Berbagi Ilmu · Pikiran dan Perasaan

Sebuah Rencana dan Makna Kebangkitan

April….

Sepertiga dari perjalanan tahun ini. .

Banyak rencana yang sudah saya goreskan. Mulai dari yang tertulis di blog ini, hingga yang hanya sempat mengendap di kepala saya. Sepertiga perjalanan, dan baaaanyak sekali yang berubah. Tentang impian-impian saya, tentang keinginan saya, bahkan tentang pilihan saya.

Semakin berjalan, saya semakin memahami, bahwa tugas manusia memang hanya berencana, lantas menyerahkan rencana itu kepadaNya. Ibarat proposal, kita mungkin bisa merancang dan merangkai segalanya seindah yang kita pikirkan, namun tetap, rancangan yang paling indah dan paling baik hanyalah rancangan Allah SWT.

Banyak impian yang saya tahu, akan sulit terwujud. Pun ada pula impian yang sudah saya mulai langkah pertamanya, namun harus terendap sementara, yang entah sampai kapan. Begitulah….

Bahkan ada satu pilihan yang sudah saya genggam erat, bahkan saya cukup yakin dengannya, ternyata bahkan sekarang saya sudah sangat kehilangan keyakinan itu. Dan saya bersyukur, alhamdulillah, Allah selalu mengiringi hidup setiap hambaNya. Meski awalnya seakan berat menerima, tetapi lambat laun Allah bukakan mata saya, sehingga saya bisa melihat keindahan rancanganNya itu.

Bismillah, meskipun banyak rencana saya yang sudah tersendat dan berputar arah di sepertiga tahun ini, insyaAllah saya siap menjalani rencana yang lain. Salah satunya, kesibukan saya untuk terus belajar.

Seringkali, saya tidak pernah bisa menyembunyikan antusiasme saya terhadap sesuatu yang baru saya pelajari. Karakter love learning yang saya punya, membuat saya selalu berpikir bahwa orang lain pun juga begitu. Padahal tentu saja tidak. Sungguh sangat bersabar kawan-kawan saya, 🙂

Karenanya, saya sering memilih untuk menulis saja. Setidaknya, orang lain bisa memilih untuk membaca atau tidak..

Saat ini, saya sedang sibuk mengikuti program sekolah TOEFL. Sebuah perwujudan dari harapan saya agar bisa belajar TOEFL dengan biaya yang murah dan lokasi yang tidak jauh dari jangkauan saya. Alhamdulillahirrabbil’alamin, saya justru menemukan program belajar gratis dan bisa saya akses bahkan dari dalam kamar saya saja. Sungguh, luar biasa penggagas sekaligus mentor saya itu, semoga Allah senantiasa berikan keberkahan dalam setiap niat baiknya itu.

Saya tidak mampu menyembunyikan antusiasme dan keinginan saya agar orang lain juga bisa mendapat ilmu seperti yang saya dapat. Saya berdoa semoga yang lain, yang juga sedang butuh ilmu seperti saya, bisa mengakses dan mendapat informasi program yang sangat bagus itu.

Kadang saya merasa iri, melihat orang-orang yang bisa bermanfaat untuk sekitarnya. Rasa-rasanya saya masih jauuuh sekali. Paling hebat, saya hanya bisa menuliskannya. Berbagi apa yang saya tahu dan apa yang saya pikirkan. Baru sebatas itu. Sungguh masih jauh sekali jika harus dibandingkan dengan mereka-mereka di luar sana. Tapi, insyaAllah, saya yakin, hal sekecil apapun yang kita lakukan, pasti tetap akan ada manfaatnya, selama berada dalam jalan kebaikan.

Dan, yang ingin saya garisbawahi lagi dari tulisan ini adalah, tentang bagaimana seseorang menilai dirinya. Kadang, seseorang merasa terpuruk, bukan karena ia memang benar-benar terpuruk. Tetapi, karena orang menilainya begitu. Pun kadang, orang merasa menyerah dan putus asa, bukan karena memang ia sudah tak punya daya untuk bangkit. Tapi, karena orang menilainya begitu.

Saya belajar dari banyak hal yang saya temui beberapa hari ini. Uniknya, semua saya temukan di dunia olahraga dengan cabang yang berbeda-beda.

Pertama kali, saya belajar makna kebangkitan dari pasangan ganda campuran Indonesia di cabang bulutangkis yang baru menjuarai Malaysia Super Series 2016. Setelah 1,5 tahun nihil gelar, selalu gagal, dicemooh dan dianggap turun performa, hingga seakan sudha terlihat sangat frustasi, tetapi mereka bisa bangkit. Bangkit dengan sangat baik, karena bisa langsung mencapai puncak tertinggi , setelah sebelumnya sempat gagal di babak-babak awal. Tak sedikit komentar miring dan anggapan bahwa mereka tidak bisa lagi diandalkan di cabang bulutangkis. Tapi lihat, mereka menemukan makna kebangkitan mereka. Dan benar, Allah hadirkan kesempatan itu untuk mereka. Sebuah awal yang baru untuk prestasi yang lebih baik.

Dan tentang penilaian orang lain terhadap diri kita, sangat sulit memang untuk membendungnya. Karena, orang lain memang punya hak untuk menilai kita. Hanya tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Jika pasangan ganda campuran Owi/ Butet yang saya ceritakan sebelumnya, berhasil bangkit dengan caranya. Saya mengenal sosok pemain tunggal putra yang justru mampu memberi contoh sebuah sikap yang rendah hati, dari sebuah kebangkitan. Makna bangkit sebenarnya adalah posisi yang lebih baik dari sebelumnya. Artinya, seseorang berada di posisi yang pastinya lebih tinggi dan lebih memuaskan. Nah, hal tersebut bisa saja memicu kebangkitan lain, yang tidak semestinya, yaitu bangkitnya rasa tinggi hati. Tubuh atau jiwa boleh meninggi, tapi hati tetap harus senantiasa berada di posisinya.

Seorang pemain tunggal putra Indonesia yang sudah berhasil mencapai babak semifinal superseries pertamanya, mengingatkan semua pendukungnya untuk tidak membandingkannya dengan pemain lain yang belum berhasil mencapai seperti apa yang ia capai. Ia mengingatkan bahwa setiap hal itu ada gilirannya masing-masing. Mungkin saat ini kita berhasil, besok lusa mungkin gagal dan seterusnya, seperti perputaran sebuah roda. Jadi, tidak pantaslah hati ikut meninggi.

Pun sebuah pelajaran tentang sikap ksatria, untuk bangkit dari kekeliruan dengan cara yang berkelas. Dari cabang MotoGP, saya mengenal sosok yang telah melakukan kesalahan, namun ia bangkit dan mengakui kesalahannya itu. Ia menabrak lawannnya hingga keduanya terjatuh, lantas ia berdiri dan membantu lawannya, memastikannya baik-baik saja dan meminta maaf, karena telah menyebabkan lawannya itu juga gagal finish. Meski bersalah, tetapi ia menunjukkan bagaimana menyikapi sebuah kesalahan.

Intinya, manusia boleh berencana, hasilnya serahkan pada Allah. Lalu, jika semua itu akhirnya membuat kita terpuruk, jangan lupa untuk bangkit. Karena, keterpurukan itu seringkali hanya kalimat orang lain saja. Kita sendiri sebenarnya mampu bangkit. Bangkit dengan semangat, bangkit dengan rasa rendah hati dan bangkit dengan ksatria, mengakui kesalahan dan kekhilafan sebagai manusia, lantas kembali merajut rencana baru yang insyaAllah lebih baik…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s