Berbagi Ilmu

For MS and MD

Bismillah…

Sebenarnya banyak banget hal yang ingin saya tuliskan sejak sebulan lalu. Tentang kegiatan sekolah bareng anak-anak kelas 9, tentang kegiatan perpisahan, tentang ujian TOEFL saya di sekolah TOEFL, termasuk hasil UN siswa/i saya daaa..nnn tentang kesibukan tambahan yang diamanahkan Allah ke saya beberapa pekan ini. Tapi entah, tidak satupun dari semuanya menggebukan niat saya untu mengurainya menjadi sebuah tulisan. Saya justru lebih tertarik untuk menulis tema yang sama lagi.

Badminton.

Yaaahh… , blog ini memang bukan blog olahraga. Tapi, menurut saya, kenapa saya harus menuliskannya? satu, karena saya suka. Dua, karena review ini bisa jadi berguna. Dan terakhir, tentu karena pikiran saya lebih terbuka jika menuliskan tentang apa yang saya suka, apa yang menyemangati saya dan karena saya punya pendapat yang nggak bisa kalau hanya dipendam saja di pikiran saya.

Oke, sesuai judul, saya akan bahas khusus tentang dua sektor saja di tulisan ini. Saya ingin melupakan kegagalan di Indonesia Open dan Piala Thomas Uber 2016. Karena, apa yang sudah berlalu hanya bisa diambil pelajaran saja, tidak bisa diubah bagaimanapun caranya. Karenanya, saya fokus pada apa-apa yang mungkin bisa menjadi evaluasi untuk persiapan Olimpiade.

#Pertama, Sektor MS atau tunggal putra

Indonesia memiliki cukup banyak pemain tunggal putra yang bisa dikatakan masuk dalam kategori kelas menengah di urutan rangking MS dunia. Saat ini, yang cukup aktif bermain dan terlihat perkembangannya adalah Tommy Sugiarto dan F3 (Ihsan Maulana Mustofa, Jonathan Christie dan Anthony Ginting). Tanpa bermaksud mengesampingkan Sony Dwi Kuncoro dan Simon Santoso, saya melihat keempat pemain itu yang lebih utama untuk dievaluasi.

Pertama, Tommy. Menurut saya, kelemahan Tommy yang terbesar justru bukan di segi skill ataupu  teknik bermain. Kelemahannya adalah, Tommy sangat mudah terintimidasi dan terprovokasi. Jika lawan sangat percaya diri, maka bisa dipastikan kalau Tommy akan tertekan dan sulit berkembang saat bermain. Selain itu, ia pun juga mudah sekali menyerah. Jika tertinggal jauh, dia sulit untuk bangkit. Dia juga terlihat mudah panik jika strateginya tidak berjalan atau justru gagal. Sering sekali saya melihat Tommy saat bermain sangat emosional, sering melakukan kesalahan sendiri dan mudah tertekan. Nah, jika sudah begini, menurut saya, Tommy harus lebih fokus pada perbaikan mental dan personalitas nya. Mungkin ia harus mulai mencari pelatih psikologis atau mungkin seorang psikolog untuk membantunya mengatasi problem ini.

Kedua, F3. Langsung sekaligus, karena saat ini mereka sedang berkembang secara bersamaan. Untuk Ihsan, dari segi teknik menurut saya, Ihsan cenderung monoton. Pukulannya lengkap, tapi pergerakannya lambat. Smash nya juga pelan. Ihsan juga gampang terintimidasi dan terprovokasi, tapi dia juga mudah disemangati. Kelebihannya, Ihsan itu sabar saat bermain dan sangat berhati-hati. Ia seperti bermain sambil mempelajari bagaimana lawannya bermain. Nah, yang menjadi bumerang adalah, pertahanan dan pergerakannya. Pertahanan Ihsan kurang rapat dan pergerakannya juga lambat. Coba Ihsan latihan sparing sama kevin gideon. Belajar bertahan dengan menerima smash smash yang keras. Kalau pergerakan, mungkin pelatih lebih tahu, karena Ihsan tipenya mirip LCW. Mungkin bisa ikut seperti strategi LCW saat bermain.

Lalu, untuk Jojo. Masalah Jojo ini menurut saya adalah fisik dan konsentrasi. Kadang di poin kritis, Jojo ini suka melakukan kesalahan sendiri. Dia juga sering menurun ketepatan pukulannya karena faktor fisik. Tapi smash nya bagus, pukulannya juga bagus. Perbanyak berlatih dan cari pengalaman, insyaAllah bisa. Dan satu lagi, belajar untuk menunjukkan kepercayaan diri sehingga lawan tidak memandang remeh

Untuk Ginting, meskipun ini tidak adil, tapi saya akui, saya suka sekali gaya bermainnya. Saya suka saat dia bilang kalau dia ingin menikmati pertandingan. Dia bermain selalu tenang. Paniknya hanya sesekali. Dia selalu berhasil mengejar ketinggalan, walaupun sudah sangat jauh. Netting nya bagus sekali. Dia juga punya variasi pukulan yang ciamik, smash nya keras dan pertahanannya juga cukup bagus. Masalahnya…. stamina!!

F3 masih baru berkembang. Belum sering ke final, sehingga belum merasakan lelahnya main 6-7 hari berturut-turut. Jadi, pelatih harus fokus meningkatkan stamina mereka bertiga. Itu yang utama saat ini, menurut saya

#Kedua, Sektor Ganda Putra

Nah, untuk ganda, saya nggak mau bahas satu persatu, karena saya punya sebuah konsep yang bisa diterapkan untuk semuanya.

Jadi, ganda putra Indonesia itu banyak dan bagus-bagus, tapi kenapa belakangan sering kalah?

Menurut saya, faktor yang menyebabkan kekalahan itu adalah permainan yang monoton dan mudah ditebak serta kesalahan sendiri karena kurang fokus dan tenang.

Kenapa LYD/YYS konsisten? seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, karena mereka tidak monoton dengan satu tipe permainan.

Jadi, jika ingin menang di sektor MD, ada 2 pilihan.

  1. Belajar untuk bermain dengan berbagai variasi teknik, menyesuaikan lawan. Tidak harus selalu begitu. Contoh LYD/YYS sehingga lawan masih akan menerka-nerka gaya bermainnya dan juga bisa menyesuaikan tipe lawannya. Jika dia jago smash, ya ajak dia rally dan main drive saja
  2. Atau belajar bermain tanpa teknik, seperti Gideon/Kevin, sehingga lawan sulit menebak

Nah, menurut saya, Angrick, Ahend dan yg lain cocok dengan poin 1. Jika itu diterapkan dan error saat bermain dikurangi, insyaAllah berjaya lagi

 

Iklan
Berbagi Ilmu, Pikiran dan Perasaan

Sebuah Rencana dan Makna Kebangkitan

April….

Sepertiga dari perjalanan tahun ini. .

Banyak rencana yang sudah saya goreskan. Mulai dari yang tertulis di blog ini, hingga yang hanya sempat mengendap di kepala saya. Sepertiga perjalanan, dan baaaanyak sekali yang berubah. Tentang impian-impian saya, tentang keinginan saya, bahkan tentang pilihan saya.

Semakin berjalan, saya semakin memahami, bahwa tugas manusia memang hanya berencana, lantas menyerahkan rencana itu kepadaNya. Ibarat proposal, kita mungkin bisa merancang dan merangkai segalanya seindah yang kita pikirkan, namun tetap, rancangan yang paling indah dan paling baik hanyalah rancangan Allah SWT.

Banyak impian yang saya tahu, akan sulit terwujud. Pun ada pula impian yang sudah saya mulai langkah pertamanya, namun harus terendap sementara, yang entah sampai kapan. Begitulah….

Bahkan ada satu pilihan yang sudah saya genggam erat, bahkan saya cukup yakin dengannya, ternyata bahkan sekarang saya sudah sangat kehilangan keyakinan itu. Dan saya bersyukur, alhamdulillah, Allah selalu mengiringi hidup setiap hambaNya. Meski awalnya seakan berat menerima, tetapi lambat laun Allah bukakan mata saya, sehingga saya bisa melihat keindahan rancanganNya itu.

Bismillah, meskipun banyak rencana saya yang sudah tersendat dan berputar arah di sepertiga tahun ini, insyaAllah saya siap menjalani rencana yang lain. Salah satunya, kesibukan saya untuk terus belajar.

Seringkali, saya tidak pernah bisa menyembunyikan antusiasme saya terhadap sesuatu yang baru saya pelajari. Karakter love learning yang saya punya, membuat saya selalu berpikir bahwa orang lain pun juga begitu. Padahal tentu saja tidak. Sungguh sangat bersabar kawan-kawan saya, 🙂

Karenanya, saya sering memilih untuk menulis saja. Setidaknya, orang lain bisa memilih untuk membaca atau tidak..

Saat ini, saya sedang sibuk mengikuti program sekolah TOEFL. Sebuah perwujudan dari harapan saya agar bisa belajar TOEFL dengan biaya yang murah dan lokasi yang tidak jauh dari jangkauan saya. Alhamdulillahirrabbil’alamin, saya justru menemukan program belajar gratis dan bisa saya akses bahkan dari dalam kamar saya saja. Sungguh, luar biasa penggagas sekaligus mentor saya itu, semoga Allah senantiasa berikan keberkahan dalam setiap niat baiknya itu.

Saya tidak mampu menyembunyikan antusiasme dan keinginan saya agar orang lain juga bisa mendapat ilmu seperti yang saya dapat. Saya berdoa semoga yang lain, yang juga sedang butuh ilmu seperti saya, bisa mengakses dan mendapat informasi program yang sangat bagus itu.

Kadang saya merasa iri, melihat orang-orang yang bisa bermanfaat untuk sekitarnya. Rasa-rasanya saya masih jauuuh sekali. Paling hebat, saya hanya bisa menuliskannya. Berbagi apa yang saya tahu dan apa yang saya pikirkan. Baru sebatas itu. Sungguh masih jauh sekali jika harus dibandingkan dengan mereka-mereka di luar sana. Tapi, insyaAllah, saya yakin, hal sekecil apapun yang kita lakukan, pasti tetap akan ada manfaatnya, selama berada dalam jalan kebaikan.

Dan, yang ingin saya garisbawahi lagi dari tulisan ini adalah, tentang bagaimana seseorang menilai dirinya. Kadang, seseorang merasa terpuruk, bukan karena ia memang benar-benar terpuruk. Tetapi, karena orang menilainya begitu. Pun kadang, orang merasa menyerah dan putus asa, bukan karena memang ia sudah tak punya daya untuk bangkit. Tapi, karena orang menilainya begitu.

Saya belajar dari banyak hal yang saya temui beberapa hari ini. Uniknya, semua saya temukan di dunia olahraga dengan cabang yang berbeda-beda.

Pertama kali, saya belajar makna kebangkitan dari pasangan ganda campuran Indonesia di cabang bulutangkis yang baru menjuarai Malaysia Super Series 2016. Setelah 1,5 tahun nihil gelar, selalu gagal, dicemooh dan dianggap turun performa, hingga seakan sudha terlihat sangat frustasi, tetapi mereka bisa bangkit. Bangkit dengan sangat baik, karena bisa langsung mencapai puncak tertinggi , setelah sebelumnya sempat gagal di babak-babak awal. Tak sedikit komentar miring dan anggapan bahwa mereka tidak bisa lagi diandalkan di cabang bulutangkis. Tapi lihat, mereka menemukan makna kebangkitan mereka. Dan benar, Allah hadirkan kesempatan itu untuk mereka. Sebuah awal yang baru untuk prestasi yang lebih baik.

Dan tentang penilaian orang lain terhadap diri kita, sangat sulit memang untuk membendungnya. Karena, orang lain memang punya hak untuk menilai kita. Hanya tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Jika pasangan ganda campuran Owi/ Butet yang saya ceritakan sebelumnya, berhasil bangkit dengan caranya. Saya mengenal sosok pemain tunggal putra yang justru mampu memberi contoh sebuah sikap yang rendah hati, dari sebuah kebangkitan. Makna bangkit sebenarnya adalah posisi yang lebih baik dari sebelumnya. Artinya, seseorang berada di posisi yang pastinya lebih tinggi dan lebih memuaskan. Nah, hal tersebut bisa saja memicu kebangkitan lain, yang tidak semestinya, yaitu bangkitnya rasa tinggi hati. Tubuh atau jiwa boleh meninggi, tapi hati tetap harus senantiasa berada di posisinya.

Seorang pemain tunggal putra Indonesia yang sudah berhasil mencapai babak semifinal superseries pertamanya, mengingatkan semua pendukungnya untuk tidak membandingkannya dengan pemain lain yang belum berhasil mencapai seperti apa yang ia capai. Ia mengingatkan bahwa setiap hal itu ada gilirannya masing-masing. Mungkin saat ini kita berhasil, besok lusa mungkin gagal dan seterusnya, seperti perputaran sebuah roda. Jadi, tidak pantaslah hati ikut meninggi.

Pun sebuah pelajaran tentang sikap ksatria, untuk bangkit dari kekeliruan dengan cara yang berkelas. Dari cabang MotoGP, saya mengenal sosok yang telah melakukan kesalahan, namun ia bangkit dan mengakui kesalahannya itu. Ia menabrak lawannnya hingga keduanya terjatuh, lantas ia berdiri dan membantu lawannya, memastikannya baik-baik saja dan meminta maaf, karena telah menyebabkan lawannya itu juga gagal finish. Meski bersalah, tetapi ia menunjukkan bagaimana menyikapi sebuah kesalahan.

Intinya, manusia boleh berencana, hasilnya serahkan pada Allah. Lalu, jika semua itu akhirnya membuat kita terpuruk, jangan lupa untuk bangkit. Karena, keterpurukan itu seringkali hanya kalimat orang lain saja. Kita sendiri sebenarnya mampu bangkit. Bangkit dengan semangat, bangkit dengan rasa rendah hati dan bangkit dengan ksatria, mengakui kesalahan dan kekhilafan sebagai manusia, lantas kembali merajut rencana baru yang insyaAllah lebih baik…

Berbagi Ilmu

Menempel Atau Membangun Karakter?

Sebagai seorang guru, atau jika anda adalah seorang guru, anda tentu tidak akan asing dengan sebuah frasa “pendidikan karakter”. Akhir-akhir ini, perbaikan pendidikan yang terus menerus diusahakan, telah mencapai pada sebuah rancangan kurikulum yang tidak hanya melibatkan aspek kecerdasan otak saja, namun juga keterampilan dan tentu saja, karakter/sikap.

Sebuah kesempatan telah dihadirkan oleh Allah kepada saya, sehingga seluruh anggota tubuh saya tergerak untuk mengikuti sebuah course online di http://www.coursera.org yang bertajuk “Teaching Character and Creating Positive Classrooms”. Sangat menarik untuk diikuti, jika anda adalah seorang guru. Karena, dari course inilah akhirnya saya menemukan makna yang lebih nyata tentang seperti apa pendidikan karakter yang dimaksud.

Selama ini, yang saya pahami, pendidikan karakter dibentuk melalui keteladanan dan juga kesepakatan, serta dievaluasi dengan penilaian yang telah disusun instrumennya. Namun, untuk apa akhirnya, nilai A, B dan C pada sebuah karakter atau sikap seorang siswa, jika abjad-abjad itu tidak bisa memastikan bahwa karakter yang diharapkan telah benar-benar terbentuk dalam diri siswa. Apakah akhirnya karakter itu benar-benar melekat, atau hanya sekedar menempel, demi baiknya deretan nilai di rapor sang siswa tersebut?

Meskipun sejatinya, karakter tidak bisa disamakan begitu saja dengan kecerdasan kognitif ataupun psikomotorik. Sebab, karakter adalah sesuatu yang bergerak dan mudah berubah karena kondisi atau lingkungan sekitar sang anak. Sehingga, akan menjadi sia-sia, jika pendidikan sekolah berusaha keras membangun karakter siswanya, namun di rumah, justru terjadi hal yang sebaliknya.

Namun kali ini ini, saya akan lebih fokus pada bagaimana seharusnya sebuah sistem pendidikan mengemas pendidikan karakter yang bukan hanya sekedar tempelan atau angka-angka yang tertera di rapor, tetapi benar-benar melekat di diri sang anak. Karena itu, saya begitu antusias mengikuti kuliah online tersebut, karena saya merasa menemukan apa yang saya cari. Meskipun ada beberapa konsep yang kurang saya pahami, karena terbatasnya bahasa dan kurangnya konsep dasar yang saya miliki. Namun, ada satu konsep yang alhamdulillah cukup saya pahami dan ingin saya sebarkan agar tidak sekedar dipahami oleh saya pribadi saja.

Saat pertama kali mengikuti course, kami disajikan dengan 24 macam karakter positif yang dimiliki setiap orang. Tujuannya adalah agar setiap pendidik mengetahui kekuatan karakternya masing-masing, sebelum ia membentuk karakter siswanya. Karena sedikit banyak, hal itu akan mempengaruhi sistem pendidikan karakter yang akan dilaksanakan oleh guru. Seorang guru yang ingin memiliki siswa yang disiplin, maka ia harus memastikan bahwa dirinya pun memiliki karakter tersebut.

Salah satu hal menarik lainnya yang ada di course ini, kami diminta untuk mengurutkan karakter positif dari yang terpenting hingga yang kurang penting untuk dimiliki siswa kami di sekolah, menurut pandangan kami.  Pada saat itu, saya memilih yang paling utama adalah ketekunan. Karena, menurut saya, kesuksesan seseorang dapat dicapai salah satunya dengan ketekunan yang ia miliki. Orang yang tekun, meskipun kemampuan dasarnya kurang memadai, insyaAllah akan mampu mencapai kesuksesan dengan gemilang.

Nah, setelah kami menemukan urutannya, kami diminta untuk mengikuti survey yang dapat menggambarkan kekuatan karakter kami masing-masing. Disinilah bagian uniknya, karakter ketekunan (grit) yang saya anggap sebagai karakter terpenting yang harus dimiliki oleh siswa saya, ternyata bukan karakter utama yang saya miliki. Nah, disinilah akhirnya kami menemukan bahwa bagaimana guru bisa menuntut siswanya memiliki suatu karakter tertentu, sedangkan di dalam dirinya, karakter tersebut justru tidak ada. Bersyukurnya, karakter ketekunan itu masih ada di urutan 4, pada diri saya. Sehingga, bisa dianggap sebagai salah satu karakter kuat yang saya miliki.

Tetapi, bukan itu yang menjadi poin utama. Poinnya adalah bahwa setiap anak punya karakter khas nya masing-masing. Meskipun dengan analisa pribadi saya, karakter ketekunan itu harus dimiliki, bukan berarti anak yang tidak tekun, tidak akan berhasil. Di course ini, kami diajarkan untuk memberikan kartu pertubuhan kekuatan karakter pada anak-anak. Di sini, guru akan menemukan karakter terkuat anak dan membantunya untuk mencapai kesuksesan dengan kekuatan karakter yang ia miliki.

Namun, di course tersebut juga telah diputuskan bahwa dalam pembelajaran, ada 8 karakter yang harus dimiliki setiap anak. 8 dari 24…

  1. Ketekunan
  2. Optimisme
  3. Pengendalian diri (terhadap tugas-tugas di sekolah)
  4. Pengendalian diri (terhadap orang lain)
  5. Rasa syukur
  6. Kecerdasan sosial
  7. Rasa ingin tahu
  8. Semangat/Gairah

Sistemnya, setiap anak diminta mengurutkan, menurut dirinya, karakter mana yang terkuat dan mana yang terlemah. Jadi, setiap karakter diberi poin 1-7 dengan 7 berarti sangat kuat dan 1 berarti sangat lemah. Lalu di sebelahnya, akan ada 5 kolom yang akan diisi oleh 5 guru berbeda. Masing-masing guru memberi poin terhadap karakter anak tersebut, sesuai dengan bagaimana yang ia lihat sehari-hari saat mengajar di kelas.

Setelah poinnya lengkap, akan dihitung rata-rata poin dari 5 guru, sehingga akan didapatkan satu poin akhir. Disinilah kemudian akhirnya di analisa.

Jika skala poin yang diberikan anak sama dengan guru atau paling tidak hanya berbeda sedikit, berarti tidak masalah. Artinya,  sang anak telah mampu menentukan kekuatan karakter dirinya sendiri. Namun, jika poinnya berbeda jauh, maka perlu dilakukan analisa, mengapa hal itu terjadi. Anak bisa diajak mengobrol, atau bisa ditanyakan kepada guru yang memberi poin, alasan ia memberikan poin tersebut. Barangkali sang anak merasa dirinya memiliki karakter itu, padahal karakter itu tidak sedikitpun tercermin dalam perbuatannya. Nah, jika hal ini tidak ditindaklanjuti, sang anak akan terus memberikan penilaian yang salah terhadap dirinya. Karena itu, guru harus membimbing sang anak untuk menumbuhkan karakter tersebut, agar karakter itu benar-benar terbentuk dalam diri sang anak.

Dan yang paling penting tentunya adalah memperhatikan karakter yang terkuat pada diri anak. Karakter yang diberi anak poin 5, 6, hingga 7, dan guru pun memberikan poin yang sama. Disinilah, guru kemudian membimbing anak untuk mengasah kekuatannya dan memanfaatkannya untuk mencapai kesuksesan. Misalnya, ditemukan dia memiliki kekuatan di kecerdasan sosialnya, berarti ia dilatih lagi untuk mampu meredam konflik di kelas dan menjadi sosok yang berperan dalam kelas. Nah, jika ternyata itu sudah tercapai, guru bisa memberikan penguatan seperti menjelaskan apa pentingnya karakter tersebut bagi kehidupan anak dan sejenisnya.

Lalu, bagian penting berikutnya, guru harus menemukan karakter anak yang paling rendah. Karakter yang ia beri poin 1, 2 atau 3, dan guru memberi poin serupa. Inilah tugas guru untuk membantunya membangun karakter tersebut. Tidak perlu menjadi expert, cukup membangun semampunya, sampai karakter itu ada di diri anak, walaupun tidak menjadi yang terkuat.

Misalnya, yang paling lemah adalah pengendalian dirinya terhadap tugas-tugas sekolah. Berarti, guru harus fokus untuk memperbaiki itu dan jika perlu, diperbaiki dengan bantuan kekuatan karakternya. Nah, untuk prosedur ini, saya rasa ada pihak yang lebih paham. Namun, saya yakin, siapapun bisa melakukan hal ini, membantu anak untuk menumbuhkan dan membangun karakter terlemahnya. Hanya 8 dari 24, tidak perlu seluruhnya. Saya rasa, ini cukup logis untuk dilaksanakan.

Dan, guru maupun anak tidak memerlukan penilaian-penilaian yang tidak ada pengaruh apa-apa terhadap diri anak. Cukuplah ukuran keberhasilan pendidikan karakter, dilihat dari kartu pertumbuhan karakter yang seharusnya seiring waktu tidak lagi tercantum angka 1, 2 ataupun 3. Artinya, anak sudah lengkap memiliki 8 karakter penting. Dan setelah itu tercapai, guru hanya perlu fokus untuk memastikan karakter itu tetap melekat dan terbangun dalam diri anak, bukan hanya sekedar menempel.

Sungguh, terasa sulit bagi saya untuk menggambarkan secara sempurna, Anda perlu ikut course nya. atau, jika tidak sempat, buka saja link nya dan pilih video atau modul yang anda perlukan untuk dibaca saja. Tanpa perlu mengikuti kuis dan mengerjakan tugas apapun. Karena, di kelas itu juga ditayangkan video tentang bagaimana guru-guru di Amerika menerapkannya di kelas mereka, lengkap dengan contoh kasus per anak. Luar biasa lengkap. Anda harus mencoba petualangan ini. Dan saya, mungkin akan memanfaatkan waktu jeda sebulan saya nanti, semoga bisaa…

 

Ini link course nya link 1

Ini hasil survey saya, agak beda sama hasil saya yang pertama, tapi tetap, yang terdepan adalah karakter yang sama, suka belajar 😀 link 2

Nah, ini contoh kartunya link 3

Ini situs buat mengerjakan surveynya link 4, ada pilihan bahasa Indonesianya kok, surveynya juga gampang, walaupun soalnya banyak hehe… kalau bingung silakan tanya. Yang pasti, saya berharap semua guru semangat untuk memperbaiki karakter anak. Karena, karakter sebenarnya adalah poin utama, bukan kecerdasan lho.

Pernah baca kisah seseorang yang diterima kerja, bahkan sebelum pimpinan melihat CV nya, hanya karena ia membuang sampah di tempatnya dan memiliki sifat yang baik? So, sudah saatnya kita sibuk membangun karakter anak, sebelum sibuk mengukir prestasi akademisnya

Berbagi Ilmu

Penentram Hati (Perjalanan ke Rumah Qur’an Jilid 2)

Bismillahirrahmanirrahim…

InsyaAllah ini catatan kedua sekaligus terakhir, dari perjalanan kami ke rumah Qur’an Utrujah di Samarinda. Mudah-mudahan catatan ini bisa menjadi pelecut semangat sekaligus penentram bagi hati kami, agar kami senantiasa istiqomah belajar dan membagi ilmu. Catatan ini juga insyaAllah menjadi sarana bagi kami agar terus mampu mengikat dan menyebarkan ilmu ini kepada siapa saja. InsyaAllah..

Alhamdulillah, atas izin Allah kami dipertemukan dengan Ustadzah Ngarofatusshofiah, Lc di hari kedua. Beliau, yang dengan penuh semangat menjumpai kami di Samarinda, setelah melalui perjalanan yang tidak singkat, dari Tenggarong ke Samarinda.

Setelah hari pertama kami mendapat gugahan semangat dan materi tentang tahfidz, Alhamdulillah di hari kedua, kami mendapat ilmu tentang tahsin bersanad. Namun sebelum membahas tentang sanad, Ustadzah Shofi, begitu biasa beliau dipanggil, menekankan kembali tentang hukum-hukum tahsin atau tajwid.

Tajwid berarti :

  • Membaguskan atau membuat jadi bagus
  • Sesuatu yang mendatangkan kebaikan atau kebagusan
  • Membaguskan atau memperbaiki bacaan Al Qur’an

Dan menurut istilah, tajwid berarti mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya masing-masing sesuai dengan hak mustahaknya

Nah, apakah itu hak huruf?

Hak huruf adalah sifat asli yang senantiasa ada pada setiap huruf dan tempat-tempat keluarnya huruf. Sedangkan mustahak huruf adalah sifat-sifat yang sewaktu-waktu timbul oleh sebab-sebab tertentu. Contohnya : pada hukum bacaan ikhfa, izhar, iqlab dan lain sebagainya.

Ustadzah Shofi juga menjelaskan kepada kami tentang hukum-hukum tajwid seperti tafkhim dan tarqiq, Mad dan waqaf. Namun, secara ringkasnya, dalam hukum tajwid, ada beberapa istilah yang harus diketahui, yakni :

  • Makharijul huruf
  • Sifatul huruf
  • Ahkamul huruf, yaitu hubungan huruf bertemu huruf
  • Ahkamul maddi, yaitu hukum panjang pendeknya bacaan
  • Ahkamul waqaf wal ibtida, yaitu hukum wakaf
  • Al Had, yaitu tulisan

Dalam mempelajari ilmu tajwid, ada dalil shahih tentang diwajibkannya seorang hamba membaca Al Qur’an dengan ilmu tajwid.

  1. Surah Al Muzzammil ayat 4
  2. Hadist dari Ummu Salamah ra, yang menunjukkan bahwa orang yang membaca Al Qur’an harus mengetahui ilmu tajwid
  3. Hadits “Bacalah Al Qur’an dengan cara dan suara orang Arab yang fasih”
  4. Syekh Syamsuddin Muhammad Al Jazari mengatakan dalam syairnya “Membaca Al Qur’an dengan tajwid hukumnya wajib. Siapa yang membaca Al Qur’an padahal telah belajar tajwid namun tidak dibaca dengan tajwid, hukumnya dosa”
  5. Mempelajari tajwid hukumnya fardhu kifayah, namun mengamalkannya hukumnya fardhu’ain

Tujuan mempelajari tahsin atau tajwid adalah untuk menjaga lidah atau lisan dari kesalahan ketika membaca Al Qur’an.

Kesalahan-kesalahan ketika membaca Al Qur’an

  1. Kesalahan yang terlihat dengan jelas baik di kalangan awam maupun para ahli tajwid, contoh : perubahan bunyi huruf dengan huruf lain, perubahan harokat dengan harokat lain, memanjangkan huruf pendek/sebaliknya dan mentasydidkan huruf yang tidak seharusnya/sebaliknya
  2. Kesalahan ringan yang tidak diketahui secara umum, kecuali para ahli tajwid. Contoh hukum baca Al Qur’an, tidak menerapkan gunnah.

Faedah tahsin/tajwid

  1. Refleksi keimanan seorang muslim terhadap Al-Qur’an
  2. Mencapai kualitas yang terbaik dalam membaca Al-Qur’an
  3. Mengikuti jejak Rasulullah SAW yang telah mengajar Al Qur’an
  4. Terhindar dari kesalahan membaca Al-Qur’an
  5. Mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat

Keutamaan Al-Qur’an

  1. Mendapat syafa’at di hari kiamat
  2. Mendapat derajat yang tinggi
  3. Merupakan ciri keimanan seseorang
  4. Mendapat kebaikan

Tingkatan membaca Al-Qur’an

  1. At-Tahqiqu, yaitu bacaan yang sangat lambat yang lazim digunakan untuk mengajar Al-Qur’an dengan sempurna
  2. At-Tarqilu, yaitu bacaan lambat dengan ilmu tajwid dan mentadabburinya
  3. At-Tadwiru, yaitu bacaan yang tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat atau sedang
  4. Al Hadaru, yaitu bacaan yang dilakukan dengan cepat namun tetap memperhatikan tajwid

Dasar-dasar tahsin

  1. Kesalahan umum pertama, tidak konsisten membaca panjang pendek bacaan. Solusi untuk kesalahan ini adalah menggunakan hitungan atau ketukan untuk menentukan seberapa panjang bacaan tersebut
  2. Kesalahan umum kedua, tidak seimbang dalam membaca gunnah. Tidak jauh berbeda dengan solusi kesalahan umum pertama, yaitu dengan menggunakan ketukan untuk menahan dengungnya
  3. Kesalahan umum ketiga, pengucapan vokal yang tidak sempurna. Hal ini disebabkan karena tidak menyadari pentingnya pengucapan vokal. Hal ini dapat diatasi dengan menyesuaikan tempat-tempat keluarnya huruf
  4. Kesalahan umum keempat, memantul huruf sukun selain qalqalah

Alhamdulillah, selesai sudah kami memahami tentang ilmu tajwid/tahsin. Berikutnya, ustadzah Shofi menjelaskan kepada kami tentang membaca Al-Qur’an dengan tajwid dan tahsin bersanad. Sebelumnya, beliau menjelaskan pada kami tentang apa itu sanad.

Sanad adalah silsilah atau rantai yang menyambungkan kita dengan orang-orang sebelum kita. Sedangkan menurut bahasa, sanad adalah sesuatu yang terkait kepada sesuatu yang lain.

Menurut istilah, sanad adalah bersambungnya ikatan batin kita, bersambungnya ikatan perkenalan kita dengan orang lain, bersambungnya ilmu dan pengetahuan yang kita miliki dengan guru-guru kita terdahulu sampai kepada Rasulullah SAW.

Sehingga dapat diterjemahkan dengan lebih sederhana, belajar tahsin dan tajwid bersanad berarti belajar tahsin dengan orang-orang yang telah belajar Al-Qur’an dari guru-guru, yang ketika disambungkan urutannya, maka akan bermuara kepada Rasulullah SAW. Sehingga, belajar tahsin sanad, berarti belajar membaca Al-Qur’an sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Karena itu, Ustadzah Shofi menyampaikan bahwa belajar dengan guru ber-sanad atau guru yang memiliki sanad, itu lebih utama.

Pada kesempatan itu, ustadzah Shofi juga sempat memperlihatkan kepada kami, semacam ijazah yang dimiliki oleh para guru sanad, termasuk beliau sendiri. Kami diperlihatkan ijazah milik ustadzah Rosikho, Lc. Di dalam ijazah tersebut tertulis nama guru ustadzah Rosikho, sampai ke guru-guru sebelumnya, hingga ke Rasulullah SAW.

InsyaAllah kami saat ini sedang bersemangat untuk terus belajar tahsin, hingga kami akhirnya bisa belajar tahsin bersanad pula. Dan Alhamdulillah, kami juga bertekad untuk bisa menghafal Al-Qur’an bersama, insyaAllah. Mohon doa dari teman-teman semua, semoga niat kami bisa tercapai. Dan kami juga ingin menyemangati teman-teman semua, khususnya para muslimah, agar terus bersemangat untuk mempelajari Al-Qur’an. Apalagi, setelah kita semua mengetahui betapa banyak faedah yang akan didapatkan jika kita mempelajari Al-Qur’an.

InsyaAllah, kami sudah membuka program tahsin Al-Qur’an untuk muslimah di bulan Maret 2016 nanti. Pendaftarannya sudah dibuka, dan teman-teman semua tentu boleh mendaftar. Selama kita masih diberi nikmat kesehatan dan kesempatan, mari kita terus berusaha untuk belajar dan menepikan rasa malu kita. Kadangkala, rasa malu dan enggan itulah yang menjadikan segalanya terasa berat. InsyaAllah, banyak yang memulai dari dasar, namun dengan kegigihan, akhirnya mampu menguasai ilmu tahsin.

Sebelum catatan ini ditutup, ada beberapa tips dan trik yang disampaikan oleh ustadzah Shofi, Lc dalam belajar Al Qur’an.

Tips dan Trik belajar Al-Qur’an

  1. Tidak terburu-buru dan tidak menunda-nunda
  2. Membaca/menghafal bukan untuk khatam, tetapi untuk dakwah dan supaya tidak jauh dari pedoman
  3. Mempelajari Al-Qur’an sesuap demi sesuap
  4. Senang dirindukan ayat

Alhamdulillah, catatan ini telah selesai dirangkum. Sesungguhnya catatan ini diperuntukkan untuk diri kami, agar kami senantiasa mengingat niat dan semangat kami untuk senantiasa belajar dan memperbaiki dari. Alhamdulillah, jika catatan ini pun bisa bermanfaat untuk orang lain. Sungguh, persahabatan yang paling sejati adalah persahabatan yang tidak hanya di dunia, namun juga sampai hingga ke Syurga.

Penulis tentu memiliki banyak kekurangan dalam merangkum semua catatan ini, termasuk penggunaan bahasa dan kalimat yang tentu tidak sebaik jika antuna semua mendengarkan langsung. Tetapi, ini adalah bagian dari ikhtiar kami, agar catatan-catatan kami tidak hanya tertumpuk di diri kami ataupun di catatan-catatan pribadi kami. Namun, dapat juga terbagi manfaatnya untuk orang banyak.

InsyaAllah, jika ada kesempatan, kami juga akan berusaha mengumpulkan catatan kami yang lain, agar teman-teman juga bisa mendapatkan manfaatnya.

Segala kebenaran dan kebaikan datangnya dari Allah, dan segala kekhilafan datangnya dari pribadi penulis. Semoga berkenan memaafkan.

Sampai jumpa di ikatan ilmu berikutnya, insyaAllah

 

Berbagi Ilmu

Pengikat Cahaya (Catatan Perjalanan Hati ke Rumah Qur’an Utrujah)

Bismillahirrahmanirrahim..

Atas izin Allah ilmu ini terikat, dan atas izin Allah pula ilmu ini terangkum dalam kalimat yang jauh dari sempurna. Barangkali tidak ada satu pun kalimat yang mampu melukiskan betapa luar biasanya lantunan ilmu yang kami dengar langsung dari ustadz dan ustadzah kami. Namun, tak kuasa rasanya mengikatnya sendiri. Sebagaimana kami begitu merasakan besarnya manfaatnya, kami pun berharap semua orang juga bisa merasakan seperti halnya yang kami rasa.

Jauhnya jarak, letihnya tubuh dan besarnya pengorbanan adalah harga yang harus dibayar. Namun rasa-rasanya tidak sebanding dengan apa yang sudah di dapat. Orang bisa membayar dengan uang untuk sebuah kemewahan. Namun iman dan kecintaan pada Al Qur’an tidak pernah bisa dibeli oleh siapapun. Itu adalah sebuah perkara hati, dan hanya hati yang ikhlas yang mampu membayarnya.

InsyaAllah dengan segala kekurangan dan kelemahan kami dalam menyimak, tulisan ini kami sampaikan. Semoga tersampaikan dan terikat hingga ke hati. Aaamiin.

Ustadz Taufiq Hidayat, Lc, M.A menepuk lembut semangat kami agar semakin menguat di hari pertama perjuangan hati kami mengikat ilmu. Beliau berkata dalam kalimat yang terangkum dalam catatan sederhana kami.

Jalan lurus adalah jalan yang terjal, penuh godaan dan tantangan hawa nafsu. Di jalan yang lurus, manusia harus siap dengan tantangan-tantangan yang akan dihadapinya.

  1. Orang kafir yang akan memerangi
  2. Orang-orang munafik
  3. Orang mukmin yang hasad padanya
  4. Hawa nafsu, dan
  5. Setan yang senantiasa menyesatkan

Dari penyampaian beliau-lah, kami akhirnya memahami tentang nama utrujah yang tersemat di rumah Qur’an yang kami singgahi. Dalam hadits disampaikan,

“Perumpamaan orang mukmin yang membaca al-Qur`an adalah seperti buah Utrujjah, baunya harum dan rasanya juga enak. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca al-Qur`an adalah seperti buah kurma, baunya tidak semerbak, namun rasanya manis. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang membaca al- Qur`an adalah laksana buah Raihanah yang baunya harum namun rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca al-Qur`an adalah seperti buah Hanzhalah, baunya tidak wangi dan rasanya juga pahit.” (Hadits Riwayat al-Bukhari)

Seperti apa buah utrujah, dapat antuna baca lebih lengkap di sini. Namun, secara singkat, nama lain dari buah utrujah adalah buah lemon.

Dan cerita kami pun berlanjut. Taujih pembuka adalah pelecut sekaligus penghilang penat 8 jam perjalanan darat dan laut yang kami lakukan. Menyelami inti acara, kami mengikat sebuah ilmu baru tentang bagaimana metode tahfidz (menghafal ) Al Qur’an. Materi ini diisi oleh Ustadzah Mahmudah, MA. Beliaulah pelecut semangat berikutnya, yang mengobarkan api membara di dada kami.

Kalimat pembuka dari beliau rasa-rasanya sudah cukup menenggelamkan seluruh keluhan kami tentang betapa sulitnya kami menghafal

  •  Dalam menghafal Al-Qur’an, tidak boleh tercampuri dengan niat-niat dunia. Harus ikhlas dalam berinteraksi dengan Al Qur’an
  • Siapa yang menyibukkan diri dengan Al Qur’an sampai ia lupa meminta sesuatu kepada Allah, maka akan Allah kabulkan lebih daripada itu.
  • Dalam berinteraksi dengan Al Qur’an harus pula selalu berdoa, dan belajar fiqih serta tafsirnya
  • Bila sulit menghafal Al Qur’an, perbanyak istigfar, bersihkan hati dari segala maksiat dan kembali bertaubat
  • Belajar dan mengajar Al Qur’an disertai dengan berdoa agar akhlak kita bisa sesuai dengan yang diajarkan Al Qur’an

Ada dua teori menghafal yang beliau sampaikan dalam sesi ini. Semoga memudahkan siapapun yang hendak menghafalkan Al Qur’an. InsyaAllah mudah-mudahan tercapai cita-cita untuk menjadi seorang hafidz/hafidzah, aamiin..

Metode Pertama

Dikembangkan oleh Prof.Dr Yahya Gausany

Tips yang diberikan adalah sebagai berikut :

  1. Usahakan menghafal 1 jam sebelum subuh/ 1 jam sesudah subuh atau 7 menit sebelum subuh/ 7 menit sesudah subuh
  2. Tentukan niat dengan penuh keyakinan bahwa kita mampu menjadi hafidz/hafidzah dalam 1 atau 2 tahun
  3. Memiliki keyakinan mampu menghafal satu atau setengah halaman sehari
  4. Pilihlah juz / surah yang disukai untuk dihafalkan lebih awal

Tekniknya adalah :

  1. Sebelum menghafal, pastikan telah meminum segelas air putih, untuk membantu memperlancar oksigen ke otak
  2. Memiliki keyakinan mampu menghafal setengah halaman dalam 5 menit
  3. Memulai dengan senyum, lalu menarik nafas. Keluarkan nafas bersamaan dengan keluarnya ayat
  4. Letakkan posisi mushaf (Al Qur’an) persis di depan mata, di sebelah kiri atas. Jangan meletakkan mushaf di bawah mata
  5. Baca 1 ayat secara detail dan fokus. Lebih bagus jika dipahami maknanya
  6. Baca 1 hingga 2 kali, lalu bawa huruf-huruf dalam ayat tersebut ke khayal (dibayangkan huruf-hurufnya)
  7. Tutup Al Qur’an, dan hadapkan wajah ke kanan bawah (menunduk ke sebelah kanan bawah)
  8. Ulangi hafalan setelah satu jam menghafal, malam sebelum tidur dan ketika mau menghafalkan ayat/surah baru
  9. Dengarkan surah yang sedang dihafalkan seharian, lebih baik jika berbeda qori atau mendengar dari murrotall beberapa syekh
  10. Gunakan surah yang sedang dihafalkan tersebut saat melaksanakan sholat

Pada penyampaian metode pertama ini, Ustadzah Mahmudah juga menekankan pada beberapa poin yang sangat penting.

Muroja’ah atau mengulang hafalan hukumnya wajib, sedangkan menambah hafalan itu hukumnya sunnah

Metode Kedua

Metode ini dinamakan metode Tabaroq. Referensi lain dapat dibaca di tulisan berikut

Metode ini dikhususkan untuk anak-anak dan dapat digunakan sebagai referensi jika ingin mendirikan rumah tahfidz/sejenisnya. Namun metode ini juga bisa digunakan untuk keperluan pribadi (menghafal sendiri atau membantu anak menghafal)

Penjabarannya adalah sebagai berikut:

  1. Waktu menghafal selama 4 jam x 3 hari dalam sepekan. Misalnya hari senin hafalan selama 3 jam, hari selasa libur, dilanjutkan kembali hari rabu selama 3 jam, kamis libur dan seterusnya
  2. Target per hari adalah setengah halaman. Dan di saat libur, orang tua membantu anak memuraja’ah atau mengulang hafalan yang telah dihafalkan
  3. Ketika anak berhasil menghafal, boleh diberi biskuit atau susu sebagai hadiah
  4. Metode ini seperti sistem pesawat saat akan terbang. Pada awalnya lama, namun ketika sudah take off, prosesnya berjalan lebih cepat. Jadi, proses hafalan dimulai dari juz 30 selama 3 bulan, lalu juz 29 selama 3 bulan, lalu ke surah Al Baqarah dan An-nisa selama 3 bulan. Artinya, juz amma yang sebenarnya lebih pendek dari surah Al Baqarah, sengaja diberi waktu lama, karena pada saat itu, anak masih baru pertama kali menghafal, sehingga kemampuan otakknya masih seperti pesawat yang bersiap terbang. Lalu, ketika anak sudah mulai terbiasa, ia akan sanggup menghafal lebih cepat. Sehingga surah Al Baqarah dan An-nisa yang cukup panjang dapat dihafal dengan durasi lebih singkat
  5. InsyaAllah dengan metode ini akan khatam dalam 2,5 tahun
  6. Metode ini juga menggunakan murrotal. Dan saat murrotal diputar, anak tidak diperbolehkan bicara

Tahapan-tahapannya :

  • 30 Menit digunakan untuk muroja’ah menggunakan murottal Syaikh Abdurrahman as-Sudais
  • 45 menit digunakan untuk mendengar hafalan baru menggunakan murottal dengan bacaan yang lebih lambat. Pada tahap ini, dapat menggunakan murottal Syekh Mahmoed Khalil al Husary atau murottal Syekh al Minshawi
  • 30 Menit berikutnya, guru mentalqin kan bacaan. Sistemnya, guru/orang tua membacakan, anak-anak mengikuti
  • 15 Menit istirahat sambil makan dan diputarkan murottal hafalan baru yang sedang dihafal
  • 45 menit berikutnya, anak-anak di talqin Syekh Khalil al Husary atau Syekh al-Mishawi. Maksudnya, anak-anak mendengar murottal, kemudian mengikuti bacaannya
  • 45 menit belajar huruf
  • 1 jam digunakan untuk mengulang hafalan per individu dan bersama (menyetorkan hafalan)

Pada metode ini juga ditekankan untuk memberi level murid berdasarkan usia. Kemudian, ditekankan pula agar putra dan putri belajar terpisah. Jadi, total waktu yg digunakan untuk proses menghafal selama sepekan kurang lebih adalah 13 jam. Kemudian akan lebih baik pula, jika dalam metode ini juga dipelajari tafsir juz 29 dan 30, yaitu ustadz/ustadzah menceritakan kepada anak-anak apa isi surah yang dihafal tsb.

Bagi para penghafal maupun pengajar tahfidz, alangkah baiknya jika pengalaman dalam proses menghafal tersebut dituliskan sebagai catatan tersendiri. Dimulai dari rancangan program, target, apa yang telah dilakukan dan didapatkan dari proses tersebut. Barangkali banyak hal-hal unik atau spesial yang dapat diambil hikmahnya untuk penyemangat bagi para penghafal Qur’an yang lain.
Pesan dari ustadzah kami bahwa tugas utama kita sebagai manusia adalah untuk mentadabburi Alqur’an, karena dengan mentadabburi Alqur’an InsyaAllah kadar iman, ilmu, dan amal kita akan bertambah.

InsyaAllah, metode-metode tersebut adalah salah satu ikhtiar agar Al Qur’an bisa dihafalkan dengan mudah. Meskipun sejatinya, Allah sebenarnya telah berfirman dalam surah Al Qamar ayat 17, “Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”

InsyaAllah, jika diniatkan dengan ikhlas dan ditekadkan, siapapun bisa menghafal Al Qur’an. Tercatat kalimat semangat yang dilantunkan oleh ustadzah Mahmudah Lc, yang bersumber dari hadits bahwa ahli Al Qur’an atau orang yang dekat dengan Al Qur’an akan menjadi keluarga Allah SWT. Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu sudah “menurunkan diriNya”, sehingga manusia yang sejatinya hanyalah seorang hamba, dapat menjadi keluargaNya Allah, jika mereka dekat dengan Al Qur’an. Subhanallah..!!

Dan luar biasanya ustadzah kami ini, beliau adalah orang yang sangat bersemangat. Setiap kata dan kalimat yang diucap seakan “menampar” dan melecutkan semangat siapapun yang mendengar. Kalimat-kalimat beliau yang sempat kami catat sebagai berikut :

Pahala diperoleh dari 3 hal,

  • Apa yang kita lakukan
  • Apa yang kita niatkan
  • Dari bekas-bekas kebaikan

Nah, disini beliau juga menyampaikan, ketika manusia meninggal dunia, ada 3 kemungkinan yang akan terjadi

  1. Amal kebaikannya terus mengalir bersamaan dengan amal keburukannya
  2. Amal kebaikannya berhenti, sementara amal keburukannya terus mengalir
  3. Amal kebaikannya terus mengalir, dan amal keburukannya terhenti

Sungguh, kita tentu tidak ingin menjadi seperti yang pertama dan kedua. InsyaAllah, mudah-mudahan Allah senantiasa memudahkan langkah kita agar mampu  menjadi seperti yang ketiga. Sungguh, apa yang kami tulis ini sebenarnya masih belum sesempurna ketika antuna semua mendengar langsung. Rasa-rasanya tidak ada yang bisa menggantikan betapa luar biasanya penyampaian dari beliau. Semoga kelak antuna semua berkesempatan bertemu dan mendengar langsung dari beliau. Namun, kami berharap manfaat dari tulisan ini tetap mampu tersampaikan kepada siapa saja.

Catatan kami masih akan berlanjut. Masih banyak sekali ilmu yang dibagikan oleh ustadz dan ustadzah kami. InsyaAllah Catatan lanjutan dapat dibaca di Catatan Perjalanan Hati ke Rumah Qur’an Jilid 2

		
Berbagi Ilmu, Pikiran dan Perasaan

Selamat Hari Guru

Hari ini, 25 November 2015, bertepatan dengan ulang tahun PGRI yang ke-70, sekaligus diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Alhamdulillah, tahun ini diberi kesempatan oleh Allah untuk ikut “merayakannya” dengan versi kami.

Dibalik perayaan sederhana yang insyaAllah akan terkenang selalu, saya justru teringat dengan masa-masa yang telah lewat. Tentang bagaimana mulanya saya mengenal seorang guru dan terinspirasi olehnya.

Garis kehidupan yang ditulis Allah untuk saya ternyata mengantarkan saya pada wujud nyata dari impian saya sejak kecil. Ketika pertama kali mengenal seorang guru saat TK dan SD, saya lantas menanamkan dalam hati, kalau cita-cita saya adalah menjadi seorang guru.

Jika ditanya pengalaman apa yang sudah membuat saya memutuskan hal besar itu di usia saya yang masih belia, saya akan menjawab tidak tahu. Saya tidak tahu mengapa saya begitu suka melihat guru saya mengajar di depan kelas. Saya pun begitu suka membayangkan bagaimana rasanya mengoreksi jawaban murid-murid saya kelak, menyebut namanya satu persatu saat pembagian rapot dan menuliskan nasihat-nasihat singkat di buku catatannya.

Bahkan saya pun menjadi sering bercermin. Memakai kacamata pinjaman, hanya untuk melihat sosok saya ketika menjadi guru berkacamata kelak (yang Alhamdulillah terkabulkan keduanya oleh Allah). Saya pun sering (dengan sangat berniat) membuat daftar nama murid-murid khayalan saya, yang namanya saya karang sendiri. Lalu saya berpura-pura mengoreksi jawabannya dan memberi nilai. Sungguh kalau dibayangkan sangat aneh rasanya, tapi semua benar terjadi.

Saya membuat beberapa lembar jawaban dengan nama berbeda, lalu saya menuliskan jawaban mereka dengan pilihan a-d secara acak, kemudian saya membuat kunci jawaban. Lalu, beberapa jawaban murid saya (yang sebenarnya saya tulis sendiri jawabannya dengan abjad a-d secara acak), saya koreksi dan saya beri nilai. Dalam beberapa kali bermain, saya bisa membuat rapor mereka, menuliskan rangking hingga berpura-pura membagikan rapot dengan menggunakan boneka sebagai murid saya. Rasa-rasanya saat itu saya masih SD. Di lain waktu, saya mengajak teman-teman saya untuk berpura-pura menjadi murid. Saya meminta mereka menggambar atau menulis apa saja, lalu saya beri nilai.

Saya tidak tahu, apa yang menyebabkan saya begitu menyukai aktivitas itu. Padahal, tidak satupun orang di keluarga saya yang menjadi guru. Dulu, Ayah saya pernah mengajar, tetapi hanya sementara. Itupun bukan sebagai profesi asli. Hanya kebetulan Ayah saya mampu dan memiliki waktu luang. Tetapi saat itu saya masih kecil dan tidak ingat kalau Ayah saya pernah jadi guru.

Mungkin itulah yang namanya takdir. Sejak kecil, Allah sudah tanamkan impian itu di hati saya. Meskipun sempat tertarik bercita-cita menjadi A, B, C dan lain sebagainya, tapi cita-cita menjadi seorang guru tetap ada. Pernah, saya tertarik menjadi seorang astronot. Rasanya hebat sekali bisa ke luar angkasa. Dan ketika ditanya apa cita-cita saya pada waktu itu, saya pun menjawab, menjadi guru dan astronot 🙂

Sebenarnya, impian saya untuk menjadi seorang guru, bukan tanpa halangan. Saya pernah mengalami suatu masa, saat saya bertemu dengan seorang guru yang menorehkan kisah kurang menyenangkan di hidup saya. Bertahun-tahun saya terkurung oleh doktrin yang saya ciptakan karena rasa tidak nyaman itu. Bahkan saya pun pernah terbully karena hal itu. Tapi anehnya, saya tidak sedikitpun ingin mengubah cita-cita saya. justru saya menjadi belajar untuk tidak mengulangi hal seperti itu, jika kelak saya menjadi guru.

Alhamdulillah, pada akhirnya Allah menyediakan hati yang lapang pada Guru saya dan pada diri saya. Sehingga, akhir dari kisah kurang nyaman itu justru sangat mengharukan. Bahkan beliau menjadi guru yang paling saya kenang hingga saat ini. Tentunya kenangan yang baik. Walaupun hal yang kurang nyaman itu tidak bisa saya lupakan, tapi insyaAllah tidak tersisa kebencian ataupun kemarahan.

Halangan yang kedua justru datang dari keluarga besar saya. Banyak yang menyayangkan keinginan saya itu. Karena menurut mereka, ada profesi lain yang kelihatannya lebih cocok untuk saya ketimbang menjadi seorang guru. Tetapi sekali lagi, tekad saya sudah bulat. Apalagi cita-cita itu sudah saya miliki sejak saya masih kelas 1 SD. Saya tetap ingin menjadi seorang guru, meskipun saya tahu itu tidak mudah.

Dan benar saja. Saya adalah pribadi yang introvert. Saya tidak terlalu suka bercakap dengan orang asing dan tidak terlalu repot ingin mengetahui urusan orang lain. Saya ingat, saat saya SMA, ketika jam kosong, teman-teman saya sibuk berkumpul dengan kelompok masing-masing. Tapi saya memilih tetap di kursi saya dan memperhatikan mereka semua. That’s me.

Lalu, saya harus menjadi seorang guru yang tentunya harus bercakap dengan murid saya dan berbicara di depan mereka semua. Padahal, saat SMA, presentasi di depan kelas pun saya gemetaran sekali.  Tapi apakah saya mundur? Tidak sedikit pun.

Entah kekuatan ini bernama apa, tapi saya mulai mengubah diri saya, demi apa yang saya cita-citakan. Saya belajar lebih terbuka. Saya belajar untuk nyaman bicara di depan kelas. Dan hebatnya, saya tidak pernah merasa gugup jika bicara di depan murid-murid saya. Seolah-olah saya tidak pernah memiliki masalah dengan hal itu. Padahal, jika bicara di depan orang lain, saya tetap gugup. Tapi, jika di depan murid saya, semua berubah. Dan Alhamdulillah sekarang sudah jauh lebih baik. Saya mulai lebih nyaman bicara di depan umum, siapapun audience nya.

Begitulah, saya merasa Allah permudah jalan saya menuju apa yang memang ditakdirkan untuk saya. Jika diminta menuliskan, saya sendiri tidak tahu, kata apa yang bisa mewakili perasaan saya ketika akhirnya saya benar-benar menjadi seorang guru. Saya suka sekali bicara di depan mereka, melihat mata mereka berbinar karena mengerti apa yang saya katakan. Menceritakan apa yang saya tahu di depan mereka. Dan melihat mereka begitu penasaran dengan apa yang saya katakan itu rasanya seperti saya meraih dunia saya. Sehingga, ketika saya merasa saya gagal, ketika saya merasa saya mengajar tidak seperti apa yang seharusnya, saya akan menangis.

Tangisan pertama saya adalah ketika saya PPL. Itu pertama kalinya saya mengajar di kelas yang sebenarnya, di sebuah SMA di Samarinda. Waktu itu saya sudah mengajar di pertemuan ketiga atau keempat, dan saya merasa mereka tidak mengerti apa yang saya sampaikan. Bahkan mereka tidak terlihat antusias sama sekali. Lalu ada pula konsep yang keliru yang saya sampaikan. Padahal sebelum mengajar, saya sudah mempersiapkan dengan baik. Alhasil, sepulang mengajar saya menangis. Teman kos saya menjadi tempat curhat saya saat itu. Saya merasa tidak bisa mengajar, saya merasa jadi guru yang buruk dan gagal. Saat itu saya kecewa dengan diri saya.

Tapi begitulah, Allah tahu saya butuh sebuah pengalaman. Sejak itu, saya sadar. Guru adalah manusia. Guru tidak sempurna. Dan murid saya tahu itu. Keesokannya hingga saat ini, setiap saya mengalami itu, saya belajar untuk menyikapi dengan lebih tenang. Saya koreksi kesalahan saya di depan mereka dan saya simpan baik-baik kegagalan saya. Saya tidak boleh mengajar dengan cara itu lagi di kelas berikutnya.

Tidak terasa, sudah hampir empat tahun saya menjadi guru yang sebenarnya. Sebenar-benar menjalaninya sebagai profesi. Banyak suka duka yang membuat saya tahu bahwa semua itu tidak sesederhana apa yang saya bayangkan. Menjadi guru bukan hanya sekedar mengajarkan ilmu, mengoreksi jawaban, menyampaikan nilai dan nasihat, tapi lebih dari itu.

Kadang saya bosan, lelah dan merasa tidak sanggup. Tapi entah, saya selalu merasa sedih setiap kali saya merasa ingin berhenti. Karena saya yakin, saya pasti akan merindukan masa-masa ini. Saya ingat, saya pernah merasa sakit (tidak enak badan), tapi saya merasa masih sanggup untuk mengajar. Dan hebatnya, saya mengajar dengan enerjik seolah saya sehat-sehat saja. Entah saya mendapatkan energi darimana, seolah saya merasa sangat kuat dan sehat. Lalu, saat kaki saya melangkah keluar kelas, saat itulah saya mulai merasa sakit lagi, 🙂

Tapi belakangan ini sejujurnya, saya mulai kehilangan momen-momen itu. Saya mulai merasa tidak lagi menemukan rasa keingintahuan di mata anak-anak didik saya. Saya seolah hanya mengajar untuk membuat mereka mendapat nilai baik, bukan agar mereka tahu. Saya sadar, ada sebagian dari mereka yang merasa apa yang saya ajarkan tidak menarik. Salah satunya karena ia sudah tahu apa yang ia sukai dan tahu kalau pelajaran saya tidak berkaitan dengan hobinya itu.

Seorang pemimpin mungkin tidak akan butuh untuk mengetahui bagaimana menghitung panjang sisi miring sebuah segitiga siku-siku. Atau seorang atlet merasa tidak perlu belajar materi gerak dalam beberapa bab, untuk mengetahui berapa besar gaya dan usaha yang dia butuhkan untuk membuat sebuah bola basket tepat masuk ke keranjangnya. Itulah yang akhirnya membuat saya seringkali banyak memaklumi, ketika mereka gagal di pelajaran saya.

Saya sadar, kalau saya tidak mungkin membuat mereka menjadi seperti apa yang saya harapkan. Mereka punya harapan dan impian mereka masing-masing. Kadangkala, saya memang kurang sabar untuk memahami itu. Mungkin karena sifat saya yang cenderung kaku, sehingga saya sulit untuk bersikap fleksibel untuk hal-hal yang menurut saya tidak bisa ditoleransi. Seperti misalnya harus fokus memperhatikan, tidak mengobrol dan sejenisnya. Karena menurut saya, akan sulit bagi mereka memahami apa yang saya sampaikan jika disimak sambil mengobrol. Meksipun, saya pernah menemukan hal itu bisa dilakukan oleh siswa tertentu yang memang memiliki kecerdasan istimewa.

Dan dibalik semua kisah panjang saya itu, hari ini, saya ingin mengucapkan terima kasih, kepada guru-guru saya, dosen-dosen saya dan pengalaman hidup yang juga sebenarnya telah menjadi guru besar saya. Saya belajar banyak, saya melakukan kesalahan pun banyak, dan saya juga tidak sedikit mengalami kegagalan. Mungkin saya bukan tipe murid yang bisa dekat dengan gurunya, yang bisa dengan mudah mengobrol ini itu dengan guru dan mengungkapkan perasaan. Saya hanya mampu mendoakan, semoga Allah limpahkan balasan kebaikan yang tak pernah putus kepada kalian semua.

Pun kepada murid-murid saya, saya juga berterima kasih. Karena mereka menerima saya sebagai gurunya, dengan sekian banyak kekurangan saya. Pasti tentunya ada yang tidak menyukai, dan itu wajar. Tapi saya hanya berharap itu tidak menjadi bagian dari keburukan yang akan menimpa kepada saya (naudzubillahimindzalik).

Meskipun saya bukan guru yang menyenangkan, yang bisa kalian ajak cerita dengan asyiknya, namun saya berusaha untuk memberikan yang terbaik yang saya punya. Kadang mungkin saya pernah kehilangan kesabaran dan keikhlasan saya, yang saya tak mampu untuk mengendalikannya. Semoga termaafkan.

Saya hanya ingin berdoa, untuk guru-guru saya, teman-teman saya dan saya sendiri, semoga kita semua senantiasa diberi kekuatan, kesabaran, keikhlasan, semangat, niat, tekad, impian, harapan, keinginan dan kerendahan hati, untuk terus membimbing, mengajar, mendidik, belajar, mengubah diri, mengaca diri, mengakui kekhilafan, menempa diri dan berikhtiar untuk terus berupaya menjadi guru-guru terbaik. Kelak, saya berharap, ada satu titik terang yang saya temukan dalam kegelisahan yang saya rasakan. Suatu keadaan yang membuat saya mampu menemukan semua mata yang berbinar, duduk di hadapan saya. 🙂

Berbagi Ilmu

Kita di Masa Depan, Manfaatkan! (Pengalaman Seru di Coursera)

Satu dari sekian banyak hal yang saya suka dari orang sukses adalah sifat pantang menyerah dan mau belajar yang mereka punya. Orang-orang sukses tidak berhenti ketika gagal. Mereka justru terus berusaha mencari celah agar usaha berikutnya, tidak kembali gagal seperti sebelumnya. Dan orang-orang sukses tidak pernah ragu untuk mencari tahu dan mempelajari hal-hal baru dari apa saja dan siapa saja.

Sederhana, bukan?

Ada satu hal menarik yang saya dapatkan dari sebuah situs kursus online bernama Coursera. Pelajaran yang saya ambil adalah tentang pembelajaran karakter di dalam kelas. It’s simple. Tapi menariknya, pembelajaran karakter yang disampaikan dalam kursus itu bukan hanya sebuah ide yang “terpaksa” diaplikasikan, tetapi benar-benar sebuah ide yang matang dan kuat penerapannya. Bahkan, saya bisa melihat bahwa anak-anak mengerti tentang betapa pentingnya mereka memiliki karakter itu.

Tiga karakter utama yang menjadi pusat perhatian dalam kursus adalah Grit (pantang menyerah), self control (kontrol diri) dan social intelligences (kecerdasan sosial). Saya menggaris bawahi di karakter pertama. Karakter Grit, pantang menyerah.

Entah sejak kapan kata itu mulai lenyap dalam dunia pendidikan (menurut saya). Anak-anak terlihat begitu mudah menyerahkan usaha mereka kepada orang lain atau alat bantu yang memang mempermudah, tapi secara tidak sadar itu sudah mengikis karakter pantang menyerah yang seharusnya mereka miliki. Contoh sederhana adalah mencari arti kata dalam kamus, yang mulai tergantikan dengan aplikasi lain. Bukannya saya melarang. Tak masalah sebenarnya kalau ingin menggunakan aplikasi. Tapi, saya hanya ingin tetap menggunakan kamus dalam situasi tertentu untuk mengasah karakter pantang menyerah yang mereka miliki.

Sejujurnya, jika karakter pantang menyerah itu sudah melekat pada diri mereka, meskipun mereka menggunakan alat bantu canggih sekalipun, mereka tetap tidak kehilangan sedikit pun karakter yang mereka punya. Justru dengan adanya aplikasi itu, mereka semakin tertantang untuk lebih memanfaatkannya. Misalnya dengan mulai membuka situs pembelajaran online yang memang kebanyakan menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar, lantas memanfaatkan aplikasi itu untuk memahami apa yang disampaikan dalam situs itu.

Kenapa itu lantas menjadi menarik untuk saya uraikan? Karena, saya merasakan besarnya manfaat dari course online. Selain tambahan ilmu gratis (dengan catatan tidak dapat sertifikat dan hanya ingin mengambil ilmu nya saja), cakrawala kita juga semakin terbuka, karena kita bisa mendapat pengajaran langsung dari dosen-dosen universitas luar. Kita juga bisa berdiskusi dengan semua orang di seluruh dunia dan saling mereview tugas masing-masing.

Sekarang kita hidup di zaman modern, kenapa tidak dimanfaatkan? Contoh sederhana, saya mengambil course tentang mengajar karakter di kelas. Saya jadi tahu seperti apa sekolah di Amerika menerapkannya, gurunya bagaimana, persiapannya seperti apa, kelengkapannya dan seterusnya, hingga ke problema yang lantas bisa saling kita diskusikan di ruang diskusi. Menariknya, saat mereview tugas teman, kita juga bisa menemukan ide-ide menarik dari jawaban mereka. Dan tentu, mereka juga memberi saran terhadap ide dan jawaban kita, sehingga ada manfaat dari peer review, selain membantu dosen memberikan nilai pada tugas kita.

Memang sih, course nya full english, tugas pun harus ditulis dalam bahasa Inggris. Tapi, coba ingat, kita hidup di zaman modern yang serba gampang. Lagipula, sejauh ini saya belum pernah “diomeli” karena tulisan saya yang mungkin belum baik structure nya. Kita saling menghargai dan berusaha memahami satu sama lain. Dan walaupun dateline tugasnya itu membuat kita seakan benar-benar kuliah, tapi saya justru merasa senang, karena itu kesempatan saya untuk mengasah karakter pantang menyerah.

Jadi, lewat keikutsertaan dengan course itu, saya jadi merasakan kalau itu adalah salah satu cara untuk mengasah karakter seseorang. Karenanya, saya berharap murid saya mau mencoba. Mungkin tidak di coursera, karena itu sifatnya semacam kuliah sederhana. Mereka bisa mencoba Khan Academy misalnya. Dan saya berharap mereka bisa menemukan ilmu sekaligus karakter terbaik mereka disana. Karena kita, sudah hidup di zaman yang lebih baik