Karya

CERDAS MENGENALI HOAX

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Artikel “Anti Hoax Sang Pendidik ”Kerjasama MARIMAS & PGRI Jawa Tengah didukung oleh Pemprov, Dinas P&K, Kanwil Kemenag, PWI Jateng dan Mafindo

Kata “hoax” atau yang telah tercantum dalam KBBI daring di situs https://kbbi.kemdikbud.go.id dengan penulisan hoaks, akhir-akhir ini memang menjadi perbincangan di masyarakat khususnya pengguna media sosial. Hoax yang dapat diartikan sebagai berita bohong atau tidak benar ini memang meresahkan, pasalnya kemudahan akses informasi melalui jejaring sosial dan situs-situs yang sering digunakan oleh masyarakat, menyebabkan sulitnya mengidentifikasi apakah suatu berita dan informasi yang telah tersebar benar adanya atau hanya sekedar hoax belaka.

Seperti yang dilansir dalam inet.detik.com (27/09/2017), laporan Tetra Pak Index yang belum lama diluncurkan, mencatatkan ada sekitar 132 juta pengguna internet di Indonesia dan hampir setengahnya adalah penggila media sosial. Dan jika diamati, tidak semua pengguna media sosial cukup cerdas untuk mampu mencerna informasi yang ada, sebelum menyebarkannya secara luas di ranah dunia maya yang tanpa batas tersebut.

Seperti yang baru saja terjadi, informasi yang keliru mengenai cara registrasi ulang kartu SIM prabayar marak beredar tanpa mampu dikendalikan. Mulai dari adanya hoax terkait perlunya mencantumkan nama ibu kandung, batas waktu registrasi yang keliru hingga munculnya pendapat tentang alasan dibalik adanya proses registrasi ulang yang sebenarnya belum mampu dibuktikan secara jelas namun telah tersebar begitu cepatnya di media sosial.

Hal ini tentu saja dapat memberikan dampak negatif yang sangat membahayakan, jika berita tersebut terlanjur tersebar tanpa klarifikasi. Hoax yang tersebar di masyarakat dapat menimbulkan kecemasan hingga kepanikan. Seperti pada kasus registrasi kartu SIM prabayar yang dialami oleh rekan saya baru-baru ini. Berita yang terlanjur tersebar dan ia terima melalui aplikasi di androidnya menyampaikan bahwa batas waktu registrasi kartu SIM  prabayar adalah 31 Oktober 2017. Padahal tanggal itu adalah tanggal mulai registrasi. Hal itu lantas menimbulkan kepanikan, karena ia dan tentunya masyarakat yang memperoleh informasi hoax tersebut, khawatir jika kartu SIM prabayarnya akan diblokir.

Dampak negatif lainnya adalah memunculkan persepsi yang keliru terhadap sesuatu. Hoax yang memberikan informasi keliru tentang seseorang, dapat menciptakan citra negatif terhadap orang tersebut sehingga menimbulkan kebencian bahkan permusuhan yang merugikan pihak yang diberitakan. Seperti pada kasus pemilihan pemimpin, yang seringkali dibarengi dengan hoax-hoax terkait sosok bakal calon pemimpin yang memang disengaja untuk menimbulkan kebencian sehingga masyarakat tidak memilih sosok yang diberitakan tersebut. Terakhir, tersebarnya hoax mampu menimbulkan perpecahan dan konflik yang dapat membahayakan jiwa maupun raga. Hoax yang bersifat provokatif dapat memanaskan situasi dan mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk bertindak anarkis bahkan kriminal.

Dalam hal ini, perlunya kepedulian dari pihak yang terkait untuk segera melakukan klarifikasi , sehingga kesalahan informasi dan kecemasan yang mungkin terjadi dapat diminimalisir. Sebagaimana informasi hoax itu mudah menyebar melalui jejaring sosial, maka pihak yang terkait pun harus menempuh jalur yang sama. Menyebarkan informasi di situs-situs yang sering dikunjungi oleh masyarakat, dapat menjadi salah satu alternatif terbaik untuk melakukan klarifikasi.

Selain itu, tentunya perlu adanya upaya dari masyarakat itu sendiri untuk mencegah penyebaran hoax yang semakin tidak terkendali. Masyarakat juga perlu mendapatkan edukasi terkait bagaimana cara agar dapat mengenali berita hoax, sehingga tidak mudah menyebarkannya dan menjadikannya viral.

Berikut ini beberapa cara mudah untuk dapat mengidentifikasi hoax, diantaranya

  1. Pastikan berita tersebut berasal dari sumber yang terpercaya. Jika berita tersebut tentang kesehatan, pastikan info tersebut mencantumkan nama dokter atau pihak dinas kesehatan yang terkait
  2. Coba ketik ulang poin pokok informasi yang dicurigai sebagai hoax tersebut di laman google dan baca laman/situs terpercaya lainnya yang juga menyebarkan berita yang sama. Jika berita di laman lain yang lebih terpercaya tersebut sama dengan berita yang telah dibaca sebelumnya, maka berita tersebut kemungkinan bukan hoax. Jika tidak, lanjut ke langkah ketiga.
  3. Tanyakan kepada orang terdekat yang sekiranya lebih paham dan memiliki kualifikasi. Misalnya tentang berita kesehatan bisa ditanyakan ke dokter atau dinas kesehatan di lingkungan tempat tinggal anda
  4. Jika ketiga hal tersebut telah dilakukan, barulah anda bisa menyebarkan informasi tersebut kepada orang lain. Namun, jika tiga hal tersebut belum atau tidak bisa anda lakukan, sebaiknya tidak menyebarkan informasi yang anda terima kepada siapapun.

Empat langkah tersebut adalah langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran hoax yang semakin tidak terkendali. Perubahan zaman yang semakin cepat memang harus dibarengi dengan kecerdasan masyarakat untuk mau mengejar ketertinggalan. Bukan hanya sekedar bisa dan tahu, tetapi juga mengerti dan mengenali akan bahaya hoax. Sehingga masyarakat mau menahan diri untuk tidak menyebar berita sebelum memastikan apakah berita itu benar atau sekedar hoax belaka.

Salah satu contoh yang pernah terjadi di sekolah saya beberapa tahun silam adalah tersebarnya hoax tentang sebuah perintah menuliskan sesuatu sebanyak sekian salinan dengan tulisan tangan. Jika tidak dilakukan, maka yang membaca akan meninggal atau keluarganya akan ditimpa musibah dan sejenisnya. Kala itu media sosial belum seramai sekarang. Berita itu tersebar melalui pesan singkat dari ponsel ke ponsel dengan begitu cepatnya. Penyebab utamanya karena siswa saya yang masih usia SMP tersebut tidak mencoba untuk memahami dan merenungi isi berita tersebut sebelum menyebarkannya.

Hal pertama yang saya lakukan pada saat itu tentunya adalah mengklarifikasi bahwa berita tersebut tidaklah benar. Hidup dan mati seseorang tidak bergantung dari sebuah tulisan yang bahkan tidak ada yang mengetahui siapakah orang pertama yang telah menyebarkan berita hoax tersebut. Hal itu bahkan sempat menimbulkan kecemasan luar biasa pada siswa saya, sehingga mereka begitu rela menulis begitu banyaknya dan membuang-buang waktu serta tenaga mereka.

Sejak kejadian itu, saya mencoba untuk senantiasa mengajarkan ilmu sembari memberikan informasi-informasi yang sekiranya dapat disalahpahami dengan mudah. Khusus dalam bidang pelajaran IPA yang saya ajarkan, saya seringkali mengklarifikasi berita-berita atau info-info kesehatan yang sebagian besar menyesatkan. Saya mengajak siswa siswi saya untuk melakukan identifikasi seperti membawa kotak bahan makanan yang biasa mereka beli lalu memahami satu persatu komposisinya sebelum memastikan bahwa makanan tersebut aman atau berbahaya untuk dikonsumsi.

poster-anti-hoax-neeltxbyy95416iricwjv4xyjm5oplq68cknawyfny (1)

Pun terkait dengan berbagai kebiasaan-kebiasaan yang sebenarnya tidak benar, namun terlanjur tersebar di masyarakat sehingga berakibat menghasilkan sebuah informasi menyesatkan yang masih diterapkan hingga kini, saya sering mengajak keluarga dan teman-teman untuk berbincang ringan. Kadangkala tanpa sengaja pembicaraan tentang itu dimulai, saya lantas memanfaatkan situasi untuk mengklarifikasi.

Dewasa ini, penyebar hoax memang sangat cerdas memanfaatkan situasi. Sehingga menyebabkan semakin sulitnya mengidentifikasi hoax. Salah satunya adalah polemik tentang vaksinasi yang masih menjadi perdebatan hingga kini. Tanpa bermaksud membenarkan atau menyalahkan, namun saya mencoba mengambil sikap untuk mencari klarifikasi dari sosok yang terpercaya, bukan hanya karena profesinya tetapi juga dari kebiasannya yang bisa diamati di media sosial.

Apa saja yang diposting, bagaimana ia berbicara dan menjawab komentar serta pandangan-pandangannya yang terbaca dari tulisan-tulisannya harus dipelajari terlebih dahulu sebelum memilih untuk percaya. Pilihan lain, tentu saja mencoba mencari pembenaran informasi lewat sosok yang sudah dikenali namun memiliki kompetensi di bidang tersebut.

Hoax memang sudah menjelma menjadi sebuah kamuflase yang begitu mudahnya membaur, menyebar dan menimbulkan kecemasan. Namun bukan lantas kita harus cemas dan memilih untuk apatis. Cerdas mengenali hoax berarti juga membuat kita belajar untuk mengenali karakter-karakter manusia masa kini yang semakin kreatif namun kekurangan wadah yang positif sehingga memilih menjadi seorang penebar hoax. Dan tanpa disadari, hoax menjadi salah satu pendorong, agar masyarakat mau belajar membaca, memahami dan menelaah, sehingga tanpa disadari, masyarakat semakin terlatih untuk bersikap cerdas terhadap apapun yang ia dengar, baca bahkan lihat.

Jika sisi positif dari polemik maraknya hoax akhir-akhir ini dapat dimaksimalkan, peningkatan budaya literasi masyarakat barangkali bukan hanya sekedar impian. Dengan mengkampanyekan untuk selalu megklarifikasi setiap berita yang diterima, masyarakat akan belajar untuk mencari dan mencari sumber-sumber informasi lainnya untuk membuktikan kebenaran berita tersebut. Sehingga, kelak hoax akan lenyap dengan sendirinya, seiring lahirnya masyarakat yang lebih cerdas dalam mengelola informasi sebelum menyebarkannya.

 

Sumber kutipan :

https://kbbi.kemdikbud.go.id

inet.detik.com

Iklan
Berbagi Ilmu

For MS and MD

Bismillah…

Sebenarnya banyak banget hal yang ingin saya tuliskan sejak sebulan lalu. Tentang kegiatan sekolah bareng anak-anak kelas 9, tentang kegiatan perpisahan, tentang ujian TOEFL saya di sekolah TOEFL, termasuk hasil UN siswa/i saya daaa..nnn tentang kesibukan tambahan yang diamanahkan Allah ke saya beberapa pekan ini. Tapi entah, tidak satupun dari semuanya menggebukan niat saya untu mengurainya menjadi sebuah tulisan. Saya justru lebih tertarik untuk menulis tema yang sama lagi.

Badminton.

Yaaahh… , blog ini memang bukan blog olahraga. Tapi, menurut saya, kenapa saya harus menuliskannya? satu, karena saya suka. Dua, karena review ini bisa jadi berguna. Dan terakhir, tentu karena pikiran saya lebih terbuka jika menuliskan tentang apa yang saya suka, apa yang menyemangati saya dan karena saya punya pendapat yang nggak bisa kalau hanya dipendam saja di pikiran saya.

Oke, sesuai judul, saya akan bahas khusus tentang dua sektor saja di tulisan ini. Saya ingin melupakan kegagalan di Indonesia Open dan Piala Thomas Uber 2016. Karena, apa yang sudah berlalu hanya bisa diambil pelajaran saja, tidak bisa diubah bagaimanapun caranya. Karenanya, saya fokus pada apa-apa yang mungkin bisa menjadi evaluasi untuk persiapan Olimpiade.

#Pertama, Sektor MS atau tunggal putra

Indonesia memiliki cukup banyak pemain tunggal putra yang bisa dikatakan masuk dalam kategori kelas menengah di urutan rangking MS dunia. Saat ini, yang cukup aktif bermain dan terlihat perkembangannya adalah Tommy Sugiarto dan F3 (Ihsan Maulana Mustofa, Jonathan Christie dan Anthony Ginting). Tanpa bermaksud mengesampingkan Sony Dwi Kuncoro dan Simon Santoso, saya melihat keempat pemain itu yang lebih utama untuk dievaluasi.

Pertama, Tommy. Menurut saya, kelemahan Tommy yang terbesar justru bukan di segi skill ataupu  teknik bermain. Kelemahannya adalah, Tommy sangat mudah terintimidasi dan terprovokasi. Jika lawan sangat percaya diri, maka bisa dipastikan kalau Tommy akan tertekan dan sulit berkembang saat bermain. Selain itu, ia pun juga mudah sekali menyerah. Jika tertinggal jauh, dia sulit untuk bangkit. Dia juga terlihat mudah panik jika strateginya tidak berjalan atau justru gagal. Sering sekali saya melihat Tommy saat bermain sangat emosional, sering melakukan kesalahan sendiri dan mudah tertekan. Nah, jika sudah begini, menurut saya, Tommy harus lebih fokus pada perbaikan mental dan personalitas nya. Mungkin ia harus mulai mencari pelatih psikologis atau mungkin seorang psikolog untuk membantunya mengatasi problem ini.

Kedua, F3. Langsung sekaligus, karena saat ini mereka sedang berkembang secara bersamaan. Untuk Ihsan, dari segi teknik menurut saya, Ihsan cenderung monoton. Pukulannya lengkap, tapi pergerakannya lambat. Smash nya juga pelan. Ihsan juga gampang terintimidasi dan terprovokasi, tapi dia juga mudah disemangati. Kelebihannya, Ihsan itu sabar saat bermain dan sangat berhati-hati. Ia seperti bermain sambil mempelajari bagaimana lawannya bermain. Nah, yang menjadi bumerang adalah, pertahanan dan pergerakannya. Pertahanan Ihsan kurang rapat dan pergerakannya juga lambat. Coba Ihsan latihan sparing sama kevin gideon. Belajar bertahan dengan menerima smash smash yang keras. Kalau pergerakan, mungkin pelatih lebih tahu, karena Ihsan tipenya mirip LCW. Mungkin bisa ikut seperti strategi LCW saat bermain.

Lalu, untuk Jojo. Masalah Jojo ini menurut saya adalah fisik dan konsentrasi. Kadang di poin kritis, Jojo ini suka melakukan kesalahan sendiri. Dia juga sering menurun ketepatan pukulannya karena faktor fisik. Tapi smash nya bagus, pukulannya juga bagus. Perbanyak berlatih dan cari pengalaman, insyaAllah bisa. Dan satu lagi, belajar untuk menunjukkan kepercayaan diri sehingga lawan tidak memandang remeh

Untuk Ginting, meskipun ini tidak adil, tapi saya akui, saya suka sekali gaya bermainnya. Saya suka saat dia bilang kalau dia ingin menikmati pertandingan. Dia bermain selalu tenang. Paniknya hanya sesekali. Dia selalu berhasil mengejar ketinggalan, walaupun sudah sangat jauh. Netting nya bagus sekali. Dia juga punya variasi pukulan yang ciamik, smash nya keras dan pertahanannya juga cukup bagus. Masalahnya…. stamina!!

F3 masih baru berkembang. Belum sering ke final, sehingga belum merasakan lelahnya main 6-7 hari berturut-turut. Jadi, pelatih harus fokus meningkatkan stamina mereka bertiga. Itu yang utama saat ini, menurut saya

#Kedua, Sektor Ganda Putra

Nah, untuk ganda, saya nggak mau bahas satu persatu, karena saya punya sebuah konsep yang bisa diterapkan untuk semuanya.

Jadi, ganda putra Indonesia itu banyak dan bagus-bagus, tapi kenapa belakangan sering kalah?

Menurut saya, faktor yang menyebabkan kekalahan itu adalah permainan yang monoton dan mudah ditebak serta kesalahan sendiri karena kurang fokus dan tenang.

Kenapa LYD/YYS konsisten? seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, karena mereka tidak monoton dengan satu tipe permainan.

Jadi, jika ingin menang di sektor MD, ada 2 pilihan.

  1. Belajar untuk bermain dengan berbagai variasi teknik, menyesuaikan lawan. Tidak harus selalu begitu. Contoh LYD/YYS sehingga lawan masih akan menerka-nerka gaya bermainnya dan juga bisa menyesuaikan tipe lawannya. Jika dia jago smash, ya ajak dia rally dan main drive saja
  2. Atau belajar bermain tanpa teknik, seperti Gideon/Kevin, sehingga lawan sulit menebak

Nah, menurut saya, Angrick, Ahend dan yg lain cocok dengan poin 1. Jika itu diterapkan dan error saat bermain dikurangi, insyaAllah berjaya lagi

 

Pikiran dan Perasaan

BAC 2016’s review

Badminton Asian Championship 2016 kali ini cukup menarik menurut saya. Ada banyak hal menarik yang saya temukan di sedikit bagian yang sempat saya lihat. Padatnya jadwal dan seringnya pemain Indonesia kebagian jatah bermain di court 2, membuat permainan mereka hanya bisa saya amati dari uraian cerita di gurp-grup pecinta Badminton. Saya mulai dari kisah permainan Greysia Nitya yang konon mencetak sejarah di jagat perbulutangkisan.

Bermain selama 161 menit, melebihi sebuah pertandingan sepakbola yang itupun dimainkan oleh 11 orang dengan break yang memadai, mereka benar-benar sudah mencetak sejarah. Meskipun kalah, tapi saya cukup salut dengan perjuangan mereka. Namun, setiap pertandingan, tidak hanya boleh diperhatikan dari sisi positifnya. Tapi juga dilihat dari sisi yang lain.

Entah kenapa, GreyNit, saat bermain melawan WD korea yang cenderung bermain cepat, bisa bermain cepat pula. Tetapi, saat ketemu  WD China seperti Luo/Luo dan WD Jepang yang memang cenderung nyaman bermain rally, Greynit selalu bermain dengan lambat pula.

Walaupun tidak melihat pertandingannya, tapi sepertinya, dengan surasi seperti itu, mereka bermain dengan banyak rally-rally panjang. Karena itu, catatan untuk GreyNit adalah belajar untuk tidak terbawa oleh ritme permainan lawan. Atur sendiri ritme nya dan usahakan mencari celah dengan cepat tanpa harus menunggu kesempatan yang tepat untuk menyerang itu datang.

Next, Tolyn. Jujur, mereka sudah kembali stabil. Saya sudah lihat Butet mulai bergerak dan kembali ke performanya. Sayangnya, tiba-tiba mereka menjadi sosok yang berbeda saat di final. Faktor pertama, kelihatannya Butet agak kelelahan, jadi pukulannya kadang miss. Kedua, sama-sama emosi. Kalau Owi buat salah, Butet kesel dan terbawa emosi. Akhirnya, Owi pun bermain tergesa dan terbawa emosi. Plis belajar! LYD itu kelihatannya juga kurang baik dalam mengatur emosinya saat ia gagal. Tapi, dia punya YYS yang lebih sering menenangkan. Walaupun, kadang LYD juga bisa menyikapi kesalahannya dengan senyum saja. Nah, inilah yang harus dipelajari Tolyn. Fokus! Jangan panik, jangan tergesa, jangan emosi. Kesalahan saat bermain itu wajar. Tapi menjadi tidak wajar ketika satu kesalahan malah merubah seluruh permainan. Harusnya, kesalahan itu hanya mengurangi satu poin saja, tidak lebih.

Yah, kalau melihat mental, memang ZZ lebih layak menang. Tetap berjuang terus Tolyn. Masih ada waktu mengasah mental dan emosi kalian lagi.

Nah terakhir yang bikin gemes. Ada dua nih, di sektor yang sama. Pertama, KevGid. Sedih banget pas dengar mereka kalah dan saya nggak bisa nonton. Dari segi permainan KevGid itu oke. Buktinya, LYD/YYS pas di final tadi, main dengan gaya KevGid. Artinya , KevGid cuma perlu nambah jam terbang lagi aja. Nah, yang berikutnya, Ahend. Ini yang penting.

Jadi, sejujurnya saya jarang nonton pertandingan badminton yang nggak ada pemain Indonesianya. Kecuali kalo saya luang, atau yang main adalah pemain legenda. Tapi, tadi saya sengaja nunggu match LYD/YYS lawan Li/Liu yng udah ngalahin Ahend 2x. Maksudnya, saya mau lihat gimana sih mereka mainnya dan gimana LYD/YYS mengatasinya. Karena, menurut saya, tipe permainan LYD/YYS itu mirip Ahend.

Daan… sy dikejutkan dengan LYD/YYS yang benar-benar bermain dengan cara yang luar biasa. mereka menambah speed, mengubah taktik dan benar-benar nunjukkin strategi yang dinamis. Permainan mereka tidak monoton begitu-begitu saja. Tapi mereka bisa menyesuaikan dengan lawan mereka. Nah, ini yang belum dipunya Ahend. So, Ahend, nonton video LYD/YYS lawan Li/Liu ya…

Pikiran dan Perasaan

Ciri-Ciri Orang Munafik Dalam Al Qur’an, dibawakan oleh Ustadzah Rosikho, Lc

Alhamdulillah, setelah sekian lama, Allah menakdirkan kami untuk berjumpa kembali dengan Ustadzah Rosikho, Lc di Tana Paser. Atas izin Allah pula, beliau akhirnya bisa berkunjung ke Rumah Qur’an Raudhatul Qalbu. Sebuah kunjungan yang berujung kajian. Karena rasanya tidak pernah habis ilmu yang ingin kami serap dari beliau. Karenanya, mumpung ada beliau, todongan kajian adalah permintaan yang utama, 🙂

Surah Al Munafiqun ayat 5 – 11 membuka kajian di Rumah Qur’an sore itu. Ustadzah memaparkan, bahwa di Al Qur’an, ada Surah Al Kafirun dan Al Munafiqun. Mengapa ada surah Al Munafiqun? Sebab munafik adalah sebuah penyakit personal yang dapat merusak, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi ukhuwah, agama bahkan kehidupan. Di dalam Al Qur’an, kata munafik disebut sebanyak 20 kali. Pertanda bahwa sifat ini sungguh perlu untuk dihindari oleh seorang muslim.

Ada beberapa ciri orang munafik dalam Al-Qur’an. Ustadzah Rosikho memulainya dari surah An-Nissa ayat 142

“Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya'(ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali”

Dari ayat tersebut, dituliskan ciri-cirinya adalah

  1. Apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka lakukan dengan malas. Padahal, sholat adalah amalan yang dihisab pertama kali. Jika sholatnya baik, maka amalan yang lain tidak akan lagi dihisab. Tetapi, jika sholatnya buruk, maka amal sedekah, haji, puasa dan yang lainnya juga akan dihisab. Pada bagian ini, Ustadzah Rosikho juga menyampaikan, sebelum kita jauh-jauh mencari-cari solusi terhadap masalah hidup kita, perhatikanlah dulu bagaimana sholat kita. Beliau juga menjelaskan tentang betapa utamanya sholat wustha, yaitu sholat ashar dan juga sholat subuh. Generasi yang baik, kata beliau, dibangun dari subuhnya. Karenanya sebaiknya, jika seseorang lalai dalam sholat subuhnya, ia harus menghukum dirinya. Bisa dengan menambah jumlah tilawahnya atau menambah ibadah lain yang dibolehkan. Tidak dengan menghukum diri pada hal-hal yang tidak diperbolehkan. Dalam Al Qur’an surah Al Isra ayat 78 juga ditegaskan tentang betapa utamanya sholat subuh ini. ” Laksanakanlah sholat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakanlah pula sholat ) shubuh. Sungguh, sholat shubuh itu disaksikan (oleh malaikat)” (QS 17 : 78)
  2. Ketika melaksanakan sholat, ingin dilihat orang. Sholatnya akan lebih khusyuk jika dihadapan orang banyak
  3. Tidak mengingat Allah, kecuali sedikit saja.
  4. Bersedekah hanya saat lapang saja. Penjelasan tentang hal ini tercantum dalam surah Al Munafiqun ayat 10. Disana dikatakan bahwa jika Allah berkenan menunda kematian orang-orang munafik itu, mereka mengatakan bahwa mereka akan bersedekah. Kenapa sedekah? Sebab, sedekah memiliki banyak keutamaan. Banyak bersedekah, akan menghalangi seseorang meninggal dalam keadaan su’ul khatimah dan juga dapat menghalangi seseorang dari murka Allah. Dan sedekah yang dilihat Allah bukanlah sedekah yang paling banyak, melainkan sedekah yang paling ikhlas dan sedekah yang dilakukan ketika sempit.
  5. Tidak mau berkontribusi dalam permasalahan ummat.

    Ciri selanjutnya adalah ciri-ciri orang munafik yang tercantum di dalam hadits

  6. Jika berkata, suka berbohong
  7. Jika berjanji, suka mengingkari
  8. Jika dipercaya, ia berkhianat
  9. Dan yang terakhir adalah dia akan bersekongkol untuk kemunafikan. Ia akan mengajak orang lain untuk mengikutinya, dan inilah yang paling berbahaya. Seperti kisah seorang Abdullah bin Ubay pada saat perang Uhud. Ia adalah seorang Yahudi yang telah bersyahadat, namun, ketika perang, ia berhasil menghasut 300 orang dari 1000 orang pasukan untuk berbalik (tidak mengikuti perang). Sungguh dahsyatnya pengaruh satu orang yang munafik. Lalu, bagaimana jika lebih dari satu?

Nauzubillahimindzalik. Mari kita sama-sama berdoa, semoga kita dijauhkan dari sifat kemunafikan ini dan semoga Allah mematikan kita dalam keadaan Khusnul Khotimah.

Dari situs muslim.or.id, kami mengutip beberapa tips, agar terhindar dari sifat kemunafikan. Mudah-mudahan kami dan kita semua bisa senantiasa mengamalkannya

  • Bersegera melaksanakan shalat jika waktunya telah tiba dan berusaha mendapatkan takbiratul ihram imam shalat jamaah di masjid. Hal ini mengingat hadits Anas bin Malikradhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang menunaikan shalat berjama’ah selama 40 dengan memperoleh takbiratul ihram imam, maka ia akan ditetapkan terbebas dari dua hal, yakni terbebas dari neraka dan terbebas dari kenifakan” (HR At-Tirmidzi).
  • Berakhlak baik dan memperdalam agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Ada dua sifat yang tidak akan pernah tergabung dalam hati orang munafik: perilaku luhur dan pemahaman dalam agama” (HR At-Tirmidzi).
  • Bersedekah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sedekah merupakan bukti” (HR Muslim). Bukti di sini maksudnya bukti akan keimanan. Oleh karena itu, orang munafik tidak suka bersedekah karena tidak adanya iman yang mendasarinya.
  • Menghidupkan shalat malam. Adalah Qatadah pernah berkata, “Orang munafik itu sedikit sekali shalat malam.” Hal tersebut karena orang munafik hanya akan semangat beramal jika ada orang yang menyaksikannya. Jika tidak ada, maka motifasi untuk beramal shalih pun tiada. Maka jika ada seorang hamba mendirikan shalat malam, maka itu menjadi bukti bahwa dalam dirinya tidak ada sifat nifak dan menjadi bukti keimanannya yang benar.
  • Memperbanyak zikir, Ka’b menyatakan, “Orang yang memperbanyak zikir, akan terlepas dari sifat nifak.” Sedangkan Ibnul Qayyim menulis, “Sejatinya banyak zikir merupakan jalan aman dari kemunafikan. Sebab, orang-orang munafik sedikit berzikir. Allah berfirman tentang orang-orang munafik, ‘Dan mereka tidak berzikir kecuali sedikit.’ (QS: 3: 142)”
  • Berdoa, Hal ini sebagaimana riwayat dari Abu Ad-Darda’ di atas.
  • Mencintai sahabat anshar. Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,“Tanda keimanan ialah mencintai kaum anshar, sedangkan tanda kemunafikan adalah membenci kaum anshar” (HR Al- Bukhari dan Muslim.
Pikiran dan Perasaan

Singapore Open’s Review : SDK

Alhamdulillah, semakin lama, prestasi badminton Indonesia semakin membaik. Dimulai dari meningkatnya performa Pradeb, kembali stabilnya performa Tolyn dan berhasilnya move on nya Greynit dari lawan yang sebelumnya selalu mengalahkan mereka. Sebuah langkah positif yang semakin ditebalkan dengan kesuksesan seorang Sony Dwi Kuncoro.

Rasa-rasanya, kalau mau mengenang, dulu saya adalah pendukung SDK. Saya yakin SDK akan menjadi pemain badminton yang handal dan akan mengharumkan nama bangsa. Qadarullah, ternyata cidera harus menutup semua harapan dan impian SDK, pun kami pendukungnya. Saya sudah mulai terbiasa dengan ketiadaannya di setiap turnamen. Pun akhirnya terbiasa dengan kehadirannya yang seolah hanya sekedar peramai saja. Selalu gugur dan seolah tak terperhatikan.

Namun, seperti tabiat kebanyakan orang sukses, SDK tidak butuh pandangan atau pujian orang, untuk menjadi cambuk kesuksesannya. Ia berdiri di atas tekad dan dukungan keluarganya. Meski tanpa dipandang pada awalnya, ia akhirnya membuktikan, kalau dengan usaha, kerja keras dan tanpa mengenal kata putus asa, ia mampu menggerakkan mata-mata seluruh penikmat badminton untuk kembali menatap padanya. Allah Maha Kuasa membalik segalanya. Begitupun dengan kisah SDK.

Tapi sekali lagi, tujuan review bukan hanya sekedar untuk memuji. Meski rasanya tak bisa habis pujian ingin terlontar, pada lelaki 32 tahun, yang berhasil memberikan gelar MS, setelah dari awal tahun ini, gelar selalu hanya datang dari sektor ganda. Lelaki yang sudah tidak muda lagi, namun mampu berjuang mengalahkan semangat mereka yang merasa dirinya muda. Para “kumbang”, begitu istilah page Badmintor wonder Fans menuliskannya. Lelaki 32 tahun yang sempat tak dipandang, yang harus berjuang dengan biaya sendiri, dengan usaha sendiri, dan tanpa pelatih!! Hanya seorang istri yang setia mendampingi… Rasa-rasanya mungkin itu jauh lebih memberi efek ketimbang kehadiran pelatih handal manapun. Yakh, tak habis rasanya memuji. Tapi…., pujian yang terlalu dilarut-larutkan, akan melenakan. Sudah saatnya berbenah, dan mencari cermin lain untuk dipandang.

Saya cukup mengamati dari awal, perjalanan singapore open. Ada beberapa pemain yang saya perhatikan dan ingin saya review agar menjadi lebih baik. Semoga…

Yang pertama, sektor MS. Saya sempat mendengar komentar dari seorang fans badminton, tentang kekalahan Ihsan dan Jonathan terhadap sosok yang sama, sosok yang sangat luar biasa, legenda bulutangkis dunia, Lin Dan. Pada waktu itu, Ihsan kalah dengan skor tipis, sedangkan jonathan kalah dengan skor “pembullyan”, begitulah istilah kurang baiknya. Tapi bukan itu yang ingin saya garisbawahi. Saya menggarisbawahi komentar fans tersebut, yang mengatakan kalau skor itu terjadi, karena gaya bermain Ihsan cocok dengan Lin Dan, sehingga masih bisa mengimbangi. Sedangkan Jonathan, yang cenderung menyerang dan jarang berlama-lama dengan bola, kurang cocok dengan Lin Dan.

Nah, pernyataan itu lantas membuat saya berpikir, apakah benar begitu? Lalu, mengapa pemain China tidak mengenal istilah cocok dan tidak cocok. Mereka cenderung mudah sekali menang, dan banyak mencetak pemain handal yang tidak membutuhkan kecocokan dalam bermain. Nah, ini akan saya bahas sekaligus di bagian akhir. Pada intinya, Jojo dan ihsan harus banyak belajar dari SDK ya… Belajar untuk tenang saat tertinggal, tidak tergesa saat unggul dan tidak emosi saat disulut. Okee..

Yang kedua, sektor XD. Pradeb grafiknya menanjak, tapi tiba-tiba terpeleset lagi. Ada yang bilang krn terlalu banyak tampil di TV. Mungkin, tapi seharusnya itu bukan alasan. Pradeb harus belajar untuk stabil dan melakukan variasi agar lawan tidak mudah mengetahui gaya bermain kalian. Begitu juga Tolyn. Intinya, tidak terlalu banyak perbaikan, tapi bukan berarti berpuas diri.

Yang ketiga, sektor MD sekaligus sektor terakhir yang akan saya bahas, dan akan menjadi simpulan. Untuk WD, saya rasa aman saja.. sudah tahu seperti apa yang harus dilakukan, karena Greysia sendiri sudah sadar kalau service nya kurang bagus. Tinggal realisasi saja. Belajar service seperti Fu Haifeng, 🙂 Dan kalau WS, sulit mau berkomentar, karena tidak ada hal baru yang bisa dikomentari.

Oke, kembali ke MD. Saya sejujurnya senang dengan perubahan KevGid. Mereka lebih kompak, lebih padu, tapiiii…. tetap ada saran ya, kan biar lebih baik. KevGid itu sebenarnya punya gaya bermain yang oke punya. Sulit ditebak dan punya daya juang yang tinggi. Sayangnya, kadang, Kevin masih cenderung berlebihan meng-cover bola. Harusnya bola Gideon, tapi tetap diambil. Jadi berbenturan ngambilnya. Nah, itu yang bikin lapangan kurang tercover. Terus, karena mungkin mereka merasa smash nya keras, jd smash terus. Padahal itu kan ada kelemahannya. Satu, kalau lawan defence bagus, malah capek sendiri. Seperti lawan China atau jepang, kalau nggak smash di tmpat yang susah dijangkau, bakal nggak guna. Trus kadang, smash yang dilakukan saat emosi, malah nyangkut atau out. Jadinya, nggak guna juga. Karena itu, harus dimantapin lagi untuk KevGid.

Untuk AngRick, saya agak bingung komentar, karena mereka mulai monoton mainnya. Nah, untuk Ahend, ini nih yang mau dibahas banget. Ahend kalah dari MD China yang bukan MD utamanya. Alasannya? Wallahualam. Tapi, kalau benar kalah, murni kalah, bukan sengaja, atau karena faktor lain, saya jadi mau bahas lebih dalam. Masih berhubungan dengan kisah Jojo dan Ihsan vs Lin Dan tadi. Kelihatannya, ada kecenderungan, Ahend kurang cocok dengan gaya bermain MD China.

Nah, istilah cocok nggak cocok ini, kalau diteruskan bakal bahaya. Masak harus cocok dulu. Ya pasti lawan akan berusaha gimana caranya, agar kita nggak cocok sama permainannya. jadi, kitalah yang harusnya mencocokkan. Artinya, Ihsan dan Jojo harus belajar bermain dengan banyak tipe. Main dengan banyak atur bola untuk pemain tertentu atau banyak serang langsung untuk pemain yang lainnya. Kan bisa saling belajar. Atau, tiru SDK. Gaya mainnya monoton, banyak mainin bola, tapi dia lengkapi syarat lainnya, yaitu punya pukulan komplit.

Nah untuk MD China, Fu dan Zhang Nan, saya sampai perhatikan cara mereka main, sampai ke final. Buat cari celahnya… Tapi sayang seribu sayang, strategi yang bisa saya pikirkan cuma gimana caranya, nggak kash service ke Fu. Kalau Fu yang service, langsung poin dah. Mungkin, ini bisa dipikir lagi. Gaya main spt Ahend dan Lee/Yoo ga cocok utk Fu. Harus ganti gaya, mungkin gaya ala Markis Kido. Wallahualam. Intinya, kalau Ahend masih begitu aja mainnya, bakal sulit lawan Fu. Boleh tetep main gitu kalau lawan yang lain. Tapi khusus MD China, harus ganti strategi.

Bismillah, mudahan setelah ini bisa jadi lebih baik. Biasanya dapat satu gelar, di Singapore dapat 2. Mudahan seterusnya stabil dan ningkat, aamiin

Berbagi Ilmu, Pikiran dan Perasaan

Sebuah Rencana dan Makna Kebangkitan

April….

Sepertiga dari perjalanan tahun ini. .

Banyak rencana yang sudah saya goreskan. Mulai dari yang tertulis di blog ini, hingga yang hanya sempat mengendap di kepala saya. Sepertiga perjalanan, dan baaaanyak sekali yang berubah. Tentang impian-impian saya, tentang keinginan saya, bahkan tentang pilihan saya.

Semakin berjalan, saya semakin memahami, bahwa tugas manusia memang hanya berencana, lantas menyerahkan rencana itu kepadaNya. Ibarat proposal, kita mungkin bisa merancang dan merangkai segalanya seindah yang kita pikirkan, namun tetap, rancangan yang paling indah dan paling baik hanyalah rancangan Allah SWT.

Banyak impian yang saya tahu, akan sulit terwujud. Pun ada pula impian yang sudah saya mulai langkah pertamanya, namun harus terendap sementara, yang entah sampai kapan. Begitulah….

Bahkan ada satu pilihan yang sudah saya genggam erat, bahkan saya cukup yakin dengannya, ternyata bahkan sekarang saya sudah sangat kehilangan keyakinan itu. Dan saya bersyukur, alhamdulillah, Allah selalu mengiringi hidup setiap hambaNya. Meski awalnya seakan berat menerima, tetapi lambat laun Allah bukakan mata saya, sehingga saya bisa melihat keindahan rancanganNya itu.

Bismillah, meskipun banyak rencana saya yang sudah tersendat dan berputar arah di sepertiga tahun ini, insyaAllah saya siap menjalani rencana yang lain. Salah satunya, kesibukan saya untuk terus belajar.

Seringkali, saya tidak pernah bisa menyembunyikan antusiasme saya terhadap sesuatu yang baru saya pelajari. Karakter love learning yang saya punya, membuat saya selalu berpikir bahwa orang lain pun juga begitu. Padahal tentu saja tidak. Sungguh sangat bersabar kawan-kawan saya, 🙂

Karenanya, saya sering memilih untuk menulis saja. Setidaknya, orang lain bisa memilih untuk membaca atau tidak..

Saat ini, saya sedang sibuk mengikuti program sekolah TOEFL. Sebuah perwujudan dari harapan saya agar bisa belajar TOEFL dengan biaya yang murah dan lokasi yang tidak jauh dari jangkauan saya. Alhamdulillahirrabbil’alamin, saya justru menemukan program belajar gratis dan bisa saya akses bahkan dari dalam kamar saya saja. Sungguh, luar biasa penggagas sekaligus mentor saya itu, semoga Allah senantiasa berikan keberkahan dalam setiap niat baiknya itu.

Saya tidak mampu menyembunyikan antusiasme dan keinginan saya agar orang lain juga bisa mendapat ilmu seperti yang saya dapat. Saya berdoa semoga yang lain, yang juga sedang butuh ilmu seperti saya, bisa mengakses dan mendapat informasi program yang sangat bagus itu.

Kadang saya merasa iri, melihat orang-orang yang bisa bermanfaat untuk sekitarnya. Rasa-rasanya saya masih jauuuh sekali. Paling hebat, saya hanya bisa menuliskannya. Berbagi apa yang saya tahu dan apa yang saya pikirkan. Baru sebatas itu. Sungguh masih jauh sekali jika harus dibandingkan dengan mereka-mereka di luar sana. Tapi, insyaAllah, saya yakin, hal sekecil apapun yang kita lakukan, pasti tetap akan ada manfaatnya, selama berada dalam jalan kebaikan.

Dan, yang ingin saya garisbawahi lagi dari tulisan ini adalah, tentang bagaimana seseorang menilai dirinya. Kadang, seseorang merasa terpuruk, bukan karena ia memang benar-benar terpuruk. Tetapi, karena orang menilainya begitu. Pun kadang, orang merasa menyerah dan putus asa, bukan karena memang ia sudah tak punya daya untuk bangkit. Tapi, karena orang menilainya begitu.

Saya belajar dari banyak hal yang saya temui beberapa hari ini. Uniknya, semua saya temukan di dunia olahraga dengan cabang yang berbeda-beda.

Pertama kali, saya belajar makna kebangkitan dari pasangan ganda campuran Indonesia di cabang bulutangkis yang baru menjuarai Malaysia Super Series 2016. Setelah 1,5 tahun nihil gelar, selalu gagal, dicemooh dan dianggap turun performa, hingga seakan sudha terlihat sangat frustasi, tetapi mereka bisa bangkit. Bangkit dengan sangat baik, karena bisa langsung mencapai puncak tertinggi , setelah sebelumnya sempat gagal di babak-babak awal. Tak sedikit komentar miring dan anggapan bahwa mereka tidak bisa lagi diandalkan di cabang bulutangkis. Tapi lihat, mereka menemukan makna kebangkitan mereka. Dan benar, Allah hadirkan kesempatan itu untuk mereka. Sebuah awal yang baru untuk prestasi yang lebih baik.

Dan tentang penilaian orang lain terhadap diri kita, sangat sulit memang untuk membendungnya. Karena, orang lain memang punya hak untuk menilai kita. Hanya tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Jika pasangan ganda campuran Owi/ Butet yang saya ceritakan sebelumnya, berhasil bangkit dengan caranya. Saya mengenal sosok pemain tunggal putra yang justru mampu memberi contoh sebuah sikap yang rendah hati, dari sebuah kebangkitan. Makna bangkit sebenarnya adalah posisi yang lebih baik dari sebelumnya. Artinya, seseorang berada di posisi yang pastinya lebih tinggi dan lebih memuaskan. Nah, hal tersebut bisa saja memicu kebangkitan lain, yang tidak semestinya, yaitu bangkitnya rasa tinggi hati. Tubuh atau jiwa boleh meninggi, tapi hati tetap harus senantiasa berada di posisinya.

Seorang pemain tunggal putra Indonesia yang sudah berhasil mencapai babak semifinal superseries pertamanya, mengingatkan semua pendukungnya untuk tidak membandingkannya dengan pemain lain yang belum berhasil mencapai seperti apa yang ia capai. Ia mengingatkan bahwa setiap hal itu ada gilirannya masing-masing. Mungkin saat ini kita berhasil, besok lusa mungkin gagal dan seterusnya, seperti perputaran sebuah roda. Jadi, tidak pantaslah hati ikut meninggi.

Pun sebuah pelajaran tentang sikap ksatria, untuk bangkit dari kekeliruan dengan cara yang berkelas. Dari cabang MotoGP, saya mengenal sosok yang telah melakukan kesalahan, namun ia bangkit dan mengakui kesalahannya itu. Ia menabrak lawannnya hingga keduanya terjatuh, lantas ia berdiri dan membantu lawannya, memastikannya baik-baik saja dan meminta maaf, karena telah menyebabkan lawannya itu juga gagal finish. Meski bersalah, tetapi ia menunjukkan bagaimana menyikapi sebuah kesalahan.

Intinya, manusia boleh berencana, hasilnya serahkan pada Allah. Lalu, jika semua itu akhirnya membuat kita terpuruk, jangan lupa untuk bangkit. Karena, keterpurukan itu seringkali hanya kalimat orang lain saja. Kita sendiri sebenarnya mampu bangkit. Bangkit dengan semangat, bangkit dengan rasa rendah hati dan bangkit dengan ksatria, mengakui kesalahan dan kekhilafan sebagai manusia, lantas kembali merajut rencana baru yang insyaAllah lebih baik…

Berbagi Ilmu

Menempel Atau Membangun Karakter?

Sebagai seorang guru, atau jika anda adalah seorang guru, anda tentu tidak akan asing dengan sebuah frasa “pendidikan karakter”. Akhir-akhir ini, perbaikan pendidikan yang terus menerus diusahakan, telah mencapai pada sebuah rancangan kurikulum yang tidak hanya melibatkan aspek kecerdasan otak saja, namun juga keterampilan dan tentu saja, karakter/sikap.

Sebuah kesempatan telah dihadirkan oleh Allah kepada saya, sehingga seluruh anggota tubuh saya tergerak untuk mengikuti sebuah course online di http://www.coursera.org yang bertajuk “Teaching Character and Creating Positive Classrooms”. Sangat menarik untuk diikuti, jika anda adalah seorang guru. Karena, dari course inilah akhirnya saya menemukan makna yang lebih nyata tentang seperti apa pendidikan karakter yang dimaksud.

Selama ini, yang saya pahami, pendidikan karakter dibentuk melalui keteladanan dan juga kesepakatan, serta dievaluasi dengan penilaian yang telah disusun instrumennya. Namun, untuk apa akhirnya, nilai A, B dan C pada sebuah karakter atau sikap seorang siswa, jika abjad-abjad itu tidak bisa memastikan bahwa karakter yang diharapkan telah benar-benar terbentuk dalam diri siswa. Apakah akhirnya karakter itu benar-benar melekat, atau hanya sekedar menempel, demi baiknya deretan nilai di rapor sang siswa tersebut?

Meskipun sejatinya, karakter tidak bisa disamakan begitu saja dengan kecerdasan kognitif ataupun psikomotorik. Sebab, karakter adalah sesuatu yang bergerak dan mudah berubah karena kondisi atau lingkungan sekitar sang anak. Sehingga, akan menjadi sia-sia, jika pendidikan sekolah berusaha keras membangun karakter siswanya, namun di rumah, justru terjadi hal yang sebaliknya.

Namun kali ini ini, saya akan lebih fokus pada bagaimana seharusnya sebuah sistem pendidikan mengemas pendidikan karakter yang bukan hanya sekedar tempelan atau angka-angka yang tertera di rapor, tetapi benar-benar melekat di diri sang anak. Karena itu, saya begitu antusias mengikuti kuliah online tersebut, karena saya merasa menemukan apa yang saya cari. Meskipun ada beberapa konsep yang kurang saya pahami, karena terbatasnya bahasa dan kurangnya konsep dasar yang saya miliki. Namun, ada satu konsep yang alhamdulillah cukup saya pahami dan ingin saya sebarkan agar tidak sekedar dipahami oleh saya pribadi saja.

Saat pertama kali mengikuti course, kami disajikan dengan 24 macam karakter positif yang dimiliki setiap orang. Tujuannya adalah agar setiap pendidik mengetahui kekuatan karakternya masing-masing, sebelum ia membentuk karakter siswanya. Karena sedikit banyak, hal itu akan mempengaruhi sistem pendidikan karakter yang akan dilaksanakan oleh guru. Seorang guru yang ingin memiliki siswa yang disiplin, maka ia harus memastikan bahwa dirinya pun memiliki karakter tersebut.

Salah satu hal menarik lainnya yang ada di course ini, kami diminta untuk mengurutkan karakter positif dari yang terpenting hingga yang kurang penting untuk dimiliki siswa kami di sekolah, menurut pandangan kami.  Pada saat itu, saya memilih yang paling utama adalah ketekunan. Karena, menurut saya, kesuksesan seseorang dapat dicapai salah satunya dengan ketekunan yang ia miliki. Orang yang tekun, meskipun kemampuan dasarnya kurang memadai, insyaAllah akan mampu mencapai kesuksesan dengan gemilang.

Nah, setelah kami menemukan urutannya, kami diminta untuk mengikuti survey yang dapat menggambarkan kekuatan karakter kami masing-masing. Disinilah bagian uniknya, karakter ketekunan (grit) yang saya anggap sebagai karakter terpenting yang harus dimiliki oleh siswa saya, ternyata bukan karakter utama yang saya miliki. Nah, disinilah akhirnya kami menemukan bahwa bagaimana guru bisa menuntut siswanya memiliki suatu karakter tertentu, sedangkan di dalam dirinya, karakter tersebut justru tidak ada. Bersyukurnya, karakter ketekunan itu masih ada di urutan 4, pada diri saya. Sehingga, bisa dianggap sebagai salah satu karakter kuat yang saya miliki.

Tetapi, bukan itu yang menjadi poin utama. Poinnya adalah bahwa setiap anak punya karakter khas nya masing-masing. Meskipun dengan analisa pribadi saya, karakter ketekunan itu harus dimiliki, bukan berarti anak yang tidak tekun, tidak akan berhasil. Di course ini, kami diajarkan untuk memberikan kartu pertubuhan kekuatan karakter pada anak-anak. Di sini, guru akan menemukan karakter terkuat anak dan membantunya untuk mencapai kesuksesan dengan kekuatan karakter yang ia miliki.

Namun, di course tersebut juga telah diputuskan bahwa dalam pembelajaran, ada 8 karakter yang harus dimiliki setiap anak. 8 dari 24…

  1. Ketekunan
  2. Optimisme
  3. Pengendalian diri (terhadap tugas-tugas di sekolah)
  4. Pengendalian diri (terhadap orang lain)
  5. Rasa syukur
  6. Kecerdasan sosial
  7. Rasa ingin tahu
  8. Semangat/Gairah

Sistemnya, setiap anak diminta mengurutkan, menurut dirinya, karakter mana yang terkuat dan mana yang terlemah. Jadi, setiap karakter diberi poin 1-7 dengan 7 berarti sangat kuat dan 1 berarti sangat lemah. Lalu di sebelahnya, akan ada 5 kolom yang akan diisi oleh 5 guru berbeda. Masing-masing guru memberi poin terhadap karakter anak tersebut, sesuai dengan bagaimana yang ia lihat sehari-hari saat mengajar di kelas.

Setelah poinnya lengkap, akan dihitung rata-rata poin dari 5 guru, sehingga akan didapatkan satu poin akhir. Disinilah kemudian akhirnya di analisa.

Jika skala poin yang diberikan anak sama dengan guru atau paling tidak hanya berbeda sedikit, berarti tidak masalah. Artinya,  sang anak telah mampu menentukan kekuatan karakter dirinya sendiri. Namun, jika poinnya berbeda jauh, maka perlu dilakukan analisa, mengapa hal itu terjadi. Anak bisa diajak mengobrol, atau bisa ditanyakan kepada guru yang memberi poin, alasan ia memberikan poin tersebut. Barangkali sang anak merasa dirinya memiliki karakter itu, padahal karakter itu tidak sedikitpun tercermin dalam perbuatannya. Nah, jika hal ini tidak ditindaklanjuti, sang anak akan terus memberikan penilaian yang salah terhadap dirinya. Karena itu, guru harus membimbing sang anak untuk menumbuhkan karakter tersebut, agar karakter itu benar-benar terbentuk dalam diri sang anak.

Dan yang paling penting tentunya adalah memperhatikan karakter yang terkuat pada diri anak. Karakter yang diberi anak poin 5, 6, hingga 7, dan guru pun memberikan poin yang sama. Disinilah, guru kemudian membimbing anak untuk mengasah kekuatannya dan memanfaatkannya untuk mencapai kesuksesan. Misalnya, ditemukan dia memiliki kekuatan di kecerdasan sosialnya, berarti ia dilatih lagi untuk mampu meredam konflik di kelas dan menjadi sosok yang berperan dalam kelas. Nah, jika ternyata itu sudah tercapai, guru bisa memberikan penguatan seperti menjelaskan apa pentingnya karakter tersebut bagi kehidupan anak dan sejenisnya.

Lalu, bagian penting berikutnya, guru harus menemukan karakter anak yang paling rendah. Karakter yang ia beri poin 1, 2 atau 3, dan guru memberi poin serupa. Inilah tugas guru untuk membantunya membangun karakter tersebut. Tidak perlu menjadi expert, cukup membangun semampunya, sampai karakter itu ada di diri anak, walaupun tidak menjadi yang terkuat.

Misalnya, yang paling lemah adalah pengendalian dirinya terhadap tugas-tugas sekolah. Berarti, guru harus fokus untuk memperbaiki itu dan jika perlu, diperbaiki dengan bantuan kekuatan karakternya. Nah, untuk prosedur ini, saya rasa ada pihak yang lebih paham. Namun, saya yakin, siapapun bisa melakukan hal ini, membantu anak untuk menumbuhkan dan membangun karakter terlemahnya. Hanya 8 dari 24, tidak perlu seluruhnya. Saya rasa, ini cukup logis untuk dilaksanakan.

Dan, guru maupun anak tidak memerlukan penilaian-penilaian yang tidak ada pengaruh apa-apa terhadap diri anak. Cukuplah ukuran keberhasilan pendidikan karakter, dilihat dari kartu pertumbuhan karakter yang seharusnya seiring waktu tidak lagi tercantum angka 1, 2 ataupun 3. Artinya, anak sudah lengkap memiliki 8 karakter penting. Dan setelah itu tercapai, guru hanya perlu fokus untuk memastikan karakter itu tetap melekat dan terbangun dalam diri anak, bukan hanya sekedar menempel.

Sungguh, terasa sulit bagi saya untuk menggambarkan secara sempurna, Anda perlu ikut course nya. atau, jika tidak sempat, buka saja link nya dan pilih video atau modul yang anda perlukan untuk dibaca saja. Tanpa perlu mengikuti kuis dan mengerjakan tugas apapun. Karena, di kelas itu juga ditayangkan video tentang bagaimana guru-guru di Amerika menerapkannya di kelas mereka, lengkap dengan contoh kasus per anak. Luar biasa lengkap. Anda harus mencoba petualangan ini. Dan saya, mungkin akan memanfaatkan waktu jeda sebulan saya nanti, semoga bisaa…

 

Ini link course nya link 1

Ini hasil survey saya, agak beda sama hasil saya yang pertama, tapi tetap, yang terdepan adalah karakter yang sama, suka belajar 😀 link 2

Nah, ini contoh kartunya link 3

Ini situs buat mengerjakan surveynya link 4, ada pilihan bahasa Indonesianya kok, surveynya juga gampang, walaupun soalnya banyak hehe… kalau bingung silakan tanya. Yang pasti, saya berharap semua guru semangat untuk memperbaiki karakter anak. Karena, karakter sebenarnya adalah poin utama, bukan kecerdasan lho.

Pernah baca kisah seseorang yang diterima kerja, bahkan sebelum pimpinan melihat CV nya, hanya karena ia membuang sampah di tempatnya dan memiliki sifat yang baik? So, sudah saatnya kita sibuk membangun karakter anak, sebelum sibuk mengukir prestasi akademisnya