbitan. Adanya e-book yang mudah diunduh dan dibaca membuat kebutuhan akan buku menjadi tersaingi. Hal itu tentunya harus menjadi pertimbangan bagi penerbit sekaligus pendorong agar penerbit semakin kreatif dan mengutamakan konten dari buku yang diterbitkan.

Ada kemungkinan, jika kualitas penulis semakin baik dengan adanya pelatihan-pelatihan, serta kualitas penerbit semakin meningkat dan konsisten dengan buku-buku terbitannya, maka industri penerbitan di negara kita akan semakin berkembang. Ditambah lagi, jika ada organisasi yang mewadahi dan melindungi penerbit serta penulis terhadap fenomena pembajakan, tidak menutup kemungkinan akan semakin meningkatkan produktivitas penerbit.

Dalam sebuah artikel dikatakan bahwa salah satu penyebab penulis luar enggan menerbitkan bukunya di Indonesia adalah karena fenomena pembajakan yang terjadi di negeri ini. Karenanya hal itu harus diminimalisir. Nah, jika hal itu sudah bisa terealisasi, organisasi juga harus memastikan seluruh penerbit Indonesia terdata, sehingga setiap penerbit memiliki legalitas untuk menerbitkan buku. Hal itu dilakukan agar organisasi bisa melihat dan menyeleksi buku-buku yang mengandung konten yang tidak seharusnya. Misal konten dewasa yang sempat muncul di buku anak dan sejenisnya.

Terakhir, tentu saja harus ada pemecahan solusi tentang biaya produksi buku yang menyebabkan harga buku cukup mahal. Jika bisa ditemukan inovasi bahan baku buku yang lebih baik, agar buku menjadi lebih murah, tentu bisa menjadi alternatif. Karena beralihnya masyarakat pada e-book yang mudah diunduh, salah satunya karena alasan harga.

buku

Jikapun itu belum bisa dilakukan, organisasi dan penerbit harus meningkatkan pelaksanaan event-event yang menarik, untuk membuat masyarakat menjadi semakin dekat dengan buku. Tentunya dengan merangkul semua penerbit, sehingga pelaksanaannya bisa dilaksanakan di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Salah satunya adalah pameran buku yang sedang diadakan di Bandung saat ini.

Sejatinya, sekian banyak yang tertulis dalam tulisan ini adalah sebuah harapan, dari seseorang yang belum pernah terlibat langsung dalam organisasi dan penerbitan secara langsung. Aku hanyalah seorang penulis yang merasa cukup terwadahi dengan adanya penerbit-penerbit berkualitas di Indonesia, merasa terbantu dengan self-publishing dan sangat berharap bisa terus menjadi pembaca buku sepanjang hayat. Tentunya dengan harapan buku-buku yang tersedia semakin baik dan terjangkau.

Untaian doa tentunya untuk seluruh penerbit dan organisasi penerbitan di Indonesia, agar tetap terus bisa menghasilkan karya terbaik. Karena keberadaannya secara tidak langsung menjadi penebar ilmu kepada seluruh manusia. Sungguh, jika ditanya apa hadiah terindah yang ingin aku dapatkan seumur hidupku, jawabannya adalah sekardus buku-buku yang menarik dan bermanfaat. Jaya selalu dunia literasi Indonesia!

#Tulisan ini diikutsertakan dalam Parade Blog #PameranBukuBdg2014 bersama Syaamil Qur’an dan IKAPI Jabar

widget-lomba.jpg

Karya

Yuk, kenalan dengan IKAPI..!

Beberapa hari ini nulis di blog karena ikut lomba Parade Blog Pameran Buku Bandung 2014 bersama IKAPI Jabar dan Syaamil Qur’an. Sebuah pencapaian, karena sampai di hari kelima, aku masih tetap konsisten menulis. Meskipun jadwal belum berubah, harus tetap mengajar dan pergi ke sekolah dari jam 7 sampai jam 4 sore, aku tetap bisa meluangkan waktu untuk menulis di sela kantuk dan tugas rumah.

Satu hal yang baru kusadari, ternyata setelah hari kelima aku mengikuti lomba ini, aku baru sadar kalau aku bahkan belum mengenal baik penyelenggaranya. Aku lebih dulu mengenal Syaamil Qur’an. Awal pertama aku mengenal tentang penerbit ini adalah ketika aku mengikuti lomba menulis yang diadakan Syaamil Qur’an sebelumnya. Aku bahkan cukup sering mengunjungi situs nya di alamat ini, setelah aku sangat tertarik dengan salah satu produknya, yaitu Syaamil tabz dan Syaamil note (salah satu jenis Gadget Ilmu, silakan baca postingan sebelumnya di sini). Selain itu, situs Syaamil Qur’an juga rutin memposting artikel-artikel bermanfaat yang menarik untuk dibaca.

Salah satu Gadegt Ilmu yang ingin kubeli

Berbeda dengan IKAPI Jabar. Aku sungguh asing dengan nama itu. Tadinya, aku berpikir IKAPI JABAR adalah sebuah lembaga kepenulisan di wilayah Jawa Barat yang mendukung terselenggaranya acara Pameran Buku Bandung 2014. Aku tidak tahu sama sekali kalau ternyata IKAPI adalah sebuah asosiasi yang cukup besar dan termasuk asosiasi yang sudah cukup lama berperan dalam menghimpun penerbit di seluruh Indonesia. Aku bahkan baru tahu kalau kepanjangan IKAPI adalah Ikatan Penerbit Indonesia di hari kelima ini. Dan seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang, karena itu aku mencoba mengenalnya dan memperkenalkan IKAPI.

ikapi

Tantangan hari ini akhirnya membuatku bisa mengenal IKAPI. Satu hal yang patut ku syukuri, karena akhirnya aku mengenal sebuah asosiasi yang sangat berperan dalam perkembangan penerbit di Indonesia. Sejujurnya, aku sangat suka menulis. Aku bahkan terpikir untuk membuat penerbitan sendiri atau setidaknya memiliki peran dalam dunia literasi, apapun bentuknya. Selama ini, aku hanya tahu tentang organisasi-organisasi kepenulisan saja, aku tidak tahu kalau ada juga organisasi penerbitan yang bahkan sudah berdiri sejak tahun 1950an.

Membaca semua tentang IKAPI di sini, dan mengikuti salah satu lomba yang diadakan IKAPI membuatku semakin yakin jika perkembangan kepenulisan dan penerbitan di Indonesia akan semakin baik. Sebagai guru, aku menyadari kalau kecintaan membaca dan kemampuan menulis siswa siswi ku belum lah bisa dikatakan baik. Seperti pintu, seindah apapun sesuatu yang ada dibaliknya, tidak akan pernah bisa diketahui sebelum kita membuka pintu itu. Seperti itulah dunia literasi. Harus dikenali dan diselami agar bisa menyukai.

Sebagian besar remaja tidak tertarik, karena belum menemukan betapa asyiknya membaca dan betapa bermanfaatnya menulis. Padahal di era modern seperti ini, segalanya menjadi jauh lebih mudah. Penyebaran informasi pun menjadi sangat terfasilitasi. Dan itu harus menjadi momentum yang dapat dimanfaatkan oleh IKAPI.

Tentunya, sebagai seorang pembaca dan penulis yang mencintai dunia literasi, aku berharap IKAPI bisa semakin banyak mengadakan kegiatan yang terjangkau untuk semua kalangan. Kegiatan yang tidak hanya terpusat di kota-kota besar saja. Seperti di daerahku, di Kabupaten Paser Kalimantan Timur. Sangat jarang sekali ditemukan pameran buku, lomba menulis, bazar buku murah atau kegiatan literasi lainnya. Bahkan toko buku pun sangat minim di sini. Koleksi buku di perpustakaan juga belum mampu melenyapkan dahaga akan buku-buku yang menarik dan bermanfaat.

Sebagai sebuah asosiasi penerbit, aku mengharapkan IKAPI bisa menjadi fasilitator untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia dengan mengadakan pameran atau bazar di daerah-daerah terpencil. Memang, antusiasme masyarakatnya tentu tidak sebesar di kota. Namun, itu bisa menjadi sebuah langkah untuk semakin mengembangkan dunia baca tulis.

Selain itu, IKAPI juga harus mampu menjadi sebuah lembaga yang aktif di media sosial. Karena aku sendiri mengalami, bagaimana aku bisa mengenal suatu hal hanya karena media sosial. Aku bisa menjadi mengenal sebuah penerbit hanya karena penerbit itu rajin mengadakan lomba dan aktif di media sosial. Begitupun yang tentunya aku harapkan dari IKAPI. Sehingga, setiap kegiatan yang diadakan oleh IKAPI akan sampai ke seluruh masyarakat dan mempermudah IKAPI dalam membantu para penerbit memenuhi kebutuhan pasar.

Karena sebenarnya, kebutuhan akan buku tidak bisa dianggap remeh. Aku sendiri cenderung lebih suka membeli buku ketimbang membeli yang lain. Meskipun tentu saja ini tidak bisa digeneralisasikan. Namun aku yakin, cukup banyak masyarakat yang membutuhkan buku, terutama di daerahku. Namun sayangnya, wilayah Indonesia yang cukup luas membuat distribusi buku membutuhkan biaya tertentu. Akhirnya, harga buku untuk daerah-daerah seperti di daerahku menjadi cukup mahal. Hal itulah yang membuat peminat buku menjadi berkurang.

Sebagai seorang pembaca dan penulis, setidaknya aku ingin ada inovasi yang bisa dilakukan oleh IKAPI. Meskipun tidak pernah terbayang sebelumnya untuk menjadi pengurus IKAPI, bahkan aku sendiri tidak tahu seperti apa beratnya tanggung jawab sebagai pengurus IKAPI, namun aku ingin mencoba memberikan beberapa pandanganku. Tentu saja dengan berharap IKAPI menjadi semakin baik dan berkembang. Karena aku sendiri juga sangat ingin dunia literasi semakin baik. Saran inovasi dariku, diantaranya :

  1. Mengadakan latihan kepenulisan gratis di seluruh wilayah Indonesia sekaligus pameran buku atau lomba menulis bekerja sama dengan pemerintah atau lembaga lain yang terkait.
  2. Menjaring seluruh penerbit di Indonesia dan menemukan solusi tentang perbedaan harga buku karena ongkos kirim
  3. Memiliki toko buku online yang menjual buku-buku dari penerbit yang tergabung dalam IKAPI dengan harga yang lebih murah dan ongkos kirim yang lebih terjangkau
  4. Aktif di media sosial dengan rutin mengadakan event sederhana, agar masyarakat lebih dekat dengan IKAPI

Ide-ide itu muncul karena beberapa alasan. Salah satunya karena aku teringat dengan perkenalanku dengan sebuah penerbit. Aku mengenal penerbit itu, karena ia mengadakan pelatihan menulis gratis sekaligus lomba menulis yang menarik. Meskipun cukup jauh dari tempat tinggalku, (karena aku harus naik taksi 3 jam, naik kapal 15 menit dan naik kendaraan 20 menit), aku tetap berusaha mendaftar dan ikut kegiatan itu. Dengan menghadirkan salah seorang penulis ternama, aku bisa melihat antusiasme peserta acara tersebut, termasuk aku. Banyak sekali ilmu kepenulisan yang bisa di dapat dari pemateri dan dari diskusi dengan sesama penulis yang datang. Sayangnya, pesertanya dibatasi. Namun acara itu kuakui sangat bermanfaat, dan membuat masyarakat semakin mengenal penerbit tersebut.

Jika saja IKAPI yang mengadakan, tentu akan lebih menarik. Karena, bagi penulis pemula, selain tips-tips menulis, hal yang paling dibutuhkan adalah bagaimana cara untuk menarik hati penerbit agar mau menerbitkan naskahnya. Tentu saja setiap penerbit punya kriteria yang berbeda-beda dibalik setiap kriteria umum yang banyak dibagikan di situs-situs mereka, seperti gaya bahasa penulis, genre tulisan dan sejenisnya.

Dengan mudahnya informasi itu didapatkan lewat pelatihan, diharapkan semakin banyak penulis-penulis pemula yang bisa berkembang dan berkarya. Begitupun dengan para pembaca. Karena, pelatihan tersebut juga dibarengi dengan bazar buku yang lengkap dan terjangkau. Harga yang terjangkau itu menjadi sangat penting bagiku, karena aku yang merasakan sendiri bagaimana perbedaan harga antara buku di Jawa dengan di daerahku.

Adanya toko buku online terasa semakin memudahkan. Aku bahkan takjub dengan harga-harga buku yang ada di toko buku itu. Sangat jauh lebih murah dengan harga buku di toko buku yang ada di daerahku. Namun, ketika aku akhirnya mulai memesan dan mereka menghitung total beserta ongkos kirimnya, harga buku itu akhirnya menjadi sama mahalnya dengan yang ada di toko buku di daerahku. Sungguh sangat tidak menyenangkan. Apalagi aku adalah pecinta buku.

Satu hal kecil yang sedang kulakukan di daerahku sekarang, dengan membuat sebuah komunitas kepenulisan kecil, agar paling tidak bisa mewadahi para penulis dan pembaca di daerahku. Aku berharap, dengan mengenal IKAPI dan mengetahui program-programnya, keinginan kami untuk lebih mudah menjangkau penerbit dan menerbitkan buku, serta mendapatkan buku dengan harga yang terjangkau bisa semakin terwadahi.

Event yang sedang aku ikuti ini menjadi bukti bahwa IKAPI sangat peduli dengan dunia literasi. Termasuk dengan diadakannya pameran buku Bandung 2014. Harapannya, IKAPI semakin berjaya dan diberi kekuatan untuk terus berkarya dan berinovasi mengembangkan dunia baca tulis di Indonesia. Karena, dunia semakin tergenggam dengan membaca. Dan manusia akan semakin terkenang dengan menulis. Jaya selalu dunia literasi Indonesia.. 🙂

#Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba ParadeBlogPameranBukuBdg2014 bersama Syaamil Qur’an dan IKAPI Jabar

widget-lomba.jpg