Berbagi Ilmu

Menempel Atau Membangun Karakter?

Sebagai seorang guru, atau jika anda adalah seorang guru, anda tentu tidak akan asing dengan sebuah frasa “pendidikan karakter”. Akhir-akhir ini, perbaikan pendidikan yang terus menerus diusahakan, telah mencapai pada sebuah rancangan kurikulum yang tidak hanya melibatkan aspek kecerdasan otak saja, namun juga keterampilan dan tentu saja, karakter/sikap.

Sebuah kesempatan telah dihadirkan oleh Allah kepada saya, sehingga seluruh anggota tubuh saya tergerak untuk mengikuti sebuah course online di http://www.coursera.org yang bertajuk “Teaching Character and Creating Positive Classrooms”. Sangat menarik untuk diikuti, jika anda adalah seorang guru. Karena, dari course inilah akhirnya saya menemukan makna yang lebih nyata tentang seperti apa pendidikan karakter yang dimaksud.

Selama ini, yang saya pahami, pendidikan karakter dibentuk melalui keteladanan dan juga kesepakatan, serta dievaluasi dengan penilaian yang telah disusun instrumennya. Namun, untuk apa akhirnya, nilai A, B dan C pada sebuah karakter atau sikap seorang siswa, jika abjad-abjad itu tidak bisa memastikan bahwa karakter yang diharapkan telah benar-benar terbentuk dalam diri siswa. Apakah akhirnya karakter itu benar-benar melekat, atau hanya sekedar menempel, demi baiknya deretan nilai di rapor sang siswa tersebut?

Meskipun sejatinya, karakter tidak bisa disamakan begitu saja dengan kecerdasan kognitif ataupun psikomotorik. Sebab, karakter adalah sesuatu yang bergerak dan mudah berubah karena kondisi atau lingkungan sekitar sang anak. Sehingga, akan menjadi sia-sia, jika pendidikan sekolah berusaha keras membangun karakter siswanya, namun di rumah, justru terjadi hal yang sebaliknya.

Namun kali ini ini, saya akan lebih fokus pada bagaimana seharusnya sebuah sistem pendidikan mengemas pendidikan karakter yang bukan hanya sekedar tempelan atau angka-angka yang tertera di rapor, tetapi benar-benar melekat di diri sang anak. Karena itu, saya begitu antusias mengikuti kuliah online tersebut, karena saya merasa menemukan apa yang saya cari. Meskipun ada beberapa konsep yang kurang saya pahami, karena terbatasnya bahasa dan kurangnya konsep dasar yang saya miliki. Namun, ada satu konsep yang alhamdulillah cukup saya pahami dan ingin saya sebarkan agar tidak sekedar dipahami oleh saya pribadi saja.

Saat pertama kali mengikuti course, kami disajikan dengan 24 macam karakter positif yang dimiliki setiap orang. Tujuannya adalah agar setiap pendidik mengetahui kekuatan karakternya masing-masing, sebelum ia membentuk karakter siswanya. Karena sedikit banyak, hal itu akan mempengaruhi sistem pendidikan karakter yang akan dilaksanakan oleh guru. Seorang guru yang ingin memiliki siswa yang disiplin, maka ia harus memastikan bahwa dirinya pun memiliki karakter tersebut.

Salah satu hal menarik lainnya yang ada di course ini, kami diminta untuk mengurutkan karakter positif dari yang terpenting hingga yang kurang penting untuk dimiliki siswa kami di sekolah, menurut pandangan kami.  Pada saat itu, saya memilih yang paling utama adalah ketekunan. Karena, menurut saya, kesuksesan seseorang dapat dicapai salah satunya dengan ketekunan yang ia miliki. Orang yang tekun, meskipun kemampuan dasarnya kurang memadai, insyaAllah akan mampu mencapai kesuksesan dengan gemilang.

Nah, setelah kami menemukan urutannya, kami diminta untuk mengikuti survey yang dapat menggambarkan kekuatan karakter kami masing-masing. Disinilah bagian uniknya, karakter ketekunan (grit) yang saya anggap sebagai karakter terpenting yang harus dimiliki oleh siswa saya, ternyata bukan karakter utama yang saya miliki. Nah, disinilah akhirnya kami menemukan bahwa bagaimana guru bisa menuntut siswanya memiliki suatu karakter tertentu, sedangkan di dalam dirinya, karakter tersebut justru tidak ada. Bersyukurnya, karakter ketekunan itu masih ada di urutan 4, pada diri saya. Sehingga, bisa dianggap sebagai salah satu karakter kuat yang saya miliki.

Tetapi, bukan itu yang menjadi poin utama. Poinnya adalah bahwa setiap anak punya karakter khas nya masing-masing. Meskipun dengan analisa pribadi saya, karakter ketekunan itu harus dimiliki, bukan berarti anak yang tidak tekun, tidak akan berhasil. Di course ini, kami diajarkan untuk memberikan kartu pertubuhan kekuatan karakter pada anak-anak. Di sini, guru akan menemukan karakter terkuat anak dan membantunya untuk mencapai kesuksesan dengan kekuatan karakter yang ia miliki.

Namun, di course tersebut juga telah diputuskan bahwa dalam pembelajaran, ada 8 karakter yang harus dimiliki setiap anak. 8 dari 24…

  1. Ketekunan
  2. Optimisme
  3. Pengendalian diri (terhadap tugas-tugas di sekolah)
  4. Pengendalian diri (terhadap orang lain)
  5. Rasa syukur
  6. Kecerdasan sosial
  7. Rasa ingin tahu
  8. Semangat/Gairah

Sistemnya, setiap anak diminta mengurutkan, menurut dirinya, karakter mana yang terkuat dan mana yang terlemah. Jadi, setiap karakter diberi poin 1-7 dengan 7 berarti sangat kuat dan 1 berarti sangat lemah. Lalu di sebelahnya, akan ada 5 kolom yang akan diisi oleh 5 guru berbeda. Masing-masing guru memberi poin terhadap karakter anak tersebut, sesuai dengan bagaimana yang ia lihat sehari-hari saat mengajar di kelas.

Setelah poinnya lengkap, akan dihitung rata-rata poin dari 5 guru, sehingga akan didapatkan satu poin akhir. Disinilah kemudian akhirnya di analisa.

Jika skala poin yang diberikan anak sama dengan guru atau paling tidak hanya berbeda sedikit, berarti tidak masalah. Artinya,  sang anak telah mampu menentukan kekuatan karakter dirinya sendiri. Namun, jika poinnya berbeda jauh, maka perlu dilakukan analisa, mengapa hal itu terjadi. Anak bisa diajak mengobrol, atau bisa ditanyakan kepada guru yang memberi poin, alasan ia memberikan poin tersebut. Barangkali sang anak merasa dirinya memiliki karakter itu, padahal karakter itu tidak sedikitpun tercermin dalam perbuatannya. Nah, jika hal ini tidak ditindaklanjuti, sang anak akan terus memberikan penilaian yang salah terhadap dirinya. Karena itu, guru harus membimbing sang anak untuk menumbuhkan karakter tersebut, agar karakter itu benar-benar terbentuk dalam diri sang anak.

Dan yang paling penting tentunya adalah memperhatikan karakter yang terkuat pada diri anak. Karakter yang diberi anak poin 5, 6, hingga 7, dan guru pun memberikan poin yang sama. Disinilah, guru kemudian membimbing anak untuk mengasah kekuatannya dan memanfaatkannya untuk mencapai kesuksesan. Misalnya, ditemukan dia memiliki kekuatan di kecerdasan sosialnya, berarti ia dilatih lagi untuk mampu meredam konflik di kelas dan menjadi sosok yang berperan dalam kelas. Nah, jika ternyata itu sudah tercapai, guru bisa memberikan penguatan seperti menjelaskan apa pentingnya karakter tersebut bagi kehidupan anak dan sejenisnya.

Lalu, bagian penting berikutnya, guru harus menemukan karakter anak yang paling rendah. Karakter yang ia beri poin 1, 2 atau 3, dan guru memberi poin serupa. Inilah tugas guru untuk membantunya membangun karakter tersebut. Tidak perlu menjadi expert, cukup membangun semampunya, sampai karakter itu ada di diri anak, walaupun tidak menjadi yang terkuat.

Misalnya, yang paling lemah adalah pengendalian dirinya terhadap tugas-tugas sekolah. Berarti, guru harus fokus untuk memperbaiki itu dan jika perlu, diperbaiki dengan bantuan kekuatan karakternya. Nah, untuk prosedur ini, saya rasa ada pihak yang lebih paham. Namun, saya yakin, siapapun bisa melakukan hal ini, membantu anak untuk menumbuhkan dan membangun karakter terlemahnya. Hanya 8 dari 24, tidak perlu seluruhnya. Saya rasa, ini cukup logis untuk dilaksanakan.

Dan, guru maupun anak tidak memerlukan penilaian-penilaian yang tidak ada pengaruh apa-apa terhadap diri anak. Cukuplah ukuran keberhasilan pendidikan karakter, dilihat dari kartu pertumbuhan karakter yang seharusnya seiring waktu tidak lagi tercantum angka 1, 2 ataupun 3. Artinya, anak sudah lengkap memiliki 8 karakter penting. Dan setelah itu tercapai, guru hanya perlu fokus untuk memastikan karakter itu tetap melekat dan terbangun dalam diri anak, bukan hanya sekedar menempel.

Sungguh, terasa sulit bagi saya untuk menggambarkan secara sempurna, Anda perlu ikut course nya. atau, jika tidak sempat, buka saja link nya dan pilih video atau modul yang anda perlukan untuk dibaca saja. Tanpa perlu mengikuti kuis dan mengerjakan tugas apapun. Karena, di kelas itu juga ditayangkan video tentang bagaimana guru-guru di Amerika menerapkannya di kelas mereka, lengkap dengan contoh kasus per anak. Luar biasa lengkap. Anda harus mencoba petualangan ini. Dan saya, mungkin akan memanfaatkan waktu jeda sebulan saya nanti, semoga bisaa…

 

Ini link course nya link 1

Ini hasil survey saya, agak beda sama hasil saya yang pertama, tapi tetap, yang terdepan adalah karakter yang sama, suka belajar 😀 link 2

Nah, ini contoh kartunya link 3

Ini situs buat mengerjakan surveynya link 4, ada pilihan bahasa Indonesianya kok, surveynya juga gampang, walaupun soalnya banyak hehe… kalau bingung silakan tanya. Yang pasti, saya berharap semua guru semangat untuk memperbaiki karakter anak. Karena, karakter sebenarnya adalah poin utama, bukan kecerdasan lho.

Pernah baca kisah seseorang yang diterima kerja, bahkan sebelum pimpinan melihat CV nya, hanya karena ia membuang sampah di tempatnya dan memiliki sifat yang baik? So, sudah saatnya kita sibuk membangun karakter anak, sebelum sibuk mengukir prestasi akademisnya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s