Pikiran dan Perasaan

BAC 2016’s review

Badminton Asian Championship 2016 kali ini cukup menarik menurut saya. Ada banyak hal menarik yang saya temukan di sedikit bagian yang sempat saya lihat. Padatnya jadwal dan seringnya pemain Indonesia kebagian jatah bermain di court 2, membuat permainan mereka hanya bisa saya amati dari uraian cerita di gurp-grup pecinta Badminton. Saya mulai dari kisah permainan Greysia Nitya yang konon mencetak sejarah di jagat perbulutangkisan.

Bermain selama 161 menit, melebihi sebuah pertandingan sepakbola yang itupun dimainkan oleh 11 orang dengan break yang memadai, mereka benar-benar sudah mencetak sejarah. Meskipun kalah, tapi saya cukup salut dengan perjuangan mereka. Namun, setiap pertandingan, tidak hanya boleh diperhatikan dari sisi positifnya. Tapi juga dilihat dari sisi yang lain.

Entah kenapa, GreyNit, saat bermain melawan WD korea yang cenderung bermain cepat, bisa bermain cepat pula. Tetapi, saat ketemu  WD China seperti Luo/Luo dan WD Jepang yang memang cenderung nyaman bermain rally, Greynit selalu bermain dengan lambat pula.

Walaupun tidak melihat pertandingannya, tapi sepertinya, dengan surasi seperti itu, mereka bermain dengan banyak rally-rally panjang. Karena itu, catatan untuk GreyNit adalah belajar untuk tidak terbawa oleh ritme permainan lawan. Atur sendiri ritme nya dan usahakan mencari celah dengan cepat tanpa harus menunggu kesempatan yang tepat untuk menyerang itu datang.

Next, Tolyn. Jujur, mereka sudah kembali stabil. Saya sudah lihat Butet mulai bergerak dan kembali ke performanya. Sayangnya, tiba-tiba mereka menjadi sosok yang berbeda saat di final. Faktor pertama, kelihatannya Butet agak kelelahan, jadi pukulannya kadang miss. Kedua, sama-sama emosi. Kalau Owi buat salah, Butet kesel dan terbawa emosi. Akhirnya, Owi pun bermain tergesa dan terbawa emosi. Plis belajar! LYD itu kelihatannya juga kurang baik dalam mengatur emosinya saat ia gagal. Tapi, dia punya YYS yang lebih sering menenangkan. Walaupun, kadang LYD juga bisa menyikapi kesalahannya dengan senyum saja. Nah, inilah yang harus dipelajari Tolyn. Fokus! Jangan panik, jangan tergesa, jangan emosi. Kesalahan saat bermain itu wajar. Tapi menjadi tidak wajar ketika satu kesalahan malah merubah seluruh permainan. Harusnya, kesalahan itu hanya mengurangi satu poin saja, tidak lebih.

Yah, kalau melihat mental, memang ZZ lebih layak menang. Tetap berjuang terus Tolyn. Masih ada waktu mengasah mental dan emosi kalian lagi.

Nah terakhir yang bikin gemes. Ada dua nih, di sektor yang sama. Pertama, KevGid. Sedih banget pas dengar mereka kalah dan saya nggak bisa nonton. Dari segi permainan KevGid itu oke. Buktinya, LYD/YYS pas di final tadi, main dengan gaya KevGid. Artinya , KevGid cuma perlu nambah jam terbang lagi aja. Nah, yang berikutnya, Ahend. Ini yang penting.

Jadi, sejujurnya saya jarang nonton pertandingan badminton yang nggak ada pemain Indonesianya. Kecuali kalo saya luang, atau yang main adalah pemain legenda. Tapi, tadi saya sengaja nunggu match LYD/YYS lawan Li/Liu yng udah ngalahin Ahend 2x. Maksudnya, saya mau lihat gimana sih mereka mainnya dan gimana LYD/YYS mengatasinya. Karena, menurut saya, tipe permainan LYD/YYS itu mirip Ahend.

Daan… sy dikejutkan dengan LYD/YYS yang benar-benar bermain dengan cara yang luar biasa. mereka menambah speed, mengubah taktik dan benar-benar nunjukkin strategi yang dinamis. Permainan mereka tidak monoton begitu-begitu saja. Tapi mereka bisa menyesuaikan dengan lawan mereka. Nah, ini yang belum dipunya Ahend. So, Ahend, nonton video LYD/YYS lawan Li/Liu ya…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s