Pikiran dan Perasaan

Singapore Open’s Review : SDK

Alhamdulillah, semakin lama, prestasi badminton Indonesia semakin membaik. Dimulai dari meningkatnya performa Pradeb, kembali stabilnya performa Tolyn dan berhasilnya move on nya Greynit dari lawan yang sebelumnya selalu mengalahkan mereka. Sebuah langkah positif yang semakin ditebalkan dengan kesuksesan seorang Sony Dwi Kuncoro.

Rasa-rasanya, kalau mau mengenang, dulu saya adalah pendukung SDK. Saya yakin SDK akan menjadi pemain badminton yang handal dan akan mengharumkan nama bangsa. Qadarullah, ternyata cidera harus menutup semua harapan dan impian SDK, pun kami pendukungnya. Saya sudah mulai terbiasa dengan ketiadaannya di setiap turnamen. Pun akhirnya terbiasa dengan kehadirannya yang seolah hanya sekedar peramai saja. Selalu gugur dan seolah tak terperhatikan.

Namun, seperti tabiat kebanyakan orang sukses, SDK tidak butuh pandangan atau pujian orang, untuk menjadi cambuk kesuksesannya. Ia berdiri di atas tekad dan dukungan keluarganya. Meski tanpa dipandang pada awalnya, ia akhirnya membuktikan, kalau dengan usaha, kerja keras dan tanpa mengenal kata putus asa, ia mampu menggerakkan mata-mata seluruh penikmat badminton untuk kembali menatap padanya. Allah Maha Kuasa membalik segalanya. Begitupun dengan kisah SDK.

Tapi sekali lagi, tujuan review bukan hanya sekedar untuk memuji. Meski rasanya tak bisa habis pujian ingin terlontar, pada lelaki 32 tahun, yang berhasil memberikan gelar MS, setelah dari awal tahun ini, gelar selalu hanya datang dari sektor ganda. Lelaki yang sudah tidak muda lagi, namun mampu berjuang mengalahkan semangat mereka yang merasa dirinya muda. Para “kumbang”, begitu istilah page Badmintor wonder Fans menuliskannya. Lelaki 32 tahun yang sempat tak dipandang, yang harus berjuang dengan biaya sendiri, dengan usaha sendiri, dan tanpa pelatih!! Hanya seorang istri yang setia mendampingi… Rasa-rasanya mungkin itu jauh lebih memberi efek ketimbang kehadiran pelatih handal manapun. Yakh, tak habis rasanya memuji. Tapi…., pujian yang terlalu dilarut-larutkan, akan melenakan. Sudah saatnya berbenah, dan mencari cermin lain untuk dipandang.

Saya cukup mengamati dari awal, perjalanan singapore open. Ada beberapa pemain yang saya perhatikan dan ingin saya review agar menjadi lebih baik. Semoga…

Yang pertama, sektor MS. Saya sempat mendengar komentar dari seorang fans badminton, tentang kekalahan Ihsan dan Jonathan terhadap sosok yang sama, sosok yang sangat luar biasa, legenda bulutangkis dunia, Lin Dan. Pada waktu itu, Ihsan kalah dengan skor tipis, sedangkan jonathan kalah dengan skor “pembullyan”, begitulah istilah kurang baiknya. Tapi bukan itu yang ingin saya garisbawahi. Saya menggarisbawahi komentar fans tersebut, yang mengatakan kalau skor itu terjadi, karena gaya bermain Ihsan cocok dengan Lin Dan, sehingga masih bisa mengimbangi. Sedangkan Jonathan, yang cenderung menyerang dan jarang berlama-lama dengan bola, kurang cocok dengan Lin Dan.

Nah, pernyataan itu lantas membuat saya berpikir, apakah benar begitu? Lalu, mengapa pemain China tidak mengenal istilah cocok dan tidak cocok. Mereka cenderung mudah sekali menang, dan banyak mencetak pemain handal yang tidak membutuhkan kecocokan dalam bermain. Nah, ini akan saya bahas sekaligus di bagian akhir. Pada intinya, Jojo dan ihsan harus banyak belajar dari SDK ya… Belajar untuk tenang saat tertinggal, tidak tergesa saat unggul dan tidak emosi saat disulut. Okee..

Yang kedua, sektor XD. Pradeb grafiknya menanjak, tapi tiba-tiba terpeleset lagi. Ada yang bilang krn terlalu banyak tampil di TV. Mungkin, tapi seharusnya itu bukan alasan. Pradeb harus belajar untuk stabil dan melakukan variasi agar lawan tidak mudah mengetahui gaya bermain kalian. Begitu juga Tolyn. Intinya, tidak terlalu banyak perbaikan, tapi bukan berarti berpuas diri.

Yang ketiga, sektor MD sekaligus sektor terakhir yang akan saya bahas, dan akan menjadi simpulan. Untuk WD, saya rasa aman saja.. sudah tahu seperti apa yang harus dilakukan, karena Greysia sendiri sudah sadar kalau service nya kurang bagus. Tinggal realisasi saja. Belajar service seperti Fu Haifeng, 🙂 Dan kalau WS, sulit mau berkomentar, karena tidak ada hal baru yang bisa dikomentari.

Oke, kembali ke MD. Saya sejujurnya senang dengan perubahan KevGid. Mereka lebih kompak, lebih padu, tapiiii…. tetap ada saran ya, kan biar lebih baik. KevGid itu sebenarnya punya gaya bermain yang oke punya. Sulit ditebak dan punya daya juang yang tinggi. Sayangnya, kadang, Kevin masih cenderung berlebihan meng-cover bola. Harusnya bola Gideon, tapi tetap diambil. Jadi berbenturan ngambilnya. Nah, itu yang bikin lapangan kurang tercover. Terus, karena mungkin mereka merasa smash nya keras, jd smash terus. Padahal itu kan ada kelemahannya. Satu, kalau lawan defence bagus, malah capek sendiri. Seperti lawan China atau jepang, kalau nggak smash di tmpat yang susah dijangkau, bakal nggak guna. Trus kadang, smash yang dilakukan saat emosi, malah nyangkut atau out. Jadinya, nggak guna juga. Karena itu, harus dimantapin lagi untuk KevGid.

Untuk AngRick, saya agak bingung komentar, karena mereka mulai monoton mainnya. Nah, untuk Ahend, ini nih yang mau dibahas banget. Ahend kalah dari MD China yang bukan MD utamanya. Alasannya? Wallahualam. Tapi, kalau benar kalah, murni kalah, bukan sengaja, atau karena faktor lain, saya jadi mau bahas lebih dalam. Masih berhubungan dengan kisah Jojo dan Ihsan vs Lin Dan tadi. Kelihatannya, ada kecenderungan, Ahend kurang cocok dengan gaya bermain MD China.

Nah, istilah cocok nggak cocok ini, kalau diteruskan bakal bahaya. Masak harus cocok dulu. Ya pasti lawan akan berusaha gimana caranya, agar kita nggak cocok sama permainannya. jadi, kitalah yang harusnya mencocokkan. Artinya, Ihsan dan Jojo harus belajar bermain dengan banyak tipe. Main dengan banyak atur bola untuk pemain tertentu atau banyak serang langsung untuk pemain yang lainnya. Kan bisa saling belajar. Atau, tiru SDK. Gaya mainnya monoton, banyak mainin bola, tapi dia lengkapi syarat lainnya, yaitu punya pukulan komplit.

Nah untuk MD China, Fu dan Zhang Nan, saya sampai perhatikan cara mereka main, sampai ke final. Buat cari celahnya… Tapi sayang seribu sayang, strategi yang bisa saya pikirkan cuma gimana caranya, nggak kash service ke Fu. Kalau Fu yang service, langsung poin dah. Mungkin, ini bisa dipikir lagi. Gaya main spt Ahend dan Lee/Yoo ga cocok utk Fu. Harus ganti gaya, mungkin gaya ala Markis Kido. Wallahualam. Intinya, kalau Ahend masih begitu aja mainnya, bakal sulit lawan Fu. Boleh tetep main gitu kalau lawan yang lain. Tapi khusus MD China, harus ganti strategi.

Bismillah, mudahan setelah ini bisa jadi lebih baik. Biasanya dapat satu gelar, di Singapore dapat 2. Mudahan seterusnya stabil dan ningkat, aamiin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s